Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Pertengkaran yang membawa keuntungan


__ADS_3

Bara menghalangi langkah Sella saat gadis itu ingin menuju dapur. Karena hari ini Arya dibawa oleh Lisa, jadi rumah terasa lebih sunyi dan membuat mereka berdua sedikit bebas jika ingin berbicara.


“Apa?” Sella menatap wajah suaminya. “Mengapa menghalangiku?”


“Saya ingin berbicara.” Tak menunggu jawaban sang istri, Bara langsung menyambar tangan gadis itu dan membawanya kembali masuk ke dalam kamarnya.


“Apa sih, Mas. Gak usah tarik-tarik juga lah,” Sella mengusap pergelangan tangannya yang terasa nyeri. “Memangnya gak bisa di dapur saja apa bicaranya? Aku mau ambil minum,”


“Gak! Kalau bibik dengar bagaimana?”


Sella menarik nafas, lalu mambungnya dengan kesal. Suaminya ini di depan orang lain selalu menjaga Image agar terlihat seperti laki-laki baik. Tapi kenyataan yang sebenarnya di bobrok. Sella sendiri bahkan terkadang berpikir apa Bara ini tidak punya hati dan perasaan?


“Memangnya mau bicara apa?”


Bara terdiam sesaat. Ia seakan berpikir sebelum berkata. Meskipun dia sudah memikirkan ini sedari tadi, tapi tetap saja ia takut Sella tak setuju dengan ucapannya.


“Itu... Saya ingin kamu tidak perlu mengadu pada Mami saya. Apapun yang terjadi di rumah ini dan bagaimanapun hubungan saya bersama... Kamu tidak boleh bilang apa-apa pada Mami!” seakan tak ingin menyebut nama Lisa di depan sang istri, Bara sengaja agar gadis itu tidak kembali marah dan memakinya.


Sella menatap nanar suaminya. Sejauh itu hubungan Bara dengan Lisa, dan dirinya hanya di jadikan tameng untuk melindungi hubungan gelap mereka berdua?


Kecewa?


Itu sudah pasti ia rasakan. Padahal ia berharap suaminya sadar dan meminta maaf pada kesalahannya, tapi apa... Dia malah di minta untuk lebih mengerti lagi.


“Kau lagi-lagi meminta banyak hal pada ku. Mas, apa kamu tidak punya perasaan?” tanya Sella. Sorot mata kecewa tak bisa ia sembunyikan. Tapi Bara tetap saja berpura-pura tak mengerti.


Entah mengapa dari hari ke hari rasa sakit ini semakin terasa saat Bara benar-benar tak menganggapnya. Dia juga ingin dicintai, ingin diperlakukan manis oleh suaminya sendiri. Tapi... Apa salahnya?


“Sella... Dari awal saya sudah menjelaskan ini padamu. Jangan dipersulitkan lagi,”


“Persulit katamu?! Hei, jika kamu lebih senang berbuat zina dari pada halal kenapa kamu terima perjodohan ini?” Sella kembali menggebu-gebu, marah rasanya saat Bara seolah hanya menyudut dirinya saja.


Bara melotot mendengar tuduhan itu. Zina?


Heh dia rasa hubungannya tidak sejauh itu dengan mantan istrinya. Meskipun dia masih sangat mencintai wanita itu, tapi dia juga tak akan mengaulinya di saat tak lagi halal untuknya.


“Jaga bicaramu!” Bara marah, “Tahu apa kamu tentang kami! Ingat batasan kamu. Bagaimana juga Lisa ibu dari anakku, tidak sebanding dengan mu.”


Diam_


Kemarahan itu mungkin akan disesali nanti. Tapi hari ini dia sudah benar-benar membentang kawat berduri untuk hubungannya dengan sang Istri.


Sella merasa tak terima. Tangisnya yang serasa ingin pecah ia tahan sekuat tenaga, tidak.. Dia tidak boleh kalah. Benar kata temanya, dia yang lebih berhak, lalu kenapa dia harus memikirkan perasaan orang lain.

__ADS_1


“Lalu, kamu anggap fungsi aku apa? Kalian ingin menggunakanku sebagai tameng?”


“Kamu mau apa?”


"Hargaibaku sebagai istrimu... Apa kamu bisa?"


Diam_


Bara menatap dalam pada manik mata yang terlihat memerah didepanya, "jika kamu berharap kisah cinta seperti bayangan mu, saya tidak bisa. Kamu bisa meminta apa saja, tapi jangan bilang apapun pada Mami."


Sella tersenyum masam. Ya, pernikahan ini memang di lakukan dengan salah sejak awalnya. Tapi ia tetap tak ingin menjadi pecundang yang di peralatkan oleh mereka, jadi Sella tersenyum licik sembari menatap suaminya.


