Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Ayah tidak mungkin berhianat


__ADS_3

Hari libur pasti hari yang paling di nanti oleh orang-orang. Tak ada ubahnya dengan Sella, gadis itu tersenyum senang di kala pagi itu ia tak perlu bangun pagi untuk bersiap-siap pergi bekerja.


Tapi siang ini Sella berniat mengunjungi rumah orang tuanya. Tapi sayangnya tadi malam Ia lupa memberi tahu Bara, dan pagi ini dia tidak tahu di mana keberadaan suaminya itu sekarang.


“Bik, Mas Bara kemana?” Sella memilih bertanya pada Bu Neti.


“Oh... Itu Non, sepertinya tuan pergi lari pagi sama Den Arya.”


Sella mengangguk mengerti, setelah mengucapkan terima kasih ia kembali masuk ke dalam kamar.


Memilih mandi dan bersiap terlebih dahulu, setelah suaminya pulang nanti ia tinggal meminta izin dan langsung pergi.


Saat dirinya sibuk merias wajahnya, tiba-tiba bunyi dari ponsel mengganggunya. Panggilan dari rumah, kenapa tiba-tiba kakaknya menelepon?


“Halo,”


“Sella... Apa kamu sedang sibuk sekarang? Apa kamu bisa datang ke rumah sekarang?”


“Kenapa?” Ia terlalu terkejut mendengar permintaan kakaknya yang terdengar bergetar.


Apa yang terjadi?


“Kamu datang saja dulu, Dek. Nanti kamu pasti akan tahu,” Pinta Alvian di seberang sana.


“Tapi kasih tahu dulu, aku jadi ke pikiran!” terdengar helaan nafas panjang di seberang.


“Datang aja ya, Dek. Kakak gak bisa cerita sekarang... Ini tentang Papa dan Mama,” ucap Alvian lemah.


“Oke... Aku akan kesana,”


Meskipun dia merasa sangat penasaran, tapi Ia juga tak bisa memaksa sang kakak. Tapi saat mendengar suara Sang kakak sulung yang bergetar, Sella yakin pasti sesuatu yang tidak baik telah terjadi.


Sekarang dia tidak bisa menunggu suaminya lagi. Dia harus cepat-cepat pergi.


Sella mengambil barang-barang uang penting saja, setelah itu segera bergegas keluar dan berteriak memanggil pelayan di rumah suaminya itu.


“bik,” Ia berteriak, “Bik Neti.”


“Iya, iya... Ada apa, Non Sella?”


“Bik. Aku tidak bisa menunggu Mas Bara pulang dulu, ada sedikit urusan mendadak di rumah. Nanti tolong sampaikan, ya Bik.” Pinta Sella.

__ADS_1


“Ahh... Tapi Non...,”


Sella langsung mengangkat tangan dan berlari keluar segan terburu-buru. Dia tak ingin wanita paruh baya itu menghentikannya dan menyuruh menunggu sang suami terlebih dahulu.


Lagi pula dia dengan Bara sedang dalam hubungan yang tidak baik, ia juga malas jika harus berbicara lagi dengan pria itu. Takut-takut saja jika dirinya akan di bentak lagi nanti.


.....


Butuh beberapa menit untuk dirinya sampai di ramah orang tuanya. Saat taksi yang di tumpanginya telah sampai, Sella segera membayar dan berlari menuju rumahnya yang sudah sangat dirinya rindukan.


“Kakak Tias!” Sella berteriak melihat kakak iparnya yang sedang duduk sambil menemani anaknya bermain di teras depan.


“Oh... Sella, kamu sudah sampai?” wanita cantik itu tersenyum bahagia melihat sang adik ipar telah datang. Dia langsung memeluk adik iparnya itu dengan senang.


Sella membalasnya, “aku memang berencana kesini sejak kemarin, Kak. Haya saja saat Kak Alvian telepon tadi aku jadi khawatir. Makanya buru-buru ke sini,” ujar Sella menjelaskan.


“Oh, ya! Kak Alvian sama Mama dan yang lain mana?” tanya Sella lagi.


Tias berubah sedih. Pertanyaan itu membuat dia seakan ingat kembali dengan masalah pelik di rumah besar ini.


Sella menyadari itu. Dia menatap tak mengerti, “Kak, ada apa?”


“Kamu cari kakak kamu di Dalam saja, ya. Mas Alvian sudah tunggu kamu sedari tadi bersama Bang Vanka dan juga Melisa.”


