Married Life

Married Life
2.6. Choose


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Boltom’s Company


15.35


Matt mengacak rambutnya frustasi, dari jam makan siang ia sampai dikantor tapi sampai saat ini ia tidak mengerjakan apapun dikantornya. Pikirannya selalu ada Jessica, dan pria bernama Mike itu. Hampir tujuh tahun terakhir hidupnya begitu bahagia dengan Jessica dan Lyn, tapi kali ini Mike kembali datang. Dan orang pertama yang ditemuinya adalah Jessica, padahal baru setahun terakhir ia mendapat kabar dari Lee jika Mike berada di Perancis. Tapi mengapa ia kembali?


“Tuan, ada yang ingin menemuimu.”


Matt tersentak saat tiba-tiba asistennya itu memasuki ruangan, ia menatap tajam kearah Mark. Mark yang ditatap seperti itu berusaha untuk mengalihkan pandangannya.


“Aku sudah bilang tadi pagi, aku tidak ingin diganggu?!” Mark menghela napas, sudah terbiasa jika atasannya ini bersikap seperti jika ia sedang stress. Dan selalu ia yang kena bentakan dan teriakan atasannya itu.


“Tapi Tuan, yang datang adalah-“


Pintu ruangan Matt terbuka, seorang gadis dengan pakaian dress pastel sebatas lutut dan dipadukan dengan jas berwarna putih memasuki ruangan. Tatapan marah Matt tergantikan oleh tatapan bingung kearah gadis tersebut.


“Apa kau tidak merindukan kekasihmu Tuan Boltom?”


...****************...


Rumah Keluarga Boltom


19.35


Jessica kembali mengecek layar ponselnya, sudah belasan kali ia menghubungi Matt namun tetap tidak ada jawaban. Ia sebenarnya begitu lelah, tidak ada kepercayaan yang Matt miliki kepadanya. Seperti beberapa bulan yang lalu, ia ingin belanja beberapa stok makanan, dan ia lupa memberitahukan Matt bahwa dirinya dan Lyn pergi. Dan ternyata, Matt sudah lebih dulu sampai dirumah. Dan sesampainya dirumah, Matt begitu marah kepadanya dan seperti biasa, Matt selalu pulang dengan keadaan mabuk bersama wanita lain.

__ADS_1


Sebenarnya iapun begitu sakit saat Matt dirangkul wanita lain, atau entah apa yang dilakukan Matt bersama wanita itu. Setiap ia membahasnya keesokan pagi Matt tidak mau membicarakannya, dan bahkan malah memancing keributan dengannya. Itu terkadang membuatnya ingin menyerah, ia sangat lelah. Namun saat ia menatap putri kecilnya Sherlyn Boltom, gadis cantik yang ia miliki. Ia mengurungkan niatnya, ia kembali mendapat kekuatan untuk mempertahankan rumah tangga mereka, mempertahankan keluarganya.


“Mom, apa Daddy tidak pulang lagi?”


Jessica sedikit tersentak atas pertanyaan putrinya itu. Kini mereka sedang berada diruang keluarga dan menonton kartun favorit putrinya itu. Namun tanpa disadari Jessica, Lyn sudah menatapnya dengan pandangan sedih.


“Daddy akan pulang, tapi ia akan pulang malam hari ini. Jika Lyn ingin tidur, Mommy akan menemanimu Okay?”


“Apa Mommy disakiti Daddy semalam?”


Jessica tersentak atas pertanyaan anak semata wayangnya itu, mata Jessica berlinang. Lyn, gadis kecil berusia hampir tujuh tahun itu memeluk ibunya. Ia memang kadang sedih jika ayahnya tidak ada waktu untuknya, tapi ia masih beruntung memiliki ibu yang begitu menyayanginya.


“Daddy tidak pernah menyakiti Mommy sayang, Daddy kan sayang Mommy.” Dengan cepat Jessica menghapus air matanya dan tersenyum menatap Lyn.


