Married Life

Married Life
1.23. The Traitor


__ADS_3

Matt memijat kepalanya, sekarang telah menunjukkan pukul sembilan pagi dan perutnya sama sekali belum menyentuh makanan dari kemarin. Rasa lapar pada perutnya masih dapat ia tahan, namun rasa kantuk membuat ia sangat stress. Setelah kemarin ia memilih meninggalkan Jessica begitu saja setelah apa yang telah gadis itu ucapkan, bahkan ia tidak memberi gadis itu untuk menjelaskan. Baginya, pengkhianatan tetap pengkhianatan. Apapun alasannya, Jessica telah mengkhianatinya. Mengkhianati cintanya, kepercayaannya, ketulusannya. Terlebih dengan Mike, dengan sahabatnya sendiri.


“Putuskan semua kontrak kerja dengan Villegas Company, setelah waktunya tiba aku tidak ingin mendengar satupun kontrak kerja dengannya.”


“Tapi tuan, Villegas Company bisa saja-”


“Kau mendengar ucapan ku tadi Mark?”


“B..Baik Tuan.”


Matt melempar ponselnya ke atas meja kerjanya. Hatinya begitu sakit, benar-benar sakit. Jadi selama ini, gadis yang ia ketahui bernama Angelina itu adalah Mike? Ternyata selama ini Jessica begitu pintar, atau ternyata ia yang begitu bodoh?


Deringan ponsel miliknya berbunyi, dan ia melihat layar ponselnya. Matt tersenyum sinis dan mematikan panggilan tersebut. Panggilan dari Mike, untuk apa pengkhianat itu menghubunginya. Untuk menertawainya kah? Amat sangat lucu hidupnya kini. Hatinya kini sungguh sakit, namun rasanya ia ingin tertawa, tertawa keras atas kebodohannya selama ini. Amat sangat lucu.


“*Kau ada dirumah hari ini Matt?”


“Tidak, aku dikantor. Memangnya ada apa?”


“Aku ingin kerumahmu, tapi karena kau tidak dirumah. Ya sudah, tidak jadi.”


Matt menatap ponselnya yang telah terputus. Tumben sekali Mike ingin datang kerumahnya. Ya mungkin Mike, ingin bertamu setelah sekian lama ia tinggal di Perancis. Tapi menurutnya, Mike memang berubah setelah pulang dari Perancis. Tapi tunggu, Mike ingin datang kerumahnya. Lalu Jessica... Dengan cepat Matt memegang ponselnya dan mengetik sebuah nomor.


“Arthur, bisa saya kirimkan CCTV di rumah hari ini?"


“Bisa, Tuan.”


Pria Inggris diseberang telepon mengangguk singkat dan mengutak atik sistem komputer dihadapannya. Matt menatap banyak layar dihadapannya. Namun matanya hanya fokus pada satu layar yang menampilkan sebuah mobil hitam mengkilap telah terparkir didepan rumahnya. Matt dapat melihat dengan jelas Mike keluar dari mobil hitam itu, dan menghilang dibalik pintu masuk utama. Bukankah Mike bilang ia tidak jadi kerumahnya karena dirinya tidak ada dirumah? Matt mengepalkan tangannya kuat.


“Mana lagi? Aku minta CCTV diruang tamu!”

__ADS_1


“Untuk ruang tamu kita tidak memakai CCTV Tuan.” Matt menghembuskan napasnya kasar.


“Mulai sekarang, letakkan semua CCTV di setiap sudut ruangan*!”


Dengan keras Matt memukul meja kantor miliknya. Rasa kesal itu kembali muncul, mengapa ia sangat bodoh? Tidak menyadari semuanya dari awal. Seharusnya ia sadar sejak mereka Dinner malam itu, bagaimana kegugupan Jessica, kepercayaan diri Mike, seharusnya ia sadar. Ia hanya berpikir jika Jessica bukan wanita yang seperti itu, dan ia juga berpikir Mike tidak mungkin berbuat seperti itu padanya.


‘*Matt, bisa kita bertemu di Shena Restauran sekarang? Ada yang harus kutunjukkan padamu, sangat penting.’


Matt menghembuskan napas kesal, baru saja ia ingin menyantap lasagna miliknya. Tapi ia tahu, Mike benar-benar sedang membutuhkannya sekarang. Toh, Jessica juga tidak ingin makan bersamanya sekarang, gadis itu lebih memilih makan bersama Angelina. Matt menatap pesan singkat itu, sepertinya ada yang tidak beres disini. Entah mengapa, perasaanya menjadi tidak enak sekarang.


Mata Matt membulat, tepat dihadapannya terdapat Mike dan wanitanya yang sedang berciuman mesra. Matt mengepalkan tangannya erat. Dengan sekali bantingan kuat, ia kembali menutup pintu taksi tersebut. Baru saja ia ingin keluar dan menghampiri Mike dan Jessica yang terlihat sedang makan berdua. Tapi saat apa yang mereka lakukan Matt mengurungkan niatnya.


“Pergi kekantor Boltom Company.”


Matt merasa hatinya benar-benar hancur. Benarkah yang dilihatnya tadi, Jessica sang istri berciuman dengan Mike, sahabat karibnya sendiri. Matt mengepalkan tangannya erat, sudah berapa lama mereka memiliki hubungan seperti ini? Dengan rasa kesal, Matt mengetik nomor seseorang dilayar ponselnya.


“Awasi pergerakan Nyonya Boltom selama 24 jam, dan cek siapa saja yang menghubunginya belakangan ini*!”


