
Galang sudah pergi ke Mellbourne seminggu yang lalu. Aku tidak sendirian di Appartemen besar ini, setelah mengantar galang ke Bandara waktu itu, aku langsung pergi kerumah papi Richard karena merasa kesepian. Tapi betapa senangnya aku mendengar papi Richard yang mengizinkan lala, Asisten rumah tangga papi Richard untuk menemaniku selama galang pergi. Seminggu ini aku benar-benar merasa kesepian tanpa galang, meskipun tiap malam kami melakukan panggilan via video tapi tak urung menghilangkan rindu malah membuatku semakin rindu pada galang. Ah entahlah.
Memang sih ketika galang memintaku ke Mellbourne dalam hati kecilku aku sangat ingin sekali pergi bersamanya, mengingat kami masih pengantin baru yang kemana-mana masih lengket. Tapi aku takut jika nanti aku ikut galang ke Mellbourne malah akan membuat galang kerepotan. Jadi kuputuskan untuk tetap focus pada kuliahku yang kurang 2 tahun lagi.
Aku membuka mataku dan berniat untuk bangkit dari ranjangku tapi rasanya pusing sekali. “Lalaa.. “Teriakku pada lala yang terdengar sedang di dapur. “Iya non, eh tari.. kamu kenapa wajahmu pucet amat ya tuhan..” Lala terlihat cemas, ia medekatiku dan meraba membolak balikkan telapak tangannya pada dahiku. “Kamu nggak demam, tapi kamu pucet banget tar.”
“Kayanya aku telat makan kemarin pulang kuliah aku capek dan langsung tidur . “
__ADS_1
“Bentar.” Lala langsung membalikkan badannya dan keluar dari kamarku. Kutarik selimutku sampai menutupi setengah kepalaku. Kulihat kearah jam sudah menunjukkan jam 09.00 siang. “Astaga aku ada kuliah hari ini” gumamku lirih . tiba-tiba lala dating dengan membawa nampan berisi mangkuk dan segelas air putih. “Ini aku bikini bubur, tapi aku nggak menjamin rasanya, soalnya aku nggak pernah bikin bubur, sini aku suapin” lala duduk disamping ranjangku lalu menyuapiku. Setelah bubur yang sedikit pahit di mulutku itu ku telan seketika perutku seperti memberi syarat penolakan sehingga aku merasa benar benar mual. Aku berlari kearah wastafel dank u muntahkan semua cairan dari perutku. “ Aduhh tarii. Buburku rasanya aneh ya?” raut muka lala terlihat sangat cemas kemudian ia mendekatiku membantu mengeluarkan sisa sisa cairan di perutku dengan menepuk nepuk punggungku. “Emm. Enggak la. Aku emang nggak kebiasa makan bubur aja. “ aku membalikkan tubuhku dan ku lihat raut wajah lala yang berubah menjadi sedih.”Yaudah coba deh la kamu beliin aku sup di dekat appartement ini ada ibu-ibu jualan sup. Aku lagi kepengen makan sup ayam”
“Siap.. kamu tunggu di sini ya tari. Aku beli sup dulu” lala langsung bergegas mengambil nampan di meja dan turun.
Setelah lala keluar dari kamar aku langsung ke kamar mandi untuk mandi , karena 1 jam lagi aku harus kuliah. 30 menit berlalu terdengar keukan dari luar kamar dang langsung ku buka, lala mengantarkan semangkuk sup dengan nasi. “wahh ini kelihatan sangat enak “ aku langsung mengambil mangkuk dari nampan dan duduk di sofa dekat dengan ranjangku. Lala memperhatikan aku makan . “ makannya pelan-pelan tar” kata lala sambil tertawa kecil melihatku makan. Aku hanya tersenyum. “ kamu udah enakan tar” Tanya lala. Aku hanya mengangguk sambil memasukkan makanan ke dalam mulutku.” Kalo belum ndak usah masuk kuliah, kayaknya kamu juga masih lemes gitu” ucap lala sambil menyodorkan segelas air putih padaku. Belum selesai ku jawab aku merasa aneh pada perutku yang terasa seperti diaduk seketika itu juga aku menumpakan semua makananku. Lala terkejut melihatku memuntahkan semua makananku. “Astagaa tarii..”
