Married Life

Married Life
2.7. Balanced


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Boltom’s Company


09.15


“Terimakasih banyak Nona.”


“Sama-sama Bapak.”


Taxi itu meninggalkan Jessica yang tengah berdiri didepan halaman kantor berlantai 25 itu. Untuk kesekian kalinya Jessica menatap hand bag yang tengah dibawanya. Kemarin Matt tidak pulang kerumah dan ia berharap dengan ia membawa makanan kesukaan Matt, pria itu memaafkannya. Toh, sebenci apapun Matt kepadanya, Matt tidak akan mengusirnya. Dari pada Matt harus menyakitinya, ia lebih memilih mabuk diluaran sana bersama wanita lain.


Tanpa disadari Matt, dengan sikapnya seperti itu, itu malah membuat dirinya begitu sakit.


Jessica menekan tombol lift, dan pintu lift terbuka, berdiri Mark -Asisten pribadi Matt- yang seolah begitu terkejut melihatnya. Mark menundukkan kepalanya dan dibalas senyuman tipis Jessica.


“N..Nyonya, kau datang?”


“Apa Tuan Boltom ada diruangannya?”


“Ah?” Mark semakin terlihat terkejut, Jessica menatap pria itu heran. Mark yang terlihat tegas dan tidak ragu-ragu kali ini begitu berbeda seolah ada yang sedang ia sembunyikan. Jessica mengedikkan bahunya berusaha untuk tidak peduli.


“A..Ada Nyonya, ta..tapi ia sedang menjalani rapat.”


“Hm, baiklah. Aku akan menunggunya diruangannya, aku duluan.”


Pintu lift terbuka, tanpa mengucapkan sepatah katapun atau mendengar jawaban Mark, Jessica sudah lebih dulu keluar lift dan menuju ruangan Matt. Ia melihat, beberapa karyawan Matt terlihat terkejut menatapnya. Sebenarnya ada apa? Tidak seperti biasa mereka bersikap demikian, sepertinya ada yang tidak beres.


Saat Jessica ingin memegang kenop pintu ruangan Matt itu, Mark dengan cepat menahan lengannya dan menatapnya dengan sangat gugup.


“Nyonya, Nyonya, aku dapat info jika Tuan sedang berada di ruang rapat. Aku bisa-“


“Jangan menyentuhku! Aku hanya ingin menunggu diruangannya.”

__ADS_1


Jessica menghempaskan lengan Mark yang memegangnya dan membuka kenop pintu, ia melihat Matt yang sedang duduk disofanya dengan lilitan handuk dipinggangnya dan rambut yang basah. Jessica tersenyum, Matt pasti habis mandi, Matt pasti akan begitu senang jika ia membawa makanan untuknya, toh mengapa semua karyawan Matt bersikap aneh hari ini jika hanya karena Matt tidur dan mandi dikantornya.


“Sayang, aku butuh-“


Senyuman Jessica memudar, ia menatap seorang gadis dengan balutan handuk didadanya dan lilitan handuk dikepalanya sedang keluar dari kamar mandi ruangan Matt itu. Matt terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Jessica, tapi gadis yang keluar dari kamar mandi dengan tampang tak berdosa itu hanya menyeringai.


“Selamat datang Nyonya Boltom.” Corrine menyeringai.


“Jess, aku bisa jelaskan. Aku-“


Jessica merasakan dadanya seolah tertusuk seuatu, dan itu begitu menyakitkan. Ia membanting hand bag yang dibawanya. Ia membuat makanan Italia kesukaan Matt hampir satu jam lebih dan kejutan seperti ini yang ia dapatkan. Jessica tertawa kecil, sedangkan air matanya mulai satu persatu keluar. Ia ingin mengejutkan Matt, tapi kini ia yang dikejutkan oleh Matt. Benar-benar bodoh.


“Terimakasih Matt, terimakasih banyak sudah membuatku merasakan apa yang kau rasakan.” Memang ia pernah selingkuh, bahkan melakukan hal buruk seperti itu. Namun kini seharusnya Matt sudah puas, puas sudah membalasnya.


“Jess, Jessie!” Matt mulai berlari mengejar Jessica. Jessica pasti salah paham, tidak seharusnya gadis itu datang kesini tanpa memberitahunya.


