Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Goresan luka yang tertinggal


__ADS_3

Menit telah berganti jam, siang sudah berubah menjadi petang yang mengialkan warna jingga di langit yang hampir senja.


Masih di tempat yang sama. Tempat di aman kesedihan itu datang dan berlahan serasa menghancurkan dirinya dalam sesaat.


Tak pernah ia pikir hari ini akan ada di dalam hidupnya. Disaat seharusnya dia sibuk memperbaiki hubungan pernikahannya yang baru terjalin, tapi malah berakhir menerima kenyataan jika Mamanya telah berpisah dengan Sang Papa.


Umur sudah hampir kepala lima, apa kah masih mungkin ada gadis muda mau bersama Papanya?


Ia seakan lupa, jika kekuatan uang bisa membaut semua orang buta. Bukannya Papanya cukup kaya, tentu saja lintah-lintah pengisap itu menempel pada ayahnya untuk mencari kenyamanan dan kemewahan.


“Sudah... Kamu jangan seperti ini, Dek. Saat seperti ini kota harus menguatkan Mama, kamu jangan ikutan sedih dan berakhir drop nanti.” Melisa mengusap bahu adiknya dengan sayang.


“Kak, kamu masih belum bisa percaya. Papa...,” ia kembali mengisap pipinya yang kembali mengalir air matanya.


“Tidak hanya sekarang, Dek. Ini mungkin sudah sejak lama... Mamanya saja yang terlalu menutup mata dan membiarkan semuanya terjadi dan menjadi berlarut seperti ini,” ujar Melisa sendu.


Dari lama dia bahkan juga curiga dengan sikap Papanya. Meskipun Sella tak menyadari dan tetap mempercayai David dengan sepenuh hati, tapi Melisa tidak.


“Maksud kak Melisa apa? Apa papa dari lama sudah...,”Sella merasa berat mengucapkannya. Hati kecilnya masih bertentangan dengan kebenaran ini.


“Iya... Bahkan Papa juga sudah punya putri di sana bersama wanita itu,”


“Apa?!”


Terlalu mengejutkan. Ia menatap kakaknya hingga tak berkedip.


“Jangan bercanda lagi,”


“Itu benar, Dek. Bahkan sebelumnya aku pernah bertemu dengan mereka... Anak itu sudah 5 tahun umurnya.”


Deg....


Lagi-lagi dai di berikan informasi baru yang membuat dirinya syok. Sella berbalik menatap kedua kakak laki-lakinya, tapi mereka malah membuang wajah.


Itu berarti mereka sudah tahu sejak lama?


Hatinya sakit mendengarkan cinta pertamanya telah pergi meninggalkan sang mama demi wanita dan anaknya yang lain.


“Aku pergi tempat mama dulu,” ia segera bangkit. Meninggalkan kakak-kakaknya di ruang keluarga.

__ADS_1


Sebelum ia masuk ke dalam Kamar orang tuanya, Sella berusaha menenangkan diri agar tak semakin membuat wanita kesayangannya itu semakin sedih.


Ketika dirinya sudah lebih tenang, Sella segera membuka pintu dengan berusaha melihatkan wajah datarnya. Bukan tangisan mengila seperti tadi pagi dia perlihatkan pada keluarganya.


“Mama..,”


Hening.


Ia tahu ibunya yang sedang di atas kasur itu hannyalah pura-pura tidur saja. Dia bisa melihat tubuh wanita yang telah melahirkannya itu bergetar menahan tangis.


Memangnya istri mana yang tidak sedih jika di selingkuhi oleh suaminya sendiri. Apalagi mamanya begitu mencintai papanya selama ini. Hubungan yang terjalin 30 tahun lebih kandas dalam sesaat hanya karena cinta suaminya telah terbagi pada wanita lain.


“Aku tahu mama belum tidur... Maaf Sella ya, Ma. Sudah tidak percaya sama mama tadi,” ujarnya merasa bersalah.


Bahkan tadi dia membentak ibunya yang tengah bersedih. Sebenarnya di bandingkan kesedihan dia sebagai anak, tidak ada apa-apanya dengan apa yang sedang Mamanya rasakan.


Di saat suami berkhianat maka istrilah yang paling hancur dan terluka. Air matanya kembali menggenang dan belahan menetes membuat suara isak kecil terdengar di bibirnya.


