Married Life

Married Life
2.17. Divorce Papers


__ADS_3

...Enjoy and Happy Reading ...


Rumah keluarga Boltom


21.30


Jessica terus menatap nomor kontak yang berada di ponselnya. Setengah jam telah berlalu dan satu katapun tidak sanggup ia tekan, ia meremas ponselnya. Ia bimbang, bingung, setelah rencananya gagal tadi pagi untuk memberitahukan Matt mengenai kehamilannya. Bagaimana ia menyampaikan kabar ini pada Matt? Sebenarnya bisa saja via telepon ataupun pesan. Namun kabar membahagiakan ini tidak seharusnya ia sampaikan via telepon. Terlebih ia ingin tahu langsung bagaimana reaksi Matt mengenai kehamilannya.


“Ma, kapan papa kembali?” Jessica tersentak kaget, ia menatap Lyn yang terlihat mengantuk. Sejak kapan Lyn terbangun? Ia bahkan tidak menyadari Lyn menuruni tangga dari kamarnya.


“Papa akan segera kembali, kau tidak tidur Lyn?”


Lyn menggeleng dan berjalan menghampiri ibunya yang duduk di sofa ruang tamu. Gadis kecil itu kembali merebahkan diri diatas sofa dengan bantalan adalah paha kecil sang Ibu.


“Aku mencari Mama, aku mengeceknya dikamar Mama tidak ada. Dan aku lihat dari atas Mama duduk disini. Apa Mama juga menunggu Papa?”


Gadis polos itu menandang wajah sang Ibu dari bawah. Kemudian ia memalingkan wajah, membuat wajahnya menghadap tepat dihadapan perut rata Jessica. Tangan Lyn terangkat dan mengelus lembut perut sang Ibu, senyumannya merekah, yang ia tahu adalah sebentar lagi ia akan memiliki adik kecil.


“Kapan adik kecilku keluar?”


Lyn tersenyum hangat dan tetap mengelus lembut perut sang Ibu. Jessica tersenyum tipis, ia mengelus kepala Lyn sayang. Gadis kecil ini begitu bahagia setelah mendapat kabar bahwa dirinya akan memiliki adik, Lyn hanya membutuhkan teman.


“Jika ada adik, aku tidak apa-apa tidak bermain dengan papa.”


Air mata Jessica berlinang mendengar ucapan spontan Lyn, namun dengan cepat Jessica menghapusnya sebelum Lyn menyadarinya. Ia tahu, lama kelamaan Lyn pasti mulai terbiasa tanpa ayahnya.


Selama lima menit mereka hanya terdiam, tidak menimbulkan suara. Bahkan Jessica telalu takut jika ia berbicara, akan menjadi isakan tangis yang tidak bisa ditahannya. Baginya, diam adalah hal terbaik.


Jessica kembali menatap Lyn dan mengelus kepala gadis kecil itu, kini Jessica tersenyum, ternyata Lyn sudah kembali terlelap. Gadis kecil ini hanya ingin ditemani ibunya. Jessica kembali menatap ponselnya dan mengetik beberapa kalimat yang ditujukan kepada Matthew.


‘Selamat malam sayang, apa kau akan pulang malam ini? Ada yang ingin aku bicarakan padamu. Lyn juga sangat merindukanmu. Aku menunggumu Matt, I Love You❤️’


Setelah membacanya selama tiga kali secara berulang-ulang Jessica menekan send. Ia harap Matt ingin menemuinya malam ini. Ia tetap ingin menyampaikan berita ini langsung kepada Matt.


Hampir tiga puluh menit sejak pesan itu terkirim. Jessica menghela napas, dan menatap jam dinding besar di istana Boltom itu, pukul 22.15. Jika Matt pulang, jam pulang kantor seharusnya memang jam 8 malam tadi. Jessica menghela napas dalam dan kembali mengetik beberapa pesan untuk Matt, ia tidak memiliki pilihan lain.


‘Aku hamil Matt, aku mengandung anakmu. Tadinya aku ingin menyampaikan pagi ini, tapi kurasa kau dan proyekmu sedang tidak baik. Dan aku minta maaf atas kejadian tadi pagi, kuharap kau pulang malam ini.


Salam sayang dari istrimu yang begitu mencintaimu, Jessica Boltom❤️’


Jessica tersenyum kecil ketika mengetik pesan cinta itu, ia harap Matt akan luluh dengan pesannya kali ini. Jessica menyenderkan punggungnya, sebenarnya ia juga cukup lelah. Mungkin tidur sebentar bisa mengembalikan tenaganya.


