
...Enjoy and Happy Reading...
Bailey’s Villa
06.25
Corrine melenguh, deringan ponselnya begitu berisik di pagi hari seperti ini. Corrine mengerjapkan matanya, mulai membiasakan keadaan. Ia menatap langit-langit Villa mewah itu, salah satu Villa yang direkomendasikan ayahnya memang sangat bagus, salah satu Villa terbaik di negara ini, tapi entahlah, dibandingkan dengan rumahnya di Perancis jelas sangat jauh berbeda. Tapi memang sudah jelas, ia lebih mencintai tinggal di Villa ini karena ia tidak harus bertemu ayahnya itu setiap hari. Terlebih tidak harus diatur sang ayah.
Untuk ketiga kalinya ponsel milik Corrine berdering, ia bersumpah jika yang memanggil adalah Dana, asisten pribadinya. Ia akan langsung memecatnya detik ini juga. Ia begitu mengantuk setelah berpikir menyenangkan mengenai Matt sampai jam tiga pagi, dan ia sangat butuh istirahat saat ini.
“Halo?” Corrine mengerutkan dahinya, tidak ada jawaban diseberang sana.
“Jika kau tidak bicara, aku akan-“ Ucapan Corrine terpotong.
“Corrine Edmond, ke ruang kerja sekarang juga!”
Panggilan dimatikan sepihak, Corrine terkejut dan menatap ponselnya. ‘Ayah terburuk.’
Ohh... Tidak, apa ia melakukan kesalahan? Mengapa ayahnya seperti ini? Dengan cepat Corrine membersihkan diri dan mengganti pakaiannya dengan pakaian casual berwarna pink pastel. Dengan sangat ragu-ragu ia membuka pintu ruang kerjanya di Villa itu.
Corrine tersentak, sang Ayah sudah berada dihadapannya dengan seorang pria yang memunggunginya. Sejak kapan Ayahnya itu sudah berada di negara ini? Jelas-jelas butuh perjalanan 13-14 jam untuk datang dari Perancis. Dan ia bersumpah kemarin malam ayahnya belum ada disini.
Tapi selain ayahnya yang menarik perhatiannya, Corrine juga menatap punggung seorang pria yang membelakanginya. Ia mengenal pria ini, pria ini adalah...
“Sudah puas bersenang-senang?”
“Ayah, apa-“
“Adam menceritakan padaku kau mabuk dengan Matthew, apa itu benar?”
“Apa? Kau?!”
Corrine membalikkan pundak seorang pria yang memunggunginya dan dengan keras ia menampar tepat di pipi kanan pria tersebut. Adam hanya menyeringai, ia memang pantas mendapatkannya.
“Haruskah kau seperti ini Adam?! Jangan pernah mencampuri urusanku, kau adalah kakak brengsek!!"
“Ini demi kebaikanmu Corrine, kau seharusnya mengerti jika Matt-"
“Aku akan membunuhmu!”
“Cukup Corrine!”
Corrine masih menatap nanar kearah Adam, kini ia begitu takut dengan ayahnya. Tidak, ayahnya tidak mungkin memukulinya ataupun mengusirnya dari keluarga, terlebih setelah Adam keluar dari rumah dan dicoret dari keluarga, hanya ia yang dimiliki sang ayah untuk mewarisi perusahaan. Yang paling ia takutkan dari sang ayah adalah ia dikembalikan ke Perancis. Sedangkan ia baru bertemu kembali dengan Matt.
__ADS_1
“Aku mohon Ayah, jangan kembalikan aku ke Perancis, aku mohon. Aku akan melakukan apapun, aku mohon.” Corrine mulai terisak.
Tuan Edmond dan Adam tersentak, Corrine yang terkenal si gadis sombong dan tinggi hati itu kini bersimpuh ke lantai dan memohon kepada ayahnya. Bahkan siapapun tahu bagaimana Corrine begitu membenci sang ayah.
“Apa kau begitu mencintai Matthew, Corrine?” Tuan Edmond menatap Corrine, terlihat tatapan iba dari salah satu pria terkaya di Perancis itu. Untuk pertama kali dalam hidupnya ia melihat Corrine begitu menyedihkan seperti ini.
“Sangat, sangat. Aku sangat mencintai Matt, jangan pisahkan aku lagi dengannya Ayah, aku mohon."
“Kalau begitu, kejarlah dia!"
Corrine maupun Adam tersentak, mereka menatap ayahnya itu tidak percaya. Corrine tersenyum, tapi Adam tetap tersentak. Tidak, ia pasti salah dengar, tidak mungkin jika...
“Kejar Matthew Boltom itu, tapi ingat Corrine! Keluarga Edmond selalu mendapatkan apa yang ia inginkan, jika kau gagal mendapatkan pria Boltom itu, akan aku pastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi.” Dengan cepat Corrine berdiri dan menatap bahagia sang ayah.
“Baik Ayah, aku janji. Aku akan mendapatkannya, aku janji.”
“Bagi seorang ayah, apa menurutmu ini adil?”
Adam menatap sang ayah, ada tatapan kekecewaan yang besar. Bertahun-tahun ayahnya tidak pernah merestui kisah cintanya, sampai wanita yang dicintainya itu menikahi pria lain. Tapi kini, ia merestui Corrine yang ia tahu jika Matt telah memiliki istri.
“Kau tidak pernah merestui hubunganku dengan wanita yang aku cintai, tapi kini kau merestui Corrine dengan seseorang yang telah memiliki istri?!”