Melihat Mamanya berusaha membuka matanya lagi, Sella sedikit bernafas lega. Ia berharap ibunya tak semakin terluka karena sikapnya tadi.


“Mama...,” lirihnya berusaha memeluk tubuh ibunya yang masih berbaring.


****


Rasanya masih sangat menyesak kan untuk kembali di ingat. Meskipun ia sebenarnya tak tega meninggalkan sang Mama di rumah sendirian, tapi mau bagaimana lagi. Ia juga tidak mungkin menginap di rumah orang tuanya di saat ia belum izin pada sang suami.


Jadi karena itulah, meskipun ia lelah lahir dan batin, tapi ia tetap pulang ke rumah Bara. Meskipun dengan keadaan mata yang bengkak, dan wajah yang kacau. Dia benar-benar tidak peduli dengan penampilannya lagi.


Sella melangkahkan kajinya masuk ke dalam rumah saat jam sudah menunjukkan pukul delapan malam.


“Sudah pulang?”


Gadis itu terkejut saat di kagetkan dengan suara sang suami yang menggelegar. Sella melotot tak percaya melihat Bara berdiri dengan santainya dengan melipat tangan di dada sembari memberi tatapan tajam pada Ia.


Tiba-tiba Sella menjadi gugup sendiri. Ia merasa seperti istri yang tengah di tung suaminya karena berbuat salah. Dan sang suami saat ini sedang ingin menghukumnya.


Memikirkan itu tiba-tiba Sella membuang nafas kesal.


‘Entah ada apa dengan otak ku sekarang!’

__ADS_1


“Aku pergi ke rumah Mama... Apa bibi Neti sudah menyampaikan pesanku?” Sella bertanya dengan santai.


Bara menjawab dengan dengusan kesal, “pergi pagi dan pulang malam. Kamu pikir rumah saya ini apa?”


Lagi-lagi Ia di buat terkejut dengan respons Bara. Seharusnya kenapa dia marah?


“Kamu marah?”


Pertanyaan itu semakin membuat Bara yang berdiri semakin kesal. Ia sudah berencana hari ini akan membawa istri dan anaknya untuk keluar jalan-jalan hari libur ini.


Perkataan Sella tadi malam tentang dia dan Lisa memang sedikit menyentil Ego dirinya. Hanya saja ia mencoba menampik, menganggap hal itu biasa saja, dan mungkin semua laki-laki yang pernah bercerai juga sepertinya.


Tapi saat dia pulang dai Joging dan tidak menemukan sang istri, mendadak mood nya menjadi buruk. Apalagi ia tahu jika Sella pergi ke rumah mertuanya tanpa mengajak dirinya, lagi-lagi Bara semakin kesal dibuatnya.


“Masih tanya kamu?!” balas Bara, “kenapa telepon saya gak kamu angkat?”


“Ehh, kamu telepon saya, Mas? Tumben,” Sella segera mencari ponselnya yang seharian ini ia abaikan. Lagi pula bagaimana mungkin dalam situasi seperti tadi ia masih sempat bermain Ponsel. “Maaf, aku benar-benar tidak tahu.”


Sebenarnya Bara ingin kembali mengeluarkan kekesalannya. Hanya saja ada hal yang menarik perhatiannya.


“Mata kamu... Kenapa bengkak?”


Diam...


Sella terlihat engan menjawab pertanyaan itu. Hanya tersenyum kecil lalu ia berlari masuk ke dalam kamarnya.


Ia pikir setwlah melarikan diri dan bersemayam di dalam kamar sampai pagi, dirinya akan terbebas dari pertanyaan orang rumah. Nyatanya itu salah besar.


Bara yang dia pikir cuek dan tidak peduli pada dirinya, ternyata itu salah besar. Pria itu bahkan tak berhenti sedari tadi menhetuk pintu kamarnya dan bertanya ini dan itu untuk memintanya keluar.


Tapi sella tetap berusaha mengabaikanya. Ia belum siap menceritakan aib Mama dan Papamnya pada orang lain.


Ya... Sampai saat ini di dalam hatinya Bara masih seperti orang lain.


"Sellaa..." panggil bara lagi, "kamu gak mau makan malah? Ayo cepat keluar!"


Sella yang masih di dalam kamar hanya bisa memutar matanya malas. Niat hati ingin bersedih di dalam kamar, tapi kini malah berakhir dengan rasa kesal karena di ganggu suaminya.


'Menyebalkan!'

__ADS_1


__ADS_2