......................


Boltom Company


22.17


Suara getaran ponsel membuat perhatian Corrine teralih. Dihadapannya terdapat ponsel Matt yang tergeletak diatas meja, sedangkan Matt masih mempresentasikan proyek mereka untuk dua minggu kedepan.


Corrine berusaha mengabaikan pesan itu, namun saat ia menatap “My Wifey” dilayarnya dengan cepat Corrine mengambil ponsel Matt. Matt yang masih fokus mempresentasikan tidak menyadari yang dilakukan Corrine pada ponselnya.

__ADS_1


Corrine yang membaca kata demi kata dalam pesan Jessica cukup terkejut. Jika Jessica memang mengandung anak Matt, itu akan membuat Matt berpaling darinya dan ia tidak menginginkan itu. Corrine melirik Matt sekilas, ia tersenyum tipis saat Matt terlihat fokus pada beberapa pertanyaan dari karyawannya.


“Cih! Wanita gila, jangan harap Matt akan kembali padamu.”


Corrine berisik dan langsung menghapus pesan tersebut. Pikirannya masih melayang pada pesan singkat Jessica. Hubungannya dengan Matt akan semakin rumit, dan ia sangat membenci itu terjadi. Apa yang harus ia lakukan?


“Apa yang kau lakukan Corrine?”


Corrine tersentak, dengan refleks ia membanting pelan ponsel Matt diatas meja ruang rapat. Corrine menatap sekeliling, ia cukup terkejut setelah mengetahui tidak ada siapapun diruangan kecuali Matt, Mark, dan juga Dana, asisten pribadinya.


“Apa yang kau lakukan dengan ponselku?”


“Ah? Aku hanya mengganti nama kontakku.” Ujar Corrrine gugup.


“Tuan untuk kesimpulan rapat kali ini, saya-“


“Besok pagi saja kau membuatnya, sekarang sudah terlalu larut. Jam kerjamu seharusnya sudah berakhir beberapa jam yang lalu.”


“Baik Tuan, saya izin pamit.”


Matt mengangguk sebagai jawaban untuk Mark, pria tinggi itu keluar ruangan. Matt mengecek ponselnya, dari panggilan masuk ataupun pesan, tapi tidak ada siapapun yang memanggilnya. Ia menatap Corrine yang kini terlihat sibuk dengan ponselnya sendiri.


“Dana, kau turun duluan. Ada beberapa hal yang ingin aku bicarakan dengan Tuan Boltom secara pribadi.”


“Baik, Nona.”


Dana keluar ruangan dengan canggung, meninggalkan Corrine dan juga Matt. Sebenarnya ia cukup mengetatahui ada hubungan istimewa antara atasannya dengan rekan kerjanya itu, tapi yang bisa ia lakukan hanyalah menyimpan rahasia.


Matt terdiam, ia masih berusaha mencari apa yang Corrine lakukan pada ponselnya. Ia bukan pria bodoh yang percaya Corrine mengganti nama kontaknya ditengah rapat cukup penting.


“Kau mendengarku, Matthew?!”


“Urus saja urusanmu sendiri! Jangan menganggu keluargaku!”


Ucapan dingin Matt membuat Corrine mengepalkan tangannya kuat. Seolah kepeduliannya pada Matt tidak dianggap pria itu. Ia hanya tidak ingin Matt terlihat sebagai pria bodoh dihadapan gadis Villegas itu.


Corrine membuka tas tangannya dan mengeluarkan sebuah amplop cokelat, ia melemparkannya diatas meja rapat. Matt terdiam, bahkan tidak berniat menyentuh amplop cokelat itu.


“Kau bisa menyelesaikannya atau bisa mengancamnya dengan itu.” Matt mengerutkan keningnya atas apa yang Corrine katakan.


“Aku tahu selingkuhan istrimu itu mulai mencari anak kandungnya.”


Matt tersentak kaget, bagaimana Corrine mengetahui jika Mike mulai mencari Lyn? Bahkan ia sendiri tidak pernah memberitahu Corrine jika ia telah memiliki anak, karena ia tahu bisa saja Corrine mengancamnya dengan Lyn. Tapi, bagaimana?


“Kau? Bagaimana kau bisa-“


“Aku Corrine Edmond, apa ada yang tak kau paham dari namaku?” Ujar Corrine dengan senyuman sinisnya.


