
Sella tidak peduli dengan perbincangan dua orang tua itu. Ia yang sudah marah melihat sang kakak bersama wanita lain, rasanya dia teramat jengkel.
“Bang... Kamu selingkuh?!”
Mereka berempat terkejut mendengar pertanyaan Sella yang sarkas. Hera mendelik kesal, untuk saja Sella berbicara tidak terlalu keras, jika tidak bisa-bisa mereka akan menjadi pusat perhatian.
“Kamu!” Hera ingin maju dan menampar Sella, tapi langsung di hentikan oleh Alvian.
“Dek, kamu jangan berpikir seperti itu. Abang gak ada hubungan apapun sama dia,” ujar Alvian menjelaskan.
Hera yang mendengar ujaran sang pujaan hati menahan malu dengan wajah memerah. Padahal dia sudah dengan bangga membawa Alvian ke pesta ini untuk di perkenalkan sebagai pasangannya.
‘Dasar wanita pembawa masalah!’
Hera merasa geram. Apalagi meligat sang Mama yang terlihat mulai tak suka, dia lekas-lekas berucap membela diri.
“Kamu gak usah ikut campur urusan saya, Sella! Siapa kamu hah?! Gak cukup kamu saya buat dipecat di perusahaan?”
Mungkin ucapan itu akan ia sesali sebentar lagi. Tapi selain itu ia cukup puas melihat wajah terkejut Sella, Hera merasa bangga bisa menyingkirkan perempuan yang di bencinya.
Mungkin Hera tahu jika Sella adalah menantu dari keluarga Kaya setara mami Rena. Tapi dia tak takut, karena dia tahu kekayaan mereka bahkan setara dan tak mudah di tindas begitu saja.
Tapi senyum kemenangannya itu tidak bertahan lam, karena setelahnya Alvian melepas genggaman tangannya dengan mendorong kasar.
“Jangan ucapan mu, Hera!” bentak Alvian,
“Kamu kok malah bela dia sih. Meskipun kamu kenal dia, tapi dia sudah menghina kita.” Hera tercengang. Dia menatap Alvian dengan wajah kecewa, tidak bisakah pria ini membela dirinya sekali saja agar dia bisa merasa bangga.
Mami Rena yang melihat perseteruan anak muda hanya bisa mengurut dada. Melihat menantunya di tunjuk-tunjuk ia ikut merasa tak senang, karena itu ia langsung angkat bicara.
“Tentu saja dia bela Sella, Nak Hera. Kan Alvian ini kakak kandungnya menantu Mami,”
Pyar
Nyaris saja Hera terhuyung, untung saja Mila lekas memegang bahu sang putri. Tak ingin di buat malu di acara orang lain, Rena dengan lembut memberi pengertian pada sang menantu dan juga Alvian agar menyelesaikan masalah di luar saja.
“Hera... Sebaiknya kamu di ini saja sama Mama.” Mila menggenggam erat tangan sang putri, “biar Alvian sama menantu rena saja yang keluar.”
“Tapi, Mama. Aku mau bicara sama Alvian, aku...,”
“Gak Hera! Jangan buat Mama malu.” Mila kesal sendiri dengan sikap putrinya yang bebal. Sangat susah jika di kasih nasehat, dan lihat ini hampir saja membuat kehilangan muka di hadapan teman-temanya. Untung saja acara belum di mulai.
....
__ADS_1
Sella menatap kakaknya dengan wajah masih memerah menahan kesal. Melihat kakaknya yang tadi terlihat gugup saat kepergok, pikiran buruk Ia susah menebak-nebak yang tidak-tidak.
“Jadi... Bang Alvian turuni sifat Papa?” ujar Sella sarkas. “wajar sih, kan Abang anak kesayangan Papa, pantas saja dulu menolak aku masuk ke perusahaan. Ternyata kalian menyimpan banyak rahasia ya,”
“Apa yang kamu pikirkan. Abang sama dia Cuma teman. Gak ada yang lebih dari itu!”
“Gak lebih tapi sampai saling rangkul dan saling genggaman tangan. Gimana ya kira-kira perasaan kak Tias tahu,”
Ucapan Sella berhasil membuat Alvian memucat. Dia tidak mungkin mau istrinya marah dan mungkin akan pergi darinya, Alvian tidak akan mau itu.
“Kamu jangan gitu, Dek. Percaya sama Abang, gak ada apa-apa sama dia. Dia Cuma minta di temani ke acara ini tadi, makanya akubbantu.”
“Sebagai pasangan?!”
Deg
Alvian terdiam. Dia merasa tak mampu lagi menjawab sang adik.
“Aku mau lihat bagaimana jika aku juga menyuruh kakak ipar pergi dengan pria lain ke pesta dengan mengakui sebagai pasangan. Kira-kira abang akan bagaimana?” Sella tersenyum sinis.
“SELLA!”
“Jangan berteriak sama aku, Bang!” Sella membalas tak kalah kencang, “Jika sampai Abang juga berkhianat seperti Papa, jangan salahkan aku jika akan membenci kalian semua seumur hidup ku!”
Kesabaran itu hilang menyeruak entah kemana. Tak ada rasa hormat pada kakaknya lagi, Sella yang kesal memukul meja di depanya dengan keras.
