Married Life

Married Life
2.3. Trauma


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Pizza’s Luv


17.45


“Mom, dimana Daddy?”


Jessica menatap kesegala penjuru resto yang sangat ramai itu. Hampir setengah jam mereka disini namun Matt tidak kunjung datang. Apa Matt lupa akan janjinya? Tidak mungkin bukan Matt melakukan hal yang sama untuk kedua kalinya?


“Sebenarnya aku begitu iri melihat keluarga kakak itu disebelah sana.”


Lyn menunjuk sekelompok keluarga kecil yang sedang merayakan ulang tahun sang Anak. Ayah, Ibu dan seorang anak laki-laki kecil dan kue ulang tahun dihadapan mereka. Jessica memandang anak gadisnya itu, Lyn hanya menunduk dalam seolah menyembunyikan kesedihannya.


“Hei Honey, bukankah ulang tahunmu kemarin kita juga seperti mereka?”


“Aku bukan ingin ulang tahunnya, aku ingin keluarga lengkap mereka.”


Jessica tersentak, Lyn menatap kearahnya dengan mata berkaca-kaca. Jessica menelan salivanya, ini adalah ujaran jujur seorang anak berusia enam tahun. Lyn hanya menyampaikan apa yang ada dihatinya, hanya sekedar mengungkapkan perasaannya.


“Mommy, apa aku salah jika menginginkan seorang Daddy?”


Lyn menatap Jessica penasaran. Tadinya ia berpikir jika Daddy pergi bekerja dan tidak pulang kerumah adalah hal biasa, namun saat ia melihat beberapa orang selalu berpergian dengan ayah mereka. Ia menyadari, bahwa hanya ayahnya yang berbeda. Bahkan dua bulan terakhir ayahnya itu tidak pernah mengajaknya bermain seperti biasa.


“Sayang, sayang. Bukankah kau menginginkan liburan ke Disney Land? Daddy sedang mencari uang untuk kita pergi kesana.”


Jessica menatap Lyn dengan tersenyum, sedangkan hatinya menangis. Sejujurnya ia juga merindukan Matt, merindukan pria itu yang selalu menemaninya setiap malam, mengobrol bersama sebelum tidur, bahkan menonton film apapun setelah Lyn sudah tertidur lelap.


“Jika aku bilang tidak mau pergi ke Disney, apakah Daddy akan memberikan waktunya untukku Mommy?” Jessica terdiam, ia terlalu takut salah bicara


“Aku akan bilang kepada Daddy kita tidak perlu liburan ke Disney, aku lebih membutuhkan Daddy dari pada melihat badut Disney yang besar itu.”


Jessica dapat melihat gadis kecil itu tersenyum senang, seolah semua rencananya akan berhasil. Jessica hanya menatap iba, bahkan dua tahun belakangan ini Lyn merengek untuk pergi ke Disney Land dan ia akan membatalkan itu semua jika itu bisa ia tukarkan dengan perhatian dan waktu sang ayah.


“Jessie!”


Jessica dan Lyn menoleh kearah seorang pria yang memanggil. Jessica tersentak, beberapa meter dari tempat mereka duduk berdiri seorang pria dengan kulit pucat dengan baju kasual. Sudah kurang lebih lima atau enam tahun yang lalu ia melihat pria itu, pria yang menjadi cinta pertamanya dan juga pria yang menjadi salah satu kesalahannya.


“Hai Jessie, Bagaimana kabarmu?” Pria itu kini sudah berada disamping Jessica, Lyn yang melihat ada kebingungan dan rona kebahagiaan di wajah ibunya itu menatap mereka berdua secara curiga.


"Aku baik-baik saja Mike, bagaimana kabarmu?"


Mike tersenyum simpul, pria itu tidak munafik, ia begitu merindukan Jessica. Wajahnya, senyumannya, bahkan suaranya. Ia begitu merindukan semua hal yang berkaitan dengan Jessica. Setelah hampir enam tahun ia mencoba melupakan gadis itu, tapi sekarang ia tahu, ia tidak bisa.


“Jess, aku-“


“Mom, siapa pria ini?!” Jessica maupun Mike tersentak, mereka melihat seorang gadis kecil yang menatap kesal kearah mereka berdua. Mike menatap gadis kecil itu penasaran.


“Lyn ini-“


“Aku Mike, dan siapa kau gadis kecil?” Lyn menatap pria asing itu dari atas sampai bawah, ia tidak suka bagaimana pria ini memandang ibunya dan juga bagaimana ibunya memandang pria asing ini.

__ADS_1


“Aku Lyn, dan Uncle jangan menyukai ibuku!”


Lyn bicara dengan tegas dan memeluk Jessica. Jessica dan Mike tersentak atas ucapan Lyn, seolah ia berpikir Mike akan merebut Jessica darinya. Mike tersenyum melihat tingkah Lyn. Sejujurnya ia cukup terkejut melihat Jessica sudah memiliki anak dengan Matt, toh memang apa yang diharapkannya lagi dari Jessica.


