Married Life

Married Life
1.22. All is Over


__ADS_3

Tap..Tap..Tap


Jessica menghembuskan napas kasar. Ia menatap jam dinding yang berada diruang tamu. Tidak terasa telah pukul satu malam. Jessica menarik satu koper besar dan meletakkannya disamping sofa ruang tamu. Ia telah menyiapkan semua pakaian dan keperluan mereka bulan madu. Seingatnya, besok adalah waktunya mereka bulan madu. Atau mungkin, semua perlakukan Matt akhir-akhir ini dikarenakan pria itu ingin memberikan kejutan padanya? Membayangkannya, membuat ia terkikik geli.


Ting!Ting!Ting!


Jessica menoleh kearah pintu besar berwarna putih itu. Siapa di jam segini menekan bel dengan begitu tidak sabaran? Mungkinkah Matt? Tapi untuk apa Matt menekan bel untuk masuk rumahnya sendiri. Perasaan was-was menghinggapi Jessica, seharusnya tidak ada yang berani melakukan hal-hal jahat dikawasan perumahan elit seperti ini. Ayolah, setidaknya penjahat harus memikir dua kali jika ingin merampok disini. Jelas-jelas dikawasan ini begitu banyak kamera pengintai menyebar.


Mata Jessica membulat lebar saat ia melihat seseorang yang berada didepan pintu. Tidak, lebih tepatnya dua orang didepan pintu. Seorang wanita dengan pakaian yang begitu minim, sedang memapah Matt yang terlihat mabuk. Entah mengapa, namun Jessica merasakan dadanya begitu sakit. Apa Matt bermain perempuan? Apa Matt benar-benar pria yang sepeti ini? Dilihat dari penampilannya, sepertinya wanita ini adalah wanita malam.


“Dimana kamar Tuan? Aku akan mengantarkannya kedalam.”


Suara angkuh dari wanita dihadapannya membuat Jessica mengepalkan tangannya erat. Ia tidak suka bagaimana wanita ini merangkul mesra suaminya itu, ia amat sangat kesal.


“Biar aku yang mengantarkannya.”


“Kau siapa? Asisten rumah tangganya? Kau tahu, aku ini kekasihnya.”


Jessica tersentak. Satu tusukan dahsyat mengenai ulu hatinya. Apa benar ini adalah selingkuhan Matt? Atau wanita ini mengada-ngada? Hei, jika Matt berselingkuh, setidaknya Matt akan mencari wanita yang memang pantas. Bukan seperti wanita dihadapannya ini.


“Aku istrinya.”


“Oh, Nyonya Boltom? Kukira Tuan Boltom sudah cerai, ia bilang seperti itu tadi.”


Suara angkuh wanita itu berubah menjadi ramah. Jessica hanya tersenyum sinis, sedangkan apa yang dikatakan wanita itu semakin menyakitinya. Cerai? Sejak kapan Matt dengannya cerai? Ia rasa hubungannya dengan Matt selama ini baik-baik saja. Lalu ada apa dengan pria ini? Apa masalah perusahan mampu membuat Matt menjadi berubah seperti ini? Jessica menarik tangan Matt dan menjadi sandaran pria itu. Ia dapat melihat wajah wanita dihadapannya ini tidak enak hati. Tapi Jessica tidak peduli, setelah Matt sadar, ia akan meminta semua penjelasan kepada pria ini.


Tanpa menunggu lagi, Jessica menutup keras pintu besar itu. Dengan susah payah ia memapah tubuh Matt yang begitu berat. Hei, tingginya hanya sebatas bahu Matt, dan ia begitu engap dengan hanya memapah tubuh Matt seperti ini. Jessica menatap anak tangga. Ia rasa, ia tidak akan sanggup menaiki anak tangga dengan memapah Matt seperti ini. Dengan jalan terhuyung, Jessica menuju pintu yang berada disamping tangga. Itu adalah kamar tamu.

__ADS_1


“Sebenarnya ada apa denganmu Matt?”


Jessica meletakkan tubuh Matt dengan lembut diatas kasur. Ia keluar ruangan untuk mengambil handuk bersih. Dengan telaten Jessica membuka kemeja Matt satu persatu dan mengelap keringat yang telah membanjiri tubuh Matt. Ia rasa Matt benar-benar mabuk, bau alkohol benar-benar menyengat. Jessica memandang Matt sedih, apa selama ini banyak yang disembunyikan Matt darinya? Apa benar Matt adalah pria yang sering memainkan wanita seperti ini? Memikirkannya saja membuat hatinya begitu sakit.


“Jess, jangan pergi.”


