
Saat sedang sibuknya orang-orang kantor bekerja, Sella memilih bersantai di pojok kantin dengan segelas kopi di depanya. Gadis itu sibuk dengan pikirannya sendiri, bahkan kopi hitam di depanya hampir saja dingin tak tersentuh.
Tak peduli dia nanti di tegur atau mungkin di pecat, rasanya sudah memuakan saat dia sedang frustrasi seperti ini.
Andai saja dia sokongan yang kuat di kantor ini yang bisa membela dirinya. Ingin sekali ia membuat gosip yang beredar si perusahaan ini mengilang dan membalas orang yang menyakitinya.
Tapi sayang... Dia hanya berkhayal!
“Wah, lihat ini... Siapa yang kita temukan di sini,”
Sella mendengus kesal melihat kedatangan Hera. Perempuan ini entah ada masalah apa dengan dirinya, yang tiba-tiba saja menjadi penyihir di dalam hidupnya yang tenang.
Padahal tadi niat hati ingin memenangkan diri. Eh... Ternyata malah tambah kesal.
“Kamu bisa gak sehari aja gak ganggu saya!”.
Muak rasanya melihat senyum perempuan itu setiap harinya. Padahal ia ingin menenangkan diri.
“Sella, aku hanya membalas apa yang pernah kamu lakukan padaku dulu. Kenapa kamu harus marah?” ujar Hera.
Namun, Sella tidak mengerti dengan maksud ucapan Hera. Seingatnya dia tak pernah punya masalah, bahkan dia kenal Hera semenjak bekerja di perusahaan ini.
Tak ingin semakin penasaran ataupun berpikir lagi. Sella hanya memilih untuk menghindari.
“Aku merasa gak punya masalah sama kamu! Jadi tolong jangan ganggu saya lagi!”
Sella menatap satu teman Hera. Saat dia memperhatikan wajah gadis itu ia merasa sedikit kenal.
‘tapi siapa?’
“Gak usah sok munafik kamu. Lagian gosip yang saya dengar itu benar kan. Toh kami pernah melihat sendiri suami kamu jalan sama istri pertamanya dan juga anaknya. Kamu jadi perempuan kok tega bangat sih buat memisahkan keluarga bahagia seperti itu!” Diva ikut menimpali pembicaraan mereka.
__ADS_1
Saat terucap jika suaminya pergi keluar bersama Lisa, perasaan Sella telah merasa campur aduk. Dia tak fokus lagi dengan kata-kata Diva dan Hera yang menyakitinya.
“Benar-benar gak punya hati! Pasti kamu yang menggoda dan menjebak pria itu kan supaya bisa di nikahi.” Ucap Diva lagi.
“Ya, iyalah. Kamu lihat kan kemarin. Bagaimana pria itu menatap anak dan mantan istrinya dengan penuh cinta. Mungkin sekarang dia sudah menyesal kenapa menikahi gadis seperti dia ini!” Balas Hera puas hati.
Senang rasanya dia melihat wajah Sella memerah padam. Kapan lagi kan dia bisa membuat perempuan yang dibencinya menderita di depan matanya sendiri.
“Memfitnah orang sampai seperti ini, Hera kau akan mendapat balasannya nanti!” ucap Sella.
“Kamu pikir apa yang aku lakukan sekarang ini apa? Ini kan balasan... Balasan atas apa yang kau lakukan padaku dulu!”
Lagi-lagi kata dulu. Sella benar-benar tidak mengeti dosa apa yang telah ia lakukan hingga wanita ini begitu dendam dengannya.
Saat dia ingin bertanya tapi kedua perempuan tadi sudah lebih dulu menjauh. Sella hanya bisa menggidik bahu, ia tidak perlu memikirkan ini kan?
....
Kebencian memang bisa membawa seseorang pada kehancuran.
Tapi itu dulu, sebelum dia tahu jika gadis itu wanita yang pernah datang bersama Tias. Wanita yang pernah membuat dia terpuruk dan menyimpan dendam dulu. Mungkin mereka berdua saudara, pikir Hera.
