
...Enjoy and Happy Reading ...
Rumah keluarga Boltom
20.00
Jessica menatap jam besar yang bertengger manis di ruang keluarga rumah Boltom itu. Sudah dua hari sejak kepergian Matt dan Matt tidak mengabarinya apapun, setidaknya yang ia inginkan adalah kabar bahwa Matt baik-baik saja disana.
Semakin kesini, ia sudah mulai terbiasa hidup tanpa Matt disisinya, dan ia tahu Lyn juga sudah mulai terbiasa sekarang, ia sangat jarang menanyakan keberadaan sang ayah padanya. Dan itu malah membuatnya sedikit khawatir. Jessica menghela napas dalam dan meletakkan ponsel yang hampir setengah jam ia genggam itu.
“Mama, boleh aku makan ice cream?” Lyn, gadis kecil itu menunjuk kearah dapur, Jessica tersenyum menatap gadis kecilnya.
“Ini sudah malam untuk makan ice cream Lyn, besok kau bisa kembali memakannya.”
“Mama please! Hanya untuk kali ini saja ya?”
Gadis kecil itu memohon dengan wajah cemberutnya yang begitu lucu. Jessica yang melihatnya tersenyum geli, gadis kecilnya sudah mulai bisa merajuk. Jessica mengelus kepala Lyn sayang dan tersenyum.
“Hanya untuk hari ini saja, oke?”
“Yeay!”
Lyn tersenyum senang dan berlari menuju dapur, Jessica yang melihatnya tersenyum. Lyn sangat aktif akhir-akhir ini, dan gadis kecil itu begitu banyak ingin tahu mengenai apapun. Ia sangat berharap Lyn bisa menjadi kebanggaannya suatu saat, dan ia juga sangat berharap suatu saat Matt tidak akan mengungkit mengenai ayah Lyn dihadapannya, yang begitu ia inginkan sekarang hanya hidup bahagia seperti dulu sebagai keluarga kecil, tanpa kehadiran Mike maupun Corrine di kehidupan mereka.
Kini Jessica menatap ponselnya dan menghubungi Matt, seperti biasa Matt tidak menjawabnya. Sebenarnya bisa saja Matt memang mengurusi proyek bermasalah disana, tapi kenapa di waktu yang benar-benar tidak tepat. Setidaknya Matt bisa menunggu beberapa hari untuk menemaninya karena rasa kehilangan, tapi nyatanya tidak, proyek besar itu akan jauh lebih penting dari apapun.
Kali ini pikiran Jessica melayang kepada Corrine, benar kata Mike, gadis itu bisa melakukan apapun untuk mendapatkan apa yang ia inginkan. Sebenarnya yang paling ia takutkan dari Corrine apabila gadis itu mengancam akan melukai Lyn, jika sampai itu terjadi, mau atau tidak ia akan tetap melepaskan Matt. Lyn adalah segalanya, sudah cukup kehilangan bayi yang dikandungnya, dan ia tidak akan sanggup untuk kehilangan Lyn. Ia akan menjaga Lyn walaupun harus menghancurkan pernikahannya.
“Lyn! Sherlyn!” Jessica berteriak, tidak ada jawaban.
Sepuluh menit telah berlalu dari kepergian Lyn ke dapur. Jessica mulai cemas ketika tidak mendengar suara apapun dari arah dapur. Dengan cepat ia berlari kearah dapur, dan ia begitu tersentak melihat Lyn yang sudah terjatuh dengan ice cream yang berserakan dilantai.
“Lyn! Ada apa, ada apa?”
Jessica mendekat dan melihat tubuh Lyn kejang dengan mata gadis itu terbuka lebar. Air mata Jessica mulai menetes deras, berkali-kali ia memanggil Lyn dan menepuk nepuk pipi gadis kecil itu. Apa yang harus ia lakukan? Ia tidak pernah belajar apapun mengenai pertolongan pertama. Pikiran Jessica campur aduk.
“Lyn, tetap sadar sayang! Tetap sadar!”
__ADS_1
Dengan kepanikan dan air mata seorang Ibu, Jessica membawa tubuh Lyn keluar rumah dan memasukinya kedalam mobil. Dengan kecepatan tinggi Jessica mengendarai mobilnya menuju rumah sakit.
......................
Kota S
20.30
“Tuan, boleh saya menanyakan beberapa pertanyaan kepada anda?”
Matt menghentikan memakan hidangan malamnya, bahkan pria itu meletakkan pisau dan garpu yang ia gunakan. Mungkin ini adalah pertama kalinya Mark meminta izin untuk menanyakan sesuatu padanya. Jika itu masalah kerjaan, Mark tidak akan meninta izin dulu padanya. Ia tahu, pertanyaannya cukup serius kali ini.
“Ada apa?”
“Mengapa anda mengajak Nona Corrine ke kota s? Anda pasti tahu, tidak ada masalah apapun mengenai proyek kita disini, semuanya baik-baik saja.” Dengan keberanian yang ia kumpulkan selama sehari belakangan ini Mark mulai berbicara.