“Uncle tidak akan menyukai ibumu, aku dan ibumu hanya berteman.” Lyn tetap terdiam dan masih memeluk Jessica dengan erat.


“Jadi, apa kau mau berteman dengan Uncle?”


Mike mengulurkan telapak tangannya, sepuluh detik Lyn terdiam namun langsung menyambut high five Mike. Lyn melepaskan pelukannya dengan sang ibu, ia berpikir paman dihadapannya ini cukup menyenangkan.


“Uncle kenal ibuku dimana?”


Lyn kembali duduk dikursinya dan menatap Mike dengan seksama, mereka berdua ikut duduk. Mike cukup terkejut dengan pertanyaan Lyn. Terlihat jelas sekali jika Lyn adalah gadis kecil yang cukup dewasa dan juga pintar.


“Aku dulu satu sekolah dengan ibumu, ibumu dulu gadis paling cantik disekolah.”


“Benarkah?”


Mike mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Lyn. Terlihat Lyn begitu berbinar-binar, Mike hanya tersenyum simpul. Jessica memandang mereka berdua dengan sedih, jika dulu ia tidak memilih Matt, akankah keluarga mereka seperti ini?


“Uncle ingin memesan Pizza? Karena ini pertemuan pertama kita, ibuku akan mentraktir.”


Jessica dan Mike tertawa, Lyn benar-benar gadis yang polos. Mike menatap dalam kearah Lyn, sebenarnya dari pada mirip dengan Matt, Lyn lebih mirip dengannya. Rambut kecokelatan, kulit pucat, sekaligus mata biru terang. Seandainya jika ia berkeluarga dengan Jessica, akankah ia memiliki anak seperti Lyn?


“Jadi, apa pizza yang ingin kau pesan Uncle? Aku akan memesannya seperti perintah Nona besar Sherlyn.” Jessica berucap


Lyn tersenyum senang kearah ibunya itu, Mike yang melihat Lyn begitu senang ikut tersenyum. Seolah gadis kecil itu merupakan semangatnya, pedahal ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.


“Pizza Rocca, ukuran kecil saja.”


“Tentu saja, biar kutebak. Kita menyukai hal yang sama?” Lyn mengangguk dengan semangat.


“Baiklah Pizza Rocca ukuran besar untuk kalian berdua akan segera datang.” Jessica berucap dan pergi menuju kasir untuk kembali memesan.


Jessica memesan, dan dari kejauhan ia dapat melihat Mike dan Lyn yang terlihat tertawa bersama. Sudah cukup lama ia tidak melihat Matt dan juga Lyn mengobrol dan tertawa seperti mereka. Jessica mulai berpikir, seandainya dulu ia memilih Mike, akankah Lyn mendapat perhatian yang lebih? Jelas-jelas Lyn adalah anak kandung Mike.


“Satu Pizza Rocca ukuran besar.”


Jessica membayar dan membawa pizza yang cukup besar itu. Lyn terlihat berbinar menatap pizza kesukannya. Mike menatap Jessica, jika dihadapannya tidak ada Lyn, ingin rasanya ia memeluk Jessica seerat-eratnya, tidak untuk seperti dulu, hanya untuk mengungkapkan rasa rindu.


“Kau yang menawarkan Uncle Mike, Uncle Mike yang harus lebih dulu memakannya bukan?” Lyn meletakkan potongan Pizza dan wajahnya cemberut menatap Jessica, Mike tersenyum menatap wajah imut Lyn.


“Memang seperti itu, ibumu menyebalkan bukan?” Lyn mengangguk menyetujui ucapan Mike, kembali gadis kecil itu tersenyum riang. Lyn cukup senang bagaimana Uncle Mike membelanya, sedangkan Daddy Matt juga akan memarahinya jika ia bersikap seperti itu kepada ibunya.


“Tapi apa kata ibumu itu benar Lyn, itulah sopan santun. Tapi karena kau masih kecil, Uncle memakluminya. Ayo kita makan bersama.”


Baru saja Jessica akan protes, tapi setelah ucapan Mike selanjutnya ia urungkan. Jessica melihat mereka berdua mengambil potongan pizza dan berhigh five ria. Jessica tersentuh, hampir dua bulan lebih Lyn tidak sebahagia ini, bahkan belakangan ini ia melihat Lyn begitu sedih karena tidak bisa bermain dengan Matt.


“Jess!”


Mereka bertiga tersentak, di sebelah Jessica telah berdiri Matt yang menatap tajam tepat kearah Mike. Perasaan Jessica tidak enak, tidak mungkin kan Matt salah paham dengan mereka? Terlebih ada Lyn disini, Matt seharusnya tidak melakukan hal yang konyol.

__ADS_1


“Daddy, lihat ini Uncle Mike! Teman baruku.”


