![MATE?? [Renhyuck X Taekook] BxB](https://asset.asean.biz.id/mate----renhyuck-x-taekook--bxb.webp)
"Dia tidak apa-apa, dia hanya kecapaian dan sedikit stres dengan keadaan.Tapi saya sarankan agar jangan sampai kejadian seperti ini terulang lagi, karena akan berdampak pada kondisi janin yang dikandungnya."Jelas san dokter.
"Apaa!!?"Teriak satu keluarga itu karena terkejut.
"Jadi dia hamil??""Tanya jimin.
"Benar, dia sedang mengandung . Mungkin sekitar 3-4 Minggu, biar lebih jelasnya silahkan periksakan ke dokter kandungan supaya lebih yakin.Jelas sang dokter.
"Ah, baik dok.. terimaksih."Ucap jimin sambil memperhatikan anak dan suaminya yang masih membeku.
"Sama-sama tuan, kalau begitu saya permisi dulu.."Ucapnya menuduk sopan.
"Iya silahkan..."Jimin tersenyum, mempersilahkan sang dokter untuk keluar dari ruangan dan mengantarkan dokter itu sampai ke pintu depan.
Kita tinggalkan YoonMin dan keluarganya.Sekarang kita lihat keadaan di mansion keluarga Kim Lee. Saat ini Taehyung masih berada di kamarnya, entah kenapa seharian ini ia merasa gelisah dan jangtungnya terus berdebar kencang.
"Ada apa dengan ku? kenapa aku terus merasa gelisah dan berdebar seperti ini?.Apa terjadi sesuatu?."Ucapnya bermonolog sambil memegang dadanya.
"Kookie?!. Kenapa tiba-tiba saja aku mengingatnya?Aku harap dia baik-baik saja sekarang."Lirih Taehyung sambil tersenyum miris.
Sebagai Mate pasti ada ikatan batin diantara mereka.Taehyung pasti merasakan sesuatu jika Jungkook terluka atau sedih, begitu pula sebaliknya.
Dan kondisi yang sama juga dialami oleh Haechan.Saat ini Haechan berada di taman bersama Chenle dan Jeno.Ia sengaja mengajak mereka berdua untuk sekedar mengobrol dan menenangkan diri setelah mendapat kenyataan yang menghancurkan hatinya.
"Sebenarnya apa tujuan mu membawa kita kesini??."Tanya Jeno masih menatap lurus ke depan.
"Huft, entah... aku hanya bosan maksnya aku mengajak kalian berdua kesini."ucap Haechan menjawab pertanyaan orang yang ada di sampingnya.
"Aneh, tidak biasanya seorang Lee Haechan galau seperti ini."Timpal Chenle yang duduk di sisi lainnya.
"Kenapa? Memangnya galau itu dilarang??"
"Tidak sih...hanya merasa aneh saja seorang Lee Haechan cerewet dan tukang ngegas tiba-tiba saja galau, itu sebuah keanehan yang nyata"Ucap Chenle menjawab pertanyaan Haechan yang kini menatapnya.
"Kalau ada masalah cobalah berbagi dan berceritalah, Siapa tau kau bisa sedikit merasa lega setelah berbagi."Ucap Jeno mencoba membujuk Haechan untuk bicara karena ia tahu bahwa saat ini Haechan tidak baik-baik saja.
"Huft, aku bingung harus menceritakan darimana, ini terasa agak rumit untuk otakku."Haechan menghela nafas dan masih terus menatap lurus ke depan.
"Pelan-pelan saja, kalau kau tidak bisa, kita tidak akan memaksa."Chenle tersenyum tipis sambil menatap Haechan.
__ADS_1
"Ani... aku akan menceritakannya kepada kalian."Ucap Haechan yang membuat Chenle dan jeno menatap serius ke arahnya.
"Aku sudah tau siapa appa ku, tadi pagi Daddy memberitahu ku dan juga menunjukkan fotonya padaku."
"Jinjaa?!"Ucap Chenle dan jeno bersamaan.
"Hmmm"Jawab Haechan membenarkan.
"Lalu bagaimana? Seperti apa dia? dan yang paling penting adalah bagaimana sikap dan perasaan mu setelah tau siapa dia"Tanya Chenle penasaran.
"Seperti sebelumnya, aku sangat membencinya karena sudah tega meninggalkan keluarganya sendiri demi orang lain."Jawab Haechan tanpa ekspresi.
"Huft, aku tidak tahu harus bagaimana, membencinya adalah keputusan mu karena dalam hal ini dia memang bersalah,Tapi saran ku jangan terlalu membencinya karena satu alasan yang kau sendiri tidak tahu kebenarannya."Ucap Chenle menasehati.
