
...Enjoy and Happy Reading...
10.04
Boltom Company
Sinar mentari menembus kelopak mata Matt yang sedang mengerjapkan matanya, ia melenguh dan merasakan sakit yang teramat dibagian lehernya. Matt terduduk, pantas ia tidak nyaman. Ia tertidur di sofa kantornya. Ia menatap kearah jendela yang terbuka.
“T..Tuan anda tidur disini, aku benar-benar tidak tahu. Aku minta maaf jika membangunkan anda, apa aku harus menutup kembali jendelanya?”
Matt merasa kepalanya berdenyut, sinar matahari yang menyilaukan, beberapa bagian tubuhnya yang sakit dan juga ocehan asisten pribadinya Mark Lee. Matt menatap kearah Mark, dan pria itu terlihat begitu gugup. Apa ia begitu menakutkan baginya?
“Apa jadwalku hari ini?”
“Jam 11 tepat kita seharusnya menyambut Corrine Edmond dibandara Tuan, pendekatan untuk proyek.”
“Hm, baiklah. Aku harus pulang, jam sepuluh kau bisa menjemputku menuju bandara.”
Mark menatap atasannya itu bingung, sedangkan atasannya hanya berjalan santai menuju meja kerjanya. Pria itu meraih jas kerjanya dan langsung memakainya, Mark menatap pria itu kagum. Atasannya itu memang selalu terlihat tampan, bahkan saat habis bangun tidur seperti ini.
“Ta..Tapi ini sudah jam 10, Tuan.” Matt menatap Mark dengan bulatan matanya. Mark yang ditatap seperti itu menjadi sedikit panik, apa ia melakukan kesalahan kali ini?
“Sial, aku terlambat. Mana kunci mobilmu Mark?”
Mark mengeluarkan kunci mobilnya dari saku celananya, dengan cepat Matt mengambil kunci mobil itu. Dan langsung keluar dari kantornya.
“Tuan, tapi bagaimana dengan jadwalmu?!”
“Kau pasti bisa menanganinya, pakai mobilku. Ada di laci kantor!”
Pintu lift tertutup.
...****************...
10.45
Rumah Keluarga Boltom
Matt melangkahkan kakinya kedepan pintu besar rumah mewahnya. Jantungnya disana berdetak kencang. Tadi ia pergi ke Elementary School anaknya mendaftar dan sudah tidak ada siapapun disana, acaranya sudah selesai dan ia melewatkannya. Karena pekerjaan sampai jam tiga pagi dan ia kesiangan. Ini masih untung Mark membangunkannya walaupun secara tidak sengaja.
Suara langkah kakinya yang pelan tidak seirama dengan suara jantungnya yang terus berdegup kencang. Rumahnya begitu sepi, rumah besar berlantai tiga dan hanya dihuni dua orang dewasa dan satu anak kecil pasti begitu sepi. Bahkan beberapa asisten rumah tangganya tidak terlihat.
Matt mengecek, ruang tamu, ruang makan bahkan sampai kolam renang dan tidak ada siapapun disana. Matt mulai melangkah ke lantai kedua, tempat dimana surga baginya. Kamar tidurnya dengan sang istri tercinta, Jessica Villegas.
Saat ia membuka pintu, dan menemukan sang istri yang terlihat merajut sendirian. Jantung Matt yang tadinya berdetak kencang mulai kembali normal, ia kini sedih. Melanggar janji dengan istrinya, bahkan melanggar janji dengan sang buah hati.
__ADS_1
“Aku minta maaf Jessie.” Jessica menoleh kearahnya dan tersenyum tipis.
“Oh, kau sudah pulang.” Ucap Jessica tanpa ekspresi dan ia kembali melakukan aktivitasnya. Matt mengambil napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ia mengambil posisi berbaring disebelah Jessica yang sedang terduduk dan masih fokus dengan kegiatannya. Jessuca memang jarang marah kepadanya, tapi jika itu menyangkut Lyn ia akan melakukan apapun untuk menjadi ibu yang baik. Dengan sedikit kesiapan, Matt mulai duduk dan berkata dengan lembut.
“Aku minta maaf Jessie, aku ketiduran dikantor karena pekerjaan-“
“Ya, ya, ya pekerjaan. Aku mengerti.” Untuk kesekian kalinya Matt menghembuskan napas, Jessica benar-benar kesal padanya.
