Married Life

Married Life
2. 25. I Love You


__ADS_3

Warning! Ada adegan untuk 17+


Lebih bijak dalam membaca ya!


...Enjoy and Happy Reading...


Rumah keluarga Boltom


09.00


Cahaya mentari kini mulai menyinari disetiap jendela rumah, seolah telah memberikan yang terbaik untuk memulai aktifitas yang melelahkan ini. Suara kicauan burung mengalun indah ditelinga seorang pria yang masih terlelap. Sepertinya sudah begitu lama ia tidak merasakan tidur setenang ini, biasanya beberapa masalah didunia itu ikut terbawa dalam mimpinya, namun tidak untuk hari ini.


Matt mengerjapkan matanya pelan dan merenggangkan tubuhnya. Ia menoleh kearah jam alarm diatas nakas. Sudah cukup siang rupanya, ia benar-benar terlelap. Matt menoleh kesebelah ranjangnya, ia tidak menemukan Jessica. Kepanikan menyelimuti, bahkan ia mulai berlari menuruni tangga menuju dapur. Cukup ia hanya kehilangan Lyn, tidak dengan Jessica.


Kepanikan Matt terasa lega saat melihat Jessica kini terlihat memasak di dapur. Kenapa ia begitu khawatir? Bukankah ini salah satu aktifitas rutin Jessica menyiapkannya sarapan? Ia terlalu over thinking.


“Kau sudah bangun? Kau terlihat sangat lelah, Matt."


Matt tersenyum lembut dan memeluk pinggang ramping Jessica dari belakang, sepertinya ia sudah lama sekali tidak memeluk Jessica yang sedang memasak, bahkan ia tidak ingat kapan terakhir memeluk istrinya itu. Sejauh itu hubungan mereka.


“Aku mencintaimu Jess.”


Jessica tersenyum lembut mendengar bisikan Matt ditelinganya, sudah lama sekali ia tidak mendengarnya. Bahkan dulu setiap hari Matt menyatakan cinta padanya, dan kini kata-kata seperti itu bahkan menjadi asing baginya.


“Aku juga Matt, aku sangat mencintaimu.”


Matt tersenyum lebar dan mulai mengecup leher jenjang Jessica, seolah sedang menggoda sang istri untuk 'bermain' sedikit dengannya. Sudah lama sekali ia tidak melakukannya dengan Jessica, bahkan dengan mencium aroma khas istrinya itu membuat hasratnya naik.


“Matt, kau tahu aku sedang apa bukan?”


Jessica mulai berkomentar, ia benar-benar merasakan kegelian saat Matt mulai menjelajahi lehernya, tapi jauh dilubuk hatinya, ia menyukainya. Ia sebenarnya juga begitu merindukan Matt, kasih sayangnya, perhatiannya, bahkan setiap belaiannya, ia amat sangat merindukannya.


Kini Matt membalikan tubuh Jessica, membuat gadis itu kini berdiri tepat menghadapnya. Matt dapat melihat mata Jessica yang masih membengkak, pasti kemarin malam Jessica kembali menangis diam-diam lagi. Ibunya benar, ia sangat beruntung menikahi Jessica.


“Aku merindukanmu Jessie.” Ucap Matt lembut.


Matt mendekatkan wajahnya pada wajah Jessica, berusaha menempelkan bibir mereka dengan lembut. Jessica memejamkan matanya erat saat benda lembut itu menempel pada bibirnya, ciuman itu berlangsung dengan kelembutan dan penuh kasih sayang, seolah melepaskan kerinduan mereka selama ini.


Tangan kanan matt kini menekan tengkuk Jessica, memperdalam ciuman mereka. Jessica tahu, Matt bukan hanya menginginkan sekedar ciuman, pria itu ingin lebih dari ini. Kedua tangan Jessica kini memeluk tubuh Matt, membuat suasana semakin panas. Ciuman penuh kasih sayang itu menjadi lebih bergairah, bahkan decakan panas mulai terdengar diruangan.


Jessica mendorong tubuh Matt membuat ciuman itu terlepas, ia membutuhkan oksigen. Namun dengan cepat Matt kembali menempelkan bibirnya pada bibir Jessica, nafsu telah membuatnya kalap, ia bahkan tidak memberikan jeda sedikit untuk Jessica. Jessica yang mendapat perlakuan seperti itu hanya bisa pasrah dan membalas ciuman sang suami.


Kini Matt mengangkat tubuh Jessica, membuat wanita mungil itu terkejut. Ia mendudukan Jessica diatas meja makan, dan kembali menyerang bibir mungil itu, Matt mulai memasukan tangannya pada kaos putih Jessica, seolah mencari tempat ternyaman didalam sana.


“Matt ahh..”


