Married Life

Married Life
1.21. Last Lunch?


__ADS_3

Jessica menatap sekeliling Shena Restauran itu. Dan ia menemukan Mike dengan banyak hidangan dihadapannya. Pria itu hanya menatap kosong keluar jendela. Jessica berdehem membuat Mike menatapnya. Jessica merasa ada kecanggungan antara ia dengan Mike, seolah sudah sangat lama tidak bertemu.


“Duduk dan makanlah.”


Ujar Mike singkat dan menyantap hidangan dihadapannya. Jessica menatap satu persatu hidangan di meja. Semuanya adalah makanan kesukaan yang sering ia makan dengan Mike ketika mereka makan bersama. Makanan Asia dari berbagai negara. Sungguh, ini adalah makanan untuk lima porsi orang dewasa. Mungkinkah semua makanan ini habis? Jessica menatap Mike yang terlihat fokus dengan Laksa ditangannya, makanan khas Singapura. Jessica hanya tersenyum tipis dan menyantap makanan itu.


Jessica memegang perutnya, sudah tiga puluh menit ia hanya makan tanpa bicara apapun. Tidak menyangka, hidangan untuk lima orang itu sanggup dihabiskan oleh keduanya. Ingin rasanya Jessica pulang kerumah, bertemu kasur empuk miliknya dan terlelap. Perutnya tidak sanggup lagi memakan apapun. Sedangkan masih tersisa satu suap sushi dimeja.


“Ini untukku.”


Pertama kalinya Mike mengeluarkan suara setelah tiga puluh menit mereka makan. Jessica hanya mengangguk dan memandang takjub Mike yang memakan sushi itu. Sungguh, ternyata Mike sangat kuat makan. Dan dirinya? Hei, ia hanya tidak bisa melihat makanan terbuang, bukan karena ia kuat makan, setidaknya jika begitu terdengarnya lebih baik.


Lima belas menit terlewatkan setelah Mike memakan sushi itu. Dan keduanya tetap terdiam, memandang kosong jendela kaca. Entah memandang kearah mana. Seolah keduanya tidak ingin membuka percakapan. Mike yang terlalu bingung memulai, dan Jessica yang tidak ingin memulai.


“Aku minta maaf Jess.” Jessica menatap Mike, pria itu menunduk dalam seolah benar-benar bersalah.


“Aku terlalu egois, aku seharusnya mengerti kau milik Matt sekarang.”


Entah mengapa Jessica sakit mendengar pernyataan Mike. Tapi semua yang Mike ucapkan memang benar. Ia milik Matt sekarang, sebenarnya dari beberapa bulan yang lalu ia adalah milik Matt. Jessica menunduk, ternyata hubungan beberapa tahun dengan Mike harus berakhir seperti ini. Sekuat tenaga Jessica menahan linangan air matanya.


“Aku tidak akan menganggu kalian lagi.” Mike mengangkat kepalanya, ia tersenyum tipis kearah Jessica. Jessica menghela napas dalam, dengan keberaniannya Jessica memegang tangan Mike dan memandang pria itu.


“Hei, kita masih bisa berteman Michael. Bagaimanapun kau adalah sahabat Matt.”

__ADS_1


Mike menatap kedua tangan Jessica yang menggenggam tangannya erat. Dengan sekali tarikan, Mike mendekatkan tubuh Jessica, dan tangan kirinya menyentuh tengkuk Jessica. Mike memejamkan matanya, seolah menikmati ciuman terakhir mereka. Sedangkan Jessica membulatkan matanya, tidak menyangka Mike akan melakukan ini. Dengan sekali dorongan keras dari Jessica, ciuman mereka terlepas.


“Apa kau gila Mike? Ini tempat umum!”


Jessica menarik napas dalam, berusaha untuk menahan emosinya. Ia ingin menyelesaikan semuanya dengan baik-baik, ia tidak ingin emosinya malah menghancurkan segalanya. Mike tersenyum sedih menatap mata Jessica yang amat kesal.


“Sudah selesai kan? Aku pergi. Dan ini untuk makananku.” Jessica meletakkan uang dimeja dan berlalu pergi. Mike menatap kepergian Jessica. Pria itu menunduk dalam dan mengepalkan tangannya kuat. Setelah itu, senyuman Mike mengembang.


______________________________


Jessica menatap kesegala penjuru ruangan didalam rumahnya ini, namun ia tetap tidak menemukan keberadaan Matt, yang dapat ia temukan hanya dua piring kosong dan juga satu piring besar Lasagna kesukaan Matt. Apa pria itu pergi? Tapi mobil yang sering dipakainya ada di bagasi. Jessica merogoh ponsel miliknya yang berada di saku celana jeans yang dipakainya. Dan ia menemukan satu pesan dari Matt.