Sella menatap Alvian dengan mata berkaca-kaca. Ucapan kecewa itu tidak ahadnya keluar karena perbuatan kakak dan papanya. Tapi lebih dari itu sebenarnya ucapan itu ia tunjukan juga pada dirinya yang malang mendapatkan suami yang tidak bisa menerimanya.
“Sella, kamu..,”
Sella segera memotong ucapan Alvian, “Gak usah jelaskan lagi. Aku pergi dulu ke Mami Rena...”
Sella langsung pergi meninggalkan Sang kakak yang terlihat ingin kembali berucap. Tapi dia tak peduli, dia juga takut karena ucapannya tadi Alvian akan bertanya yang macam-macam.
Padahal tadi kan dia refleks mencurahkan isi hatinya tanpa sadar karena terlalu terbawa perasaan.
Tanpa terasa air matanya menetes tanpa dapat di cegah. Tak ingin teman-teman mertuanya nanti bertanya, buru-buru ia menghapuskan air matanya.
‘mungkin ini karma untukku karena kelakuan Papa dan kakakku yang tak setia’
****
“Wah, kalian masih saja suka dengan makanan ini, ya. Padahal Bunda pikir selera kalian sudah berubah,” Lisa tersenyum senang melihat sang anak dan dia masih bisa berkumpul dengan Bara.
__ADS_1
Dalam hatinya ada penyesalan. Andai dulu dia tidak egois, tidak gila dengan kebebasan yang dia banggakan, mungkin sekarang mereka bertiga masih menjadi keluarga kecil yang bahagia.
“Dan kamu juga masih suka makan sedikit, Sa. Kenapa? Masih pikir berat badan?” tanya Bara balik.
Dia sangat kenal Lisa yang sangat suka diet. Katanya takut gendut dan membuat tubuhnya tidak menarik lagi. Nyatanya dulu Bara malah lebih suka saat istrinya lebih berisi.
“Astagfirullah!”
Bara mulai beristigfar, pikirannya mulai tidak menerawang ke masa lalu dan itu menakutkan bagi Bara jika dia lepas kendali.
“Ternyata kamu masih ingat semua tentang aku ya, Mas.”
Kegiatan Bara yang sedang membuka kulit kepiting terhenti seketika mendengar ucapan Lisa. Senyum tipis tersemat di bibirnya, “Ya, ingat semuanya. Aku juga ingat bagaimana kau dulu begitu tergila-gila ingin bebas dariku.”
Kali ini Lisa yang terdiam kaku. Dia menatap mata Bara yang juga menatapnya, di dalam sana jelas sekali masih banyak rasa kecewa yang dipancarkan. Lisa bisa merasakan itu.
“Maaf,” suara lisa mencicit, tapi masih mampu di dengar oleh Bara.
“Mmm, gak ada gunanya lagi mengenang masa lalu. Lagi pula aku juga bukan pria yang sendi lagi,”
Tanpa sadar Lisa meremas dadanya yang terasa nyeri. Dia memang merasa cemburu jika mengingat mantan Suaminya itu sudah menikah dengan wanita lain. Mana lebih muda darinya lagi.
Diam- diam bahkan dia sering berandai-andai. Jika ini dan jika itu, tapi pada akhirnya dia tetap saja disadarkan dengan kenyataan. Kenyataan jika Bara sudah memilih orang lain.
“Aku berterima kasih kamu masih memberi aku kesempatan berada di sini dan ikut menemani Arya. Dan maaf, Mas. Aku akui aku menyesal...,”
Bara tak menjawab lagi. Mereka kembali sibuk dengan makanan masing-masing.
Apalagi Arya, dia yang belum terlalu mengerti dengan masalah orang dewasa hanya diam saja mendengar Ayah dan Bundanya berdebat. Tapi dia bisa sedikit menebak alur kehidupan orang tuanya.
‘ternyata Bunda yang pergi ningalin Ayah’
***
“Kok lama, Sel. Bagaimana?” Mami Rena bertanya dengan lembut pada sang menantu.
“Gak ada apa-apa, Mi. Lagi pula abang aku kan sudah punya anak bini, di Cuma anggap Hera seperti teman biasa.”
Memang itu yang di katakan kakaknya tadi. Dia yang tidak bisa berkata apa-apa lagi hanya memilih percaya saja.
Tatapan Ia beralih pada Hera yang terlihat juga menatapnya. Jika biasanya dengan tatapan tajam, tapi kali ini Sella merasa lain.
Sella hanya tersenyum kecil. Dari awal dia bisa menebak jika dia di keluarkan dari perusahaan itu karena ulah Hera. Dan mengetahui hari ini dia bukanya marah pada perempuan itu tapi malah pada sang Kakak. Kenapa?
__ADS_1
Tentu saja karena dia kecewa, bagaimana bisa Alvian berteman dengan wanita rubah itu. Jika dia tahu dari awal sudah dari lama dia mengadu dan melarang kakaknya itu berhubungan dengan Hera.
‘Bisa-bisanya dia berteman dengan kakakku tapi malah menghancur kehidupan adiknya!’