“ssst.. aku bukan majikanmu lala, aku temanmu. Ingat itu.” Ucapku pada lala yang duduk di samping ranjangku. “ yasudah iya iya” lala langsung berdiri membawa nampan keluar dari kamarku. Aku langsung meraih ponselku dan menghubungi galang. Tapi tak ada jawaban.”pasti dia belum bangun” gumamku dalam hati. Aku berniat untuk tetap berangkat ke kampus pagi ini, aku sudah terlalu banyak mengambil cuti dan aku juga tidak ingin molor-molor kuliah. Aku beranjak dan masih merasa sedikit pusing. Setelah berganti baju dan berdandan aku keluar kamar dan kulihat lala sedang mengepel sambil menonton TV . “ loh kan udah tak bilangin, kamu izin kuliah aja dulu. “ ucap lala sembari berjalan kearahku dengan pel-pel an di tangan kirinya.
__ADS_1
“Aku udah sembuh la.. aku itu kalo masuk angina cuman butuh teh angetnya bik jum kok” bik jum adalah ibu-ibu paruh baya yang memiliki warung paling luas di kantin kampusku. Setelah itu lala mengembuskan nafasnya dan membiarkan aku pergi.
Karena hari ini aku mengikuti kelas tambahan jadi aku akan bergabung pada kuliah umum yang bersama mahasiswa dari kelas lain. Aku sudah telat 15 menit. Aku memasuki kelas yang lemayan besar dan kulihat semua sedang focus mendengar penjelasan professor . saat aku masuk suasana tidak berubah semua masih focus dan aku duduk di bangku paling atas. Aku mulai membuka catatanku. Hari ini terhitung ke tiga kalinya aku mengikuti kuliah umum karena mengganti cuti ku kuliah selama kurang lebih 2 minggu.
1 jam berlalu. Ceklek..
Seorang laki-laki masuk keruangan kuliah dengan sangat santai. Aku menoleh ke arahnya, ia duduk di seberangku. “Apa kamu salah kelas ?” Tanya professor pada laki-laki itu. “Em. Maaf bukankah ini kuliah umum professor Hong Manajemen Bisnis ?” jawab laki-laki itu dengan santai. “ ini sudah jam berapa ? anda terlambat selama 1 jam “ucap professor dengan nada sinis. “baik saya keluar” ucap laki-laki itu hendak berdiri .”Tunggu. “ Professor menghentikan langkah kaki laki-laki itu. “Coba kamu maju sini” ucap professor menunjuk laki-laki itu . “ Kamu jelaskan prinsip manajemen bisnis !” laki- laki itu dengan santai berjalan ke depan dan diluar dugaan , ia sangat lancer dalam menjelaskan materi yang bahkan belum dia dapatkan tadi karena keterlambatannya. Semua mahasiswa di dalam kelas ini sontak bertepuk tangan. Bahkan professor pun tampak kagum pada laki-lki itu. “ Oke bagus, besok-besok jangan sampai terlambat!” ucap professor sambil memberi syarat agar laki-laki itu duduk kembali.
__ADS_1
Aku menatap laki-laki yang duduk di kursi seberangku. “Dia keliatan badung sih. Tapi pinter.” Gumamku dalam hati tapi tiba-tiba mata kami bertemu. Dan aku terkejut sampai menjatuhkan bolpoin yang sedari tadi kumainkan. Laki-laki itu tersenyum melihatku yang salah tingkah ditatapnya. Aku langsung focus lagi pada penjelasan professor. Setelah 15 menit professor menutup perkuliahan . mahasiswa berhamburan keluar kelas sedangkan aku masih merenggangkan kedua tanganku. Tanpa kusadari bahwa ada laki-laki di depanku yang menatap ke arahku . “Aku Arzen, panggil aja Zein” ucap laki-laki itu sambil mengulurkan tangannya dan menatapku dengan senyuman.