Dengan cepat Matt mengambil amplop cokelat dan mengeluarkan isinya. Dan benar saja apa yang diperkirakan olehnya. Ia hanya menatap Corrine tidak percaya, bagaimana Corrine bisa mendapatkan ini tanpa pengetahuannya?


......................

__ADS_1


Rumah keluarga Boltom


22.45


Jessica tersentak dari tidurnya kala seseorang membuka pintu besar keluarga Boltom itu. Dengan masih terbuai mimpinya ia berusaha memfokuskan penglihatan. Ia terduduk, untung saja ia sudah mengangkat Lyn ke kamar tidurnya tadi.


“Matt, kau pulang?”


Jessica tersenyum lebar dan menghampiri Matt yang berjalan kearahnya. Akhirnya, setelah hampir empat hari Matt tidak pulang, ia pulang hari ini. Atau karena pesannya untuk Matt? Ia tidak peduli, ia begitu senang dengan kehadiran Matt.


“Matt, kau membaca pesan-“


“Aku lelah Jess, jangan terlalu banyak omong!”


Jessica tersentak atas gertakan Matt. Apa Matt tidak membaca pesannya? Atau mungkin Matt memang tidak peduli mengenai kehamilannya? Atau mungkin saja pesannya tidak terkirim, ya ini pasti pesan itu tidak terkirim dan membuat Matt bertingkah seperti ini.


Dengan cepat Jessica membuka ponselnya dan memeriksa pesan yang ditujukan oleh Matt. Tidak, pesannya terkirim dan bahkan sudah diterima. Atau memang Matt tidak peduli? Jessica memeras tangannya, membuat tangannya memerah. Mengapa begitu menyakitkan? Hatinya sangat sakit.


“Kau sudah makan? Aku membuatkan lasagna untukmu.” Jessica tersenyum tipis, berusaha sekuat tenaga menahan air matanya.


“Aku sudah makan.” Matt mulai membuka dasi dan sepatunya, dengan sigap Jessica mengambil sandal rumah yang tergeletak disamping pintu utama.


“Lyn sangat merindukanmu, ia tadi tidur bersamaku di sofa menunggumu. Jadi, aku memindahkannya.”


“Hm.” Jawab Matt singkat, sambil melepaskan jas kantornya


Jessica menarik napas dalam, berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis. Kali ini ia meremas perut ratanya. Ia kecewa, ia benar-benar kecewa. Kecewa atas harapannya yang bisa membuat Matt kembali padanya karena kehamilannya ini.


“Aku ingin istirahat.”


“Matt, ada yang ingin aku bicarakan padamu.” Jessica menahan lengan Matt membuat pria itu kembali terduduk diatas sofa ruang tamu.


“Aku hamil, aku hamil Matt.” Jessica tersenyum, menampilkan deretan gigi rapi. Sedangkan matanya berbanding terbalik, matanya terlihat berkaca-kaca menahan tangis. Matt hanya menatapnya datar, seolah itu adalah hal biasa baginya.


“Matt, aku hamil. Aku hamil anakmu!” Jessica mulai menekankan kalimatnya, ia kini mulai kesal dengan ketidak pedulian Matt padanya, terlebih pada bayi dikandungnya.


“Kau yakin itu anakku?”


“Matt!” Jessica berteriak keras, benar-benar tidak menyangka itu adalah pertanyaan yang keluar dari mulut suaminya sendiri.


“Kau hamil, setelah Mike kembali lagi dihidup kita!” Matt mulai membalas teriakan Jessica.


Matt mulai membuka tas kerjanya dan melemparkan amplop cokelat itu diatas meja. Sungguh, ia sebenarnya tidak ingin melakukan ini. Namun seolah Jessica selalu memancingnya, memancingnya untuk mengakhiri semuanya.


“Kau gugurkan bayi itu atau kau lebih memilih menandatanganinya?”


Jessica terkejut, ia memegang amplop cokelat itu dan mengeluarkan isinya. Jessica tersentak, sebuah surat cerai yang bahkan sudah ditandatangani oleh Matt. Mengapa, mengapa Matt begitu jahat padanya?


“Aku lelah Jessie, kurasa hubungan kita sampai disini. Seharusnya aku tahu, kita tidak mungkin bersama."


"Matt.. Tunggu, Tunggu!!"

__ADS_1


__ADS_2