Married Life

Married Life
1.26. End Up


__ADS_3

“Cepat bersih-bersih, kau tidak mau ayah dan ibu melihatmu seperti itu, bukan?”


Jessica membalikkan tubuhnya, didepan pintu kamarnya terdapat Matt yang menatapnya dengan datar. Setelah mengatakan itu Matt pergi dan mengunci pintu kamarnya. Memang, sejak kemarin ia terkurung di kamarnya. Matt tidak memperbolehkan ia keluar satu langkah saja, sialnya disini sudah terdapat kamar mandi dan ia benar-benar tidak memiliki alasan untuk keluar, sedangkan makan sudah selalu disiapkan Matt tanpa telat semenit pun.


Jessica berjalan lesu kedepan meja rias, ia melihat pantulan dirinya pada cermin besar itu. Ia benar-benar menyedihkan, rambut panjang yang biasanya selalu ia sisir rapi kini sangat berantakan, kantung mata yang menghitam, wajah yang pucat ditambah beberapa luka lebam karena ia memukul dirinya sendiri. Itu yang biasanya ia lakukan jika sedang bersalah, memukul dirinya sendiri membuatnya begitu puas.


Matt menoleh kearah kamar Jessica, sejujurnya ia sungguh tidak tega melihat Jessica seperti itu, ia seperti mayat berjalan. Tapi sungguh, hatinya begitu kecewa karena pengkhianatan Jessica, dan ia belum bisa memaafkan wanita itu, bahkan mungkin tidak akan bisa memaafkannya. Jessica keluar kamar dengan tampilan yang lebih baik, rambut yang rapi dan wajah yang terlihat lebih segar dengan polesan make up tipis, Matt tahu pasti make up untuk menutupi wajah pucatnya.


Jessica menatap meja makan. Apa benar ini semua Matt yang menyiapkannya? Sungguh, sebenarnya ia adalah wanita beruntung mendapatkan pria seperti Matt. Disana terdapat jutaan wanita yang ingin menjadi pendamping Matt. Mengapa ia sangat bodoh seperti ini?


“Ada yang bisa kubantu Matt?”


“Tidak.”


Jawaban singkat Matt membuat Jessica memudarkan senyuman tipisnya. Matt menatap Jessica, dan ia cukup menyesal menghilangkan senyuman tipis itu, toh sebenarnya Jessica hanya ingin membantunya. Mengapa ia menjadi kekanakan seperti ini?


“Mungkin hari ini adalah hari terakhir aku disini, jika aku tidak sempat. Bisakah kau bawakan beberapa baju dan juga buku koleksiku kerumah?”


“Mengapa kau tidak bawa sendiri?”


“Iya, ya. Aku akan membawanya sendiri...


Jika masih bisa hidup.”


Jessica mengatakan akhir kalimatnya dengan berbisik, namun masih bisa didengar oleh Matt. Memangnya akan ada apa? Jangan bilang Jessica akan merencanakan bunuh diri seperti kemarin. Matt mengangkat pundaknya tidak peduli, lebih tepatnya berusaha untuk tidak peduli.


Suara bel rumah membuat keduanya tersadar dari lamunannya masing-masing. Entah karena apa, jantung keduanya berdetak kencang. Mereka tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi kedua orang tua mereka mendapat kabar ini. Jessica mengikuti langkah Matt yang bergerak menuju pintu utama. Matt membuka pintu utama dan melihat empat orang paruh baya dengan senyuman hangat.


“Ya Tuhan, aku amat merindukanmu Jessica.”


Jessica tersenyum dan membalas pelukan Chelsea Boltom, ibu dari seorang Matt. Memang, Jessica dengan ibu Matt bisa dibilang sangat dekat. Sedangkan ibu Jessica yang melihat mereka berpelukan hanya tersenyum hangat.

__ADS_1


“Silahkan masuk, aku dan Jessica sudah memasakkan makanan enak untuk semua.”


Matt masuk dan diikuti semuanya. Keempat orang paruh baya itu menatap kagum makanan makanan yang tersaji, makanan khas Italia dan dikombinasi dengan khas Asia. Keempatnya menatap Matt dan dibalas senyuman lebarnya dan beralih menatap Jessica yang hanya bisa menunduk. Sesungguhnya ini bukan masakannya, hanya Matt yang menyiapkan ini semua.


“Silahkan makan semua.”


“Kau yang memasakkan Risotto ini Matt?” Pertanyaan Tuan Villegas membuat semua menatap Matt, termasuk Jessica. Ia ingin tahu apa yang akan Matt jawab.


