Married Life

Married Life
1.30. When We'll be Happy?


__ADS_3

Matt memandangi wajah Jessica, gadis ini begitu amat menyedihkan. Luka lebam disekujur tubuh, bahkan wajahnya. Matt merasa amat bersalah, ini sama saja ia memukuli Jessica secara tidak langsung. Tuan Villegas melakukan ini karena keputusannya. Dengan lembut Matt mengelus lengan Jessica.


“Ya ampun, Jessie anakku.”


Matt tersentak setelah mendengar suara lengkingan dibelakangnya. Matt merotasikan bola matanya, harusnya ia tahu siapa yang datang kalau bukan ibunya itu. Chelsea Boltom, wanita paling heboh yang pernah Matt temukan.


“Ibu, Jessica sedang istirahat. Jangan berisik.”


“Oh, baiklah baiklah.”


Nyonya Boltom menatap iba menantunya itu. Jessica amat menyedihkan, setelah setengah jam yang lalu Matt menghubuinya dan mengatakan Jessica ada dirumah sakit. Dengan cepat ia langsung datang dari luar kota. Bahkan ia sempat berdebat dengan Tuan Boltom karena masih ada beberapa acara yang harus ia hadiri. Namun Nyonya Boltom tidak peduli, keluarga adalah nomor satu dimatanya.


Nyonya Boltom menatap kearah Matt, sebenarnya bagaimana bisa Matt bertemu lagi dengan Jessica? Namun ia tidak terlalu peduli, yang penting Matt bukan seperti mayat berjalan lagi jika bertemu dengan Jessica. Ya, walaupun Jessica sudah menyakiti hati anak semata wayangnya itu. Namun bagaimanapun, ia juga sudah menganggap Jessica sebagai anaknya. Dan ia pun juga akan sangat terpukul jika Matt dan Jessica cerai.


“Oh, lihat! Jessica sudah bangun.”


Nyonya Boltom kembali heboh. Dengan cepat ia memeluk Jessica perlahan, takut akan menyakiti gadis itu. Jessica hanya membalas pelukan itu, ia sekarang benar-benar tidak bisa melihat. Yang ia rasakan hanya rasa sakit disekujur tubuhnya. Baru beberapa hari yang lalu ia berpikiran akan mengakhiri hidupnya, namun ia memikirkan nasib ibunya nanti. Walaupun di dunia ini ia akan merepotkan ibunya, tapi ia tidak bisa bayangkan jika ia meninggalkan ibunya seorang diri.


“Ibu, bisa kau bawa Nyonya Villegas kerumah kita? Kurasa Nyonya Villegas membutuhkan banyak istirahat.” Nyonya Boltom yang mengetahui jika Matt ingin berbicara berdua saja dengan Jessica mulai paham.


“Tidak aku baik-baik saja Matt, aku-”


“Tidak usah malu-malu besan ku. Kau memang membutuhkan banyak istirahat.” Nyonya Boltom menyeret keluar Nyonya Villegas.


“Tapi.. Tapi, aku-”Matt tersenyum geli melihat ibunya yang menyeret Nyonya Villegas. Tidak salah jika ibunya awet muda, bahkan sikapnya pun juga awet, seperti anak kecil.


“Matt...” Matt menatap Jessica, gadis itu menunduk dalam.


“Maaf, dan terimakasih untuk semuanya.”


Matt tersenyum lembut, dengan perlahan ia memeluk Jessica. Menyandarkan kepala gadis itu pada dadanya. Ini salah satu momen yang amat dirindukan Matt, waktu berdua saja dengan Jessica terlebih memeluk wanitanya seperti ini.


“Sshhh.. Bagaimanapun kau masih istriku, dan akan menjadi istriku untuk selamanya Jess.”


Jessica terlihat tersentak, namun tidak lama ia membalas pelukan Matt sangat erat, seolah ia tidak akan melepaskan pria itu untuk jauh darinya. Matt memejamkan mata, menikmati momen ini. Ia baru beberapa minggu tidak merasakan ini, namun seolah sudah bertahun-tahun.

__ADS_1


Suara deringan ponsel milik Matt membuatnya menghela napas kasar. Siapa yang berani menggangunya disaat momen seperti ini, sungguh ia akan memakinya. Jessica melepaskan pelukannya. Dibalik wajah bengkaknya itu Jessica tersenyum, dimata Matt, dalam keadaan apapun Jessica tetap wanita tercantik dimatanya.


