
...Enjoy and Happy Reading...
Airin’s School
11.12
Mobil sedan berwarna silver itu terparkir didepan sekolah mewah. Jessica menghembuskan napasnya pelan, berusaha untuk tidak menampilkan raut wajah sedihnya. Kini ia harus menjemput Lyn, dan gadis kecilnya pasti akan banyak bertanya mengenai persaannya jika wajahnya masih begitu menyedihkan. Toh, ia juga tidak mungkin jujur kepada gadis itu jika sang Ayah yang begitu ia cintai menduakan ibunya.
Secara tiba-tiba ia merasakan dadanya kembali sesak, entah apa yang harus ia lakukan berikutnya. Haruskah ia berpisah dengan Matt? Tapi bagaimana dengan Lyn? Gadis kecil itu bahkan sudah cukup sedih ayahnya tidak pernah ada waktu untuknya, lalu bagaimana perasaannya jika ayah dan ibunya akan berpisah. Jessica tidak bisa membayangkannya, bahkan tidak mau membayangkannya.
Jessica membuka pintu mobilnya itu, ia dapat melihat sekolah itu sudah cukup sepi. Sebenarnya bel pulang sekolah jam 11 siang, dan ia sudah telat hampir lima belas menit untuk menjemput gadis cantik itu.
“Apa kelas 1 Bintang S sudah pulang?”
Penjaga sekolah dengan tinggi kurang lebih 170 senti itu menatap Jessica dengan saksama. Apa ia menjemput adiknya? Terlihat sekali jika gadis ini begitu muda dan cantik, entahlah ia juga kurang peduli.
“Bintang S sudah pulang sekitar lima belas menit yang lalu. Siapa yang anda jemput Nona? Atau anda bisa langsung menanyakannya kemeja informasi kami.”
Pria itu tersenyum ramah kearah Jessica, Jessica masih melihat-lihat kearah pos depan. Biasanya Lyn sudah keluar dari sana jika ia sudah mendengar suara mobil ibunya, tapi kali ini pos itu kosong, tidak ada siapapun.
“Lyn, Sherlyn Boltom. Apa anda mengenalnya? Dia biasanya menunggu di pos anda.”
“Ohh si gadis cantik Sherlyn, kakeknya tadi sudah menjemputnya pulang. Baru beberapa menit yang lalu.”
“Kakek?”
Pria itu menganguk pasti, Jessica mengerutkan dahinya. Kakek siapa yang dimaksud pria itu? Apakah Tuan Boltom? Tumben sekali jika ayah mertuanya itu menjemput Lyn, terlebih tanpa menghubunginya. Bahkan Chelsea Boltom, ibu mertuanya pasti menghubunginya jika dia ingin menjemput Lyn. Tapi ini Tuan Boltom? Padahal Jessica sangat tahu betapa sibuknya Tuan Boltom.
__ADS_1
“Oh, makasih Pak.”
Kembali pria itu tersenyum kearah Jessica, Jessica berjalan menjauh dan berhenti tepat didepan mobilnya. Ia rasa, ia akan menghubungi ibu mertuanya itu. Saat Jesica mengeluarkan ponsel dari tas jinjingnya. Deringan ponsel membuatnya terkejut, ia menatap nomor yang tidak dikenal yang tertera pada layar ponselnya.
“Hallo?”
Tidak ada jawaban.
“Hallo? Maaf, dengan siapa?” Jessica terdiam, tetap tidak ada jawaban. Jessica melihat layar ponselnya, masih tersambung dengan nomor yang sama. Jessica kembali meletakkan ponsel pada telinganya.
“Hallo, ini-“
“Jess.”
Jessica terdiam, ia mengenal suara ini, sangat mengenalnya. Secara tiba-tiba jantungnya berdetak kencang, pikirannya kembali ke masa lalunya yang menyakitkan, penuh dengan siksaan. Pelipis Jessica mulai berkeringat, tangannya mulai bergetar. Psikisnya dengan terpaksa mengingat masa kelamnya.
“Tidak! Tidak! Kumohon jangan sakiti Lyn, aku mohon!”
Badan Jessica bergetar hebat, rasa takut kini muncul secara tiba-tiba. Ia boleh menyakitinya, tapi tidak dengan Lyn. Ia rela menukar nyawanya jika itu untuk buah hatinya.
“Seharusnya sepuluh juta Dollar adalah nominal yang kecil untukmu, terlebih jika itu ditukar dengan nyawa anakmu bukan?”
“Iya Ayah, aku janji. Aku akan membawa sepuluh juta itu, tapi kumohon jangan Lyn. Jangan-“
Panggilan telah dimatikan.
Air mata mulai membanjiri pipi Jessica, kini rasa takut mendominasi perasaannya. Tidak, ia tidak akan memaafkan ayahnya jika Lyn terdapat luka segorespun. Ia masih ingat dulu bagaimana sang ayah menyiksanya, bahkan ia sudah mendapatkan tamparan keras dipipi saat seusia Lyn. Dan ayahnya itu tidak akan sungkan mengulang hal yang sama pada cucunya.
__ADS_1
Dengan cepat jari Jessica mulai menekan tombol nomor Matt yang sudah di luar kepalanya. Ia bingung, siapa yang akan membantunya jika bukan Matt. Harga dirinya adalah urusan terakhir, yang pertama adalah keselamatan Lyn.
Namun sudah hampir lima menit ia menunggu tetap tidak ada jawaban. Bahkan Matt sudah tidak mengangkat panggilannya, atau bahkan sekedar menjelaskan siapa gadis yang berada dikantornya itu. Matt sudah tidak memperdulikannya. Jadi, jika bukan Matt, siapa yang akan membantunya?
“Arghhh! Jangan gadisku! Jangan Lyn, gadisku! Bunuh aku saja, Jangan Lyn!”
Jessica mulai berteriak, ia benar-benar frustasi. Bahkan ia masih mengingat bagaimana ayahnya itu menyiksanya, tapi kali ini ia membayangkan bagaimana Lyn yang berada diposisinya.
Penjaga sekolah yang tadi masih memperhatikannya mulai menghampiri Jessica, ia khawatir setelah menerima panggilan gadis itu langsung menangis dan berteriak.
“Nona, kau baik-baik saja?”
Jessica tidak menghiraukan suara pria itu. Ia sibuk mencari nomor siapapun yang bisa membantunya, saat ia akan menghubungi ibunya. Deringan ponsel kembali mengejutkannya, kali ini Mike menghubunginya.
“Ha..Halo Mike.”
“Jess..Jess kau baik-baik saja?”
“Mike aku..aku-“ Jessica kembali menangis, ia tidak sanggup bersuara. Hanya tangisannya yang keluar, badannya sudah mencapai batasnya.
“Dimana? Dimana kau?!” Mike mulai mengeraskan suaranya, rasa khawatir Mike sudah mencapai puncaknya.
“A...Airin’s School. Tolong Lyn Mike, aku mohon, aku...”
“Nona, Nona kau baik-baik saja? Nona?!” Penjaga sekolah itu berteriak.
Panggilan terputus.
__ADS_1