Married Life

Married Life
1.24. When does Everything End?


__ADS_3

“Kapten kita datang.”


Matt tersenyum menyeringai disambut oleh para temannya itu. Matt menatap satu persatu para temannya. Carl, pria dengan rambut klimis itu kini terlihat begitu manly dengan badan yang berisi. Ragen, pria cubby yang begitu imut itu kini terlihat semakin imut. Timmy, pria bungsu itu terlihat paling dewasa dari semuanya, yang menurut Matt sama saja hanya Lee, pria berdimple itu masih sama dengan senyuman hangat miliknya, bahkan gaya rambutnya pun tetap sama setelah beberapa tahun tidak bertemu.


“Lihat, lihat Jessica di perpustakaan!”


“Itu lucu Tim.”


Nada sarkastik Matt mampu membuat mulut Timmy terdiam. Carl, Lee dan juga Ragen tidak dapat menahan tawa melihat bagaimana ekspresi Timmy. Setelah hampir empat tahun mereka tidak bertemu, lebih tepatnya sejak Matt memutuskan kuliah di Inggris dan menyelesaikan kuliah tiga tahun hanya untuk melamar Jessica.


“Apa kau telah punya baby Matt?”


“Hei Michael!”


Teriakan Ragen mampu membuat Carl yang bertanya tersentak. Matt menatap kearah pintu cafe, disana terdapat Mike dengan menggunakan kemeja pendek berwarna cokelat. Matt mengepalkan tangannya erat, mengapa ia lupa Mike pasti hadir. Matt tersenyum sinis, bahkan ia lupa Mike adalah sahabatnya di Karin High school.


“Bagaimana Perancis? Pasti kau bosan melihat wanita cantik disana.”


Mike hanya tertawa singkat, Lee menghela napas bicara dengan Mike memang begitu sulit, butuh kesabaran yang ekstra. Bahkan ia bingung bagaimana Matt mampu bersahabat dengannya dari Junior High school.


“Kembali ke topik pembahasanku dulu, kau telah punya baby Matt? Aku ingin mendengar kabar gembira.”


“Tidak.”


Jawaban singkat Matt mampu membuat suasana menjadi mencekam. Semuanya sedikit tersentak mendengar jawaban Matt, Matt yang begitu hangat menjadi dingin hanya karena pertanyaan Carl tentang keluarganya. Mereka semua tahu, jika Matt seperti ini, jangan bahas lagi hal yang sama, apalagi menanyakannya lebih dalam. Mike yang melihat reaksi Matt hanya tersenyum tipis.


“Kabar gembira, aku akan menikah.”


Timmy berusaha mengembalikan keadaan dengan melemparkan satu undangan di atas meja cafe. Dengan cepat Lee mengambil undangan itu. Disana bertuliskan untuk The Best Man Group, Lee menatap jengkel kearah Timmy, dasar pria pelit. Ia tidak ingin membuat lima undangan, jadi hanya membuat satu untuk semua. Sedangkan Carl berusaha mengintip undangan yang berada ditangan Lee.


“Kau akan menikah dengan Lara? Sungguh?!”


Teriakan nyaring Carl mampu membuat Lee menatap jengkel kearahnya. Tapi setelah mendengar apa teriakan Carl, buru-buru ia membaca undangan itu dengan cepat. Timmy Holland & Lara Kim. Kelima temannya itu menatap Timmy dengan terkejut. Bahkan Mike yang biasa terlihat tidak peduli, kini begitu tertarik. Timmy yang ditatap seperti itu hanya nyengir. Ia sudah tahu seperti inilah reaksi kelima temannya.


“Kau tahu kan Lara pernah menyakiti Jessica, kau yakin dengan-”


“Lara telah berubah, percayalah padaku.”


Matt menatap tajam kearah Mike, bahkan Mike berani membahas Jessica dihadapan teman temannya. Mike yang merasa sesuatu memandangnya juga menatap Matt. Mike menyeringai, dengan cepat Matt mengalihkan pandangannya dengan tangan yang mengepal kuat. Ia tidak ingin lepas kendali disini.


