
Kehidupan itu tidak ada yang namanya hanya ada kebahagiaan. Sebahagia atau sekaya apapun kita yang namanya masalah itu tentu saja ada.
Meskipun berkali-kali ia mencoba menghindar dan ikhlas dengan semua yang terjadi, tapi nyatanya dalam hati tetap saja ada rasa yang menganjal.
Semakin hari semakin banyak fakta yang di ketahui nya. Yang dulu ia pikir keluarga mereka keluarga yang harmonis, ayah dan ibu mereka saling mencintai membuat dia begitu mengagumi dua orang itu. Tapi hari ini tidak.
Nyatanya tidak ada yang sempurna. Kesetiaan itu hanya omong kosong, sesetia seseorang pasti pernah menghianati. Tidak secara sadar maupun pura-pura lupa jika di rumah telah ada keluarga yang menerima apa adanya.
“Mama?”
Sella terkejut saat anak tirinya tiba-tiba memanggilnya. Padahal ia sedang sibuk memasak sambil melamun.
“Ya, ada apa Arya?” Sella berusaha berbicara selembut mungkin.
Arya menatap malas ibu tirinya itu. “kamu masak? Kalau begitu makan malam aku buatkan tumis Cumi-cumi,” ujar bocah itu. Setelahnya ia berlalu naik ke lantai atas menuju kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Bara.
Sedangkan Sella yang masih di dapur hanya bisa menganga tak percaya dengan ucapan yang kurang sopan dari anak tirinya.
‘eh, dimana kata minta tolongnya?’
Pada akhirnya ia hanya bisa mengangkat bahu. Ingin menegur ia takut bocah itu mengadu pada sang suami dan kembali menyulitkan hubungan mereka yang baru mulai membaik.
Ya, hari ini Arya kembali pulang ke rumah. Katanya sang Bunda sedang sibuk dengan pekerjaan jadi tidak ada dirumah. Alhasil Arya memilih kembali pulang ke rumah sang ayah.
Sella kembali sibuk dengan semua bahan masakannya. Kali ini dia benar-benar berusaha mencoba menjadi istri yang baik. Mumpung dia sudah tak kerja lagi, jadi dia bisa bebas mau ngapain saja di rumah.
***
“Sudah pulang?”
Sella tersenyum senang melihat suaminya telah sampai di rumah. Segera ia mengambil tas kerja Bara, dan juga mengambil tangan suaminya untuk dia cium.
Bara yang diperlakukan seperti itu hanya menerima saja.
“Setelah bersih-bersih ayo kota makan malam bersama,”
“Kamu masak lagi?” Bara menatap istrinya. “Kenapa masak? bukankah sudah ada bibi yang bekerja.”
“Itu karena aku suka aja. Lagi pula aku ingin belajar jadi istri yang baik,” Sella tersenyum kecil. Melihat wajah Suaminya yang tidak berubah dengan godaannya membuat dia cemberut.
__ADS_1
“Terserah kamu lah,” ucap Bara pada akhirnya.
Bara segera melangkah menuju kamarnya di lantai atas. Sedangkan Sella yang tadi tersenyum berlahan berubah dingin. Dia menatap punggung lebar itu dengan sorot mata yang sulit di jelaskan, tapi yang pasti menyimpan banyak rahasia.
Sampai saat ini Sella bahkan belum pernah di izinkan untuk memasuki kamar suaminya itu. Meskipun berjanji akan menjalani pernikahan dengan baik, tapi Bara terlihat tak ada niat membuka diri padanya.
“Kita lihat saja, Mas. Sampai kapan kamu bisa bertahan!”
....
Mereka bertiga telah duduk di meja makan, bersiap untuk menyantap hidangan malam ini hasil dari masakan Sella.
Katakanlah dia baru bisa masak, tidak terlalu mahir memang. Tapi soal rasa tidak perlu diragukan. Cukup enak untuk dimakan, meskipun tidak bisa mengalah masakan restoran.
“Kamu buat tumis cumi-cumi juga?” Bara bertanya dengan takjub. Dia sama seperti Arya, makanan favoritnya makanan satu ini.
“Mas suka tumis cumi-cumi?”
“Suka. Ini makanan favorit saya sama Arya.” Ujar Bara, “lain kali kalau kamu ada waktu buat masakan ini saja,”
Sella semakin senang mendengar suaminya begitu menyukai masakannya, bahkan meminta lagi nanti. Tapi masalahnya dia... Dia alergi dengan makhluk satu itu. Tadi saja dia masak telapak tangannya sampai memerah.
“Oke, Mas.”
Selesai mereka makan malam Bara membawa Sella keluar malam itu. Tidak seperti biasanya, mungkin menyadari jika istrinya sudah capek membuat masakan yang enak untuk dia dan sang anak, jadi dia ingin sedikit menyenangkan hati gadis itu.
