
Pada pagi hari Sella terbangun dengan mata sedikit bengkaknya. Memilih bangun, ia langsung menuju kamar mandi untuk membersih diri.
Sebelum berlalu dia kembali menoleh ke ranjang yang di tempatinya tadi malam.
“Ternyata dia benar-benar tidak pulang,” gumamnya tersenyum kecut.
Inikah bahagia versi Papanya.
Sella segera berlalu ke kamar mandi. Pagi ini ia baru saja menjadi istri tentu saja dirinya harus menjaga sikap di rumah orang lain.
Ya... Sella masih merasa ini rumah orang lain untuknya.
Setelah membersih tubuhnya baru ia turun ke bawah untuk menyapa penghuni rumah ini
“Pagi, Mi.” Sella menyapa mertuanya yang sudah duduk manis di meja makan dengan teh dan roti untuk sarapannya di pagi hari.
“Pagi menantu mami,” Sella ikut duduk di samping mertuanya, “kamu mau sarapan apa, Sel? Biar bibi buatkan,”
__ADS_1
“Apa saja, Mi. Aku bisa sarapan apa aja,”
Sella menatap sekeliling ruangan. Ia juga melihat kamar di sebelahnya saat turun tadi juga tertutup. Ia semakin yakin jika suami barunya itu benar-benar tidak pulang.
“Kenapa? Kamu pasti cari Bara ya?” Sella mengangguk lemah, “Maaf ya, Sel. Suami kamu itu memang suka seperti itu jika menyangkut tentang putranya. Jika Arya sedang sakit papanya itu bahkan bisa melupakan segalanya.”
“Benarkah?”
“Iya. Bahkan dia pernah marah besar saat itu putranya jatuh dari sepeda motor dan luka-luka. Kalau kamu jadi istri Bara harus banyak bersabar nanti, ya. Mungkin anak tirimu itu akan menjadi saingan terberat dalam masalah perhatian Bara.”
Sella tak menanggapi. Ia mulai berpikir, mungkin karena ini Pria itu menawarkan perjanjian padanya. Mungkin Bara takut dia tidak bisa membagi rasa cinta dan sayangnya.
Pukul 12 siang. Bara masih berada di rumah sakit, dan dari semalam ia belum pulang-pulang.
Bahkan baju pestanya tadi malam masih melekat pada tubuh tingginya. Khawatirnya pada sang putra membuat dia tak peduli dengan apapun, bahkan dia tak mengingat jika dia sudah meninggalkan seorang wanita yang baru menjadi istrinya di malam pesta pernikahan mereka sendiri.
“Ayah...,” arya membuka matanya. “Kita masih di rumah sakit, Yah?”
__ADS_1
“Iya. Kamu sudah baikkan?” Arya mengangguk. Sebenarnya dia tidak begitu parah sakitnya sehingga harus di rawat, bahkan dokter mengizinkan pasiennya pulang setelah pemeriksaan.
Hanya saja Bara yang takut dan ingin benar-anaknya sembuh dengan cepat, jadi dia tetap memaksa untuk di rawat. Karen Itulah pagi ini Arya sudah sangat sehat.
“Kamu ingin makan sesuatu?”
“Tidak. Ayah aku ingin pulang saja, bosan berada di sini.” Arya mengeluh tak senang, “Oh, iya... Bagaimana dengan Ibu baruku? Apa dia ikut juga, Yah?”
Bara terdiam kaku. Dia baru ingat jika sekarang punya istri lagi.
“Tidak. Ayah menyuruhnya di rumah saja. Lagi pula sebentar lagi kita akan pulang kok,”
Arya mengangguk mengeti. Anak laki-laki yang berumur 13 tahun itu tak lagi bertanya apa-apa.
Sedangkan Bara. Dia pusing memikirkan kekacawan apa yang mungkin terjadi di rumah tadi malam.
Ia tidak tahu, apa Maminya bisa mengatasi dan memberi alasan pada tamu undangan tadi malam atau tidak. Ia juga merasa bersalah pada gadis yang baru di nikahinya kemarin.
__ADS_1
Entah apa yang di pikirkan oleh keluarga istrinya itu sekarang?
Ah... Dia benar-benar gegabah ia tadi malam, dan membuat semuanya menjadi rumit sekarang. Pasti saat pulang nanti dia akan mendapat omelan dari sang Mami.