Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Tak mudah melupakan


__ADS_3

Sella tertawa miris melihat kehancuran hidupnya berlahan. Dia menatap kertas putih di atas meja kerjanya, lagi-lagi dia kehilangan sesuatu dari hidupnya. Ahh... Bukankah ini yang dia harapkan selama ini?


“Sel,”


Mala datang langsung memeluk Sella, “Kamu yang sabar ya, Sel. Ke depanya kita tidak tahu, mungkin rezekimu akan lebih baik lagi dari kerja di kantor ini.”


Sella tahu itu hanya hiburan untuk dirinya. Lagi pula dia tidak akan sesedih itu keluar dari perusahaan ini, dia baru bekerja satu tahun di sini, belum ada yang membuat dirinya berkesan hingga harus memohon pada atasnya.


“Kamu tenang saja, La. Aku gak apa-apa kok.” Sella menatap geli Mala yang terlihat lebih sedih darinya. “Lagi pula salah aku juga yang izin gak masuk kerja cukup lama,”


“Tapi kamu di pecat...,”


“Gak apa-apa kok. Aku merasa akan lebih baik, La. Lagi pula aku bisa jauh dari wanita licik kayak Hera.”


Bicara tentang Hera membuat Mala jadi ingat sesuatu. Mala merasa penasaran


“Sel, kamu bilang kamu musuhan sama Hera. Tapi kok kemarin aku lihat kakak kamu jalan sama dia ya?”


“Eh... Bagaimana?” Sella jadi terkejut, “kakak aku yang mana maksud kamu? Aku gak sudi ya ada saudara aku dekat sama tuh wanita licik.”


Mala mengaruk rambutnya bingung, pasalnya ia tidak terlaku kenal dengan kakaknya sella. “Anu... Yang pernah jemput kamu waktu di rumah sakit dulu,”


Alvian?


Sella langsung bisa menebak. Tapi benar-benar tidak tahu jika Alvian ada hubungan dengan Hera. Tiba-tiba ia teringat dengan Tias, kakak iparnya pasti sangat terluka jika tahu suaminya jalan bersama wanita lain.


“Nanti aku tanyakan pada kakakku, lagi pula Alvian itu sudah punya anak dan istri, aku rasa kamu salah lihat.”


“Mana mungkin salah lihat, tunggu...,” Mala mengeluarkan ponselnya, “lihat ini,” Mala menyodorkan ponselnya pada Sella.


Benar yang di katakan Mala. Di foto itu terlihat sang kakak sedang jalan dengan Hera yang bergelayut di tangannya.


“Tidak mungkin,” Sella menggeleng tidak percaya. Kakaknya berkhianat?


Kenapa?


Kenapa satu-persatu keluarganya mulai saling menyakiti? Sella merasa takut, takut jika Alvian akan mengikuti jejak ayahnya untuk melakukan kesalahan.

__ADS_1


****,


Lupakan!


Sella hanya ingin melupakan sesaat semua masalah dalam hidupnya. Tidak tahu dosa apa yang telah ia lakukan tapi sekarang ia merasa cobaan demi cobaan datang bertubi-tubi.


“Papa?” Sella menatap ayahnya yang baru datang.


Terbesit rasa rindu, tapi ia juga tak ingin seperti dulu bermanja pada Papanya. Rasa sakit dan kecewa masih membuat mata hatinya buta untuk memaafkan pria yang telah menyakiti mamanya.


“Sella, apa kabar anak Papa?” David ingin memeluk, tapi sang putri langsung menghindar membuat ia tertegun.


“Aku baik-baik saja, Pa.”


Sella memaksa senyumnya. Meskipun dia menolak pelukan, tapi Sella tetap menyalami tangan yang telah membesarkannya itu.


“Kenapa Papa minta bertemu?”


“Apa kamu tidak merindukan Papa? Papa hanya kangen dengan putri kecil papa,” ucap David tersenyum lembut pada sang putri.


“Salah, Pa. Aku bukan putri kecilmu lagi, tapi Bunga... Bukankah dia yang sekarang menjadi putri kecil Papa?” ujarnya lirih.


“Maafkan, Papa... Papa tahu salah. Papa tahu telah melukai hatimu, tapi papa tidak punya pilihan lain lagi, Nak.”


