Married Life

Married Life
2. 24. Lost


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading...


Hospital


10.30


Jessica menggenggam tangan Lyn dengan erat. Ia menatap dengan saksama wajah cantik putrinya yang kini terpejam, ia terlihat begitu damai, gadis kecil itu pasti sangat lelah karena rasa sakit yang dialaminya belakangan ini. Besok seharusnya adalah jadwal transplantasi untuk Lyn, dan ia masih berharap semua akan baik-baik saja.


Kini tangan Jessica mengelus pipi Lyn dengan lembut. Matt benar, Lyn adalah gadis yang kuat, ia sudah sangat kuat sejauh ini, bahkan gadis kecil itu yang menyelamatkan nyawanya beberapa hari yang lalu. Jessica tersenyum lembut, ia tidak akan sanggup menangis jika itu dihadapan putrinya, seolah air matanya sudah habis ia keluarkan, dan sejujurnya ia sangat lelah bersedih, sangat lelah. Ia berusaha memperlihatkan kepada Lyn bahwa semua akan baik-baik saja, walaupun itu semua adalah kebohongan yang nyata.


“Jessie.”


Chelsea Boltom, atau biasa dipanggil Nyonya Boltom itu menepuk pundak Jessica lembut. Wanita paruh baya itu menutup mulutnya menggunakan tangan kanannya, berusaha menahan semua isak tangisnya. Melihat cucu satu-satunya dengan keadaan seperti ini membuatnya hancur, dan ia tidak ingin berkata kepada Jessica semua akan baik-baik saja, karena semuanya memang tidak baik-baik saja.


“Terimakasih sudah datang Ibu, besok Lyn akan operasi dan kuharap semua akan baik-baik saja.”


Jessica menoleh kearah Nyonya Boltom dan tersenyum tipis. Ia sangat senang ibu mertuanya itu pulang karena ingin menemui sang cucu, ia tahu sangat banyak yang menyayangi Lyn diluar sana. Sedangkan Nyonya Boltom yang melihat Jessica tersenyum padanya semakin membuatnya menangis, Jessica adalah wanita kuat dan Matt sangat beruntung menikah dengannya.


“Kau harus sabar Sayang, kau wanita kuat.”


Kini Nyonya Boltom memeluk Jessica erat. Jessica yang mendapatkan pelukan hangat Nyonya Boltom membalas pelukan itu. Namun seketika pertahanannya runtuh, air mata yang sudah ia tahan selama ini mengalir dengan isak tangisan yang kencang. Ia bohong jika hatinya tidak sakit melihat putri satu-satunya seperti ini. Ia hanya ingin terlihat baik-baik saja dihadapan semua orang.


Merasakan Jessica yang kini menangis terisak dipelukannya, Nyonya Boltom semakin mempererat pelukannya, lebih baik melihat Jessica menangis seperti ini dari pada terlihat tegar seperti tadi, itu semakin menyakitinya.


“Ayo kita bawa Lyn Jessie, pemakaman telah disiapkan.”


......................

__ADS_1


15.00


Jessica menatap kosong kearah makam Lyn dan sang Ibu dihadapannya. Untuk kedua kalinya ia merasakan kehilangan yang begitu dalam, terakhir saat kehilangan sang ibu karena kecelakaan satu tahun lalu, dan kini putrinya. Ia benar-benar sudah tidak sanggup menangis lagi. Entah apa yang harus ia lakukan lagi, semangat hidupnya yang begitu ia perjuangkan kini telah pergi.


“Jess, ayo kita pulang.”


Matt berucap pelan, sudah hampir satu jam ia menemani Jessica yang hanya menatap kosong kedua makam itu. Kehilangan Lyn membuat ia juga sangat terpukul, ia sempat berpikir, bila transplantasi itu dipercepat, apakah ia bisa menyelamatkan Lyn dari kematian ini? Dan Matt sangat tahu, pasti itu juga yang berada dipikiran Jessica saat ini.


Matt kini berjalan menghampiri Jessica dan bersimpuh disebelahnya. Entah bagaimana ia bisa membuat Jessica meninggalkan tempat ini, tapi sungguh ia tidak ingin memaksa, biarkan Jessica merasakan kesedihan ini sebentar dan setelahnya ia berharap semua akan baik-baik saja dan berjalan seperti sedia kala.