Lyn berujar girang, senyuman Lyn luntur saat sang ayah hanya menatap kearahnya dengan dingin. Jessica menatap bingung kearah Matt, sebenarnya ada apa dengan pria ini? Jika memang ia cemburu, ataupun kesal karena ia bertemu Mike, tidak bisakah ia menyembunyikannya dihadapan Lyn?


“Sudah cukup lama kita tidak bertemu Matt.”


“Aku bahkan tidak mengharapkan bertemu denganmu. Ayo kita pulang!”


Lengan kanan Matt menggendong Lyn, dan tangan kirinya menyeret Jessica keluar Resto. Mike hanya menatap kepergian keluarga itu dengan sedih, ia rasa waktu enam tahun belum bisa menghilangkan kebencian Matt padanya. Mike terduduk dan menatap kearah kursi tempat duduk Lyn. Gadis itu, gadis kecil itu. Jika memang Lyn adalah putrinya, ia akan merebutnya dari Matt. Merebut keluarga kecil yang seharusnya menjadi miliknya.


...****************...


Rumah Keluarga Boltom


18.45


“Lyn pergi ke kamarmu dan tidurlah, Daddy ingin bicara dengan Mommy berdua saja."


Lyn menatap ayahnya itu dengan takut, untuk pertama kalinya ia melihat sang ayah begitu seram. Mata kecilnya itu menatap sang ibu, terlihat sekali sang ibu begitu gugup dan takut, yang paling ditakutkan dari gadis kecil itu hanya satu, ia begitu takut sang ayah menyakiti ibunya.


“Daddy, kumohon jangan menyakiti Mommy. Aku menyayanginya.”


Matt maupun Jessica tersentak atas ucapan Lyn, gadis kecil itu terlihat takut. Selanjutnya Lyn menaiki tangga menuju kamar tidurnya. Setelah Lyn tidak terlihat, Matt menatap Jessica dengan penuh amarah.


“Apa kau ingin kembali mengecewakanku, Jess?”


“Matt, kau hanya salah paham, aku tidak sengaja bertemu dengan-“


“Dan kali ini kau membawa Lyn untuk menemuinya? Apa kau ingin berkata pada pria bajingan itu jika Lyn adalah anak kandungnya?!”


Jessica terkejut, Matt kini mulai berteriak. Ia bersumpah tidak ingin melakukan hal apa yang diucapkan Matt, toh itu semua sudah terlewat enam tahun sejak kejadian masa lalunya. Apa Matt belum bisa memaafkan dirinya dan Mike? Ia tahu, rasa trauma itu begitu membekas, tapi kali ini mereka memiliki Lyn. Dari pada apapun, bagi Jessica kehidupannya hanya untuk Lyn.


“Matt, aku tau kejadian enam tahun itu begitu membekas. Tapi kali ini aku bersumpah atas nama Lyn, aku tidak berniat untuk-“


“Jangan membawa anakku diatas sumpah palsumu Jessica!” Mike menatap tajam kearah Jessica, Jessica merasa kepalanya pening. Apa yang harus ia lakukan untuk menjelaskannya kepada Matt? Sedangkan pria itu tidak memberikannya kesempatan untuk bicara.


“Matt, aku mohon. Tolong percaya padaku, aku tidak akan mengkhianatimu. Aku mencintaimu Matt.”


“Cukup Jessie, dua tahun pertama setelah kelahiran Lyn, aku begitu membenci bayi kecil itu. Tapi setelah saat ini, aku begitu mencintai Lyn lebih dari nyawaku. Jika kau ingin kembali bersama Mike, pergilah. Tapi Lyn tetap bersamaku.”


“Tetap bersamamu? Apa kau sadar apa yang telah kau ucapkan? Hampir setiap saat Lyn menangis karena dirimu, apa selama ini kau tidak menyadari begitu kurangnya waktumu bersama Lyn? Tapi kali ini, kau bersikap seolah-olah Lyn adalah nyawamu? Apa ucapanmu itu tidak terlalu munafik Tuan Boltom?!”


Prang!


Matt membanting vas bunga kecil yang tadinya berdiri indah di meja tamu. Napas Jessica menggebu-gebu, sebenarnya ia tidak ingin mengucapkan hal seperti itu, tapi melihat sikap Matt yang begitu kekanakan membuatnya begitu kesal.


“Dan kali kau tidak sadar aku seperti ini untuk siapa? Untukmu, untuk Lyn.”


“Aku tidak meminta semua ini!” Jessica berucap dingin, Matt menghela napas kasar.


“Aku pergi, lebih baik bergulat dengan kertas kantor dari pada menghadapi wanita tukang selingkuh sepertimu."

__ADS_1


“Matt, Matt tunggu! Matt!”


Matt menghiraukan panggilan Jessica dan keluar dari rumah besar itu, Jessica hanya menatap sedih punggung Matt yang telah hilang dibalik pintu. Ia menyesal, begitu menyesal, seharusnya ia tidak terpancing emosi, seharusnya ia dapat menjelaskan mengenai kehadiran Mike. Jessica memijit keningnya, lalu air matanya memaksa untuk keluar.


__ADS_2