Married Life

Married Life
Bab 9


__ADS_3

Aku hendak berangkat ke kampus pagi ini. Aku memang sengaja berangkat lebih pagi supaya tidak terjebak macet. karena biasanya aku lebih santai hingga terlambat masuk kelas. Aku duduk di depan kontrakan ku sambil memakai sepatu *high converse* andalanku. tetapi kegiatan menali sepatuku terhenti tiba\-tiba karena mengetahui sosok lelaki ber kemeja hitam dengan lengan yang dilipat memakai celana pendek berwarna putih mengenakan kacamata berwarna coklat berjalan ke arah ku. aku terkejut dengan kehadiran Galang. "Ngapain kamu kesini pagi\-pagi buta gini?" tanyaku yang masih keheranan dengan Galang yang sudah tampak dekat di depanku. "Aku akan mengantar calon istriku berangkat kuliah."Ucap Galang sambil tersenyum menatapku yang masih berekspresi kaget.


"Calon Istri? Astagaaa. kenapa dia sangat percaya diri akan menikahiku?" gumamku dalam hati sambil kuikat lagi sepatuku dan kuambil tumpukan buku disebelahku.


-Semalam Di pesta Pernikahan-


Mataku terbelalak mendengar pertanyaan Galang yang memintanya menikah dengan dia. "Aa.apa ?"tanyaku dengan nada gugup yang tiba tiba keluar dari mulutku. " Menikahlah denganku lestari.."Galang menatap mataku yang sudah kuyakini membulat seakan akan hendak keluar. aku menatap galang tanpa berkedip sedetik pun. Galang mendekatiku. dan tiba tiba duduk dengan lutut yang ditekuk kebawah hingga aku harus menunduk melihatnya. aku masih bingung dengan keadaan ini. apa ini mimpi.


Suasana tenang di dekat kolam dan angin yang bertiup menerpa rambut rambut tipis di dahiku. "Galang. kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahiku?" Tanyaku dengan keheranan. Memang terakhir kali kami bertemu bahkan hanya saling melontarkan tanya jawab yang terbalaskan singkat-singkat dan datar-datar saja. Sudah tidak ada kesinisan diantara kami waktu itu. Mungkin Galang juga sudah menerimaku di rumahnya saat itu. Aku juga melihat galang sudah berubah, bahkan terakhir pulang dari Mellbourne dia juga tampak lebih tenang ketimbang awal pertemuan kami yang terbilang kacau. "Apa diam-diam galang menyukaiku? " batinku sembari kupegang dadaku yang berdetak semakin tak karuan. aku menatap galang. "Iya karena kak Andrian sudah menikah. Dan aku ingin menikah juga. Tapi aku tak tau harus menikah dengan siapa" Ucapnya sembari memegang kedua tanganku diatas pahaku, matanya menatapku. Kulihat lagi wajah tampan galang yang masih melontarkan senyumnya ke arahku. "Sial.. tatapan apa itu" gumamku dalam hati sembari memalingkan wajahku lalu di tepis oleh Galang yang menghadapkan wajahku ke arahnya. Kulihat wajah galang yang tulus tersenyum ke arahku. "ehm.. itu biar aku pikirkan dulu galang." ucapku datar sambil kehempaskan tanganku yang sudah basah dipegang oleh galang. "Kamu gak harus terburu-buru mengiyakannya lestari, aku tau ini sulit untukmu.. " Ucap galang kembali menatapku dengan lembut. Kemudian aku memilih menghindari galang sebentar pergi ke toilet dan kulihat wajahku yang benar benar berkeringat. "astaga. Suasana macam apa ini. Jelas jelas angin sesikit kencang kenapa aku bahkan berkeringat seperti ini" Gumamku sambil melihat pantulan wajahku di depan cermin besar . Aku terus saja memikirkan kata kata galang tadi. entah mengapa Aku tiba tiba menjadi ingin kembali ke kolam mendekati galang lagi dan kuyakinkan saja perasaanku. tapi ku tolak pemikiranku itu dan memilih masuk kedalam hotel yang masih ramai dengan tamu undangan. Saat aku masuk ke dalam Ballroom kulihat Galang sudah duduk di depan meja bundar sendirian sambil menggerak gerakkan gelas di tangannya. Dari Jauh kulihat galang yang masih asyik dengan gelasnya. tapi kemudian.


Galang menatapku . Aku terkejut dan langsung memalingkan wajahku kearah lain.

__ADS_1


Om Richard yang sedang duduk dan berbincang dengan kak Hana terlihat sangat hangat. lalu kuhampiri mereka berdua. dan kami pun hanyut dalam percakapan yang hangat hingga kami bertiga tertawa bersama yang membuat kak andrian penasaran lalu mendekati kami.