“Aku seperti ini untuk kalian, untukmu, untuk Lyn. Seharusnya kau mengerti Jess.”
“Aku tidak memintamu untuk seperti ini Matt, aku sudah memperingatkanmu untuk proyek ini, dari awal aku memang tidak suka dengan proyek ini. Seolah ada yang ingin memisahkan kita, memisahkan keluarga kita.” Matt dapat melihat Jessica menggebu-gebu sedangkan di dalam matanya ada suatu kesedihan yang tidak bisa ia katakan. Matt memeluk gadis itu dengan lembut
“Bukankah keluarga kita memang mulai sedikit berpisah karena proyek ini? Karena waktu, karena waktumu yang tidak ada untuk kami? Bahkan kau hanya pulang untuk tidur dan sarapan. Bahkan dalam sebulan aku bisa menghitung berapa kali kau sarapan. Lyn merindukan sosokmu yang dulu Matt, sosok ayah yang begitu perhatian padanya.”
Jessica mulai tersedu, ia memeluk erat istrinya itu. Gadis ini hanya membutuhkan waktu untuk membiasakan diri. Setelah hampir lima tahun mereka menikah, dan ia tidak pernah mendapatkan proyek yang hampir membutuhkan waktunya 24 jam. Dan sangat wajar jika Jessica seperti ini.
“Aku minta maaf jika waktuku untuk keluarga kita berkurang, bahkan sangat berkurang. Tapi setelah proyek ini selesai. Aku berjanji kita akan liburan Jess, hanya ada kita bertiga. Aku, kau, dan gadis kecil kita Sherlyn. Kali ini, aku tidak akan melanggar janjiku.”
Matt berkata dengan lembut, Jessica melepaskan pelukan mereka dan menghapus air matanya yang mulai meluncur. Jessica menatap Matt, dan ada ketulusan didalam matanya. Jessica tersenyum tipis, ia mulai sedikit lega walaupun ada sesuatu yang begitu mengganjal dihatinya.
“Kurasa kau bisa menepati janjimu Matt.”
“Kau tahu Jessie, hampir dua bulan belakangan ini aku tidak mendapat jatah.”
Seketika Jessica menghapus air matanya, gadis itu merasa wajahnya memanas. Sudah hampir lima tahun mereka menikah, tetapi saat mengarah kearah sana ia masih begitu malu. Matt yang melihat wajah istrinya yang mulai memerah terkekeh kecil, Jessica sangat imut jika bereaksi seperti ini.
Matt membantu meletakkan alat anyam Jessica disamping nakas kecil samping ranjang mereka. Jessica merasakan jantungnya berdetak begitu kencang, sebenarnya salah satu ia tidak menyukai proyek ini adalah ini. Ia membutuhkan ciuman dan pelukan dari Matt, ia membutuhkan itu. Saat ia menginginkannya, dan ia melihat Matt yang begitu lelah karena bekerja itus semua ia urungkan. Kesehatan Matt begitu penting dari keinginannya.
“Aku membutuhkanmu sekarang, Honey.”
Matt berbisik lembut ditelinga Jessica, itu adalah suara yang paling sexy yang pernah ia dengar seumur hidupnya. Matt mulai mengecup daun telinga Jessica dan mengigitnya lembut. Jessica menahan napasnya, Matt begitu tahu titik sensitifnya.
“Kau tahu Jessie, kau begitu sempurna untukku.”
Matt mulai menjilati leher jenjang Jessica, aroma lavender. Aroma yang paling disukai Matt, aroma Jessica dari pertama kali mereka menikah. Matt terus menjilati leher Jessica bahkan menggigitnya lembut, menciptakan bekas kemerahan di beberapa lehernya. Bekas itu untuk mengatakan kepada dunia Jessica adalah miliknya, hanya miliknya.
“Akhhh... Matthh.”
Jessica tersentak saat Matt menggigit keras leher bagian kanannya. Lengan kiri Matt mulai aktif meremas dada Jessica, dada lembut dan sintal yang sangat disukai oleh Matt. Desahan kecil Jessica membuat nafsunya naik, tangan kirinya mulai meremas dengan kasar.
“Bukankah Lyn sudah cukup besar memiliki adik?”
