
...Enjoy and Happy Reading ...
Rumah keluarga Boltom
22.45
Matt mengendarai mobilnya dengan menggila. Ia memang sedang tidak waras sekarang. Beberapa jam yang lalu ia dapat kabar dari rumah sakit bahwa Lyn sudah dirawat sampai dua hari lamanya dan bahkan Jessica sama sekali tidak menghubunginya.
Matt sadar, saat hari dimana puluhan kali Jessica menghubunginya. Dan mungkin kini Jessica benar-benar menyerah untuk menghubunginya lagi, bahkan ponsel gadis itu sama sekali tidak aktif hingga hari ini.
Matt berlari memasuki rumah besar itu, ia sangat berharap Jessica berada disana walaupun kecil kemungkinan. Setidaknya yang ingin ia temui saat ini adalah Jessica, gadis itu pasti sangat terpuruk. Matt memeriksa setiap ruangan dirumahnya dan tidak menemukan siapapun disana. Ruang makan, dapur, kamar Lyn hingga perpustakaan dan ia benar-benar tidak menemukan siapapun.
“Kenapa anda tidak menghubungi saya Mr Sam?!”
Matt meninggikan suaranya pada pria paruh baya itu. Mr Sam tersentak, untuk pertama kalinya Matt seperti ini padanya, Mr Sam hanya menunduk, ia merasa bersalah karena menyimpan ini semua pada atasannya itu.
“Maafkan saya Tuan, Nyonya melarang saya untuk menghubungi anda.”
Matt mengepalkan tangannya kuat. Apa yang membuat Jessica menyembunyikan kondisi Lyn padanya? Bahkan ia bisa mengiriminya pesan saat ia tidak mengangkat panggilan gadis itu. Apa Jessica menginginkan ia menyesal seumur hidup karena mengabaikan Lyn?
“Nona muda dirawat di rumah sakit X, saya bisa mengantarkan-“
“Tidak, tidak perlu. Mulai hari ini dan sampai kapanpun jika anda merahasiakan apapun kepada saya. Jangan harap anda bisa bertemu dengan istri anda lagi Mr Sam!"
Matt berucap dingin dan langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Emosinya memuncak, sebenarnya ia tidak benar-benar serius dengan ancamannya, terlebih kepada Mr Sam yang sudah berpuluh puluh tahun setia dengan Boltom’s Family, tapi hanya dengan cara itu ia memastikan seseorang tidak mengkhianatinya. Ia benar-benar sudah muak dengan pengkhianatan, walaupun itu oleh karyawannya.
......................
Hospital
23.15
“Saya mohon Dokter, saya mohon biarkan saya mendonorkannya kepada Lyn, saya mohon.”
__ADS_1
Kini Jessica berlutut di lantai, ia tidak peduli apapun lagi. Hampir dua hari ini ia membuang waktu dan tenaganya untuk menjalani berbagai tes transplantasi tapi di tes terakhir hasilnya gagal. Ia terlalu depresi dan itu tidak memungkinkan untuk ia melakukannya.
Dokter tersebut yang melihat Nyonya Boltom yang cukup ia kenali itu ikut berlutut. Ia benar-benar berada dikondisi begitu bimbang, ia tidak mungkin mengambil begitu banyak resiko jika sampai melakukannya, terlebih beberapa waktu lalu ia tahu jika Nyonya Boltom mendapat pendarahan karena keguguran dan itu semakin membuatnya ragu.
“Mohon maaf sekali lagi Nyonya, kami tidak bisa mengambil resiko jika sampai terjadi apa-apa. Anda tidak memenuhi kualifikasi untuk pendonoran, kuharap anda bisa mengerti.”
“Tidak, aku bersumpah tidak akan menuntut anda atau rumah sakit ini jika sampai terjadi apapun padaku. Kumohon Dokter."
Air mata Jessica berurai deras. Dokter dan beberapa perawat medis yang melihatnya ikut iba sekaligus bingung. Mereka sangat yakin jika apa yang dikatakan Nyonya Boltom itu bisa dilaksanakan. Tapi Tuan Boltom tidak mungkin membiarkan itu semua, Tuan Boltom yang akan memberi mereka pelajaran jika terjadi sesuatu pada istrinya itu. Mereka cukup mengenal Tuan Boltom, bahkan Boltom’s Family salah satu investor dengan donasi terbesar di rumah sakit ini, dan merekapun sangat paham jika Tuan Boltom sangat tempramen jika terjadi sesuatu pada keluarga kecilnya itu.
Sebenarnya mereka cukup heran, bagaimana bisa keluarga Boltom tidak menyadari gejala-gejala yang terjadi pada Nona muda. Karena mereka semua tahu, sickle sell disease memiliki gejala yang begitu terlihat seperti pusing, mual, muntah, sesak napas dan lainnya yang bisa terlihat dengan jelas. Dan mereka juga tahu, bahkan pusing sedikit saja Nona muda itu langsung dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya. Mereka salah satu orang tua yang sangat protektif pada putri kecilnya.
“Jessie, Jessica.”
Matt berteriak dari ujung lorong dan membantu sang istri berdiri. Dokter dan perawat medis bernapas lega melihat kedatangan Tuan Boltom. Nyonya Boltom begitu keras kepala, dan mereka juga tidak ada yang berani menghentikannya.
