
...Enjoy and Happy Reading ...
Hospital
13.00
Matt berlari sekuat tenaga, entah berapa banyak cacian yang diterimanya karena menabrak beberapa orang. Jantungnya berdetak kencang disana, bahkan rapat penting dengan beberapa klien ia batalkan. Ia tidak peduli apapun lagi, mendengar kabar Jessica seolah dunianya runtuh seketika.
“Tuan, Nyonya, Nyonya jatuh dari lantai dua.”
Perkataan Mark terus terngiang-ngiang dikepalanya. Terlebih sekarang kondisi Jessica telah hamil, ia tak pungkiri ia sangat khawatir akan keselamatan bayi itu.
Matt memperlambat kecepatannya, beberapa meter adalah ruangan Jessica. Ia melihat Lyn dan juga pria itu menyambutnya, siapa lagi jika bukan Michael Bellamy. Matt mengepalkan tangannya kuat. Belakangan ini Michael terlalu menganggu hidupnya. Dan ia sudah sangat muak.
“Papa!”
Lyn berlari kearahnya, Matt berjongkok dan merentangkan kedua tangannya. Dengan cepat Lyn memeluknya erat, gadis kecil itu menangis tersedu-sedu dipelukan sang ayah. Mike yang melihatnya tersenyum tipis, bahkan sedari tadi Lyn tidak menangis bersamanya, gadis kecil itu ternyata hanya membutuhkan pelukan sang ayah, batin Mike.
“Pa..Pa.. Ma..Ma, Ma..Ma jatuh la..lalu-“
“Shhh papa sudah tahu sayang, kau pahlawan kecil. Kau menyelamatkan mama, iya?”
Matt merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah gadis kecilnya yang sudah membengkak karena menangis. Pasti Lyn sangat ketakutan saat itu, ia butuh istirahat.
“Huaaa...” Lyn kembali menangis dan memeluk erat sang ayah.
“Sementara papa menunggu mama, kau bersama Nonna dulu ya sayang?” Lyn mengangguk, sejujurnya ia memang lelah menangis dan ia juga sangat mengantuk.
*Nonna panggilan nenek dalam bahasa italia*
“Mark, antarkan Lyn kerumah ibuku.”
“Baik, Tuan.”
Matt melepaskan pelukannya dengan Lyn, sekali lagi ia menatap Lyn. Gadis kecil ini memiliki sifat dewasa, Lyn sudah mengerti semuanya. Ia berpikir, Lyn akan merengek untuk tetap tinggal bersamanya, namun tanpa mengeluh Lyn langsung mengiyakan permintaannya. Ia sudah cukup mengerti diusianya.
"Papa jaga mama dan adik kecilku ya, jangan buat mama menangis oke?"
__ADS_1
Gadis kecil itu tersenyum manis memandang sang ayah sebelum Mark menggendongnya. Matt hanya terdiam, selama ini Lyn tahu jika Jessica menangis karenanya, ia sudah menjadi ayah dan suami yang buruk bagi mereka.
Matt hanya bisa memandang sampai punggung Mark dan juga Lyn menghilang dibalik dinding rumah sakit, kali ini ia menatap Mike yang juga tengah menatapnya. Mereka saling memandang dingin, seolah ingin menghabisi satu sama lain dari tatapan itu.
“Kau dari dulu memang bukan suami yang peka Matt.” Mike tertawa kecil, Matt tahu ada kesan mengejek dari ucapannya itu.
“Dan kau dari dulu memang selalu menyukai istri orang Mike.”
Mike terdiam, ia mengepalkan tangannya erat. Sebenarnya ia sedang tidak ingin terpancing atau bahkan berkelahi dengan Matt, ia sudah lelah. Begitu lelah jika harus kembali mengejar Jessica, jika memang niatnya datang kesini untuk merebut Jessica dan Lyn, ia sudah melakukannya lima tahun yang lalu.
“Kau tidak menyimpan nomor Lyn, Matt? Kau bahkan tidak mengangkat panggilan gadis kecil itu yang tengah ketakutan melihat ibunya sekarat.”
Matt terdiam, saat sedang rapat tadi memang ada panggilan ke ponselnya tiga kali dengan nomor yang tidak ia kenali. Dan, sejak kapan Jessica memberikan ponsel kepada Lyn? Bukankah Jessica yang melarang keras Lyn memegang ponsel karena radiasi?
“Karena Tuan Villegas, Jessica memberikannya ponsel karena ia begitu takut kejadian Tuan Villegas terulang. Bahkan hal sepele seperti itu kau tidak tahu.”
Seolah Mike dapat membaca pikirannya, Matt hanya terdiam menunduk. Mike benar, bahkan hal sepele seperti itu ia tidak tahu. Ia sangat jarang pulang kerumah menemui Jessica, terlebih Lyn. Sungguh, ia menyesal.
“Jessica mengalami pendarahan hebat sekarang.”
Matt mengangkat kepalanya dan memandang Mike yang juga tengah memandangnya sendu. Jantung Matt berdetak kencang, kekhawatiran mengenai keadaan Jessica penyebabnya. Ia sangat tidak mau apa yang ia pikirkan terjadi, tangannya mengepal kuat, berusaha menahan segala ketakutannya.
