Married Life

Married Life
2.15. Knife


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Bailey’s Villa


06.35


Matt mengerjapkan matanya pelan, kepala dan beberapa bagian tubuhnya begitu sakit. Dan alkohol adalah satu-satunya yang ia cium saat membuka mata. Matt menatap langit-langit, dan ia tersentak. Dimana ia saat ini?


“Kau sudah bangun Honey?”


Matt semakin tersentak, saat melihat Corrine masuk dengan semangkuk bubur ditangannya. Matt memukul kepalanya, selalu, selalu saja seperti ini. Ia tidak pernah mengingat apapun jika sudah menenggak cukup banyak alkohol, yang dapat ia ingat adalah seorang pria yang memaki seorang wanita, dan ia sudah tidak mengingat apapun yang terjadi. Dan ia juga tidak merasa bertemu Corrine semalam.


“Ma..Mary, apa yang telah aku lakukan?” Corrine tersenyum, harapan Matt hanya satu. Ia berharap tidak menyakiti Jessica semalam. Karena ia tidak dapat mengingat apapun.


“Tidak ada, kau mabuk di Bar dan aku menemukanmu.”


Matt bernapas lega, seharusnya ia dan Corrine tidak menemui Jessica semalam. Ia memang sakit hati melihat Jessica bersama Mike, namun balas dendam bukan hal terbaik sekarang. Terlebih bagaimana jika Lyn yang melihat sosok ayah pemabuk seperti dirinya.


“A..Aku harus pergi.” Matt membuka selimutnya dan mengambil ponsel yang berada diatas meja. Saat Matt ingin keluar ruangan, dengan cepat Corrine memeluk pinggangnya dari belakang.


“Tidak, tidak Matthew. Tetaplah bersamaku, tetaplah bersamaku. Aku mohon!”


Dengan sekuat tenaga Matt melepaskan pelukan Corrine. Ia menatap ponselnya dan tersentak melihat 10 panggilan tidak terjawab dan 1 pesan suara dari Mark. Dan dengan cepat ia langsung membuka pesan suara itu.


“Tuan Boltom, Tuan Bellamy sedang bertemu istrimu saat ini.”


Matt tersentak, seketika ia mengepalkan tangannya erat, emosinya naik begitu saja. Corrine yang juga mendengar pesan suara itu tersenyum miring. Fantastis! Sejujurnya ia cukup terkejut jika kakaknya begitu cepat bertindak. Ia pikir, kakaknya akan bertindak satu atau dua hari, siapa yang menyangka jika sebesar itu cinta kakaknya dengan wanita bernama Jessica.


Tanpa mengucapkan apapun Matt keluar Villa dan langsung menuju mobilnya yang telah terparkir, sedangkan Corrine hanya menatap mobil Matt yang semakin menjauh dengan kecepatan tinggi dari jendela kamarnya.


Dan selanjutnya gadis cantik itu tersenyum puas. Ia sadar, tanpa kakaknya ia tidak mungkin bisa mendapatkan Matt. Dan ia juga sadar, dengan cara inilah satu-satunya kesempatan untuk bekerja sama dengan sang kakak.


“Selamat berjuang, Sayang.” Corrine tertawa dan kembali sibuk dengan ponselnya. Ia mengetik seorang nama dan kembali mendekatkan ponsel dengan telinganya.

__ADS_1


“Halo Dana, awasi rumah keluarga Boltom. Ceritakan apa yang akan terjadi.”


“...”


“Yes, Matthew Boltom.”


“...”


“Beritahu aku secepat mungkin.” Corrine mematikan panggilannya.


...****************...


Rumah Keluarga Boltom


06.50


Matt melajukan mobilnya melebihi batas normal, kenapa Mike tidak pernah menyerah pada Jessica? Apa memang ia yang harus melepaskan Jessica? Tidak, tidak, walaupun Jessica tidak bersamanya, Mike bukan orang yang pantas untuk mendapatkannya.


Pintu gerbang terbuka, Matt dapat melihat dua orang penjaga yang berusaha membawa tubuh Mike menjauh dari rumahnya. Pria gila, pria keras kepala! Matt meraih pisau di kursi penumpang dan memasukkannya pada saku celana belakangnya. Matt turun dari mobil, dan dengan amarahnya ia menghampiri Mike.