“Kita akan kemana?” tanya Sella saat mobil suaminya mulai melaju membelah jalan yang terlihat ramai di malam itu.
“Ke taman bermain. Kamu tidak keberatan kan?”
Sella menggeleng, dia tidak keberatan. Yang ada dia malah senang jika suaminya itu mulai perhatian padanya.
Sampai di taman yang cukup rami itu, Sella tidak bisa tidak tersenyum lebar. Melihat banyaknya orang yang sedang berdagang dan juga pengunjung yang terlihat hilir mudik, Sella merasa dia seperti bebas.
“Ayo kita beli jajanan itu, aku mau bakso bakar.” Sella langsung berlari meninggalkan Bara yang terlihat masih berdiri di samping mobil.
Dia tak percaya istri kecilnya itu begitu bahagia hanya di bawa di tempat seperti ini. Tapi memang sih, selera seseorang untuk bahagia itu memang berbeda-beda.
Bara menyusul Sella dengan langkah santainya. Matanya yang sebuk menawasi gadis itu, tapi ia tak terburu-buru menghampiri Sella.
__ADS_1
“Kamu mau, Mas?” Sella menyodorkan bakso bakar yang baru di belinya. Sedangkan Bara menggeleng, dia tidak terbiasa memakan makanan pinggir jalan seperti ini.
Lama mereka duduk di bangku taman itu. Sella yang sibuk menikmati jajanan yang sempat ia beli, berbeda dengan Bara yang juga sibuk, bukan sibuk makan juga tapi sibuk dengan ponselnya yang entah chat siapa.
“Sella!”
Panggilan itu membuat dua sejoli yang sedang duduk santai itu serentak mengangkat wajah.
Berbeda dengan Bara yang mengernyit heran. Sedangkan Sella mendadak menjadi patung melihat siapa yang telah memanggil namanya dengan suara merdu itu.
“Loh, Kaif...,” gumam Sella. Dia menatap sosok pria tampan didepanya, berlahan hatinya berdetak ngilu melihat bertapa memersona mantan yang telah ia tinggalkan.
“Kamu kenal dia?” Alis bara terangkat melihat wajah istrinya yang memerah. Tunggu, melihat gelagat istrinya yang mendadak gugup Bara seakan dapat menebak.
“Itu... dia...,” Belum sempat Sella menjawab pertanyaan Bara, Kaif sudah lebih dulu mendekat dan tersenyum lebar di depan dia yang berhasil membuat Bara mendengus kesal.
“Akhirnya kita bertemu lagi. Apa kabar sel?” Kaif berujar ramah. Sesat dia tertegun melihat seorang pria berada disisi wanita pujaannya. “Apa dia suami kamu?”
Ya, Kaif memang belum pernah bertemu dengan Bara secara langsung. Jadi wajar jika dia belum kenal suami dari mantan kekasihnya ini.
“Ya, saya suaminya Sella. Kamu siapa?” Bara bertanya dengan tidak ramah. Tak mendapatkan jawaban dari istrinya dia langsung bertanya pada pria itu.
Ya, begitulah sifat pria. Jika dia biasa mendua, tapi dia cukup egois pada pasangannya. Entah mengapa mendadak Ia kesal sendiri melihat pria itu tersenyum leber pada istrinya.
“Saya... Saya teman Sella.” Kaif mencari alasan agar tidak membuat suasa menjadi keruh.
Jelas sekali ada wajah kecewa dari Sella. Meskipun dia bersyukur mantanya itu mengatakan yang sebenarnya, tapi ia kesal juga saat Kaif tidak mengakui dia pernah menjadi kekasihnya.
“Maaf, aku mengganggu waktu kalian.”
“Oh, tidak kok. Aku malah senang bisa bertemu lagi. Aku dengar kamu sudah jadi ustaz di pesantren ya?” Sella mencoba berlagak seperti biasa berbincang dengan Kaif.
“Kamu tahu?” Kaif terlihat cukup terkejut, “ya begitulah. Aku tidak punya alasan lagi berkeliaran lagi di sini. Aku pikir dari pada menghabis waktu tanpa manfaat, jadi aku memilih mengabdi di pesantren saja. Sekalian mencari pengalaman.”
Sella cukup terbungkam dengan ucapan Kaif, jelas pria itu sedikit menyindirnya tadi.
Berbeda dengan Bara yang menatap jengah. Karena sudah merasa kesal, jadi dia langsung menggenggam tangan Sella untuk mengajak pulang.
“Ayo pulang... Arya pasti sudah menunggu kita, dek.”
__ADS_1
Sella tak bisa menolak. Setelah berpamitan secara singkat dengan Kaif, akhirnya Bara menarik tangan istrinya itu untuk pulang.
*****