Melisa kakak ke tiga dia itu bahkan bisa dibilang jarang jika berkumpul di rumah ini. Tapi hari ini ada apa?


Masalah apa yang membaut raut sedih dan juga khawatir di wajah kakak iparnya ini?


Sella segara mengikuti kata Kak Tias tadi. Dia mulai menyusuri ruang tamu dan berlanjut ke ruang keluarga, tapi dia tetap saja tak menemukan keberadaan keluarga yang lain.


Rumah ini bah kan terasa sunyi. Perasaan Sella semakin merasa tak nyaman saat dia juga tak menemukan beberapa pembantu di rumah orang tuanya ini.


Apa yang terjadi?


Lagi-lagi Sella bertanya pada hatinya sendiri.


Ia kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar sang Mama. Ia berpikir mungkin anggota keluarganya ada disana semuanya.


Sayup-sayup ia dapat mendengar suara isak tangis. Tapi hanya sesaat, setelah itu suara itu hilang dan diganti dengan suara lembut Melisa yang terdengar sedang membujuk.


Sella semakin mempercepat langkahnya. Saat di depan pintu ia langsung mengetuk pintu dan memanggil sang Mama.

__ADS_1


“Mama...,”


Bukanya mendengar sahutan, di dalam malah terdengar semakin sunyi saat dia memanggil kata Mama tadi.


Tak begitu lama pintu terbuka dengan munculnya wajah cantik Melisa. Tapi Ia semakin merasa bingung melihat wajah sang kakak telah sembab dan juga ada jejak air mata.


“Kak..,”


“Ayo Masuk, Sel. Mama sudah tunggu kamu dari tadi,” ujar Melisa. Dia segera membimbing adiknya masuk ke dalam kamar yang sudah ditepati oleh 4 orang sedari tadi.


Sunyi.


Ya, itulah yang Sella rasakan saat dia datang. Dan lagi-lagi dia dibuat tak mengerti melihat wajah sang mama sama seperti sang kakak perempuan. Alvian dan juga Vanka tak jauh berbeda, kedua pria itu juga terlihat matanya memerah seperti menahan tangis.


“Kak, ada apa?”


“Mama akan katakan padamu, Sel. Jadi gih sana, peluk mama dulu.”


Sella baru akan kembali membuka mulut, tapi Zana datang dan langsung memeluk anak bungsunya itu membuat Sella kembali menutup mulut.


“Ma,”


“Sel... Papa kamu... Dia pergi ningalin kita semua, Nak..,” tangisan Zana kembali pecah. Sia benar-benar masih merasa sakit dengan perlakuan suaminya.


“Ma... Mama ngomong apa?” mencoba memisahkan pelukan sang ibu, tapi ia tak berhasil. “Mama, kamu kenapa? Apa yang terjadi sama papa?”


Melisa berusaha menghentikan ibunya yang kembali menangis. Berusaha memisahkan, tapi Zana terlihat tak menggubris dan tetap merancau mengatakan semuanya.


“Dia... Dia pergi dengan wanita lain, Sel. Papa kamu tega minta pisah sama mama demi menikah dengan istri barunya!”


Merasa separuh nyawanya di cabut dari badan. Sella mendadak menjadi linglung. Dia menatap tak percaya Mama dan juga kakak-kakaknya.


“Apa...?” ia terkekeh keci “jangan bercanda... Kalian pasti hanya berbicara omong kosongkan? Papa gak mungkin seperti itu. Dia tidak mungkin selingkuh!” bantahnya tak percaya.


“Sel,”


“Ngak-ngak! Bang Vanka jangan ikut-ikutan buat prenk aku. Aku gak percaya ini... Ma, kenapa mama mengatakan hal seperti itu tentang Papa?”


“Tapi itu kenyataan, Sella. Apa yang dikatakan Mama itu benar. Papa sama Mama benar- benar sudah pisah!”


Sella menolak percaya. Dia hanya bisa menggeleng dan berkata tidak berulang kali. Dia begitu syok, terpukul dengan ucapan ibu dan kakak-kakaknya.

__ADS_1


Bagaimana mungkin?


Papanya yang begitu terlihat mencintai Mamanya bagaiaman bisa berselingkuh dan pergi dengan wanita lain. Sella menolak percaya... Dia tahu ayahnya tidak mungkin mengecewakan dia.


__ADS_2