“Baiklah... Akan aku turuti jika kamu juga akan menuruti semua keinginan aku, mas.”


“Apa maksudmu?”


Lagi-lagi Sella menyeringai. Jika dirinya tidak mendapatkan cinta dari suaminya tak masalah, tapi dia juga tak ingin rugi dalam hubungan ini.


“Beri aku dua kali lipat apa yang kamu berikan pada Mbak lisa?”


Bukankah dia juga berhak mendapatkan materi dari suaminya?


Mantan istri saja suaminya masih memberi dia jatah bulanan, sedangkan dia... Hey, pernikahan ini sudah lebih dari satu bulan tapi Bara belum pernah memberinya uang satu sen pun.


“Kenapa? Kamu kenapa tersenyum seperti itu. Yang aku katakan tidak salah kan, kamu sebagai suamiku tentu saja wajib memberi nafkah pada istri.”


“Termasuk nafkah batin...,”


****


Sella menatap kartu hitam di tangannya. Kartu yang bisa membuat dia membeli apa saja tanpa harus bekerja. Tapi... Entah mengapa ia merasa tak bahagia menerima semua ini.


Apalagi ucapan Bara yang tadi tak bisa ia lupakan. Ah... Bagaimana jika suaminya itu benar-benar menuntut haknya nanti?


“Aku bingung... Sikapnya yang dingin dan berbicara hanya bisa menyakitkan. Aku tidak tahu dia pria seperti apa?”


Sella merebahkan tubuhnya sambil kembali terbayang dengan percakapan dia dengan Bara tadi.


Kecewa, merasa tak di hargai. Meskipun Bara tak menyakitinya dengan fisik, tapi satu bulan tinggal di rumah ini batinya sudah sangat tersiksa.


Setiap pulang kerja ia harus melihat betapa bahagia keluarga kecil suaminya. Sudah sebulan tinggal bersama, bahkan sampai saat ini Bara tak mengizinnya untuk dekat dengan Arya.


Jarak ini jelas telah di bentang sejak dia datang, dia saja yang bodoh masih berharap ada kebahagiaan datang.

__ADS_1


Sella mengusap air matanya yang menetes tanpa ia sadari. Gadis itu tertawa dalam tangisnya. Sakit ini ia tahan sendiri, ia masih harap ada harapan dalam hubungan mereka ini.


Suara ponsel yang bergetar membuat Sella kembali bangkit, ia segera menghapus jejak air matanya. Ia tak ingin ada yang menyadari bertapa hancur dirinya sekarang.


Ahh... Memikirkan ini Sella menjadi ingat pada perkataan Hera tepo hari.


Ya, sekarang dia terlihat sebagai pelakor di kehidupan suaminya sendiri. Katanya mungkin ini karma? Tapi sampai saat ini ia belum mengetahui kebencian apa yang dia buat pada perempuan itu.


Ia segera menyambar ponselnya yang berbunyi nyaring di atas nakas, melihat siapa pemanggil dirinya, ia sedikit terkejut melihat nomor siapa yang tertera..


“Embun?” gumam Sella.


Segera ia mengangkatnya. Tak biasanya sang sahabat meneleponnya seperti ini, dan hal itu cukup membuat dia merasa penasaran.


“Halo...Assalamualaikum,”


“....”


“Apa maksudmu, Em. Kamu dimana sekarang?”


Raut wajah terkejut ketika mendengar ucapan Embun di seberang sana. Ia tak menunggu lagi, setelah mendapat alamat yang di sebutkan oleh wanita itu, ia langsung terburu-buru menyambar tasnya dan langsung berlari pergi keluar.


“Kamu mau kemana lagi?”


Menyadari keberadaan Bara, Sella menghentikan langkahnya.


“Itu... Aku ingin pergi keluar,”


“Semalam ini? Mau kemana kau Sella?!” Bara terlihat kesal. Padahal mereka berdua baru saja berdebat, tapi istrinya kembali ingin pergi.


“Maaf... Mas aku benar-benar harus pergi ke rumah sakit sekarang..,”


“Rumah sakit?” Sella mengangguk, “kalau begitu biar saya yang antar,”


Sella sedikit terkejut mendengar Bara ingin mengantarnya, "Kenapa? Maksudku... Kamu tidak perlu mengantarku, mas."


Alis Bara tertarik, ia memicing curiga. "Kamu tidak berbohongbkan?"


"Berbohong... Tentu saja tidak! Aku benar-benar mau ke rumah sakit,"


"Kalau begitu biar saya yang antar,"


.....

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak


__ADS_2