“Aku tidak menyalahkan Papa, aku hanya kecewa. Tak semudah itu melupakan bagaimana hancurnya mama saat papa memilih pisah darinya. Gak mudah untuk kami memaafkan Papa, biarkan saja berjalan seperti ini saja.”


Ya, dia hanya kecewa pada takdirnya yang tidak menentu ini. Jika dia terus menyalah dan membenci ayahnya sendiri, ia takut doanya akan semakin besar dan penyesalan akhir akan membuatnya terluka.


Biarlah takdir berjalan semestinya, dia sekarang tak berniat merubah apapun.


David mencoba menggenggam tangan sang putri, “meskipun papa membuat kesalahan, tapi Papa mohon. Jangan benci papa, Sel. Maaf... Maaf papa egois mengorbankan hidup kamu demi kehidupan mewah yang papa inginkan. Maaf papa,”


Deg


Sella reflek melepas genggaman ayahnya.


“Maksud Papa apa?”

__ADS_1


David tersentak saat menyadari ia hampir saja mengucapkan hal yang salah. Ia terlalu emosional, melihat sang putri yang mungkin belum tahu apa-apa membaut hatinya kembali sakit.


“Itu...Papa hanya salah bicara,” ujar David beralasan. “Papa hanya merasa sedih, please... Sampai juga ucapan maaf papa sama Mama kamu, ya.”


David tak kuat lagi menatap kekecewaan yang terlihat jelas di kedua manik mata putrinya, dia tidak ingin menangis di depan putrinya. Jadi ia buru-buru pergi.


“Papa harus pergi. Kamu baik-baik sama Suami kamu ya, dia pria yang baik bisa membuat kamu bahagia. Sekali lagi papa minta maaf,” David buru-buru pergi meninggalkan sang putri yang masih menatapnya nanar.


Kesalahan yang dia sesali sekarang adalah merasa gagal menjadi suami dan ayah yang baik pada keluarganya. Sungguh David terluka melihat anak-anaknya berlahan menjauh darinya.


Tapi ia juga tak bisa meninggalkan patrinya yang masih kecil dari hasil kesalahannya. Dia masih mencintai Zana, tapi dia juga menyayangi Tati. Andai dua wanita itu ingin mengerti dan mau menerima dirinya dan saling berdamai... Ah, David tidak bisa lagi menahan tangisnya.


****


Sella menarik nafasnya lelah. Menatap meja yang masih penuh dengan makanan pesanan mereka, sekarang Sella merasa tak lagi nafsu untuk menghabiskannya. Ah... Papanya bahkan pergi tanpa memakan sesikitpun makan ini.


Sella tersenyum miris, ucapan Maaf dari sang ayah masih membuat dia merasa lucu. Begitu mudah meminta maaf sesudah melakukan kesalahan?


Lalu apa tadi? Bahagia dengan pria terbaik seperti Bara?


Lagi-lagi Sella tertawa miris. Andai ayahnya itu tahu bertapa hari-harinya begitu menyedihkan sekarang.


“Aku gak bahagia, Pa!” Sella terisak kecil, “aku bahkan gak bisa tersenyum lagi setelah bersama dia. Papa, kamu salah... Aku terluka, bukan bahagia.” Gumam Sella.


Dirinya merasa sakit saat tak lagi punya bahu yang bisa tepat dia bersandar. Dia merasa tak punya tempat berlindung lagi, semuanya seakan melupakan dirinya.


Sella menatap sekeliling restoran yang terasa cukup bising. Tak sengaja netranya melihat satu keluarga yang terlihat bahagia sedang tertawa di Restoran yang Sama dengannya.


Mungkin tepat mereka yang sedikit jauh jadi mereka tak menyadari keberadaan Sella yang sedang menatap miris kebahagiaan mereka.


Ya... Bara bersama anak dan mantan istrinya terlihat sedang melakukan makan siang bersama dengan canda tawa. Terlihat begitu tampan suaminya sedang tersenyum dengan wanita masa lalunya. Jika bersama dia, hanya ada wajah dingin setiap saat.


Sella mengusap bulir bening yang semakin banyak menetes. Sakit!


Rasanya nyesek melihat suaminya bersama wanita lain. Berlahan rasa cemburu itu terlihat jelas pada dirinya. Tapi dia merasa tak berani melihat perasaannya yang berlahan tumbuh ini.


“Ya tuhan, kenapa sesakit ini.”

__ADS_1


****


__ADS_2