Kepalan tangan Matt melemas, jantungnya berdetak melambat, ia merasakan dadanya sakit, seolah Mike menusuknya dengan tiga kata itu. Matanya memanas, air matanya menyeruak keluar, namun dengan cepat ia menghapusnya, Mike tidak boleh melihatnya seperti ini. Baginya Mike adalah musuh dan ia tidak tidak boleh terlihat lemah bagaimanapun keadaannya.
“Jessica begitu tertekan Matt, ia membutuhkanmu sama seperti Lyn membutuhkanmu. Kau adalah ayah dan suami yang terbaik. Jaga mereka, jangan sampai aku mengambil paksa darimu.”
Mike menepuk pundaknya dan berjalan menjauh. Jujur saja, melihat Matt yang begitu terkejut mengenai bayinya membuat ia sedikit goyah. Ia memang pernah kehilangan orang yang ia cintai, tapi kehilangan buah hati, ia tidak ingin membayangkannya.
Matt menggerakkan engsel pintu rumah sakit itu, ia masuk keruangan Jessica dan melihat wanita itu tengah terduduk memunggunginya menghadap jendela rumah sakit. Matt menarik napas dalam, ia dapat melihat tubuh Jessica bergetar, gadis itu menangis.
“Jess.” Tidak ada jawaban, Matt kembali menghela napas dan berjalan mendekat.
“Jessie.”
“Pergi.” Jessica berucap dingin. Matt terdiam beberapa saat, ia tidak sanggup berucap ataupun berjalan mendekat.
“Jess, aku-“
__ADS_1
“Aku bilang pergi! Kau tidak dengar?!” Kali ini Jessica menaikkan nada suaranya. Matt terdiam ditempat, hanya dapat menatap punggung Jessica yang masih bergetar.
“Kau puas Matt?” Kali ini Jessica berbalik menatapnya, Matt terdiam. Penyesalan menyelimutinya. Ia bersumpah, jauh dilubuk hatinya bukan ini yang ia inginkan. Kadang ia terlalu bodoh saat tidak dapat mengendalikan emosi.
“Kau puas membunuh bayimu sendiri? Kau puas?!”
Jessica berteriak, tangisannya pecah, hatinya begitu sakit mengingat ia gagal, gagal mempertahankan bayinya. Seharusnya ia tidak membukakan pintu untuk Corrine, seharusnya ia tidak membiarkan Corrine masuk, seharusnya ia jauh lebih kuat dalam mempertahankan bayinya.
“Jess, aku minta maaf. Aku..aku-“
“Apa kau masih menginginkan perceraian Matt? Kali ini, aku akan mengabulkannya.”
Dengan cepat Matt memeluk Jessica erat, mendengar ucapan Jessica yang menyerah seperti ini membuat hati Matt semakin sakit. Ia membual, ia berbohong pada dirinya sendiri jika ia ingin berpisah dengan Jessica. Ia, masih mencintai Jessica, bahkan berapa kalipun Jessica mengkhianatinya, ia akan tetap mencintainya.
“Jess, aku minta maaf. Sungguh, aku tidak tahu akan seperti ini. Aku minta maaf.”
Jessica hanya dapat menangis. Ia tidak menolak ataupun membalas pelukan Matt. Ia terlalu lelah untuk melakukan itu semua. Tenaganya sudah terkuras oleh tangisannya, bahkan sebelum Matt datang menemuinya.
“Ayo kita mulai dari awal Jessie, aku minta maaf, aku sudah terlalu egois selama ini"
Matt berkata lembut dan mencium kening Jessica dengan tulus. Beberapa hari ini waktu yang ia habiskan hanya dengan kerja dan kerja, bahkan ia melupakan Lyn, anaknya yang sudah ia besarkan dengan cintanya, cinta seorang ayah pada putrinya.
“Maaf, aku minta maaf Matt. Aku tidak bisa mempertahankan bayinya, aku bodoh, aku terlalu bodoh.”
Kini Jessica memeluk Matt erat, seolah menumpahkan semua tangisannya yang dari tadi ia tahan. Matt meregangkan pelukannya dan menatap wajah Jessica yang memerah karena tangis. Sekuat mungkin Matt menahan tangisannya, melihat Jessica seperti ini jauh membuat hatinya hancur.
“Sshhh, cukup Jessie. Ini semua bukan salahmu, bayi kita sedang tersenyum sekarang, kau adalah ibu yang hebat, bayi kita sudah bahagia disana." Matt tersenyum kecil menatap Jessica. Kini tangisan Jessica mulai mereda, ia menghapus sisa air matanya dan menatap Matt dengan wajah sembab.
“Matt.”
“Hm?”
“Corrine.” Jessica berujar pelan.
Matt terdiam, namun seketika Matt mengepalkan tangannya kuat. Ia tahu maksud dari ucapan Jessica. Gadis itu, bisa-bisanya ia bergerak sejauh ini.
Matt bergerak menjauh dari ranjang Jessica dan menekan beberapa digit angka yang sudah ia hapal diluar kepalanya, panggilan tersambung.
__ADS_1
“Mark, periksa semua sambungan CCTV hari ini dirumahku!”