Jessica tersentak saat tiba-tiba lengannya ditarik oleh Matt. Gadis itu terjatuh diatas tubuh Matt. Jessica menatap wajah tampan Matt dengan jarak yang sangat dekat. Jessica tersenyum sedih, mengapa saat ia memutuskan melepaskan Mike, ia malah mengetahui jika Matt adalah pria yang seperti ini? Jessica menggeleng keras, ia tidak boleh mengambil kesimpulan begitu aja sekarang.


“Mengapa kau berselingkuh dibelakangku Jessica?”


Jessica membulatkan matanya. Secara tiba-tiba jantungnya berdetak kencang. Apa Matt tahu semuanya? Apa Mike yang memberitahukan semuanya? Pria licik itu! Tidak, tidak ini bisa saja dikarenakan Matt mabuk. Tapi bukankah seharusnya ucapan orang yang mabuk merupakan kejujuran.


“Kau ini bicara apa Matt?”


“Jika kau memang ingin selingkuh, tidak bisakah kau mencari yang lain dan bukan sahabatku sendiri? Ini begitu menyakitkan Jess.”


“Maaf Matt, aku sungguh minta maaf.”


_____________________________


Suara lenguhan Matt membuat Jessica menjadi sadar total. Semalaman ia tidak bisa tidur karena ucapan Matt saat mabuk. Ia benar-benar sangat takut, ia rasa menjelaskan secepatnya adalah pilihan yang tepat. Matt terlihat memandang Jessica yang hanya duduk disebelahnya, gadis itu terlihat menatap kosong entah kemana.


“Kau mabuk semalam Matt.”


Matt hanya memandang Jessica sekilas dan berlalu pergi meninggalkan kamar tamu itu. Entah mengapa, setiap kali matanya menatap Jessica, amarahnya selalu muncul. Rasa sakitnya dikhianati itu selalu ada. Dan jujur saja, berusaha apapun ia menutupi semua itu, ia tetap tidak bisa. Sudah cukup kemarin ia berpura pura bodoh, dan itu lebih dari cukup baginya.


“Matt, kau ini kenapa?”

__ADS_1


Jessica menahan lengan Matt yang akan menaiki anak tangga. Jessica memohon pada dirinya sendiri, jika yang Matt ucapkan semalam itu hanya omong kosong. Itu hanya karena Matt mabuk, sejujurnya ia memang sudah melepaskan Mike sekarang.


“Kukira aku sudah menjelaskannya semalam, sampai kapan aku harus seperti orang idiot?"


Matt menatap Jessica dingin. Pertahanan Jessica runtuh, mengapa semuanya harus terjadi? Mengapa bau bangkai ini harus tercium saat ia ingin membuang bangkai itu?


“Aku minta maaf.”


Jessica menunduk dalam, perasaan takut telah menyelimutinya. Rahang Matt mengeras, ia mengepalkan tangannya erat, emosinya kian naik.


“Untuk apa kau minta maaf?”


“Memang tidak seharusnya aku-”


“Kutanya, untuk apa kau minta maaf?!”


Teriakan Matt membuat Jessica tersentak. Jessica menatap Matt yang tengah menatapnya dengan tajam. Mata Jessica berlinang, sungguh untuk pertama kalinya Matt seperti ini, berteriak dihadapannya. Matt menatap kearah lain dan tersenyum sinis, berusaha sebisa mungkin untuk tidak tersentuh oleh air mata Jessica. Ia tidak sanggup, ia tidak sanggup membuat Jessica menangis.


“Aku memang berselingkuh dengan Mike, tapi kau-”


“Tidak kusangka, akhirnya kau berani berucap seperti itu.”


Jessica tidak dapat melanjutkan kalimatnya, ia benar-benar sangat takut sekarang. Sedangkan air matanya telah mengalir deras. Ia baru menyadari akan kebodohannya sekarang, lalu sekarang apa? Ia tidak dapat melakukan apapun. Bahkan hanya untuk menjelaskan semuanya.


“Matt, kumohon ini tidak seperti-”


“Aku akan siapkan surat cerai.”

__ADS_1


Ujaran terakhir Matt sebelum ia memilih untuk meninggalkan rumah keluarga Boltom itu. Jessica terdiam, ia terjatuh dilantai, seolah lututnya benar-benar tidak dapat menahan beban tubuhnya lagi. Air mata itu kian deras, ia menangis tersedu-sedu. Matanya beralih pada koper besar yang berada disamping sofa. Seharusnya hari ini adalah keberangkatan mereka untuk pergi bulan madu, seharusnya mereka akan bersenang senang hari ini, seharusnya ia siap menyerahkan segalanya pada Matt hari ini. Seandainya kata seharusnya itu dapat dihilangkan.


__ADS_2