
Bertemu dengan mertua sebenarnya bukan hal yang perlu ia takuti. Tapi berhubung wanita tua itu sudah menghina dia dan marah-marah tak jelas pada dia kemarin, jadi Sekarang Sella kurang respek.
Dia juga masih sakit hati dengan ucapan Mami Rena. Padahal itu tidak salahnya. Salah Bara yang membawa wanita lain ke rumah, eh malah dia yang di omeli dengan kata-kata kasar.
“Siang, Mami.” Sella berusaha tersenyum sebaik mungkin. Memeluk tubuh yang sudah mulai menua itu seperti biasa, agar tak menyinggung hati sang Ibu mertua.
“Oh, kamu datang, Sel.” Mamai Rena terlihat juga bahagia, “Mami pikir kamu gak datang tadi.”
Sella diam-diam mencibir dalam hati. Apanya yang tidak datang, bisa-bisa suaminya yang dingin itu mengajaknya bertengkar seumur hidup.
“Maaf ya, Mi. Aku datang terlambat karena harus mengurus rumah dulu. Maklum mi, Mas Bara sekarang mulai suka jika aku yang mengurus keperluannya.”
Mami Rena tersenyum lebar. “Bagus itu. Jadi istri kamu harus pandai-pandai sama suami. Jangan kayak kemarin pagi,” ujar rena masih mengungkit hari itu.
Sedangkan Sella dalam hati sudah misuh-misuh menahan kesal. Masih saja ibu mertuanya ini mengingat hal itu, Ia menjadi jengkel lagi jika di ingat siapa yang telah membuat dia di marahi dan dihina di hari itu.
‘Bara sialan!’
....
Sella tidak tahu jika Ibu mertuanya menyuruh datang untuk mengajaknya pergi ke acara arisannya. Dia Yang tidak ada persiapan apapun hanya bisa melongo dan datang dengan ala kadarnya saja.
Lagi pula mami mertuanya juga tak meminta dia untuk mempersiapkan dirinya, malah main langsung pergi saja, membuat dia semakin dongkol.
“Mami... Apa tidak apa-apa kamu pergi hanya begini?”
Jujur saja dia tahu Faseon orang kaya. Dia takut berdiri di antara mereka nanti dengan penampilan sederhana ini akan membuat Mami mertuanya malu.
“Kamu tenang saja, kita akan mampir ke butik dulu. Kamu gak mungkin berpikir akan pergi dengan seperti itu kan?” tanya mami Rena dengan senyum kecilnya.
Sella hanya tersenyum malu. Padahal dia sudah berburuk sangka tadi, ternyata ibu mertuanya masih perhatian.
“tapi..,”
“Sudah. Kita itu cuman mau pergi bertemu dengan teman-teman mami aja, kamu gak perlu setegang itu, Sel.”
Mereka turun dari mobil setelah sampai di sebuah tempat perbelanjaan di kota itu. Mal yang cukup mewah yang biasa tempat orang kaya berbelanja, Sella tentu saja tidak akan terjeput dengan gaya hidup Mami dari suaminya. Toh dia sendiri juga bukan orang dari jalanan rendah juga, cukup tahu kehidupan glamor ini.
“Kamu pilih saja ya, biar Mami yang bayar nanti.”
“Eh.., gak usah, Mi. Aku kan punya uang dari Mas Bara,” Sella mencoba menolak. Ia merasa tak enak jika ibu mertuanya yang harus membayar belanjaannya.
“Apanya yang gak usah. Kamu gak bisa menolak! Lagi uang kamu simpan saja,” Mami rena mengibas tangannya, “cukup kamu menjadi menantu dan istri yang baik saja, apapun keinginan kamu pasti akan terpenuhi.”
Deg
Sella yang sedang melangkah di belakan Mami rena mendadak terdiam kaku.
Ia merasa ada yang salah dari ucapan mertuanya itu. Kenapa dia merasa dirinya hanya dihargai dengan sebatas barang. Apa salah jika dia tersinggung?
“Menjadi istri yang baik gak bisa selalu kan, Mi. Bagaimana kalau suaminya selingkuh?” kali ini Sella dengan berani menjawab. Ia ingin lihat bagaimana tanggapan mertuanya itu.
“Kalau suami mencari wanita lain di luar sana, ya Istri harus introspeksi diri lagi. Mungkin ada yang salah pada diri dia, kenapa sang suami kari pada wanita lain.” Ujar Mami Rena santai.