'Aku ada urusan kantor mendadak, kau habiskan saja Lasagnanya.’


Jessica meletakkan ponselnya diatas meja makan. Tumben sekali satu porsi besar Lasagna ini tidak lebih berarti bagi Matt. Ia rasa, memang perusahaan Boltom Company itu sedang ada masalah. Jessica menatap sepiring besar makanan Italia itu, sejujurnya ia sudah sangat kenyang. Tapi sungguh, ia tidak ingin kembali mengecewakan Matt. Pria itu sudah memasak untuknya, namun ia malah meninggalkannya begitu saja. Jessica memotong kecil Lasagna itu menggunakan tangannya. Jessica tersenyum saat satu suap Lasagna itu hinggap di mulutnya. Masakan Matt memang tidak ada duanya, dan tanpa sadar satu piring Lasagna itu ia habiskan sendiri.


---


Jessica menidurkan tubuhnya pada sofa besar ruang tamu, sedangkan televisi masih tetap menyala menemaninya. Ia sebenarnya sangat mengantuk, tapi entah karena apa ia ingin menyambut kedatangan Matt. Tapi pria itu malah tidak pulang dan tidak ada kabar. Jujur saja, ia begitu khawatir.


---


“Kau benar-benar tidak pulang Matt?”

__ADS_1


Jessica bergumam. Kini ia membuka matanya dan dirinya masih berada di ruang tamu, itu bertanda jika Matt tidak pulang. Karena jika pria Boltom itu pulang, pasti ia akan dipindahkan ke kamar mereka berdua. Suara air mengucur dari kamar mandi membuat Jessica tersentak. Siapa yang sedang mandi? Bukankah Matt tidak pulang? Lalu siapa?


Jantung Jessica berdetak kencang. Dengan langkah perlahan ia mulai mendekati pintu kamar mandi. Jessica menatap jam dinding, sekarang masih pukul enam pagi, tidak mungkin ada pencuri bukan? Hei, untuk apa juga pencuri masuk kedalam kamar mandi dan mandi disana? Jessica, kadang kadang otakmu tidak kau gunakan! Dasar bodoh!


Jessica hampir terjengkang kebelakang saat tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Ia bernapas sangat lega saat melihat Matt dengan hanya menggunakan handuk sebatas pinggang menatap dirinya dengan pandangan datar. Jessica menatap wajah Matt, pria ini terlihat sangat lelah, dan sedih. Apa terjadi sesuatu?


“Kau baik-baik saja Matt? Kau bisa cerita-”


“Jess, aku lelah. Aku ingin istirahat.”


Ujar Matt singkat dan berlalu pergi menaiki tangga. Jessica hanya menatap Matt yang semakin menjauh. Sebenarnya ada apa dengan pria itu? Mengapa pria itu menjadi begitu dingin? Jessica sangat tahu jika Matt bukan pria seperti ini. Padahal ia hanya ingin pria itu menceritakan masalah diperusahaannya. Ia ingin Matt berbagi keluh kesah padanya. Ia ini juga istrinya kan?


---


Jessica tersenyum senang saat melihat Matt turun. Sekarang pukul sembilan pagi, dan tadi ia sempat melihat Matt begitu pulas tertidur, dan ia tidak ingin menganggu Matt, terlebih pria itu lelah bekerja sampai larut semalam.


“Aku membuatkanmu Lasagna, kau tidak memakannya kemarin.”


Matt hanya tersenyum tipis dan melihat Lasagna yang dibuat Jessica. Sejujurnya Jessica merasa jika ini tidak seenak Lasagna Matt kemarin, tapi karena ia membuat ini dengan tulus, ia rasa Matt akan menyukainya.


“Kau sangat baik My Wifey, tapi aku ada rapat penting pagi ini. Aku tidak bisa mencoba Lasagna milikmu sekarang.”


Jessica tersenyum tipis, ia dapat mendengar penyesalan dibalik suara Matt. Matt berjalan kearahnya dan mencium keningnya, seolah memberikan permintaan maaf padanya. Sedangkan Jessica hanya tersenyum, sejujurnya ia cukup kecewa. Ia membuat Lasagna ini dengan sekuat tenaga, baginya ini begitu sulit. Hei, tapi tentu saja pekerjaan lebih penting dari pada mencicipi masakan istrimu.

__ADS_1


“Tak apa Matt, aku bisa membuatnya kembali lain waktu.”


“Baiklah, aku pergi.” Jessica menghela napas dalam. Entah karena apa, namun ia rasa ada yang salah dengan Matt.


__ADS_2