“Selamat menempuh hidup baru Tim, jangan sampai istrimu berselingkuh dibelakangmu.”

__ADS_1


Mike cukup tersentak atas ucapan Matt. Bukankah Matt terlalu berani jika bicara seperti itu dihadapan semuanya? Sedangkan keempat temannya hanya menatap Matt dengan bingung. Pasti ada yang salah dengan hubungan Matt dengan Jessica. Mungkinkah Jessica berselingkuh dibelakang Matt? Mereka rasa, Jessica adalah wanita baik-baik.


“Bagaimana pendapat kalian mengenai istri yang berselingkuh, dimulai dari Carl.”


Ragen yang berbicara ala reporter membuat yang lain memutar bola matanya, mulai lagi kegilaan Ragen. Sedangkan Carl yang ditunjuk pertama merasa panik, seolah disuruh menyelesaikan soal matematika tersulit dihidupnya.


“Aku? Kenapa harus aku? Aku belum menikah.”


“Baiklah, dimulai dari Matt.” Suasana menjadi tegang. Mengapa Ragen malah mengungkit masalah ini, tidak mengertikah ia jika Matt memiliki masalah dengan kata selingkuh itu.


“Perselingkuhan harus diselesaikan dengan perceraian. Wanita itu yang salah, pengkhianatan tetap pengkhianatan apapun alasannya.”


Matt seolah berucap dari lubuk hati terdalam. Kesal dan muak lebih tepatnya, semua hanya terdiam, tidak ingin mengungkitnya lebih jauh. Mike yang mendengarnya tidak mau kalah, ada argumen tersendiri didalam kepalanya.


“Aku setuju dengan ucapan Matt, siapa yang setuju?” Ragen bertanya.


“Bagaimana jika pernikahan yang tidak didasari dengan cinta? Wanita itu selingkuh dengan lelaki yang dicintainya, karena ia tidak mencintai suaminya. Bisa saja bukan?”


Keempat temannya kecuali Matt tentu saja mengangguk. Itu sebenarnya bisa saja, sejujurnya ini adalah argumen pertama yang dikeluarkan Mike jika Ragen telah bertingkah konyol seperti tadi. Mike lebih banyak diam dan mendengarkan argumen. Tapi kali ini Mike memutuskan untuk berbicara.


“Pernikahan tanpa cinta? Seperi apa?”


“Perjodohan.”


“Aku pergi.”


“Matt.. Matt tunggu!”


Teriakan Ragen diabaikan oleh Matt. Kini semua mata memandang kearah Mike, pria itu hanya mengangkat bahu seolah tidak tahu. Mereka yakin, ada masalah Matt dengan Mike yang tidak mereka ketahui.


 


\\\\\\\\\\\\\\\\_


 


Ting! Ting! Ting!


Suara bel rumahnya yang ditekan dengan tidak sabaran membuat Jessica was-was. Sekarang telah menunjukkan pukul satu malam, siapa yang bertamu dirumahnya selarut ini? Jelas-jelas sudah hampir dua hari Matt tidak pulang kerumah, dan Ma'am Hogwarts, salah satu asisten rumah tangganya yang pernah Matt pekerjakan telah diberhentikan karena ia kini mulai makan teratur.


Jessica membuka pintu besar itu, dan disana terdapat Matt yang sedang dirangkul oleh dua orang wanita seksi disebelah kanan dan kirinya. Hati Jessica bagaikan tertusuk, begitu sakit melihat Matt dihadapannya. Pria itu terlihat mabuk, namun menyeringai menatapnya.

__ADS_1


“Puaskan aku Baby.”


Matt mencium bibir wanita disebelah kanannya. Jessica mengepalkan tangannya erat melihat adegan dihadapannya ini. Jessica menarik kerah kemeja Matt dan menampar pria itu dengan keras. Napas Jessica menderu, emosinya sudah tidak dapat ia tahan, entah ini untuk keberapa kalinya Matt membawa wanita pulang kerumah, namun ini adalah pertama kalinya Matt mencium wanita itu dihadapannya. Bagiamanapun ia masih berstatus istri Matt, dan ia sungguh tidak terima melihat itu semua.