Jessica melenguh pelan saat Matt kini meremas pelan dadanya, ia benar-benar sensitif didaerah sana. Melihat Jessica yang sudah berhasrat, Matt kembali melahap leher putih Jessica dan kini mulai mengigitnya, memberikan beberapa tanda cinta disana. Matt menjaukan kepalanya dari leher Jessica dan tersenyum lebar saat melihat karyanya dileher putih sang istri.


“Aku benar-benar ingin memakanmu Jessie.”


Matt berbisik ditelinga Jessica membuat gadis itu bersemu, bahkan membuat kedua pipinya merah merona. Matt tersenyum geli melihat reaksi sang istri, ia benar-benar lucu. Seolah mereka telah kembali keawal pernikahan. Matt kembali mencium leher Jessica, tapi kali ini lebih lembut dari sebelumnya, ia ingin memberikan kesan kasih sayang padanya.

__ADS_1


Namun Matt harus menggeram kesal saat mendengar telepon rumahnya kini berdering, ia mencoba mengabaikannya dan rasa kesalnya itu digantikan dengan meremas kembali dada Jessica dengan cukup kuat membuat gadis itu meringis.


“Matt, teleponnya!”


“Aku tidak peduli.”


“Siapa tahu penting, angkatlah!” Matt menarik napas dan membuangnya dengan kasar, siapa yang berani menganggunya disaat seperti ini?!


“Ada apa?!”


Mark yang berada diseberang sana tersentak. Ia tahu, pasti ia sedang menelpon di waktu yang sangat tidak tepat jika mendengar reaksi atasannya itu. Mark menelan salivanya.


“Tuan maaf meganggu anda, Tuan Edmond ingin bertemu dengan anda hari ini."


“Baiklah, atur jadwalnya Mark.”


Matt meletakkan gagang telepon itu dan menatap Jessica yang sudah berantakan. Bahkan rambut gadis itu sudah acak-acakan karena ciumannya tadi. Ia tidak tahu, ternyata mereka sudah sedahsyat itu.


“Aku harus ke kantor Jessie.” Matt berjalan kearah Jessica yang masih duduk diatas meja makan.


“Oh, baiklah.” Jessica menatap kearah lain, berusaha menutupi kekecewaannya. Matt tersenyum tipis dan menatap wajah Jessica, ia tahu Jessica pasti kecewa lagi, entah keberapa kali, tapi ini semua tinggal sedikit lagi, bahkan benar-benar sudah didepan mata.


“Setelah aku pulang, mau dinner malam ini?”


Jessica menatap Matt. Matt benar, mereka sudah lama sekali tidak dinner berdua saja. Jessica menatap Matt dalam, jujur saja ia masih memiliki keraguan apakah Matt benar-benar mencintainya atau tidak, dan apa perasaan Matt untuk Corrine. Ia selalu bertanya-tanya, tapi terlalu takut untuk menanyakan itu semua, ia hanya takut mendengar jawaban langsung dari Matt untuknya.


“Maafkan aku Jessie. Tapi mulai hari ini, aku berjanji hanya kau prioritasku. Tidak ada lembur, bahkan sampai menginap di kantor. Aku janji.” Matt berucap dan menyodorkan jari kelingkingnya, seolah mengikat janjinya. Jessica yang melihatnya tertawa kecil, Matt seolah tahu apa yang dipikirannya. Jessica mengangguk kecil dan menyodorkan jari kelingkingnya.


“Matt.”


“Hm?”


“Ketahuilah, apapun yang kulakukan, itu karena aku mencintaimu.”


......................


Boltom’s Company


09.00


“Bagaimana keputusan anda Tuan Edmond?”


“Baiklah, saya setuju.”


Matt tersenyum lebar dan menatap Albert Edmond dengan pandangan bahagia. Sejujurnya ia cukup terkejut ternyata Albert Edmond membuat keputusan secepat ini, toh untuk putrinya pasti segalanya akan ia lakukan, walaupun harus kehilangan semua hartanya. Bodohnya Corrine menggunakannya secara salah dan menggali lubang kuburnya sendiri.


“Ini dokumen yang harus anda tangani untuk memindah kepemilikan proyek.”


Tuan Edmond menarik napas dalam dan mulai membaca dokumen itu. Ia cukup terkejut Tuan Boltom bahkan sudah menyiapkan semuanya, seolah memang ini sudah dipersiapkan sejak lama. Jika memang ini semua rencananya dari awal, ia telah menyusunnya dengan sangat rapi.


“Setelah ini saya harus mengadakan beberapa rapat penting, anda bisa menunggu di ruangan saya jika anda mau.” Matt tersenyum miring, Albert Edmond mengepalkan tangannya kuat. Bisa bisanya seorang bocah ingusan sepertinya mengusirnya secara halus.

__ADS_1


“Tidak, tidak. Saya juga ada urusan penting.”