Adam menatap sang ayah dengan kecewa, Corrine menyeringai. Sesungguhnya ia juga begitu terkejut ayahnya merestui hubungannya dengan Matt, tapi ia tidak peduli alasan apa yang membuat ayahnya setuju. Jika alasan itu karena pengembangan proyek saat ini, ia pun tidak peduli, sedari dulu ia juga sudah menjadi mainan sang ayah. Lalu kenapa sekarang ia tidak menjadi mainan yang bahagia?
.... Apa kau pikir, Aku juga tidak kecewa saat kau keluar rumah dan lebih memilih wanita itu dari pada keluarga Edmond?” Adam mengepalkan lengannya. Sedih, kesal, kecewa, kini bercampur menjadi satu.
“Toh, Matthew juga akan berpengaruh dengan keuangan kita. Itu lebih bisa digunakan dari pada gadis yang kau cintai. Apa kau tahu gadis itu hanya menginginkan keuanganmu? Terlebih bagaimana keluarganya. Lihatlah! Setelah ia mendapatkan yang lebih kaya, ia meninggalkanmu bukan?”
Adam terdiam, jelas sekali ia berusaha menahan kekesalan dan kekecewaannya. Corrine tersentak saat melihat air mata sang kakak, walaupun setelah itu Adam menghapusnya, tapi tetap saja Corrine dengan jelas melihatnya.
“Baiklah, jika tahu seperti ini. Aku tidak pernah menyesal meninggalkan keluarga Edmond. Dan satu lagi, jangan pernah berkata apapun kepada wanita yang aku cintai!”
“Biarpun gadis itu meninggalkanmu?”
Adam menghela napas panjang dan meninggalkan ruangan. Corrine hanya menatap kepergian kakak satu-satunya itu. Ia sangat tahu, jika yang didepannya itu bukan ayahnya, sudah dipastikan Adam akan meninjunya.
...****************...
Rumah keluarga Boltom
07.30
Matt mengerjapkan matanya, ia dapat merasakan rasa pusing yang sangat pada kepalanya. Pertama kali yang ia cium saat membuka mata adalah bau alkohol yang menyengat. Matt melihat sekeliling, kini ia berada di kamar tidurnya dengan Jessica dan ia tidak mengingat apapun semalam.
__ADS_1
Ia menatap kearah jam weker, sungguh ia melupakan semuanya semalam dan bagaimana ia bisa berada disini. Setelah ia mabuk dibar dan salah seorang bartender menegurnya dan ia tidak mengingat apapun lagi.
“Kau sudah bangun? Aku memasakkan sup, makanlah!"
Jessica datang dengan semangkuk sup dan segelas air putih hangat, Matt tersentak saat ia melihat dirinya tidak memakai sehelai benangpun kecuali selimut yang dipakainya. Ia berharap semalam ia tidak melakukan yang aneh-aneh, walaupun ia melihat Jessica bersama dengan Mike, tapi ia rasa itu tidak sebanding jika ia melakukan aneh – aneh dengan wanita lain.
“Pergilah mandi, aku akan menyiapkan perlengkapan kantormu.” Matt menatap Jessica yang sudah pergi dari kamar, Matt menghela napas. Ia berharap tidak melakukan apapun tadi malam yang melukai hati Jessica.
...----------------...
“Matt, sebelum kau berangkat. Apa aku boleh menanyakan sesuatu?”
Matt menghentikan aktivitas memakan sandwich miliknya, ia menatap dalam Jessica. Gadis itu terlihat menunduk, dan ada kesedihan pada matanya. Ia berusaha terlihat sibuk dengan mengoleskan selai dirotinya. Matt sungguh tahu ada yang disembunyikan wanita cantik itu.
Sedangkan Lyn sudah berangkat sekolah jam 6 pagi, dan ia belum meminta maaf kepada putrinya itu kemarin. Dimana saat ia tiba-tiba datang dan menyuruhnya pulang yang sedang asyik memakan pizza.
“Mary Edmond, siapa gadis itu?”
Matt terdiam, Jessica memakan rotinya, namun berusaha menghindari kontak mata. Bagaimana Jessica bisa mengenal Mary? Atau jangan-jangan kemarin malam saat ia mabuk, ia dan Mary melakukan...
“Dia rekan kerjaku.”
“Apa dia kekasihmu?”
Jessica memandang Matt dengan linangan air matanya. Jessica tersenyum sedih, inilah rasanya, inilah rasanya saat mengetahui pasanganmu berselingkuh dengan orang lain, dan ini begitu menyakitkan.
“Kau ini bicara apa, dia hanya-“
“Aku ingin kau bicara jujur Matt.”
“Kalau ia memang kekasihku apa masalahnya? Bukankah itu bagus untukmu? Toh, kau juga bisa bersama Mike.”
Jessica terlihat tersentak atas ucapan Matt. Jessica merasakan dadanya bergetar, ia berharap telinganya sedang tidak sehat hari ini, dan apa yang ia dengar semuanya adalah salah. Ia berharap Matt hanya mengerjainya dan hanya membalas dendam karena kemarin ia bertemu Mike, ia sangat berharap.
“Matt, aku bersumpah aku dengan Mike tidak-“
“Sungguh Jessie, aku sangat lelah dikhinati olehmu.”
“Matt, Matt.”
Matt meletakkan sandwichnya dan berjalan menuju meja tamu dan mengambil kunci mobil dan tas kerja miliknya.
“Matt, dengarkan aku dulu! Aku mohon, Matt!”
__ADS_1