
"Kamu jangan lupa makan nak,telfon ibu kalo sudah sampai jakarta ya. Oh iya kamu sudah bilang ke Om Richard kan ?" Kata ibu sambil menghapus sisa sisa air matanya yamg tertinggal di pipi ibu dengan memegang pundakku. "Sudah kok bu. Kira-kira aku sampai jakarta nanti malam . ya kan pak?" balasku sembari menoleh ke arah pak sumar yang sedari tadi duduk menunggu di teras rumahku.
"Kalo ndak macet ya kemungkinan bisa sampek subuh buk" Jawab pak sumar sambil menggaruk rambutnya yang tak gatal itu.
"yasudah cepet sana berangkat.. kamu inget ya tari. kamu itu anak satu satunya ibu yang ibu banggain dan ibu percaya sama kamu. kamu pasti bisa sukses di jakarta" Kata ibu sambil memegang pipiku yang basah dan mengusap air mata yang tiba tiba keluar lagi.
"Bu... "kataku menggantung. "Iya nak?" jawab ibu sembari mengelus pipiku . "Tari pamit ya bu. Doain tari." kutatap ibuku dengan mataku yang berkaca kaca kupeluk sekali lagi ibuku kemudian kucium pipinya dan tangannya. Ibu mengangguk dan tersenyum "Pasti sayang.."
Kemudian pak sumar membukakan pintu mobilnya untukku. kami berpamitan dan berlalu meninggalkan ibu yang berdiri di depan pelataran rumah . Kepalaku keluar lewat jendela mobil seraya berterian "Ibu. Tari Sayang ibuu..." kulambaikan tanganku ke arah ibu yang terlihat semakin mengecil.
Berlalu. Aku sudah jauh. Tapi aku merasa hatiku masih tertinggal di rumahku yang sederhana itu. Sesekali pak sumar mengajakku berbicara untuk menghilangkan kebosanan selama perjalanan. kemudian kuraih ponselku dan mulai memgetikkan pesan pada sahabatku. Marni.
| Marni, aku sudah berangkat pagi ini.. Tolong jaga ibuku ya Mar..|
__ADS_1
Marni adalah sahabatku dari aku pindah ke desa sampai saat ini kuharap seterusnya . Marni adalah anak lurah di desaku. Dia cantik dan juga mandiri. bahkan marni sudah ikut bekerja membantu bapaknya di kecamatan desaku sejak kami lulus SMA. Ia tidak ingin kuliah karena tidak ingin jauh dari bapak dan ibunya. entahlah bagaimanapun pilihan hidup marni aku sebagai sahabatnya harus selalu mendukung nya.
|loh .. kok ndak telfon aku sih tarrr | balasan dari marni sudah bisa kubaca dengan jelas. mungkin sekarang marni sedang galau karena sudah kutinggal tanpa kupamiti.
aku hanya tertawa kecil membayangkan bagaimana reaksi marni. karena marni suka ngomel pada ku. ya yang pasti bisa kutebak saat ini dia juga sedang ngomel ngomel di kantor bapaknya. haha
Mataku terbelalak ketika sampai pada teras Rumah yang sangat besar dan megah ini. aku masih melongo tidak percaya . "Ini bener alamatnya pak?" tanyaku pada pak sumar.
"iya mbak. ini rumah pak richard hartanto " jawabnya singkat. aku langsung turun dan saat turun dari mobil.
__ADS_1
Ceklek.
Pintu rumah yang besar itu terbuka lebar dan seorang lelaki tua paruh baya mungkin usianya 60 tahunan ia sedanv berdiri sambil senyum di depan pintu.
"Lestari kan?" tanyanya padaku ketika aku mulai mendekati lelaki itu kubalas dengan anggukan dan senyuman. "Kamu udah besar yaa. dulu kamu pernah kesini dan masih kecil sekali" katanya dengan menepuk pundakku.
aku hanya terdiam. dan hanya bisa tersenyum karena mungkin kantuk ku yang sudah memumcak dan ingin segera tidur. Tapi dipikiranku apa dia om richard teman ayahku atau orang lain. tapi mengapa ia sudah sangat tua.
"Om richard di rumah ini sendirian?" tanyaku tiba tiba ketika om richard membalikkan badannya.
"Ya tidak lah. Saya akan kesepian kalo sendirian saja. Ada anak saya Andrian dan pembantu disini juga banyak. Anak bungsu saya lagi di Mellbourne kalo dia pulang rumah besar ini rasanya seperti penuh dengan ocehannya.." jawabnya sambil berjalan memasuki rumah . Mulai kulangkahkan kaki ku sambil membawa satu koperku dan koper yang lain dibawa oleh pak sumar.
aku hanya mengangguk anggukan kepalaku ketika om richard bercerita. hingga ia menunjukkan kamar yang akan kutempati sementara waktu sebelum mendapat kontrakan nantinya.
__ADS_1
kupegang gagang kamarku dan melangkah aku benar benar seperti berada di istana.
"astaga kamar ini. aku tidak salah masuk om?" tanyaku . dibalas dengah tawa om richard. "sudah masuk dan istirahatlah." jawabnya berlalu meninggalkanku yang masih mematung dan melongo di depan pimtu kamar. pak sumar datang mengantarkan kopernya. tidak lama memunggu pak sumar yang berlalu. kututup pintu kamarku dan aku melemparkan diriku diatas kasur yang luasnya bisa ditempati oleh 5 atau mungkin 6 orang. ku rebahkan diriku yang lemas ini di atas kasur empuk hingga terlelap.