Married Life

Married Life
Bab 7


__ADS_3

Hari ini adalah hari dimana aku harus pindah dari rumah Om Richard karena aku telah mendapat Kontrakan yang tidak terlalu jauh jika harus naik taksi bahkan ojek dari tempatku.


Ada rasa sedih dan tak ingin meninggalkan tempat ini . tetapi aku ingat kata kata ibu bahwa aku tidak boleh mebebani orang lain. yaa walaupun sebenarnya om richard juga telah berkata bahwa ia menganggapku sebagai putrinya tapi tetap saja kembali pada niat awalku.


 


Hari hari berjalan normal dan biasa saja selama aku pindah di kontrakan baruku. bahkan minggu lalu ibu datang mengunjungiku dan membawa banyak sekali makanan. Ibu menginap 5 hari ditempatku. Ibu juga bertemu om Richard dan kak Andrian.


Aku juga sudah lama sekali tidak melihat Galang setelah om Richard pulang dari New York. Kata om richard Galang memang memiliki sifat bandel dari dulu. bahkan Ketika om richard pulang, Galang memilih kembali ke Mellbourne. emang dasar aneh...


-Ibu dan Om Richard-


Hari pertama di Jakarta ibu minta diantarkan kerumah Om Richard . Ingin berterimakasih dan memberikan oleh-oleh dari desa. Ibu banyak mengobrol dengan om Richard aku memilih meninggalkan mereka berdua dan berlalu ke kamar lala.


" Mita, Aku boleh bertanya sesuatu?" tanya om richard yang dijawab dengan anggukan Mita. "Apa Tari sudah memiliki kekasih? " tanya Richard pada Mita. "Sudah. Dia memiliki kekasih " Mita menjawab datar. "Mita. apa kau ingat kata kata mendiang suamimu padaku?" Richard memandang mata Mita. "Iya aku ingat." Jawab mita datar. "Richard. Aku tau aku ingat betul Mario memintaku untuk menikahkan Tari dengan anakmu. tapi jika mereka sudah memiliki cintanya sendiri bukannya kita malah menyakiti mereka ?" jawab Mita tertunduk.


"Iya aku tau mit itu benar-benar berat untuk kita. apalagi Andrian juga sudah memiliki hana dan Tari juga sudah memiliki kekasih."


Richard membuang nafas kesal.


"Tapi sebenarnya, kemarin tari cerita padaku bahwa kekasihnya sudah hampir 7 bulan ini tidak memberi kabar sama sekali pada tari. dan itu membuat tari cemas. sebenarnya aku memakluminya karena dia juga seorang tentara. " mita berdecak kesal.

__ADS_1


Tak lama Tari datang. dan membuat Mita Dan Richard saling tatap. "Ibu. apa ibu gak capek ini udah sore lo bu. kita balik yuk" ajakku pada ibu.


"Kenapa nggak nginep aja sih tariii" om richard berdiri dan menepuk pundakku.


"ehm kapan kapan aja deh om. kan ibu pingin berdua sama tari aja hehehe" jawabku cengengesan. "kamu memang benar benar seperti galang " om richard tiba tiba mengacak rambutku. "hah sama kayak galang? ya manamungkin dengan sifat angkuh galang yang seperti batu itu sama denganku?" gumamku dalam hati.


Akhirnya kami berdua pulang ke kontrakan dan meninggalkan om richard.


#throwback off


Seperti biasa malam ini aku selalu mencurahkan semua isi hatiku pada ibuku melalui via telefon. ibu benar benar teman curhat yang paling kusuka. mulai dari dicuekin diceramahin di omelin semua sudah aku rasakan ketika curhat pada ibu.


tapi tiba tiba ibu menanyakan hal yang membuat jantungku berdebar.


aku hanya berdehem saja. sambil kulihat foto bima yang kugantung disebelah foto ayah dan ibu.


"Bukannya gimana gimana nak. Ibu tanya gitu semoga kamu nggak cemas sih. Dulu sebelum kamu kuliah dia bahkan sebulan sekali telefon kamu ." tiba tiba kata kata ibu membuatku berpikir yang tidak tidak.


kata kata ibu ada benernya juga. tapi aku selalu menguatkan hatiku bahwa mas bima sedang bertugas di tempat yang jauh dari sinyal.


"Barangkali mas bima lagi ditempat yang terpencil dan gak ada sinyal" aku mencoba menenangkan pikiranku.

__ADS_1


"Tari apa kamu mencintai bima ?" tanya ibu lagi padaku yang membuatku berpikir mengapa ibu menanyakan hal yang kadang tidak pernah kita bicarakan bersama.


" ya iya dong. kan mas bima pacarnya tari bu." aku menggigit bibir bawahku dan memegang dadaku yang sekarang mulai sesak ingin menangis.


" Sebenarnya tari. bukannya ibu nggak suka sama bima. ibu suka sama bima. dia sopan, baik, manis ke kamu. tapi kalau ibu pikirkan terus menerus ibu kasian sama kamu nak." Gumam ibu diseberang sana.


 


Sebenarnya aku pernah berpikir apa mas bima masih mencintaiku. Karena terakhir kali kami bertemu mas bima selalu mendesakku untuk kuliah dijurusan kedokteran. Ia bahkan mengatakan bahwa ibunya suka bila mas bima kelak menikah dengan seorang dokter.


Tapi aku bisa apa . Aku diterima di universitas ternama dengan biasiswa dan Jurusan yang menjadi passionku adalah hal yang sangat membuatku bahagia hingga saat ini


Apa mas bima memang akan mecari seorang dokter untuk menjadi pasangan hidupnya?


 


"Tar.. Tari kamu sudah tidur nak?" Panggil ibu dalam telefon seketika aku tersadar.


"Tau lah bu. aku ngantuk mau tidurr.." jawabku ingin mengakhiri telefon ibu. tapi iibu tiba tiba berkata..


"Ibu ingin kamu segera menikah Tar." kata kata ibu membuatku tertegun

__ADS_1


.


__ADS_2