“Aku melihat kemarin malam Daddy diantarkan seorang tante bergaun cantik, tante itu siapa?” Jessica terdiam.


Jessica terkejut Lyn melihat semuanya semalam, pasti gadis kecil ini melihat itu semua melalui jendela kamarnya yang mengarah langsung pada halaman depan.


“Iya, itu teman Daddy dan juga Mommy. Apa Lyn ingin tidur? Mommy akan membacakan dongeng Tinkerbell malam ini.” Jessica berusaha sebisa mungkin mengalihkan pembicaraan, bukan saatnya Lyn membicarakan ini semua, ia masih terlalu kecil untuk memahaminya.


“Yeay, yeay, Tinkerbell. Ayo kita kekamar!” Lyn tersenyum dan mulai meloncat-loncat. Jessica tertawa karena tingkah gadis kecil itu, Jika ia masih memiliki Lyn, ia kuat menghadapi segalanya.


...****************...


Boltom’s Company


20.15

__ADS_1


Corrine menghela napas. Sudah berjam-jam ia menunggu, bahkan berusaha sebisa mungkin mencuri perhatian, tapi pria dihadapannya tetap fokus pada laptop sialan dan berkas-berkas dihadapannya. Corrine berdehem, tapi pria itu bahkan tidak menoleh sedikitpun padanya. Gadis cantik itu mengepalkan tangannya erat. Sudah, kesabarannya sudah habis.


“Matthew.”


Corrine berucap pelan dan mulai melangkah kearah meja Matt. Matt seolah tidak mendengar, atau bahkan ia tidak peduli. Ia berusaha bersikap dingin dan tidak peduli oleh kehadiran Corrine, namun gadis itu lebih keras kepala dari apa yang ia bayangkan.


"Apa kau ingin tidur denganku Matt? Ayolah, pasti aku jauh lebih menarik daripada istrimu bukan?"


Matt terdiam, kali ini ia menghentikan pekerjaannya dan menatap Corrine dingin. Corrine yang merasa berhasil mencuri perhatian Matt diam-diam tersenyum kecil. Ia mulai tahu, apa yang paling penting dalam hidup Matt selain berkas-berkas itu, istrinya. Matt begitu peduli kepada istrinya.


“Apa? Aku benar, kan?” Matt mengepalkan tangannya.


“Aku sebenarnya tidak menyangka, jika Nyonya Boltom yang begitu dielu-elukan diperusahaan sebesar ini hanya seorang wanita kumuh yang seolah tidak bisa membedakan mana baju bermerk dengan baju dipasar obral.” Corrine tertawa merendahkan, ia melihat rahang Matt mulai mengencang. Ia terlihat begitu marah, tapi Corrine semakin menyukainya.


“Cukup Mary, kau harus keluar dari perusahaanku.” Matt berujar lembut, bagaimanapun Corrine adalah kliennya. Ia harus bersikap sopan jika proyek yang telah dikerjakan hampir dua bulan ini berjalan dengan baik.


“Terlebih Nyonya Boltom yang kumuh itu tukang selingkuh, bahkan kau harus merendahkan diri untuk bersanding dengannya. Tapi bisa-bisanya ia-“


“Cukup! Keluar!”


Matt memukul meja, Corrine tersentak. Matt sudah menatapnya dengan pandangan membunuh, seolah jika Corrine berbicara sepatah kata lagi, ia akan menikam dirinya saat itu juga.


“Apa kau ingin aku menyudahi proyek ini, Matthew?” Tatapan marah Matt seolah menghilang begitu saja, tatapan itu terganti menjadi tatapan heran.


“Apa kau sedang mengancamku?” Matt bertanya pelan, Corrine menyeringai dan melangkah mendekat kearah tempat duduk Matt. Gadis lasing itu duduk dipangkuan Matt dan mengecup leher Matt pelan.


“Lalu apa yang akan kau pilih, keluargamu atau proyek ini?”

__ADS_1


__ADS_2