Matt memandang wajah istrinya itu, hatinya bergetar melihat kondisi Jessica. Wajahnya begitu pucat, terlihat sekali ia kurang tidur, bahkan Matt rasa berat badan Jessica turun drastis. Bagaimana bisa ia meninggalkan Jessica empat hari dan ia menjadi begitu menyedihkan seperti ini.
...Penyakit sickle sell biasanya penyakit genetik Tuan, ini salah satu penyakit turunan keluarga.” Matt mengangguk mengerti.
“Ibu saya mengidap penyakit sickle sell Dokter, dia harus menjaga pola makannya dan meminum obat-obatan tertentu selama sisa hidupnya.”
Jessica memandang Matt, bagaimana bisa? Seharusnya Lyn tidak ada sangkut pautnya dengan Nyonya Boltom. Tapi ia tidak terlalu memikirkan itu semua, mendengar Matt yang seolah berpengalaman dengan penyakit yang diidap Lyn membuat ia sedikit lega.
“Lyn harus mendapatkan transplantasi sumsum tulang secepatnya Tuan, dan Nyonya Boltom tidak bisa melakukannya karena gagal dibeberapa tes akhir.”
Matt menatap Jessica yang kini menunduk dalam. Matt menarik napas, Jessica berpikir seolah ia bisa menyelesaikan semuanya sendiri dan mungkin itu yang menyebabkan ia memutuskan untuk tidak menghubunginya lagi.
“Biarkan saya yang melakukannya Dokter.” Jessica tersentak, ia memandang Matt.
“Baik Tuan, anda bisa menjalani beberapa tes terlebih dahulu. Tolong ikuti saya.”
Matt menatap Jessica dalam, ia akan melakukan apapun untuk keluarga kecilnya. Bahkan Jessica mampu memohon seperti tadi dihadapan Dokter itu, dan kali ini giliran ia yang menyelamatkan Lyn. Ia sangat tahu kalau transplantasi sumsum tulang seharusnya dilakukan oleh keluarga kandung atau beberapa orang tertentu yang memang cocok. Tapi ia harus mencobanya, karena hanya ia yang dapat melakukannya, walaupun kemungkinannya sangat kecil untuk berhasil.
__ADS_1
“Lyn akan baik-baik saja Jessie, percayalah padaku, ia gadis kecil yang hebat. Ia akan baik-baik saja.”
Matt mengecup lembut kening Jessica, Matt tersenyum tipis berusaha menenangkannya. Jessica yang melihatnya berusaha menormalkan semuanya, napasnya hingga perasaannya. Ia harus lebih tenang sekarang. Matt mulai mengikuti sang Dokter yang sudah berjalan beberapa meter dari tempatnya, namun dengan cepat Jessica menahan lengan Matt, dan menatap mata almond Matt dengan dalam.
“Kumohon selamatkan Lyn Matt, ini permintaan terakhirku.”
...****************...
Hospital
15.45
Jessica meremas tangannya kuat, ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Sudah hampir seharian Matt telah melewati beberapa tes kesehatan, ia berharap Matt cocok dan mampu melewatinya. Pintu ruangan terbuka, Jessica berdiri dan menghampiri Matt dan sang Dokter. Dokter pria yang memiliki usia kepala empat itu tersenyum memandang mereka berdua.
“Tuan Boltom bisa melakukan donor pada Lyn, tapi kemungkinan tiga atau empat hari lagi. Tuan Boltom butuh banyak asupan gizi untuk menaikkan berat badan.”
“Matt cocok dengan tubuh Lyn, Dokter?” Jessica bertanya dengan penuh kegugupan.
“Tentu saja, ayah kandung salah satunya yang bisa mendonorkan.” Sang Dokter tersenyum menatap Jessica, Dokter tersebutpun juga cukup lega jika Nona muda akan baik-baik saja.
“A... Ayah kandung?” Jessica bertanya hati-hati
Sang Dokter menatap Jessica dengan bingung, tapi ia masih mewajari itu, banyak tekanan yang dilalui Nyonya Boltom pasti penyebab ia berbuat demikian. Kehilangan sang buah hati dan kini harus melihat sang buah hati lainnya jatuh sakit pasti membuatnya begitu tertekan.
“Tentu saja, DNA Tuan Boltom sangat cocok dengan Lyn. Apa ada yang salah Nyonya?” Matt tersenyum mendengarnya, ia sebenarnya sudah mendapat kabar didalam ruangan tadi dan ia begitu bahagia. Lyn adalah anak kandungnya.
“Tidak, Jessica hanya terkejut karena DNA Lyn lebih cocok padaku Dokter.”
Kedua pria itu tertawa kecil. Jessica hanya menatap Matt tidak percaya dan dibalas senyuman penuh arti dari Matt. Sebenarnya selama tujuh tahun dari kelahiran Lyn mereka selalu mengurungkan untuk memeriksa DNA Lyn. Bagi Matt, itu akan hanya membuat hatinya semakin sakit. Mendengar dari mulut Jessica itu sudah lebih dari cukup, tapi siapa yang sangka Lyn adalah anaknya dan itu langsung dari pemeriksaan DNA.
“Terimakasih banyak dokter atas bantuannya.” Matt berucap pelan.
Dokter tersebut hanya mengangguk dan meninggalkan mereka. Jessica masih berkelahi dengan pikirannya, banyak sekali kejutan yang terjadi sedikit demi sedikit pada hidupnya, entah bagaimana semuanya akan berakhir. Kebahagiaan atau keterpurukan yang akan ia dapatkan.
__ADS_1