Setelah menandatangani beberapa dokumen Tuan Edmond mulai melangkah ke luar ruangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Matt yang melihatnya tertawa puas, sebenarnya ia ingin mengucapkan terimakasih untuk membuat pria paruh baya itu semakin kesal, tapi rupanya ia sudah tidak kuat diruangan ini.


“Besok ada wawancara dengan beberapa media Tuan, anda butuh klarifikasi palsu jika Nona Corrine tidak bersalah? Saya akan menyiapkan pidatonya.”


“Klarifikasi palsu? Untuk apa?” Matt menatap Mark dengan tersenyum.


“Tapi bukankah Tuan Edmond-“ Mark menarik ucapannya dan memandang atasannya itu dengan pandangan tidak percaya. Bagaimana bisa ia masih tidak sadar dengan rencana atasannya itu. Bahkan dengan sogokan proyek sebesar itu, atasannya masih berniat mengkhianati lawannya.


“Tentu saja, ini adalah pengkhianatan yang setimpal. Aku akan membuat media gempar besok.” Matt tersenyum miring.


......................


Rumah keluarga Boltom


20.00


Matt menghentikan mobil sedannya di halaman besar rumahnya itu. Ia benar-benar tidak tahu ternyata memindah tangankan proyek adalah suatu hal yang sangat rumit. Bahkan besok ia harus kembali ke kota s untuk menanda tangani beberapa proyek disana dan beberapa foto untuk diabadikan.


Matt diam-diam tersenyum, sepertinya ia dan Jessica sudah cukup lama tidak berlibur. Dan besok ia akan mengajaknya ke kota s, barangkali bisa menjadi honeymoon kedua bagi mereka.


Matt membuka pintu utama rumah keluarga Boltom, suasana begitu hening. Jika Lyn masih ada, pasti gadis kecil itu sudah berlari menyambut kedatangannya.


“Jessie.”


Matt meninggikan suaranya, berharap Jessica mendengar kepulangannya. Ia duduk diatas sofa ruang tamu dan melepaskan sepatu kerjanya. Hari ini begitu melelahkan, tapi esok akan jauh lebih melelahkan karena harus adu argumen dengan beberapa wartawan.


“Jessica.”


Matt kembali berteriak setelah lima menit tidak melihat keberadaan istrinya itu. Matt mulai menaiki tangga dan membuka ruang tidurnya dengan sang istri. Kamar itu kosong, bahkan sangat dingin karena pendingin ruangan yang masih menyala. Seharusnya Jessica masih berada di rumah ini.


“Jessie.”


Entah keberapa kalinya Matt meneriaki nama sang istri, kini ia mulai berjalan menuju kamar Lyn, bisa saja Jessica kembali merindukan Lyn dan menangis disana. Namun nihil, ruangan itu juga kosong. Kini Matt mulai panik, Jessica tidak mungkin kemanapun tanpa izinnya. Matt merogoh saku celananya dan menemukan ponselnya, ia menekan beberapa digit angka yang sudah ia hapal diluar kepala.


Suara operator berkali-kali terdengar. Nomor Jessica tidak aktif, kini Matt berlari menuju kamar tidurnya, dengan kasar ia membuka lemari pakaian mereka. Jantung Matt seolah berhenti seketika saat tidak menemukan sehelai apapun pakaian Jessica disana. Kini ia jatuh terduduk, apa Jessica meninggalkannya dengan membawa semua barangnya? Kenapa?


‘Ketahuilah, apapun yang kulakukan, itu karena aku mencintaimu.’


Bayangan kata-kata Jessica tadi pagi memenuhi kepalanya. Apa maksudnya ini semua? Gadis itu meninggalkannya karena ia mencintainya? Matt tidak bisa berkata apa-apa lagi. Ia menunduk dalam, bahkan tenanganya seolah terkuras habis karena apa yang dirasakannya kali ini. Jessica memilih meninggalkannya, sejujurnya ia tidak pernah sekalipun membayangkan ini semua akan terjadi. Jessica seolah selalu bergantung padanya sejak ibunya tiada. Tapi kini? Air mata mulai meluncur indah dari kedua mata Matt, pria itu menangis dalam diam.


Deringan ponsel Matt kini terdengar, dengan cepat Matt mengambil ponselnya. Dan ia harus kecewa saat melihat nama dilayar ponselnya itu, siapa lagi kalau bukan Mark Lee.


“Mark, J..Jessica-“


“Saya juga sudah mendapat kabar Tuan.” Matt mengerutkan keningnya, apa yang Mark bicarakan? Jelas-jelas ia baru tahu beberapa menit lalu.


“Kabar? Kabar apa?”


“Nyonya Boltom memberikan surat cerai yang sudah ia tanda tangani kepada hakim.”

__ADS_1


__ADS_2