Jessica menelan ludahnya dan menatap Matt was-was, tapi dengan cepat Matt mencium bibir sang istri dengan rakus. Matt menggigit bibir bawahnya, tidak peduli jika sesudahnya bibir sang istri akan membengkak. Tangan kanan Matt menekan leher Jessica, seolah akan memakan bibir Jessica utuh. Sedangkan tangan kiri Matt mulai bergerak kebawah, ia berusaha menyikap rok selutut yang dipakai Jessica.
Saat tangan kiri Matt ingin menyentuh apa yang ia mau, suara ketukan pintu membuat pria itu menghembuskan napasnya dengan kasar. Sedangkan Jessica yang melihat peluang mendorong pelan tubuh Matt untuk menjaga jarak.
__ADS_1
“Mommy aku melihat mobil Uncle Mark didepan, apa Daddy sudah pulang?”
Dengan cepat Matt menutup mulut Jessica dan tangan satunya mengacungkan jari telunjuk didepan bibirnya, bermaksud untuk membuat Jessica diam. Jika Lyn tahu ia sudah pulang, Lyn akan menganggu mereka berdua. Bukannya ia membenci gadis kecil itu, tapi kali ini ia harus memuaskan diri.
Jessica menghempaskan tangan Matt yang membekap mulutnya dan mulai berjalan kearah pintu keluar. Matt hanya menghembuskan napas dan tertidur di ranjang. Hampir saja adik kecilnya ingin senang.
...****************...
11.15
Bandara
“Selamat siang Nona Corrine, saya Dana Hilton. Selama disini saya yang akan menjadi asisten pribadi anda.”
“Hm."
Dana terus mengikuti langkah cepat atasannya itu, entah karena atasannya itu terburu-buru atau memang ia memiliki langkah yang cepat tapi ia sedikit tertatih mengikutinya. Corrine Edmond anak dari seorang pengusaha Perancis yang mendunia Albert Edmond. Dari pada gadis Perancis yang agak kaku dan fomal, sebenarnya Corrine lebih mirip gadis Amerika yang suka clubbing. Rambut panjang pirang, langsing dan juga kaki jenjang. Terlebih ia hanya memakai gaun merah terang ketat dan bagian pundaknya terbuka.
“Apa jadwalku hari ini?”
Masih dengan jalan yang terburu-buru Corrine bertanya, dengan masih tertatih Dana melihat buku catatan yang ia pegang.
“Untuk hari saya kosongkan jadwal anda Nona, karena saya tahu perjalanan dari Perancis tidak dekat. Tapi besok ada makan siang dengan perusahaan Boltom untuk membicarakan proyek.”
“Bukankah seharusnya direktur Boltom menyambutku?”
“Mungkin ia ada di pintu keluar Nona.” Dana tersentak hampir saja ia menabrak punggung atasannya itu yang secara tiba-tiba berhenti berjalan.
“Panggil aku Mary.” Corrine berbicara dengan dingin.
“Ta..Tapi Nona, Tuan besar Ed-“
“Atasanmu disini adalah aku, bukan ayahku!”
“B..Baik Nona.”
Corrine menyeringai, seharusnya ia tidak sungkan-sungkan menerima permintaan ayahnya yang mengurusi proyek di negara ini. Seharusnya, selama ia tidak berasa di Perancis, ia bisa bebas.
“Selamat siang Nona Corrine, aku Mark Lee asisten kepercayaan Tuan Boltom. Aku disini untuk mewakili atasanku. Selamat datang di negara kami Nona Corrine.”
Corrine menghentikan langkahnya dan menatap seorang pria Korea-Kanada yang menatapnya dengan senyuman ramah. Corrine membuka kaca mata hitamnya dan sekali lagi melihat pria itu, pria yang cukup tampan, terlebih memiliki tubuh proporsional, ia dapat membayangkan tubuh atletis kotak-kotak bak roti sobek dibalik kemeja pria ini.
“Kurasa atasanmu sangat sibuk sampai tidak bisa menyambutku.”
“Aku atas nama perusahaan Boltom minta maaf Nona.”
__ADS_1
Corrine hanya mengangguk singkat dan mulai berjalan pergi, selanjutnya wajah dinginnya tersenyum kecil. Di negara ini, di kota ini, seharusnya ia dapat menemukan apa yang selama ini ia cari. Hampir tujuh tahun yang lalu, ia kehilangan seseorang dan inilah saatnya ia mencari. Mencari kebahagiaannya yang selama ini hilang.