Seorang penjaga pintu menghampirinya dan menundukkan kepalanya, Matt mengepalkan tangannnya erat. Apa karena ia memiliki pegawai bodoh anaknya dan istrinya bisa direbut Mike? Mike melepaskan tangan sang penjaga dan tersenyum menyeringai kearah Matt.


“Kembali bertemu denganku Tuan Boltom.”


Mike tersenyum miring. Matt mengepalkan tangannya, dengan satu tenaga Matt meninju pipi kanan Matt. Dua penjaga itu tersentak dengan tindakan atasannya. Jessica yang melihat mereka dari jendela langsung keluar rumahnya. Tidak, bukan ini yang ia inginkan.


“Kau pria brengsek!”


Beberapa pukulan dilayangkan Matt, kini hidung Mike sudah meneteskan darah. Tinju Matt tidak main-main padanya, pria Ini memang ingin membunuhnya. Dengan sekuat tenaga Mike mengembalikan keadaan, pria itu menangkis pukulan Matt, menarik kerah pria itu dan langsung melayangkan pukulannnya pada Matt secara membabi buta.


“Kau pria brengsek dan selalu menyakiti Jessica!” Mike berteriak marah.


Tinju Mike kini ia layangkan pada wajah Matt berkali-kali, dua penjaga berusaha melerainya. Jika seperti ini terus, sangat memungkinkan jika salah satu diantara mereka akan tewas. Darah keluar cukup banyak dari mulut Matt.

__ADS_1


“Cukup Mike! Michael cukup!”


Jessica berteriak, ia tidak tahu jika Matt akan segera pulang. Cukup kegaduhan yang dibuat Michael, dan ia tidak ingin Matt juga terlibat. Jessica menangis, ia begitu sedih melihat Matt yang selalu menderita karena dirinya. Padahal yang ia inginkan hanya hidup bahagia dengan Matt dan juga Lyn, sesederhana itu.


Perkelahian mereka terlepas karena dua penjaga itu menahan tubuh keduanya. Mereka saling menatap dengan penuh amarah.


“Lyn! Berikan anakku kembali padaku!”


Matt tersentak atas ucapan Mike. Bagaimana? Bagaimana Mike bisa tahu itu? Matt menatap Jessica, apa Jessica yang memberitahukan semuanya kepada Mike? Apa gadis itu benar-benar ingin kembali bersama Mike? Ia menatap Jessica kecewa, dan kembali beralih menatap Mike. Jika ia tidak bisa bersama Jessica, maka Mike juga tidak akan bisa.


Matt menarik pisau dari saku celananya, ia akan menyelesaikannya sekarang. Jessica tersentak ketika Matt kini mengacungkan pisau pada Mike. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Matt benar-benar sudah gila, dan ia gila karena dibutakan rasa cemburunya.


“Tidak, tidak Matthew.” Jessica berucap pelan.


“Aku akan mengakhirinya sekarang.”


Matt berlari dan berusaha menghunuskan pisau itu kearah Mike, dengan cepat Jessica berlari, gadis itu memeluk Matt dari belakang. Ia menahan tubuh Matt. Ia tidak ingin, ia tidak ingin Matt dicap sebagai pembunuh.


“Apa kau ingin Lyn melihat dirimu sebagai seorang pembunuh Matthew?”


Jessica berucap pelan dan kembali meneteskan air matanya. Matt mematung, Jessica benar. Matt melirik kearah jendela kamar Lyn, dan ia menatap gadis kecil itu melihatnya dengan penuh ketakutan. Matt menjatuhkan pisaunya, ia hampir melakukan hal gila dihadapan putrinya.


Matt jatuh terduduk, seketika kepalanya kembali pening. Belum ia disembuhkan oleh alkohol kemarin, dan ia harus dikuasai emosi yang begitu memuncak.


“Matt, Matthew.”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Noted :


Author usahain untuk post dua hari sekali.


So, jangan lupa like dan komen.

__ADS_1


Semangat selalu semuaa~ Luvyaa❤


__ADS_2