Married Life

Married Life
Bab 15


__ADS_3

Paginya aku bangun lebih dulu karena ingin ikut ibu pergi ke pasar. awalnya ibu menolak aku ikut, karena aku masih terlihat mengantuk tadi. tapi aku rindu ikut berbelanja dengan ibu. akhirnya kami berdua berbelanja ke pasar dengan jalan kaki. letak pasar dengan rumahku tidak terlalu jauh. Itung-itung sekalian olah raga pagi.


"Wah mentang mentang ya si anaknya bu mita udah nikah sama orang kaya. itu ibunya gak pernah dikunjungi" bisik salah satu tetangga ketika kami sedang lewat. "Bu mita anaknya udah pulang? " tanya salah satu ibu-ibu yang sedang ngerumpi di dekat pos. akhirnya ibu berhenti sebentar. "Tari, meskipun kamu sudah bersuami dan suamimu itu kaya. ya kamu jangan lupain ibumu gitu aja." ucap salah satu ibu ibu itu dengan nada sinis. sontak ibuku tidak terima dengan ucapan mereka yang mengataiku melupakan ibu . "udah bu ayo kita jalan aja.." ajakku ketika ibu hendak melangkah mendekati mereka. aku tau ekspresi wajah ibu sudah tidak bisa memendam amarahnya. tapi akhirnya kami memilih meninggalkan mereka dan hanya kubalas dengan senyuman saja .


"Ibu itu nggak terima kalau kamu dianggap tidak pernah memperhatikan ibu." ibu menyilangkan kedua tangannya di dada. "kan yang penting tari selalu ingat sama ibu" aku melingkarkan tanganku ke lengan ibu. ibu hanya diam saja dengan wajah masam. "Udah bu nggak usah diambil hati omongan ibu ibu tadi" lanjutku.


Setelah selesai berbelanja. kami langsung pulang. dijalan aku bertemu dengan temanku semasa SMA. "Tari tariii" panggilnya seraya berlari ke arahku. "Ningsihhh" ucapku kegirangan bertemu ningsih. "Ya Robbi Kok makin cantik aja sih"Ucap ningsih sembari memgang pundakku menatapku dari ujung kaki hingga kepala. "Ning kamu kok kemari nggak dateng di nikahanku?" tanyaku pada ningsih. " Hm. kemarin aku itu mau ke Jakarta tari, tapi berhubung bapakku nggak tega kalau aku ke Jakarta sendirian yasudah aku nggak jafi berangkat" Jelasnya . Kemudian aku meminta Ibuku untuk pulang terlebih dahulu karena aku hendak ngobrol panjang dengan ningsih. Aku dan ningsih duduk di sebuah warung kecil, kami memesan teh hangat sambil berbincang-bincang.

__ADS_1


"Eh gimana rasanya udah punya suami? " Goda ningsih sambil menyenggol lenganku. "ya gitulah." jawabku sambil meminum teh . "Gimana rasanya malam pertama?he he he" tanyanya sambil tertawa. "Ih jangan kenceng kenceng ning" Ucapku sedikit membekap mulut ningsih yang tertawa. Aku hanya terdiam. karena Malam pertama setelah perbikahan itu kami kelelahan dengan pernikahan kami. "Loh kok wajahmu sedih gitu tar?" tanya ningsih sambil memegang pipiku. "Enggak kok. eh ningsih aku balik duluan. Suamiku di rumah kalau aku keluyuran ntar dicariin." Ucapku sambil berdiri. "Aduuuh aku ngiri deh sama manten baru. Sebentar sebentar pasti dicariin" ucap ningsih sambil menyenggol nyenggolkan sikunya ke lenganku dengan tertawa menggoda.


Aku hanya melotot sambil mencubit tangan ningsih kemudian berlalu . Di jalan pulang banyak laki laki desa ini yang bersiul siul melihatku lewat berjalan "Duh kembang desa udah balik" kata salah satu laki laki itu. kemudian ku percepat langkahku . sampai di depan rumah aku melihat galang yang tampak duduk di depan rumah sambil membaca koran. "Darimana ?" tanya galang sambil membolak balikkan koran. "Tadi ketemu temen SMA trus ngobrol ngobrol aja" jawabku .


Galang hanya diam saja kemudian aku masuk ke dalam rumah.