“Angkatlah.” Jessica berucap lembut, Matt mengangguk dan keluar ruangan rumah sakit itu. Matt melihat layar diponselnya. Ia dapat melihat Mark menghubuinya.


“Tuan, Tuan dimana?”


“Ada apa?”


“Bagaimana dengan makan malam hari ini Tuan? Saham Xien Company lumayan mengun-”


“Apa kau tidak bisa menangani masalah sepele seperti ini, Mark?”


Diseberang sana Mark menghela napas berat, berusaha untuk sabar dan tidak terdengar oleh atasannya itu. Jika terdengar, bisa-bisa atasannya itu berkoar-koar. Bagaimana ia bisa tahu? Karena ia sudah pernah mengalaminya, dan ia tidak akan pernah mengulanginya.


“Baik Tuan, aku akan menggantikanmu untuk makan malam hari ini.”


“Ya. Oh iya, Mark.”


Mark menahan napas, ia sudah hapal jika seperti ini. Atasannya akan kembali memerintahkannya. Karena ia sangat tahu, Matt akan langsung mematikan panggilannya jika itu tidak penting bagi dirinya.


“Baik, Tuan.”


Tanpa mengatakan apapun lagi Matt mematikan panggilannya. Emosinya kembali memuncak, ia tidak akan membiarkan siapapun yang menyakiti Jessica bebas begitu saja, walaupun itu adalah mertuanya sendiri.


“Tuan Boltom.”


Matt menoleh, dihadapannya terlihat seorang pria sekitar umur tiga puluhan dan berkaca mata. Matt menatap kearah name tag yang sedang ia pakai, disana tertera nama 'Dr. Carlo Navarr'


“Ada apa Dokter?”


“Saya ingin membahas mengenai Nyonya Boltom, kurasa jika dihadapannya mungkin bisa membuat mentalnya down. Saat ini Nyonya Boltom berada dibawah tekanan, mungkin dihadapan anda memang terlihat ceria. Namun ia memiliki tekanan yang kuat. Dan kabar baiknya, kandungannya masih bertahan hanya saja-”


“T.. Tunggu Dokter. K...Kandungan?” Matt tersentak, ia merasa seluruh tubuhnya menegang. Sejak kapan ia dan Jessica..


“Iya, Nyonya Boltom sedang mengandung sekitar satu setengah bulan. Apa anda tidak tahu?”

__ADS_1


“A..Ah iya Dokter, silahkan lanjutkan.”


“Kandungan Nyonya Boltom sangat lemah, saya tidak tahu sampai kapan kandungannya itu akan bertahan.” Matt terdiam.


___________


Matt termenung, perkataan dokter sekitar dua jam yang lalu menjadi penyebabnya. Tubuhnya masih bergetar, ia sangat tidak percaya jika Jessica telah mengandung. Jelas-jelas ia dan Jessica..


Pikirannya sekarang campur aduk. Hatinya sakit, tapi ia masih sangat tidak percaya. Ternyata sejauh itu Jessica mengkhianatinya. Hatinya sangat hancur.


“Matt, apa kau disini?”


“Ah, iya.”


Matt menatap Jessica, gadis itu duduk diatas kasurnya. Dan berusaha menggapai lengannya dan menggenggam erat. Haruskah ia mengatakan kepada Jessica mengenai kandungannya itu? Pikirannya sedang kacau sekarang, ia tidak tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya.


“Jess, kau hamil.”


Matt dapat melihat tubuh Jessica tiba-tiba menegang, Jessica tidak tahu jika ia sedang mengandung. Wajahnya terlihat panik sekaligus bingung.


“Matt.. Matt, aku...aku-"


“Ayo kita gugurkan bayinya.”


“Matt!”


“Jika kau tidak mau, lebih baik kita bercerai.”


My Note :


Hehe maafin author ga sesuai janji yang bakal post seminggu sekali. Sebagai gantinya author postnya cepet yaa hehe..


Kemungkinan part berikutnya adalah part terakhir, kali ini author ga janji bakal cepet yaa. Takut ingkar lagi😂😂


Thankyou reader atas dukungannya~

__ADS_1


Salam cinta dari author, luv❤️


__ADS_2