“Tuan ada panggilan untuk anda."


Mark berbisik disebelah atasannya itu, berusaha untuk tidak terdengar Nyonya Boltom. Ia mengerti, urusan perusahaan seperti ini pasti akan membuatnya sangat terusik.


Kedua pria itu berjalan menjauhi Jessica, Matt menatap layar ponselnya dan ia tersenyum tipis melihat nama seseorang yang kini terlihat disana, siapa lagi kalau bukan nama yang ia tunggu-tunggu selama ini untuk menghubunginya, Tuan Edmond.


Panggilan terputus setelah lima belas menit mereka berbicara. Seperti dugaannya, Tuan Edmond ingin menemuinya, bahkan pria paruh baya itu mengeluarkan beberapa kata pujian untuknya. Tuan Edmond kini tidak bisa berkutik lagi, karena jika mereka tidak bisa menuruti keinginannya, ia akan mengatakan semuanya kepada publik.


Senyuman puas Matt kini kembali berubah khawatir saat melihat Jessica yang masih terdiam ditempatnya. Seharusnya ia tidak meninggalkan Jessica saat ini, tapi semua ini tinggal beberapa langkah lagi dan ia akan menguasai beberapa proyek yang sudah ia jalani dengan Ed Company, pastinya dengan sedikit amcaman. Dengan rasa penyesalan Matt menghampiri Jessica dan berucap dengan lembut.


“Jessie, aku harus pergi sebentar. Mark akan menemani dan mengantarmu pulang. Kau baik-baik saja kan?” Matt kembali menyentuh bahu Jessica membuat gadis itu kini menoleh kearahnya, dan ia dapat melihat Jessica tersenyum tipis.


“Ya, tentu. Hati-hati dijalan.” Matt bernapas lega mendengarnya, ia mencium kening istrinya itu dan berjalan pergi menuju Mark yang berada didalam mobil.


“Mark, antar Nyonya pulang dengan mobilku, tapi jangan memaksanya, aku tahu ia akan pulang jika sudah merasa lelah dengan kesedihannya."


“Tapi bukankah anda harus bertemu dengan Tuan Edmond, Tuan?” Mark bertanya, ia tahu jika Tuan Edmond adalah orang yang licik dan ia khawatir jika hanya atasannya itu yang menemuinya.

__ADS_1


“Tenang saja, ia tidak akan bisa melakukan apapun lebih jauh. Ia ada di kandangku dan hanya aku yang punya kunci keluarnya.” Matt tersenyum tipis.


"Baik, Tuan."


......................


Boltom’s Company


16.30


Albert Edmond mengepalkan tangannya kuat, kini dihadapannya sudah ada rekan kerjanya yang tersenyum lebar, seolah senyuman itu mengejeknya. Sebenarnya dari awal ia datang kesini berniat meminta maaf dan berpikir semuanya akan baik-baik saja dan berjalan dengan lancar, namun pikirannya salah, ia baru tahu ternyata Tuan Boltom salah satu rekan kerja yang begitu licik.


"Bagaimana menurut anda Tuan Edmond? Bukankah menyerahkan semua proyek yang sudah kita bangun itu tidak sebanding dengan reputasi yang sudah dicoreng oleh putrimu?"


"Apakah anda sedang memanfaatkanku sekarang?"


Matt tertawa mendengarnya, sungguh ia sangat menyukai pria terpandang seperti Albert Edmond kini terpojok. Dulu sepuluh tahun yang lalu kaki tangan Albert Edmond itu memukulinya karena berada didekat putrinya Corrine Edmond. Tapi sekarang, putrinya sendiri yang malah menjatuhkan sang ayah.


"Memanfaatkan anda? Kalau memang itu perkiraanmu, baiklah, aku akan klarifikasi kepada media hari ini juga tentang apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak memaksamu."


Napas Albert Edmond menggebu, sungguh ia sangat emosi dan tidak ada yang bisa ia lakukan lagi sekarang. Karena kini pihaknyalah yang melanggar kontrak karena menyakiti sesama rekan kerja.


"Tuan Boltom."


"Hm?" Matt tersenyum miring.


"Saya meminta waktu."

__ADS_1


__ADS_2