
Pov Bara
Sudah sejak lama aku berpikir untuk kembali membawa wanita yang aku cintai kembali dalam pelukanku. Tepanya saat aku mengetahui dia sudah kembali Sang Mami malah mengajukan pernikahan dengan gadis lain.
Aku tahu Mami tidak mungkin bisa menerima kembali Lisa yang tega memaksa pisah dariku dulu. Wanita itu dulu dengan keras hati pergi dengan alasan tak bisa bertahan denganku yang posesif dan suka melakukan kekerasan jika sedang cemburu. Dengan Lisa aku pernah menamparnya sekali dan itu menjadi titik akhir dari biduk rumah tangga kami.
Aku sangat menyesal saat itu.
Saat kehilangan Lisa, aku merasakan ada sesuatu yang hilang dalam diriku dan itu membuat aku drop cukup lama. Malas melakukan apapun bahkan untuk makan, akhirnya aku sakit dan sampai di rawat di rumah sakit satu minggu lamanya.
Itulah mengapa Mami membenci sangat Lisa. Meskipun Mami sudah melarang, tapi meskipun berpisah aku masih mencari tahu segala yang di lakukan oleh mantan istriku itu. Itulah mengapa aku tidak pernah bisa move on pada wanita lembut itu.
Kata mami sikap ku ini mirip dengan Papi dulu, meskipun begitu kami laki-laki dari keluarga Prayoga sangat menyayangi istri-istri mereka.
Kedatangan Sella yang awalnya sudah tidak aku senangi siapa sangka aku malah terjebak. Perasaan sayang dan kasih mulai muncul setelah lima bulan pernikahan kami dijalani.
Tapi siapa sangka masalah baru akan datang. Kabar jika Lisa menderita penyakit yang cukup serius membuat aku kembali tak bisa berpaling. Apalagi sikap anak kami yang semakin hari semakin mendesaku untuk kembali bersama.
Di bawah tekanan yang membuat aku stres, tiba-tiba si Wil asistenku malah memberi saran yang membuat aku punya setitik harapan. Katanya aku bisa memiliki keduanya jika bisa berlaku adil.
Bukankah itu mudah?
Aku kaya, aku yakin pasti bisa menghidupkan keduanya tanpa kekurangan apapun. Sifat serakahku semakin menjadi saat hari terakhir Lisa di rumah sakit gadis itu terang-terangkan kembali meminta padaku kembali di beri kesempatan.
Hingga aku putuskan untuk mengambil keputusan yang cukup menakutkan itu. Aku mulai meminta Wil mulai menyusun keperluan untuk pernikahanku dan lisa kembali, meskipun secara sirih nantinya.
Tapi siapa sangka Mami mengetahui begitu cepat. Barus juga di rencanakan dan dia sudah lebih dulu tahu.
****
“Mi,” aku tetap berusaha membujuk wanita kesayanganku itu. Tapi sekalipun tak mendapat jawaban. “Ayolah, Bara akan jelaskan semuanya.”
“Jelaskan apa. Gak usah peduli sama Mami, pergi saja sama wanita yang kamu cintai itu!”
Aku menggelengkan kepala melihat keras kepalanya Mami, jika berdebat memang sangat susah dengannya. Apalagi dalam mode marah seperti ini, dia lebih keras kepala dari aku.
__ADS_1
“Baiklah, aku pergi Mi.”
Karena hari sudah cukup sore, jadi Bara memutuskan untuk pulang saja ke rumahnya.
Di perjalanan tak sengaja melihat bayangan seseorang aku kenal. Semakin terkejut melihat istriku juga berada bersama pria itu.
“Sial! Apa mereka berselingkuh di belakangku!”
Merasa marah dengan apa yang ku lihat, ingin segera turun dan menghampiri mereka. Tapi saat ingat sedang di tengah jalan yang macet, ia tak bisa meninggalkan mobilnya begitu saja.
“Sial!”
Padahal jika ia lebih teliti ia akan melohat ada satu lagi wanita di sana yang tertutup. Mungkin karena Kafe itu ramai jadi Bara hanya fokus pada dua orang itu saja.
*****
POV AUTHOR
SELLA yang sedang menunggu pesanan datang memilih diam saja meskipun beberapa kali Embun dan juga Kaif mencoba mengajaknya ikut ngobrol. Sebenarnya ia hanya ingin bertemu dengan Embun, tapi siapa sangka di kafe ini ia juga akan bersua dengan Kaif.
“Dia, siapa?” Kaif yang tidak mengerti mengerut keningnya. “Kamu ada masalah sama siapa, Sel?”
Embun yang merasa bersalah karena bicara sembarangan, ia hanya bisa menyengir pada Sella yang mendelik kesal.
“Gak ada kok, kamu gak akan mengerti.”
“Loh, kok gitu. Apa ini tentang suami kamu?”
Sella terdiam sejenak, tak mungkin ia mengumbar urusan rumah tangganya. Jadi terpaksa Sella menggeleng.
“Dalam hidup pasti ada masalah. Oh ya, kamu kapan balik ke pasir pengaryaan? Enggak mengajar lagi di pondok?” Ia segera mungkin mengubah topik pembicaraan agar Kaif tak semakin curiga.
“Minggu depan. Aku hanya dapat cuti dua kali dalam sebulan. Mungkin gak bisa sering lagi ke sini, paling waktu anak-anak libur.” Ujar Kaif menjelaskan, “lalu bagaimana dengan mu?”
“Oh, aku?”
__ADS_1
“Ya. Bagaimana pekerjaanmu. Masih betah di perusahaan itu?”
Sella yang di tanya seperti itu hanya meringis pelan. Sepertinya dia lupa menceritakan kalau dia sudah tak bekerja lagi.
“Aku sudah tak lagi bekerja, kalau kamu mau tahu.”
“Loh, kenapa?”
Ditanyakan seperti itu semakin membuat Sella tak nyaman. Embun yang melihatnya buru-buru kembali mengubah topik pembicaraan dan mengajak Kaif mengobrol tentang suasana di tempat pria itu tinggal sekarang.
Sella mengucapkan terima kasih tanpa suara, yang dibalas dengan senyum lembut janda muda itu.
Pada akhirnya Sella tak bisa curhat apapun pada sang sahabat. Karena keberadaan Kaif di sana, mereka tak mungkin membuka aib di depan kaif yang begitu mudah terpancing.
Setelah pukul delapan malam mereka memilih pulang, di parkiran Sella langsung menahan tangan Embun untuk berbicara.
"Sepertinya aku tak bisa bercerita banyak padamu kali ini." Sella cemberut. "Padahal aku sedang sedih dan galau ingin curhat, tapi siapa sangka malah bertemu Kaif."
"Ada lain waktu, Sel. Bagaimana kalau kita ngobrol nya di ponsel saja?”
Sella yang sudah melihat kepergian Kaif langsung berucap, “Tidak usah. Aku sebenarnya juga ingin minta kamu temani aku besok pagi. Apa bisa?”
“Kemana?”
"Rahasia,"
"Loh. Kamu gimana sih, kan aku jadi binggung." Kini balik embun yang kesal, "ayo jelaskan sedikit, kita ngapain besok."
"Melakukan misi rahasia."
"Rahasia?"
Sella hanya tersenyum dan setelahnya tak menjelaskan apapun lagi. Dia sudah merencanakan ini untuk memberi seseorang pelajaran. Rasa sakit ini rasanya Sella ingin membalasnya sedikit saja biar hatinya terasa puas.
***
__ADS_1