Sella yang mendengarnya hanya bisa mengelus dada. Pikiran Ibu mertuanya terlalu sempit, sebagai sesama wanita Sella cukup kecewa dengan pikiran kolot sang Mami.
__ADS_1
....
Di sisi lain. Bara yang sedang sibuk dengan berkas-berkas kantor si buat terkejut dengan kedatangan sang mantan istri dan juga putra kandungnya.
Tidak biasnya Lisa datang ke sini tanpa mengabarinya. Bahkan waktu masih menjadi istrinya saja wanita itu juga jarang datang ke kantor ini. Dan sekarang dia cukup terkejut dengan keberadaan wanita itu bersama sang putra.
“Kalian kenapa kesini?” itu pertama kali dia tanyakan saat melihat wajah dua orang yang di cintainya.
“Maaf, Yah. Aku yang ajak Bunda kesini, soalnya aku mau makan siang bareng Ayah.”
Bara menyipit matanya. Sebenarnya dia curiga dengan sikap Anaknya belakangan ini, tapi dia tak bisa menegur putranya itu karena memang tak melakukan kesalahan.
Ia juga tak keberatan untuk makan siang bersama mereka. Toh, makan sendirian juga tak enak, hanya saja ada sedikit hal yang membuat dia gelisah.
“Baiklah. Kalau begitu Ayah mau siapkan pekerjaan dulu. Kalian tunggu sebentar,” Bara memberi kode pada lisa agar membawa Arya duduk dulu di sofa di ruangan itu.
“Gak ada yang berubah ya, Mas. Meskipun aku sudah bertahun-tahun gak datang kesini, tapi tempat ini masih saja seperti dulu.” Senyum Lisa mengembang melihat bingkai foto dia bersama Bara masih saja ada di dinding kantor.
Sedangkan Bara hanya bisa mengeram mendengar ucapan lisa yang terlampau santai.
“Memangnya apa yang kamu harapkan? Aku gak mungkin merubah semuanya kan.” Kali ini Bara berbicara agak ketus. Dia kurang suka dengan Lisa yang kembali mengungkit luka lama.
Padahal kan mereka berpisah karena dia yang terlampau keras kepala. Sampai Sekarang Bara bahkan belum bisa lupa bagaimana mantan istrinya itu pergi begitu saja dari hidupnya hanya karena alasan tak tahan hidup dengannya yang terlalu posesif dan pengekang.
Bulsit!
Lisa yang mendengar ucapan mantan suaminya hanya mampu diam, ia menunduk malu. Seharusnya dia tak mengucapkan itu tadi, dia saja yang terlalu bawa perasaan sampai lupa diri.
Lisa memilih dia. Menunggu pria itu menyelesaikan perkerjaannya dengan kesunyian yang menemani mereka bertiga.
Hanya butuh dua puluh menit, setelahnya Bara langsung menyimpan barang-barangnya dan bersiap pergi bersama sang putra dan juga Lisa.
Arya langsung merangkul lengan sang ayah. Dia tersenyum senang saat lagi-lagi ia berhasil pergi bersama kedua orang tuanya. Bocah umur tiga belas tahun itu terlihat teramat senang, bahkan bersikap manja tidak seperti biasanya.
“Kita akan makan apa?” tanya Lisa bersuara.
“Gimana kalau makan Lobster sama cumi-cumi di restoran kemarin, Bun. Arya pengen nih,” ujar Arya memberi saran.
Bara ikut mengangguk setuju. Ia juga menyukai makanan laut, sama seperti sang putra.
“Kalau begitu ayo pergi,”
****
Sella tersenyum senang dengan Gaun yang melekat di tubuhnya. Sangat cocok membuat dia terlihat anggun. Jika begini kan dia gak akan merasa malu buat mendampingi sang mami mertua.
Gaun hitam itu sangat pas di tubuh rampingnya. Apalagi belahan gaun itu di bagian bawah sampai lutut membuat kakinya terlihat jenjang dan cantik. Sedangkan di bagian atas berlengan panjang dan tidak seksi sama sekali.
“Bagaimana? Kamu suka?” Mami Rena menghampiri Sella, “ini saja, sepertinya sangat cocok dengan kulitmu yang putih.”
Sella mengangguk setuju. “Aku juga suka, Mi.”
Mendengar ucapan menantunya Rena langsung membayar belanjaan mereka. Selain gaun yang melekat di tubuh Sella mereka juga membeli beberapa pakaian yang lain. Dan semua itu milik Sella yang di belikan oleh mertuanya.
