
Sella menatap malas Mertuanya yang terlihat sibuk mengomel dan mengajarinya ini itu yang tidak terlalu Sella mengerti.
Ingin rasanya ia mengusir mami mertuanya itu, andai saja dia punya kuasa itu mungkin dari tadi sudah ia lakukan. Tapi mau bagaimana lagi, jangankan mengusir, sedangkan ia saja sudah menjadi bulan-bulanan kemarahan mertuanya itu.
“Kamu itu harus pandai-andai sama suami dong, Sel. Mami kan sudah bilang jauhi wanita itu dari suami kamu. Tapi kamu malah diam saja, kalau begini percuma dong mami paksa Bara nikahi kamu.”
Diam-diam Sella memitar matanya malas. Ingin menjawab tapi dirinya takut semakin disembur dengan ceramah panjang mertuanya itu.
Gaya boleh kaya, elite dan anggun. Tapi kalau ngomong pada menantunya sendiri sungguh menusuk dan membuat dirinya sakit hati. Ekspresi jengkelnya berusaha ia tahan mendengar kata-kata dari ibu suaminya itu.
“Mi, memangnya kenapa mami gak suka masa Mbak Lisa? Bukankah dia wanita yang baik.” Meskipun hatinya tak rela mengatakan itu, tapi Sella juga penasaran mengapa Mami Rena membenci Mbak Lisa.
“Baik? Jika dia baik dia tidak mungkin meninggalkan Bara dan membuat anak saya depresi. Kamu pikir dia wanita baik?”
Melihat mertuanya semakin marah Sella langsung bungkam. Ngeri juga marahnya, bahkan Sella bisa melihat mata Mami rena Memerah saat mengingat Lisa mantan istri anaknya.
Ia benar-benar tidak tahu apapun tentang suaminya. Karena Bara memang masih sangat tertutup padanya, bahkan terkadang jika Ia menyinggung nama Lisa saja sedikit sudah membuat pria itu marah.
.....
Karena berhubung Lisa belum juga mendapat izin pulang dari rumah sakit, jadi Bara berniat pulang dulu untuk ganti baju, dan akan kembali lagi malam nanti.
Tapi saat dia baru saja sampai rumah, ia terkejut mendapati sang Mami sudah berdiri di depan pintu dengan wajah marahnya.
“Mi... Mami kok bisa ada disini?”
“Kenapa? Kamu ngak senang mami datang ke rumah kamu.”
Tentu saja Bara menggeleng. Dia bukan tak senang, hanya saja waktu yang tidak tepat karena ia takut jika maminya marah bila tahu dia baru saja menemui Lisa.
__ADS_1
“Bukan begitu maksud Bara. Tapi aku hanya terkejut saja...” Bara menatap Sella, “Kamu kenapa gak beritahu saya?”
Melihat menantunya di salahkan, Mami Rena langsung angkat bicara. “apanya yang tidak di hubungi! Kamu saja yang begitu abai, Sella bahkan sudah menghubungimu puluhan kali dari siang.
Bara jadi ingat dengan tadi siang. Ia menelan ludahnya dengan susah payah, jika memang benar telepon itu jadi maminya sudah ada di sini sejak tadi siang. Oh... Habislah dia kali ini. Dia tidak mungkin berbohong pada Maminya.
“Jangan bilang kamu di kantor, Bar. Mami sudah datang ke sana, dan mami dengar seharian dan kemarin kamu gak ada di kantor. Kemana kamu?!”
“Itu... Aku di rumah sakit, Mi.”
“Loh kamu sakit, Mas. Koka aku gak tahu?” Dengan polosnya Sella berpura-pura bertanya.
Sedangkan Bara mendelik kesal. Ia menatap marah pada istrinya, “diamlah. Kamu jangan berpura-pura, Sel. Bukanya kamu yang mengizinkan saya menjaga Lisa di rumah sakit?”