Matt menatap kesal layar monitor dihadapannya. Didepannya kini terdapat layar besar yang menampilkan Jessica sedang meringkuk diatas kasur tamu. Sudah sekitar tiga hari gadis itu mengurung diri dikamar. Bahkan Matt sampai menyewa asisten rumah tangga hanya untuk menyuruh gadis itu makan. Terlalu gengsi jika harus ia yang menyuruh Jessica.


Dengan kesal Matt keluar ruangan kerjanya, pria itu mengambil beberapa makanan yang telah ia masak. Matt menghela napas sebentar dan mengetuk pintu kamar yang Jessica tempati.


“Aku tidak ingin makan Ma'am, tolong tinggalkan aku.”


“Cepat keluar sekarang!”


Jessica yang berada didalam kamar tersentak, itu adalah suara Matt. Sekitar dua hari Matt tidak pulang kerumah. Ia pikir, Matt tidak ingin sebatas melihat wajahnya lagi. Sejujurnya, ia begitu malu bertemu dengan Matt. Namun ia harus menjelaskan semuanya kepada pria itu, sebelum Matt berbicara kepada kedua orang tua mereka. Dengan tenaga yang Jessica miliki, gadis itu membuka pintu kamar, dan ia dapat melihat Matt yang menatapnya dengan datar.


“Akhirnya kau pulang Matt, aku ingin menjelaskan-”

__ADS_1


“Tidak ada yang perlu dijelaskan lagi. Sekarang habiskan makananmu, setidaknya aku tidak ingin dicap sebagai suami yang tidak memberi makan istrinya.”


Tanpa jawaban, Jessica menerima satu nampan yang berisi banyak makanan Asia dan segelas jus apel kesukaannya. Bahkan disaat ia disakiti, Matt masih mengingat makanan kesukaannya. Betapa jahatnya ia pada pria itu. Setelah memberikan senampan makanan, Matt meninggalkan Jessica yang hanya bisa memandang punggungnya sedih.


Jessica masuk kedalam kamar dan kembali mengunci kamarnya. Jessica terkikik geli, untuk apa ia melakukan hal bodoh seperti mogok makan seperti ini. Ia pikir, jika ia mogok makan Matt akan iba dan memaafkannya. Tapi ia rasa, Matt tidak peduli padanya. Ia hanya tidak ingin keluarganya berpikir ia menelantarkan dirinya karena berselingkuh. Matt memang begitu baik, tapi ia membenci kelakuan baik Matt. Seharusnya pria itu memberikan pelajaran padanya, bukan bersikap baik seperti ini. Mengingat perlakuan baik Matt malah semakin membuatnya menderita.


Jessica dapat melihat segelas jus apel itu. Lebih tepatnya melihat gelas kaca yang sangat mengkilap untuknya. Dengan dua kali tenggukan, segelas jus apel itu habis ditangannya. Dengan hati-hati takut menimbulkan suara, Jessica memecahkan gelas kaca tersebut.


Jessica tersenyum sedih. Haruskah seperti ini? Haruskah ia melakukan hal ini? Karena cepat atau lambat Matt akan memberitahukan semua kepada kedua orang tuanya. Dan ia tidak dapat membayangkan apa yang akan dilakukan ayahnya kepada dirinya, membayangkannya saja membuat ia sangat takut. Jessica tersenyum sedih, sebelum ia menggoreskan pada lengannya, deringan ponsel membuatnya tersentak. Panggilan dari Mike, haruskah ia mengangkatnya? Ia harus mengangkatnya, setidaknya untuk mengucapkan selamat tinggal pada pria yang telah menemaninya selama bertahun-tahun itu.


“Jess, kau baik-baik saja kan? Mengapa tidak pernah mengangkat panggilanku?”


“Mike, M..Matt M..Matt-”


Jessica tidak dapat menahan tangisannya. Ia butuh sandaran sekarang, sangat membutuhkan sandaran. Memang, tiga hari belakangan Mike berusaha menghubunginya, namun ia tidak pernah mengangkatnya. Tapi sekarang, saat ingin menyerah, Mike datang seolah menghadang semuanya.


“Jess tenang, tenangkan dirimu. Aku sudah tahu, dan aku sangat minta maaf Jess.”


Jessica tidak sanggup untuk berbicara, hanya isakan menyedihkan yang dapat ia sampaikan. Hatinya begitu sakit, begitu hancur. Hati Mike tersayat, ia baru menyadari betapa Jessica begitu mencintai Matt, dan bodohnya ia malah mencoba untuk memisahkan mereka. Mike benar-benar menyesal jika harus membuat Jessica menjadi seperti ini.


“M..Mike, aku menyerah. Ini begitu menyakitkan Mike, a..aku ingin menyerah.”


“Jika Matt meninggalkanmu, tak bisakah kau bersamaku Jess? Masih ada aku, aku selalu ada untukmu Jessie.”


Entah mengapa ucapan Mike membuat dirinya tenang. Mike benar, ia masih memilikinya, masih ada yang membelanya meskipun hanya satu orang. Mike begitu lega setelah ia mengatakan itu, tangisan Jessica mereda. Jessica lebih baik sekarang, isakannya mulai mereda, napasnya sudah tidak memburu.


“Kau janji selalu ada untukku Mike?”


“Aku janji.”

__ADS_1


Matt mengepalkan tangannya erat. Ia dapat melihat senyuman Jessica dilayar monitor, panggilan dari Mike. Pria itu bahkan masih berani menghubungi wanitanya. Baru saja ia ingin lari dan menghampiri kamar Jessica, gadis itu nyaris saja memotong nadinya, tapi satu panggilan berhasil menyelamatkan Jessica. Namun saat ia tahu siapa yang menghubungi gadis itu, semua kelegaannya musnah.


__ADS_2