Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Pertengkaran dan Malu


__ADS_3

Sella terdiam canggung saat dirinya sudah berdiri di depan kakek dari suaminya.


Tuan Prayoga. Seseorang yang namanya cukup terkenal di dalam dunia bisnis, dan sekarang berada di depan dirinya. Sella benar-benar merasa insecure.


“Jadi dia Istri barumu?”


Sella menahan nafasnya saat menunggu jawaban dari bibir Bara. Tiba-tiba ia merasa tak percaya diri, ternyata aura orang kaya dengan orang miskin itu memang jauh berbeda.


“Ya... Dia istriku, Sella!”


“Kau tampak hebat mencari istri,”


Menurut Sella itu bukan terdengar seperti pujian. Pria tua itu seakan mengejek selera cucunya mencari pendamping.


Ia ingin menangis rasanya saat orang-orang di sana mulai memandangnya dari atas sampai bawah. Seakan menilai apa hebatnya gadis yang sedang berdiri di depan mereka?


“Hebat? Tentu saja,” jawab Bara dengan wajah datarnya.


“Saya hanya berharap, kali ini pilihanmu lebih baik dari yang pertama. Jija tidak... Kau sama saja dengan ayahmu.”


“Dia ibuku! Jangan menghinanya di depan mataku, atau aku akan melupakan kau kakekku!”


Bara yang tadi terlihat tenang berubah marah membuat beberapa orang menoleh pada mereka.


Bara menatap tidak terima saat Maminya kembali di ungkit oleh Kakeknya ini. Beberapa kali pun mereka menghina dan mengolok-olok sang mami, Bara tetap tidak terima. Yang ada ia semakin membenci keluarga yang sudah membuang keluarganya ini.

__ADS_1


“Bara, jangan seperti itu pada kakekmu. Dia hanya bercanda,” Paman Syam langsung angkat bicara.


Pria takut pesta mewahnya malam ini akan hancur karna pertikaian keponakannya dengan sang ayah.


“Paman! Jika bukan karena Mami yang meminta saya datang, saya tidak akan sudi!”


Sella yang melihat Bara di liputi kemarahan tak tahu harus berbuat apa. Dia todak pernah dalam situasi seperti ini. Pada akhirnya ia menatap anak tirinya yang sudah mendekat dan merapat pada tubuhnya. Mungkin dia juga ketakutan.


“Kamu... Kamu cepat bujuk ayahmu untuk berhenti,” dengan hati-hati Sella berbisik pada anak tirinya itu. Ia merasa malu menjadi perhatian tamu undangan.


Ayolah... Dirinya tidak mengerti apapun! Kenapa harus ikut terseret?


“Aku tidak berani,” bantah Arya ikut takut melihat kemarahan ayahnya. Padahal ia baru saja berkenalan lagi dengan keluarga pamanya, sudah sangat lama mereka tidak pernah bertemu.


“Bara! Kamu kurang ajar sekali berbicara! Apa ini didikan dari wanita bodoh itu?!” bentakan itu menggema. Membaut mereka semakin menjadi pusat perhatian.


Meskipun kakek Tomi itu sudah tua, tapi suaranya yang berwibawa dan tegas tentu saja membuat orang-orang terdiam takut.


“Cukup! Kakek kau...,”


Ia sudah merasa tak tahan, jadi Sella berusaha memberanikan diri untuk menarik tangan suaminya.


“Mas... Arya takut,” sorot mata Sella memancarkan permohonan, “kita pergi saja, yuk.” Sella berucap penuh harap. Dia benar-benar merasa malu dilihat banyak orang.


Sella meraih jari-jari suaminya untuk di genggam, kali ini dia berharap Bara tak menolak sentuhannya di depan umum atau dia akan malu seumur hidupnya.

__ADS_1


Setelah menarik nafas panjang lalu membuangnya berlahan. Bara merasa emosinya lebih baik, barulah dia berkata. “Baikalah, ayo kita pergi dari pesta sialan ini!”


.....


“Aku benar-benar tidak mengerti, dia kakekmu atau bukan sih?! Kok kalian aneh sekali,” pada akhirnya Sella tidak bisa menahan rasa penasarannya.


Meskipun masalah ini termasuk privasi, dan sesuai perjanjian mereka di awal tak boleh ikut campur dalam masalah pribadi satu sama lain. Tapi Sella tidak peduli, ia terlanjur penasaran. Lagi pula apa salahnya, toh mereka suami istri sah juga.


“Kamu sepertinya mulai penasaran dengan saya,” Bara menyeringai. “Mulai tertarik... Mm,”


Sella menatap malas sang suami. “Bagaimanapun saya ini istri sah kamu, Mas! Gak usah sok narsis gitu!” bantah Sella tak terima.


Ia menatap pada anak tirinya yang sudah tertidur. Sella merasa tak ada masalahnya mereka membahas masalah berat seperti sekarang ini.


“Kamu tidak perlu tahu... Yang pentung kamu mengerti adalah mereka orang-orang yang tidak menyukai keluarga kita!” tekan Bara di akhir kalimatnya.


Keluarga kita ya?


Sella merasa ada yang hangat menjalar di hatinya saat Bara seperti mengakui keberadaannya di keluarga pria itu.


“Tapi sepertinya mereka sangat baik pada Arya,” ungkap Sella tak mengerti.


“Itu karena merek Membutuhkan pewaris. Paman Syam tidak punya anak laki-laki, bahkan anak perempuannya cacat. Karena itu mereka pura-pura baik pada saya.”


Sekarang Dia mulai sedikit mengerti permasalahan keluarga Bara ini. Ternyata menjadi kaya itu bukanya membuatnya bahagia tapi ternyata susah juga ya.

__ADS_1


__ADS_2