Married Life

Married Life
2.10. Wait


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Vive’s Hospital


17.35


Untuk kesekian kalinya Matt mengecup tangan Jessica. Gadisnya terlihat sangat pucat, jika terjadi sesuatu dengan Jessica, ia pasti akan menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimanapun Jessica adalah istrinya, ia adalah cinta pertamanya dan ia berharap Jessica akan menjadi cinta terakhirnya.


Jessica mengerjapkan matanya pelan saat cahaya mengenai tepat dipupil matanya. Tiba-tiba gadis itu bangun terduduk memandang sekeliling. Pikirannya kembali mengingat panggilan beberapa jam yang lalu oleh ayahnya yang meminta tebusan. Memang, sejak setahun yang lalu ayahnya keluar dari penjara, Matt tidak megizinkan sang ayah untuk tinggal bersamanya, Matt terlalu takut jika dirinya akan kembali disakiti sang ayah. Namun ia benar-benar tidak habis pikir jika sang ayah akan menculik cucunya sendiri hanya karena demi uang.


“Matt! Matt! Lyn, Matt. Selamatkan Lyn ku..”


Jessica terisak, Matt seketika tersentak dan memandang Jessica. Jessica terlihat begitu depresi, gadis itu masih terisak, ia sangat takut jika sang ayah menyakiti buah hatinya, menyakiti Lyn. Dan jika sampai itu terjadi, ia tidak akan memaafkan sang ayah.


“Ayahku, ayahku menculik Lyn Matt. Ia mengancamku jika tidak ingin memberikan sepuluh juta dollar, ia akan menyakiti Lyn. Tolong Lyn, kumohon tolong Lyn, tolong anakku...”


Matt memeluk erat Jessica, entah mengapa begitu menyakitkan mendengar Jessica yang memohon padanya. Seolah Jessica begitu takut jika ia tidak ingin menolong Lyn, bagaimanapun Lyn juga anak yang dicintainya dan ia tidak membedakan itu. Matt dengan lembut melepaskan pelukan Jessica. Memandang wanita itu yang masih dengan tangisan dan kepanikan.


“Aku akan menghubungi Mark.” Matt menjauh dari ranjang Jessica menuju jendela ruangan itu. Matt mencari kontak Mark dan menghubunginya.


“Hallo Tuan, Tuan aku sudah mendapat kabar jika Nona Lyn dibawa oleh Tuan Villegas.”


“Cari dia, hidup atau mati! Jika besok aku tidak mendengar kabar mengenai Lyn, nyawamu menjadi taruhannya Mark!”

__ADS_1


Matt memutuskan panggilannya, ia menghela napas berat dan mengepalkan tangannya. Mengapa ayah mertuanya itu tidak pernah jera mengganggu hidupnya? Sebenarnya ia dulu begitu berterimakasih oleh Tuan Villegas yang mata duitan itu. Jika bukan karena Tuan Villegas yang seperti itu, mungkin saja Jessica sudah menikah dengan Mike saat ia kuliah di London.


“Terimakasih Matt, terimakasih banyak.”


“Apa kau berpikir aku tidak akan menyelamatkan Lyn, Jessica?”


Jessica terdiam memandang Matt, saat tadi pagi ia melihat gadis bernama Mary dikantor suaminya dengan hanya memakai balutan handuk, ia jadi berpikir mungkin Matt telah menemukan pengganti dirinya. Dan bisa saja Matt tidak mau menyelamatkan Lyn, terlebih Lyn bukan anak kandung Matt. Dan itu begitu menakutkan baginya.


Dari awal pernikahan mereka, ia hanya bergantung kepada Matt. Terebih setelah ayahnya dipenjara dan ibunya meninggal dunia setahun yang lalu.


“Aku, aku tidak bermaksud untuk..”


Jessica menggantungkan ucapannya dan menatap Matt. Sedangkan Matt menghela napas berat. Sedari dulu Jessica selalu menyembunyikan perasaannya, dan ia juga yang terlalu tidak peduli mengenai perasaan Jessica. Dan mungkin itulah yang menyebabkan Jessica pernah main dibelakangnya dengan Mike.


Matt menatap Jessica, terlihat jelas ada kesedihan dimatanya, sedangkan gadis itu berusaha untuk tersenyum. Melihat Jessica yang berusaha menyembunyikan perasaannya membuat dada Matt bergemuruh.


Sedangkan ia melihat Jessica tengah mengobrol dengan Mike saja bisa membuatnya mabuk semalaman. Lalu bagaimana dengan Jessica yang melihat dirinya dengan gadis lain secara terang-terangan dihadapannya. Terlebih melihat gadis itu hanya memakai balutan handuk, itu pasti membuatnya salah paham.


“Apa kau mencintainya Matt?”


‘Apa menurutmu Corrine pantas menggantikan dirimu dihatiku Jess?’


Matt mengurungkan niatnya untuk bicara. Kini ia begitu bimbang untuk bicara. Ia begitu mencintai Jessica, namun disisi lain ia tidak mampu menjauhi Corrine dari hidupnya. Dari pada ia kembali membuat Jessica memiliki harapan, menurutnya diam adalah hal terbaik. Melihat Matt yang terdiam membuat dada Jessica terasa sesak. Bagi Jessica, diam adalah jawaban iya.

__ADS_1


“Apa kau akan meninggalkanku dengan Lyn, Matt?”


Lagi, Jessica mengeluarkan suara. Ia menghembuskan napas pelan, dadanya semakin sesak. Sedangkan begitu keras ia menahan air matanya agar tidak terjatuh. Matt tidak boleh melihatnya menangis.


“Apa kali ini kau ingin aku yang mengurus surat cerai kita?”


Matt mengepalkan tangannya erat mendengar pertanyaan Jessica. Ia benci, ia sangat benci jika selalu membahas masalah perpisahan. Bagaimanapun Jessica adalah miliknya, dan ia tidak akan membiarkan siapapun mengambil Jessica darinya.


“Apa kau memang begitu ingin berpisah denganku Jess? Untuk apa? Untuk bisa kembali bersama Michael?!’


Jessica tersentak mendengar teriakan Matt, lagi dan lagi Matt selalu membahas Mike. Sedangkan Mike tidak pernah menjadi alasan ia ingin berpisah dengan Matt. Kini ia berada di titik paling lelah bersama Matt. Terlebih yang mengejar Matt adalah gadis seperti Mary. Dari dulu ia tidak punya kepercayaan diri jika disandingkan dengan siapapun. Seharusnya dari dulu ia memang sadar diri, ia memang terlalu jauh jika disandingkan dengan Matt.


“Tunggu aku Jessie!” Jessica menatap Matt, pria itu melangkah pelan menuju sebelah ranjang Jessica. Matt menggenggam tangan Jessica erat.


“Aku akan mengubah semuanya, kumohon tunggu aku! Hanya tinggal beberapa bulan lagi. Bertahanlah!"


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Noted :


Sampai ketemu minggu besok semuaa~


Jangan lupa like dan komen pendapat kamu mengenai setiap karakter di novel ini yaa

__ADS_1


Semangat selalu semua, Luvyaa❤


__ADS_2