Matt tetap pada posisinya, selanjutnya Matt tertawa keras. Nyali Jessica menjadi menciut, tawa Matt begitu menyeramkan baginya. Sedangkan kedua wanita dihadapannya hanya tersenyum menyaksikan adegan dihadapannya ini.


“Kau cemburu? Bagaimana rasanya? Sakit? Kesal? Marah?”


“Matt bagaimanapun aku adalah-”


“Cukup Jessica! Jangan pernah menyebut lagi kau adalah istriku! Aku tidak akan pernah memiliki seorang istri yang berselingkuh dibelakangku.”


Matt berjalan begitu saja melewatinya, Jessica menunduk dalam. Sungguh, ia ingin menyudahi hubungannya dengan Mike, ia tidak akan berselingkuh lagi dengan Mike. Ia ingin bersama Matt sekarang, tapi mengapa jadi seperti ini. Mata Jessica berlinang, tubuhnya hampir tersungkur kala kedua wanita dihadapannya yang tadi menemani Matt menyenggol kedua bahunya dengan keras. Mereka mengikuti Matt kelantai atas, kekamar mereka berdua seharusnya tidur.


 


\\\_


 


Hampir satu bulan berlalu sejak Matt mengetahui semuanya. Matt bicara akan menceraikannya, tapi pria itu seolah hanya mengurungnya didalam rumah. Sebenarnya tidak mengurungnya, hanya saja ia terlalu bingung untuk keluar. Disaat seperti ini, ia tidak mungkin bertemu dengan beberapa temannya, atau bahkan berbelanja. Ia tidak bisa bersenang-senang, namun didalam rumah ini membuat ia depresi. Matt jarang pulang, namun sekalinya pulang, ia akan membawa satu atau dua wanita malam untuk menginap. Dan ia tidak tahu apa yang mereka perbuat didalam kamar yang harusnya ia dan Matt tempati. Karena ia sekarang tidur di kamar tamu, ia terlalu takut untuk masuk kedalam kamarnya dan Matt dan malah menemukan benda-benda yang semakin membuatnya sakit hati.


Apa Matt memang sengaja untuk menyiksanya perlahan? Mengapa tidak membunuhnya saja jika ia mampu, ia yakin Matt mampu membunuhnya. Tapi bukan itu yang diinginkan pria itu. Suara ponselnya yang berdering membuat Jessica tersentak. Ia melihat ponselnya diatas nakas samping tempat tidur.


'Angelina.’


Bahkan ia masih menyimpan nomor Mike dengan nama Angelina, Jessica tersenyum sedih. Dengan perlahan ia mengambil ponselnya, haruskah ia menjawab panggilan Mike? Tapi ia benar-benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Mike tidak mungkin nekat datang kesini karena ia tidak mengangkat teleponnya kan? Tanpa berpikir panjang lagi, Jessica mengangkatnya.


“Ada apa Mike?”


“Kau tidak pernah mengangkat panggilanku Jess, kau baik-baik saja kan? Matt tidak menyakitimu kan?”


Jessica menunduk, Matt memang menyakitinya, menyakiti mentalnya. Matt membuat ia merasakan apa yang Matt rasakan. Seharusnya Matt menamparnya, setidaknya ucapan ucapan kasar ia lontarkan. Bukannya menyakiti hatinya seperti ini. Jessica tidak kuat, tanpa sadar ia mulai terisak. Ia kembali mengingat bagaimana perlakuan lembut Matt padanya, menjadi momen saat Matt mencium wanita lain dihadapannya. Itu begitu menyakitkan.


“Jess, Jessie, kau baik-baik saja kan?”


“Matt..Matt...”


“Jess, temui aku hari ini di Shena Restauran. Kumohon, kau akan pergi bersamaku.”


Tangis Jessica meredup, tanpa sadar jantungnya berdetak kencang. Apa Mike serius dengan ucapannya? Atau hanya main-main? Apa ia yakin lebih memilih Mike daripada bersama Matt disini? Jessica terdiam, kepalanya berpikir keras. Haruskah ia lakukan ini? Mengiyakan ucapan Mike?

__ADS_1


“Baiklah.”


__ADS_2