"Jangan menatap ku seperti itu, disini aku tidak membela siapapun, aku hanya berharap agar kau mencari tahu kebenarannya.Setidaknya nasib mu jauh lebih beruntung dari pada aku.Kau hidup di keluarga yang berkecukupan dan masih memiliki keluarga yang menyayangi mu, walaupun bukan appa mu yang melakukan itu."Ungkap Chenle yang mulai membayangkan jalan hidupnya selama 17 tahun usianya.
"Chenleaa jangan sedih lah... ingat kita masih disini untukmu."Haechan tersenyum lembut sambil memeluk sahabatnya itu.
"Benar kata Haechan,kau tidak perlu bersedih.Disini kita memanga
berbeda, tapi kita adalah keluarga."Timpal jeno menatap dua orang yang sedang berpelukan di depannya.
"Oh ya, apa aku boleh tau siapa namanya Appa mu itu?.Biar nanti kalau kau tidak sengaja bertemu dengannya akan ku beri pelajaran orang gila Sepertinya itu!."Ucap Chenle bersemangat.
"Kau sudah sangat mengenalnya,Le.."Gumam Haechan dalam hati.
"Eoh, kenapa kau diam saja??."Chenle mengangkat suatu alisnya melihat Haechan terdiam.
"Pertanyaan mu terlalu sensitif le..."ucap Jeno.
"Eh, maaf aku tidak bermaksud..."Ucap Chenle merasa bersalah.
"Gwaenchana, mungkin lain kali aku akan menceritakan semuanya,tapi tidak sekarang". Haechan tersenyum tipis sambil menatap ke arah Chenle dan jeno.
Suasana hening beberapa detik, hingga suara dering telepon mengalihkan perhatian mereka. Ternyata handphone Chenle berbunyi, dengan segera ia mengambil benda itu dari sakunya.Ia lihat Id si penelepon.
"Huh, Ji-Sung? tumben sekali dia menelepon?."Ucap Chenle lirih namun masih bisa di dengar oleh Haechan dan Jeno.
"Aciee yang di telepon calon pacar.."Goda Haechan.
__ADS_1
"Diam kau bodoh!."Ketus Chenle.
"Santai mbak nya..dah tu di angkat dong kasian "Ucap Haechan tersenyum mengejek ke arah Chenle.
"Ba to the cot, berisik!kau mengerti!"Kesal Chenle.
"Lah..lah kan, filternya blong lagi".Ucap Haechan dengan muka julidnya.
Chenle menatap malas pada Haechan dan memilih mengangkat teleponnya."Ha...halo jie..ada apa??"Ucap Chenle sedikit gugup.
"Halo Ke, kau dimana sekarang??"Suara Ji-Sung terdengar sangat panik dari seberang sana.
"Aku di taman, ada apa?kenapa kau terdengar sangat panik??
"Le, cepat ke panti asuhan sekarang!!"
"Ada apa jie??"Chenle ikut cemas mendengar jawaban Ji-Sung.
"Paman le, paman Jungkook dia..."
"Hah bunda?!. Kenapa dengan Bunda jie??"Chenle meninggikan suaranya memotong ucapan Ji-Sung.
"Cepat pulang Le, paman Jungkook Anfal dan Jaemin Hyung juga pingsan!".
"A... apa.."Chenle menjatuhkan handphone yang ia pegang dan seketika langsung menangis.Membuat Haechan dan jeno yang dari tadi menyimak langsung panik.
Ada apa le..? Kenapa tiba-tiba kau menangis ?.Tanya Jeno cemas.
"Hyung, tadi Ji-Sung bilang sama Lele, kalaubunda Anfal dan Jaemin hyung juga pingsan."Jelasnya sambil menangis.
Apa?!!"Ucap Haechan dan Jeno yang ikut terkejut mendengar penjelasan Chenle.
"Jeno hyung, Lele mohon antar Lele ke panti sekarang Hyung... Lele mau lihat bunda hyung.."Chenle nenangis deras sambil memegang tangan jeno.
"Baiklah, Chan kau juga harus ikut,ayo!!"Jawab jeno dengan cepat.
"Terimakasih hyung ,ayo!!"ucap Chenle yang berlari menuju parkiran mobil.Sedangkan jeno berjalan cepat di belakangnya sambil menarik Haechan yang masih terdiam.
Jujur Jeno ikut merasa cemas melihat ekspresi Chenle.Apalagi setelah mendengar bahwa Jaemin juga pingsan, membuatnya semakin cemas.Walau Jaemin belum menerimanya, tetap saja ia merasa khawatir akan terjadi sesuatu pada Matenya itu.
__ADS_1