Jangan salah, tiga tahun yang lalu Sella pernah melabraknya bersama wanita yang bernama Tias dan meneriakinya gadis murahan. Itu karena saat itu Dia sedang dekat dengan Alvian, calon suami Tias.
Dia yang tidak tahu jika pria pujaan hatinya telah bertunangan menjadi bulan-bulanan dua gadis yang berbeda umur itu. Mungkin saat itu Sella masih kuliah, dan sekarang mungkin juga gadis itu telah melupakan dirinya.
Tapi Hera tidak akan pernah lupa!
Sebab di hari itu dia menjadi bahan tertawaan orang-orang di tempat umum. Ditambah dengan Alvian yang juga menolak membelanya dan pergi bersama sang tunangan, hal itu membuat dia semakin membenci dua wanita itu.
“Kamu kenapa? Kok malah melamun setelah bertengkar dengan anak itu? Kamu sedih ya,”
__ADS_1
“Gak! Sedih apaan, yang ada ku senang membuat wanita itu menderita.” Ucap Hera menggebu-gebu. Sudah lama sekali dia menyimpan kebencian ini pada kedua wanita itu.
“Jangan-jangan kamu masih suka sama Alvian ya, Her? Kok sampai sekarang kamu masih dendam sama mereka.”
Suka ya?
Mungkin masih bisa di bilang dia masih mencintai Alvian dalam diamnya seperti tahun-tahun lalu.
Dan salah satu alasan kenapa dia sampai sekarang tidak juga menikah, itu karena masih berharap ada kesempatan untuk dia bisa bersama dengan Alvian.
“Aku gak tahu, Div. Tapi setiap malam tetap saja aku sering merindukan dia,” ujar Hera lirih, “padahal dia sudah dua tahun menikah dan bahkan aku dengar udah punya anak. Tapi entah mengapa aku sangat yakin satu hari nanti dia pasti datang dan memintaku untuk bersamanya.”
Diva menggeleng tak percaya. Padahal bukan waktu yang sebentar mereka tidak pernah bertemu lagi. Lebih tepatnya Alvian yang menghindari Hera. Meskipun mereka masih tinggal di kota yang sama, tapi hampir satu tahun ini Hera tak pernah bertemu lagi dengan pujaan hatinya itu
Meskipun begitu Diva juga tak bisa menyalahkan temanya ini. Mungkin bukan cinta, hanya obsesi yang dirasakan temanya ini.
Dan masalah dengan Sella, Diva juga tak menyukai gadis itu. Karena ia sendiri juga melihat bagaimana Tias dan gadis itu menyerang Hera di tempat keramaian. Itulah kenapa dia diam menikmati pembalasan yang dilakukan oleh temannya ini.
“Seharusnya kamu itu mulai belajar melupakan Dia, Her. Gak ada gunanya juga berharap, yang ada kamu di timbun dosa mencintai suami orang.”
“Halah, sok tahu dosa kamu. Kamu pikir mudah apa melupakan perasaan ini. Dari SMA, Diva.” Keluh Hera tak terima. “Dari SMA aku menyimpan rasa padanya, selama kami berteman dia selalu perhatian dan buat aku baper. Kamu pikir mudah buat lupakan dia,”
“Tapi masalahnya dia punya istri dan juga anak, bodoh!” teriak Diva kesal.
Hera menjadi cemberut mendengar makian temanya itu. Benar apa yang dikatakan oleh Diva, dia tidak boleh merusak rumah tangga orang lain.
Tapi masalahnya dia masih penasaran. Perasaannya selalu saja menyurih dia mencoba dan mencoba untuk kembali merebut pria yang sudah bertahun-tahun ada di hatinya itu.
“Bodoh amat! Bagaimana pun aku masih mau coba!”
Ya dia tidak pedulu. Karena hatinya masih penasaran, ia akan tetap berusaha mencuri perhatian Alvian suatu hari nanti.
__ADS_1
.....
Yuk bantu beri sport author dengan komen terbaik kalian😘🤗