"Maaf aku memotong keseruan kalian, tapi aku akan mengajak istriku ini untuk kembali ke kamar karena acara sudah hampir selesai.." Kak andrian datang memotong pembicaraan kami bertiga dan langsung menarik halus lengan kak Hana.


Aku dan Om Richard hanya saling tatap dan senyum meledek kak andrian. Hari sudah semakin Malam Om Richard dan Galang mengantarkanku pulang ke Kontrakan. Sebenarnya Om Richard menyuruhku untuk menginap dirumahnya . Tapi ku tolak halus dengan mengatakan bahwa besok aku ada jadwal kuliah pagi. Galang hanya menatap ku melalui spion tengah mobilnya. kami bahkan tidak berbicara sama sekali sepanjang perjalanan dari hotel . Sesampainya di Kontrakan aku langsung pamit masuk dan berterimakasih pada om Richard yang telah mengantarku pulang. Aku mengganti gaunku dan berjalan ke kamar mandi untuk mencuci wajahku dan menggosok gigi. Di depan kaca aku kembali memikirkan ucapan galang semalam. Aku benar-benar bisa gila.


#throwback off


Galang berjalan kearah mobilnya yang terparkir di depan kontrakan ku . ia membukakan pintu mobilnya untukku dan segera melajukan mobinya. "Kamu udah sarapan?" tanya galang tiba tiba mengalihkan pandanganku yang semula menghadap jendela luar menjadi menghadap ke arahnya.


"belum." ucapku singkat lalu berpaling menghadap ke jendela mobil lagi. Tak ada sahutan lagi dari galang . ian fokus menyetir kemudian tiba tiba mobilnya diparkirkan di tepi jalan . Ia keluar membukakan pintu mobil untukku dan mengulurkan tangannya. "Ayo kita sarapan dulu" ajaknya kepadaku. "aku nggak laper kok. kamu sarapan aja. " ucapku mencoba menolak ajakan galang. Galang langsung menarik lenganku sedikit kasar tapi tetap lembut untuk keluar dari mobil. sehingga mau tidak mau aku tetap menuruti keinginan Galang.

__ADS_1


Kami berjalan kearah warung makan sederhana yang letaknya tidak jauh dari kampusku. kami berdua memesan nasi campur dan teh hangat. Aku bahkan terkejut melihat galang yang mau makan di tempat yang terbilang sangat biasa. karena biasannya ia lebih memilih makan di restauran yang mewah. dirumahpun ia juga kerap kali memesan makanan dari restoran mewah ketimbang memakan masakan pembantu di rumahnya.


saat makanan kami tiba Galang dengan lahap menyantap makanan di depannya. sesekali kulirik dia yang fokus menyantap makanannya. setelah selesai makan kami keluar dari warung makan itu galang membukakan pintu mobilnya untukku. aku mendekati galang "aku tinggal jalan aja gapapa kok" Ucapku sambil memegang lengan tangan galang. "Ayo aku anter sampai dalam. " Jawabnya sambil sedikit memdorong punggungku untuk masuk ke mobil. Sebenarnya jarak warung makan dengan kampusku sangat dekat bahkan hanya berjarak beberapa perkantoran saja . tapi galang tetap bersikukuh untuk mengantarku sampai dalam jadi aku tak bisa menolak lagi. sesampainya di depan kampusku ia membukakan pintu mobil untukku dan tiba tiba.


Cup.


Galang mengecup keningku dan mengacak sedikit rambutku yang sudah rapi. aku terkejut sampai diam mematung. kuyakini kini rona merah dipipiku sudah sangat nyata . hingga membuat galang tersenyum menatapku. Banyak mata memandang kami bahkan banyak yang berbisik iri melihatku. "Gila ganteng banget itu cowonyaa" sesekali anak perempuan yang berjalan melirik ke arahku dan galang. "Belajar yang rajin."Ucap galang sembari mencubit pipiku yang merah hingga membuyarkan lamunanku. "aww sakit galang" jawabku sambil mengelus pipiku. "yaudah masuk sana" Ucapnya sembari berjalan kearah mobil. aku langsung berjalan kearah kampus sambil tersenyum senyum tidak jelas sepanjang perjalanan. dan entah mengapa aku sangat suka diperlakukan seperti tadi. kupegang dadaku dengan buku dan map dilenganku . kurasakan jantungku sudah berdetak kencang sekali.


"Heiiii" Sylvia tiba tiba datang dari belakang menepuk pundakku. itu benar benar mengagetkanku. "Astagaaaa sylviiiii"Teriakkh kepada sylvia. Sylvia hanya Tertawa menggodaku. "ihh yang lagi kasmaraan nihh?" Goda Sylvia sambil menoel lenganku. aku hanya tersenyum saja membayangkan kejadian dimana Galang mengecup keningku.


Ah benar-benar gila.

__ADS_1


__ADS_2