“Kau bertanya karena kesal memiliki kerja tambahan atau memang sangat peduli kepada Nyonya Boltom?” Mark terdiam, ia tahu ada nada sarkastik yang tajam dibalik ucapan atasannya itu.
“Maaf, Tuan.”
“Sekali lagi saya minta maaf Tuan, saya tidak bermaksud.”
Matt tersenyum tipis melihat Mark yang kini sudah menunduk dalam padanya. Bahkan Mark bisa begitu perhatian kepada perasaan Jessica dibanding dengan dirinya sendiri.
“Aku hanya ingin membuat Corrine jauh dengan Jessica beberapa saat.” Mark kembai menatap atasannya itu yang kini sudah kembali melanjutkan aktifitasnya. Matt sudah lebih santai sekarang.
“Anda pasti tahu Nona Edmond memiliki kaki tangan yang begitu banyak, bahkan ia bisa saja melukai Nyonya Boltom dari sini."
Kali ini Matt benar-benar meletakkan alat makannya, ia begitu tidak mood membahas kembali Corrine maupun Jessica, tapi Mark kembali mengingatkan mereka, dan itu membuatnya sedikit kesal.
“Kau pikir hotel disini juga tidak memiliki mata dan telinga Mark? Bagaimana bisa Corrine melukai Jessica di kandangku sendiri."
Mark terdiam beberapa saat, ia menatap Matt yang juga tengah menatapnya dingin. Mark menelan salivanya, mengapa ia begitu bodoh dengan berbicara seperti itu, atasannya itu pasti sudah menata semuanya dengan sangat baik.
“Maaf Tuan, saya mengerti."
Beberapa saat mereka terdiam, namun deringan ponselnya kembali menganggu mereka. Mark menatap ponsel kantor yang digengamanya, ia tersentak ada puluhan panggilan dari Nyonya Boltom, dari tadi ponsel itu di mode silent, bagaimana ia bisa seceroboh ini.
__ADS_1
“Tuan, ada beberapa panggilang dari Nyonya.” Mereka berdua saling pandang, baru beberapa saat mereka membicarakan Jessica. Gadis sudah langsung menghubunginya.
“Matikan saja Mark, aku sedang tidak ingin bertengkar dengan Jessica. Pasti ia sangat marah karena aku tidak menghubunginya dua hari ini. Ia juga menghubungiku secara pribadi.”
Dengan penuh keraguan Matt menjawab dan kembali melanjutkan makan malam itu. Sebenarnya ia cukup bersalah dengan Jessica, tapi ini semua hanya tinggal sedikit lagi. Ia sudah kehilangan banyak waktu dan tenaga, dan ia berharap Jessica dapat bersabar menunggunya untuk beberapa saat lagi.
“Tapi, Tuan-“
“Kau sudah banyak membantah belakangan ini Mark.” Matt menatapnya tajam.
“Maaf Tuan, saya minta maaf.” Mark terdiam dan mematikan sambungan ponsel itu.
'Aku hanya ingin Jessica menunggu sedikit lagi, dan aku akan kembali padanya.' batin Matt dengan penuh kekhawatiran.
......................
Hospital
21.30
Jessica jatuh terduduk didepan ruang unit gawat darurat, badannya gemeteran. Pikiran dan perasaannya benar-benar tidak karuan. Ia kecewa, sangat kecewa dengan sikap Matt, sudah puluhan kali ia menghubungi nomor pribadi sampai nomor kantornya dan puluhan kali itu ia tidak mendapatkan jawaban.
Pintu ruangan terbuka, dengan cepat Jessica menghapus air matanya. Ia berharap semua akan baik-baik saja, ia tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika terjadi sesuatu dengan Lyn, semua karena penanganan yang begitu lambat dan itu semua karenanya.
“Dokter, Lyn akan baik-baik saja kan? Iya, kan?”
“Lyn mengidap sickle sell anemia yang sudah akut. Tubuhnya kejang karena shock. Apa belakangan ini Lyn sering mual atau muntah?"
Jessica terdiam. Tidak, itu semua harusnya tidak terjadi dengan Lyn. Ia tidak pernah melihat gadis kecil itu memiliki gejala seperti itu.
"Tidak, saya rasa tidak." Jessica berucap dengan keraguan.
"Lyn membutuhkan transplatasi sumsum tulang secepatnya Nyonya. Ia bisa mendapatkannya dari keluarga kandungnya atau memang ada seseorang yang cocok dengannya."
“Saya Dokter, saya akan melakukannya. Ambil apapun yang anda butuhkan ditubuh saya untuk Lyn. Saya bersedia melakukannya.” Jessica berkata dengan menggebu-gebu. Lyn tidak boleh merasakan sakit apapun, gadis kecil itu harus selalu sehat bagaimanapun keadaannya. Ia rela mengeluarkan apapun untuknya, walaupun itu adalah nyawanya.
“Baik Nyonya, anda bisa menjalankan beberapa tes terlebih dahulu, Tolong ikuti saya.”
__ADS_1