“Itu Jessica yang buat.”


“Benarkah Jess?”


Jessica tersentak atas jawaban Matt. Mengapa Matt bicara seperti itu? Apakah dia sedang menyindirnya atau malah menolongnya? Entahlah, pokoknya ia hanya bisa mengikuti bagaimana rencana Matt. Jessica hanya mengangguk kecil dan tersenyum tipis pada pertanyaan ayahnya itu.


“Wah, pasti kau yang mengajarkan Jessica masakan Italia ini.” Kali ini suara decak kagum Nyonya Villegas. Matt hanya bisa tersenyum membalasnya.


 


\\_


 


“Ada apa Matt kau mengundang kami? Atau jangan-jangan Jessica sudah isi?”


Nyonya Boltom nyaris menyemburkan teh hangat yang ia minum, sedangkan Nyonya Villegas yang mengatakan seperti itu hanya tersenyum-senyum tanpa rasa bersalah. Kali ini mata Nyonya Boltom membulat, mengapa ia tidak berpikiran seperti itu?


“Benarkah Jess kau telah isi? Benarkah aku akan mempunyai cucu?”


Jessica tersentak saat tiba-tiba Nyonya Boltom menghampirinya dan mengguncang pundaknya. Sungguh, ia tidak bisa mengatakan apapun. Sedangkan Matt ikut panik karena reaksi berlebihan ibunya itu, ini bukan seperti yang mereka kira.


“Ibu, ibu tunggu dulu!”

__ADS_1


“Kulihat dari awal kau sangat pucat Jess dan begitu lemas. Memang begitu jika sedang hamil, mood tidak pernah baik. Sungguh, aku senang sekali akhirnya memiliki cucu.”


Kali ini Nyonya Boltom memeluk Jessica dengan erat. Sedangkan Jessica hanya bisa pasrah, sungguh ia ingin menangis sekarang juga. Ia tidak hanya mengkhianati Matt, tapi mengkhianati keluarga Boltom, bahkan juga mengkhianati keluarganya. Ia dapat melihat sang ibu hanya melihatnya dengan senyuman hangat saat ia berpelukan dengan ibu mertuanya itu.


“Ibu tunggu dulu, sebenarnya aku dan Jessica akan bercerai.”


Semua tersentak, termasuk Jessica. Apakah bisa Matt mengatakannya tidak saat momen seperti ini? Nyonya Boltom melepaskan pelukannya dan menatap Jessica dengan dalam. Jessica hanya bisa menunduk, ia takut, sangat takut.


“Ada apa?”


Dari semua keheningan hanya ada suara Tuan Boltom yang mewakili. Jantung Jessica berdegup kencang, sudah tamat semuanya. Dan ia harus siap, siap bagaimana reaksi semuanya, siap bagaimana pandangan semuanya.


“Jessica berselingkuh dibelakangku.” Kali ini empat orang paruh baya itu menatap Jessica. Jessica hanya dapat menunduk dalam, ia terlalu takut hanya sekedar menegakkannya kepalanya.


“Benarkah itu Jess?”


“M..Maaf.” Jessica sudah tidak sanggup menahan air matanya. “A..Aku minta maaf.”


Suara tamparan keras membuat semuanya tersentak. Cairan merah itu keluar dari sudut bibir Jessica, sedangkan dihadapannya terdapat Tuan Villegas yang menatapnya dengan amarah yang memuncak. Matt menatapnya tidak percaya, sungguh semarahnya ia dengan Jessica, ia tidak berani menyakiti gadis itu.


“Pulang sekarang, ikut aku!”


“Ayah, ayah aku minta maaf. Aku minta maaf.” Tuan Villegas menarik tangan Jessica dengan kasar, membawanya keluar rumah. Nyonya Villegas menatap anaknya itu dengan khawatir. Tersisa keluarga Boltom yang kini menatap Nyonya Villegas.


“Maaf, maaf, tolong maafkan kelakuan Jessica.”


Nyonya Villegas mengikuti langkah suami dan anaknya itu. Matt hanya menatap kosong kearah kepergian keluarga Villegas. Nyonya Boltom menatap anak semata wayangnya itu, ia memeluk Matt dan mengelus punggung Matt dengan lembut.


“Ibu..”


“Sabar sayang, ibu tidak menyangka Jessica adalah gadis yang seperti itu.”

__ADS_1


“Ibu..” Nyonya Boltom melepaskan pelukannya dan menatap Matt.


“Apakah Jessica akan baik-baik saja?”


__ADS_2