“Ayo pergi sekarang, Sel. Kita bisa terlambat nanti,”
__ADS_1
Lagi-lagi Sella mengangguk setuju. Mengikuti saja apa yang di inginkan mertuanya sedari tadi. Ia juga merasa senang mendapat banyak pakaian baru, kalau begini ceritanya uang yang di beri Bara tadi pagi tidak perlu ia gunakan lagi, biar dia tabung saja.
....
Senyum sella yang tadi lebar berlahan surut saat samapi di tempat sang Mami mertua mengadakan acara bersama teman-temanya.
Dia menganga tak percaya melihat satu ruangan mewah telah di dekorasi dengan mewah dan juga terdapat banyak makanan di sana.
"Mi..,"
"Ya, kenapa nak?" Langkah merka berhenti memasuki ruangan yang sudah di dekor indah itu.
"Ini acara apa sih, Mi? Kok kayak pesta." tanya sella bingung.
"Loh, iaya pesta dong, Sel. Tapi ini yang hadir cuma teman-teman arisan Mami aja. Soalnya salah satu daribmerka ada yang ulang tahun, makanya buat cara kecil-kecilan ini untuk merayakannya." Jelas Mami Rena.
'Kecil-kecilan?'
Sella hanya bisa cenggo. Sudah se-kren dan mewah ini masih di katakan pesta kecil-kecilan. Sepertinya dia benar-benar belum mengenal kehidupan orang kaya yang sebenarnya.
Mendadak Sella menjadibminder sendiri. Pantas saja maminya mencari gaun tadi dan juga membawanya ke salon untuk di rias, ternyata inilah yang terkadi.
"Ayo masuk, Merka pasti sudah pada datang." Mami Rena langsung mengengam tangan memantunya.
Seakan menyadari jika Sella sedang gugup, jadi dia berusaha mengerti.
......
Sella berusaha menyesuaikan dirinya. Bersikap anggun bagai seorang putri, dia melakukan dengan cukup baik. Dia juga tidak secanggung pertama tadi, mulai terbiasa berbaur dengan teman-teman mertuanya yang juga sepetinya membawa menantu atau anak mereka.
Tapi sayang, hal itu tidak bertahan lama. Saat dia melihat seseorang yang di kenalnya sedang berdiri menatap balik padanya membaut Sella sekaan kehilangan keseimbangan tubuhnya.
“Hera?” ujar Sella tak percaya.
Tapi tidak itu saja yang membuat dia syok. Dia terlebih lagi terkejut saat melihat siapa pria yang berdiri di samping perempuan itu. Sella merasa rambutnya dicabut dengan paksa, membuat mendadak kepalanya terasa teramat sakit.
“Bang Alvina? Kamu...”
Ia dekan mengingat kembali ucapan Embun di hari itu. Seakan menyadari itu ia menatap sepasang manusia itu dengan tajam.
“Sella,” Bagai di tangkap basah, Alvian gugup dan langsung menghampiri sang adik dengan wajah cemas. “Abang akan jelaskan, kamu jangan...,”
“Kamu apaan sih, Al. Kok kamu peduli bangat sama wanita pelakor ini. Memang kamu kenal?” Hera menarik dengan manja tangan Alvian, mencegah pria itu mendekati Sella.
Melihat keributan kecil itu Rena dan juga seorang Ibu-ibu yang mungkin keluarga Hera datang menghampiri mereka.
“Ada apa ini. Hera kamu kenapa?” tanya wanita sebaya Mami Rena dengan Khawatir. “oh... Kamu menantunya Rena kan? Kamu kenal sama putri tante?”
Tak menunggu menantunya menjawab, Mami Rena lekas memotong saat ia menyadari ada kesalahan dari pandangan matanya.
“Ini putri kamu, Mila? Dan pria ini...,”
“Oh... Dia teman dekat putri saya, kamu pasti mengerti lah,” ujar Mila dengan senyum lebarnya.
Ya, dia mengenal Alvian cukup lama. Dan melihat kedekatan Sang putri dengan pria baik seperti Alvian tentu saja dia senang.
__ADS_1
Sella tidak peduli dengan perbincangan dua orang tua itu. Ia yang sudah marah melihat sang kakak bersama wanita lain, rasanya dia teramat jengkel.
“Bang... Kamu selingkuh?!”