*****

__ADS_1


Setelah dijemput oleh pak Sumar kami langsung berangkat. Selama perjalanan aku hanya tidur di kursi belakang, sedang galang di kursi depan bersama pak sumar.


6 Jam kami lalui, akhirnya sampailah kami di appartement. Setelah membantu aku dan galang memasukkan koper ke dalam appartement pak Sumar langsung pamit pulang. aku dan galang pun juga langsung istirahat. kami tidur sampai pagi. Sampai kami lupa bahwa semalam kami belum makan.


Pagi ini aku bangun lebih dulu untuk memasak. Aku mulai bisa memasak sejak pulang ke rumah ibu kemarin. meskipun hanya memasak sup tapi kurasa galang menyukai masakanku ketika kami dirumah ibu. "Wah bikin laper aja baunya" Galang tiba tiba muncul dibelakangku sambil meneguk air putih. "kamu pasti laper dari tadi malem belum makan" aku mendekati galang kemudian mengusap lembut pipinya. "Kamu juga belum makan ." Ucapnya lembut seraya mencium pelipisku. Aku berbalik mematikan kompor dan menyiapkan makanan di meja makan. Galang menatapku sambil tersenyum.


"Aku merasa menjadi suami kalau setiap hari seperti ini" ucap galang sambil memelukku dari samping. Galang menyenderkan kepalanya dibahuku. Aku tersenyum bahagia mendengar ucapan galang. mengingat awal pernikahan kami yang kami habiskan hanya seperti dua insan yang sedang menjalin kasih saja. Mungkin galang berpikir karena aku yang belum bisa menyesuaikan diriku untuk menjadi seorang istri seperti yang ia inginkan. "Oh ya? apa kamu masih ingin ke mellbourne kalau seperti ini?" tanyaku kemudian kulepas pelukan galang dan kutatap kedua mata indahnya. Galang langsung mencium bibirku lembut. "Aku menunggu mu selesai datang bulan saja sampai bikin aku hampir frustasi" Galang memelukku menenggelamkan wajahnya didadaku. Aku tertawa mendengar ucapannya. "Dua atau tiga hari lagi mungkin aku selesai datang bulan" Ucapku menggoda yang kubuat buat supaya galang mengurungkan niatnya untuk berangkat ke mellbourne besok. "Serius??" tanya galang sambil mendongakkan wajahnya kearahku. "hmm " aku mengangguk dan tersenyum menggoda.

__ADS_1


Galang terdiam sejenak. kemudian ia melepaskan pelukannya dan pergi ke kamar. aku hanya menatap yang membuatku bingung. lalu galang datang lagi dengan ponsel ditangannya. "Will gue tambah cuti gue 5 hari. lu bilang ke dosen kalo gue lagi sakit ya" Ucap galang sambil mengambil kalender duduk di atas kulkas. Mataku seakan membulat penuh mendengar ucapan galang. Aku merasa senang dan bingung. Dia benar benar sudah tidak bisa menahan hasratnya. Aku berlalu meninggalkan galang dan melihat ponselku. Memang setelah menikah ini aku mulai memperhatikan jadwal datang bulanku. dan bahkan mungkin dua hari lagi sudah selesai. Aku memegang dadaku. Sebenarnya aku sudah sangat menanti waktu ini tapi memang terhalang oleh hal hal yang membuat kita tidak melakukan hubungan itu. Tiba tiba bayanganku menelusuri saat malam pertama setelah menikah memang kami sudah capek dan hari hari sesudahnya kami juga disibukkan oleh kegiatan lain yang membuat kami lupa sampai aku datang bulan dan bahkan tidak bisa melakukan hubungan seperti suami istri lainnya.


Galang memelukku membuyarkan lamunanku. "Sayang kamu ngelamunin apa sih hem?" tanya galang, tangannya melingkar di pinggulku dan kepalanya menunduk kearahku. "Em. Galang ka.. kamu beneran mau batalin berangkat besok?" tanyaku sambil mengusap dada galang. galang mengangguk, ia langsung mengarahkan bibirnya ke bibirku dan kami berciuman cukup lama sampai nafasku tersenggal. aku terengah melepas ciuman galang yang semakin menjadi jadi. Galang tersenyum menggoda ku peluk galang untuk menghindari tatapan nafsunya itu.


__ADS_2