“Ah, jadi kau lebih memilih istrimu, Matthew Boltom?!”


Pasti Jessica berusaha begitu keras membuatkan makanan Italia untuknya, tapi ini yang dibalasnya kepada wanita itu.


Matt mengepalkan tangannya erat, mengapa kini ia begitu lemah, mengapa ia begitu menyedihkan sampai tidak bisa melawan gadis seperti Corrine. Ia begitu kecewa, kecewa kepada dirinya sendiri.


......................


“M..Maaf, aku minta maaf.”


Jessica jatuh terduduk setelah ia menabrak seseorang dengan keras, tas jinjing yang dipegangnya terlepas. Dengan cepat Jessica berusaha meraih tasnya dan menunduk dalam. Ia tidak ingin mengangkat kepalanya, siapapun itu tidak ada yang boleh melihatnya menangis. Siapapun itu.


“Sekali lagi aku minta maaf.” Jessica kembali berdiri, namun saat akan kembali melangkah lengannya ditahan oleh seseorang. Jessica tersentak dan menatap seseorang yang menahan lengannya.


“M..Mike.”


“Je..Jess, ada apa? Kenapa? Kenapa kau menangis?” Mike memegang pundak Jessica dan menatap gadis itu lekat-lekat. Rasanya begitu menyakitkan melihat gadis yang ia cintai seperti ini.

__ADS_1


“Matt, Matt ia.. Ia-“


Jessica mulai tersedu-sedu, gadis itu tidak sanggup melanjutkan ucapannya. Dengan cepat Mike memeluk Jessica, ia tidak peduli jika Matt kembali melihat. Ia tidak sanggup, sungguh ia tidak sanggup melihat Jessica seperti ini. Ia sudah memberi kesempatan kepada Matt untuk menjaga Jessica, tapi bisa-bisanya pria brengsek itu malah membuat Jessica seperti ini.


“Ikut aku, kau perlu menenangkan dirimu Jessie.”


...****************...


Lixey Cafe


09.32


Jessica mengambil napas dalam, sudah hampir lima menit ia menangis seperti anak kecil tanpa rasa malu. Sedangkan bayangan-bayangan Matt dengan gadis itu dengan hanya memakai lilitan handuk terus menghantuinya. Hatinya akan kembali sakit, ia sudah membayangkan apa yang dilakukan Matt dengan wanita yang mengaku sebagai kekasih Matt malam itu. Dan ia juga begitu mengingat bagaimana keterkejutan karyawan Matt saat ia datang ke Boltom Company, semuanya sudah terjawab sekarang.


“Jadi gadis itu bernama Mary?”


“Apa kau mengenalnya?”


Jessica menatap Mike dengan antusias, Jessica tidak pungkiri Mike datang disaat yang tepat. Jika Mike tidak datang saat ini, mungkin ia sudah seperti wanita gila yang menangis ditengah jalan tanpa tahu apa yang ingin ia lakukan.


“Kurasa Matt pernah bercerita kepadaku mengenai gadis bernama Mary, gadis itu temannya saat mereka kuliah di London.”


“London?” Mike mengangguk dengan begitu yakin. Jessica tersenyum sedih, toh apa lagi yang diharapkannya? Gadis cantik, kaya dan berpendidikan adalah saingannya. Apa yang bisa ia unggulkan dari gadis sepertinya?


“Dan yang kutahu ia keturunan keluarga Edmond.”


“Keluarga Edmond?” Jessica menatap bingung kearah Mike.


“Kau tidak tahu keluarga Edmond? Ia termasuk salah satu keluarga terkaya di Perancis.”


“Apa mereka semacam permen? Nama keluarga mereka begitu lucu."


Jessica dan Mike tersenyum, selanjutnya mereka tertawa. Sudah lama sekali rasanya mereka tidak bercanda seperti ini, atau memang Mike termasuk tipe orang yang jarang sekali tertawa. Mike menatap lembut kearah Jessica, inilah salah satu mengapa ia begitu mencintai Jessica, Jessica selalu bisa tertawa, bahkan mencairkan suasana ketika hatinya sedang hancur.

__ADS_1


__ADS_2