Sella yang mendengar ucapan fitnah dari suaminya dibuat melotot. “Mas, kamu...,”
“Diam!” Mami rena menatap tajam Sella, “jadi begini balasan kamu, Sella?! Saya menikahkan kamu sama anak saya itu untuk menjauhkannya dari si rubah itu. Dan kamu... Kamu malah mengizinkan mereka bertemu. Di mana otak mu itu!” Mami Rena menunjuk dengan raut marah.
“Mi..,” Bara menatap Sella dengan bersalah. Bukan begini yang dia maksud. Tadi dia hanya ingin berkilah saja, tidak disangka malah begini.
Tidak ada penyesalan. Mami Rena merasa apa yang di ucapkannya tidak salah. Lagi pula dia menjadikan Sella sebagai memantunya itu bukan dengan hal yang mudah, dia harus membayar harga mahal pada keluarga gadis itu. Bukankah sudah sepantasnya Sella berbakti dan mengikuti setiap ucapannya.
“Kamu membuat saya Kecewa, Sella! Menyesal saya menikahkan kamu sama anak saya kalau akhirnya seperti ini juga.”
Mami rena langsung mengambil tasnya dan pergi tanpa pamit lagi. Dia marah, dan lebih kecewa pada menantunya, meskipun dia mungkin saja tahu, yang salah itu putranya.
Sedangkan yang masih di dalam rumah. Sella menatap kecewa pada pria yang berkali-kali membuatnya terluka itu.
“Sel?” Bara menatap Sella dengan kasihan, “saya...,”
__ADS_1
“Puas kamu, Mas?! Karena perbuatan bejat kamu aku yang harus di salahkan. Kamu sama Mami kamu itu sama saja, sama-sama gak punya hati!”
Deg
Sella ikut meninggalkan Bara di ruang tamu yang terlihat masih menunduk. Mungkin dia merasa bersalah atau bagaimana, tapi yang pasti sekarang ia sedang khawatir dengan Maminya.
Dulu ia tidak pernah bertengkar sehebat ini dengan sang Mami. Dia yang selalu penurut, atau Mami rena yang selalu pengertian membuat mereka berdua jarang berselisih paham.
.....
Bara tidak bisa jika sudah bertengkar dengan Maminya. Jadi malam itu ia putuskan kembali mendatangi Rena langsung ke kediamannya. Ia tahu Maminya itu pemarah, tapi juga akan cepat memaafkan dirinya. Dan soal Sella, saat ini Bara tak ingin memikirkannya dulu. Dia tahu Sella gadis yang mudah di bujuk, lagi pula dia tahu wanita itu sudah ada dalam genggamannya.
“Kenapa lagi kamu datang lagi kemari?! Pergi saja temani wanita itu, bukankah kamu lebih peduli padanya dari pada ibumu sendiri.”
Bara mendesah lelah, “Mi... Aku minta maaf. Lagi pula aku melakukan ini semua atas permintaan Arya. Aku tidak buat anakku sedih kan,”
Mendengar nama arya di sebut Mami rena mulai luluh. Dia membuang waja, “tapi mama masih kecewa dengan istri kamu itu. Bisa-bisanya dia begitu...,”
“Mi,” Bara menatap malas sang ibu, “ apa mami tidak usah menyinggung tentang imbalan dalam pernikahan ini. Bagaimanapun Sella pasti tersinggung.”
Bara yakin Sella pasti masih belum mengetahui tentang apapun yang telah Papanya lakukan. Dia ikut merasa kasihan pada wanita itu.
Mami Rena menatap kesal sang putra yang telah berani mengajarinya.
"Memanynya yang aku katakan salah? Kalau mau cari kesalahan cari saja Papanya. Pria itu yang setuju," ujarnya yang terdengar masih kasar.
Bara tak ingin memperpanjang lagi. Karen dia sudah mendapatkan maaf dari ibunya. Bara berniat untuk pulang dan menjelasakan pada istinya juga. Dia tidak suka hidup dalam rasa bersalah ini.
"Kalau begitu aku pulang,"
__ADS_1
"Pulang?" rena memicing matanya, "kamu benar-benar pulang atau pergi menemui wanita itu lagi?!"
Bara langsung mengeleng kuat. Kali ini ia benar-benar akan pulang.