
Sella menatap sendu Mama nya yang terlihat murung sejak pulang di restoran tadi. Niat hati ingin mengilang stres dengan pergi berbelanja, tapi malah berakhir seperti sekarang ini.
Kedatangan papanya yang tidak disangka-sangka membuat kesedihan wanita yang dicintainya itu semakin menjadi.
Apalagi tadi Sella juga sempat melihat sang Papa bersama keluarga barunya, Dia benar-benar merasa benci dan marah pada ayah kandungnya itu.
“Ma... Lupakan, Ma. Kita sudah berjanji baut melupakan semuanya hari ini,” ujar Sella. Ia merasa iba melihat sang ibu kembali murung.
Melisa yang lebih dewasa hanya memilih diam saja. “kamu biarkan saja, Sel. Mama gak mungkin bisa melupakannya begitu saja, lebih baik biarkan mama menenangkan diri dulu.”
Sella menatap sang kakak di depanya yang sibuk dengan kemudinya. Sella mendengus, kakaknya ini tidak mengertikah jika dia khawatir dengan keadaan sang Mama.
“Kak aku turun di Cafe depan saja ya, aku mau mampir dulu.” Ujar Sella memberi tahu.
“Mau apa kamu di sana? Bukanya kita baru juga sudah makan,”
“Mau ketemu teman, kak. Sudahlah... Jangan banyak tanya.” Sella menatap sang Mama, “Ma, Gak apa-apa kan kalu aku gak mampir ke rumah?”
“Gak papa kok, Sel. Kamu mau langsung pulang ke rumah suami kamu nanti?”
“Iya, Ma.” Angguk Sella.
“Hari ini kamu libur kerja lagi ya, Sel? Kok hari rabu begini gak Kerja.” Melisa membelokkan kemudinya memasuki sebuah Cafe yang terlihat sangat nyaman untuk nongkrong.
“Iya, ada sedikit masalah di kantor yang membuat aku malas bekerja akhir-akhir ini. Jika sudah tak nyaman mungkin nanti aku akan mencari kerja baru,” ujar Sella santai.
Semenjak gosip yang membuat dia menjadi bahan gunjingan, Sella memang kerap kali mengambil cuti. Bukan karena dia ingin menghindari dan melupakan tanggung jawab, tapi masalahnya Ia merasa setiap hari Hera dan juga beberapa teman perempuan itu kerap kali menyulitkannya dalam bekerja.
Sella tidak tahu berapa berpengaruh Hera dam perusahaan itu. Tapi satu hal yang dia rasakan sekarang, dia sudah tidak nyaman lagi bekerja di sana!
“Kalau begitu bagaimana kalau kamu kerja di perusahaan Papa saja? Kan sekarang Bang Alvian yang jadi bosnya,”
“Ogah! Mending aku jadi pengangguran, Kak.” Tolak Sella cepat. “dulu aja aku gak mau kerja di sana, apalagi sekarang.”
Jika bukan karena Mamanya masih berada satu mobil dengan mereka, mungkin sekarang Sella sudah mengeluarkan ucapan kasarnya.
****
Setelah memesan beberapa kue untuk camilannya dan segelas jus Mangga. Sella menunggu dengan sabar seseorang yang berjanji sebentar lagi akan datang.
“Sella!” Embun datang dengan menggandeng seorang anak kecil. Sella tahu itu anak dari temanya itu, karena itu dia tak lagi terkejut. “Kamu sudah lama nunggu?”
__ADS_1
“Gak juga. Baru juga pesan makanan sama minuman,” ujar Sella. Gadis itu tersenyum pada bocah kecil di pangkuan Embun yang terlihat malu-malu.
“Anak kamu makin besar ya, Em.”
“Tentu saja, sebentar lagi sudah tiga tahun. Bagaimana dengan kamu?”
Sella mengernyit heran. Setahunya di banyak teman-temanya mungkin sedikit yang baru tahu jika dia telah menikah. Salah satunya Embun, dia sengaja tidak memberi tahu wanita itu tentang pernikahannya.
“Aku?”
“Ya... Jangan pikir aku tidak tahu, Sel. Aku pernah tanya sama Kaif apa ya g terjadi. Dia bilang kamu sudah putus sama dia dan menikah dengan laki-laki pilihan Papa kamu.”
Sella tersenyum malu. Akhirnya tentang pernikahan dia tersebar juga di antara teman-temanya.
“Ngomong-ngomong tentang Kaif... Sepetinya dia semakin taat saja ya, sejak berpisah sama kamu.” Ujar Embun lagi.
“Maksud kamu? sejak aku mengakhiri hubungan kami benar-benar putus kontak.” Ya, demi memikirkan perasan suaminya kala itu dia langsung mengakhiri hubungan dengan sang kekasih, dan memilih menjadi istri yang benar.
Siapa yang sangka ternyata pengorbanannya sia-sia. Pria yang ingin dia perjuangkan eh... malah belum bisa move in dari mantan istrinya.
Menyesal dia tuh jadinya!
Sella jadi cengo. Dia tidak menyangka apa yang di ucapkan Embun itu. Meskipun tahu Kaif itu pria yang taat agama, tapi dia tak berpikir sampai kadi ustaz juga?
“Serius kamu?” tanya Sella masih setengah percaya.
“Iya lah. Kalau kamu ketemu dia lagi mungkin kamu akan menyesal. Soalnya sekarang dia tambah ganteng... Apalagi tuh karismanya semakin terlihat saat dia menjadi ustaz yang memiliki banyak penggemar di tempanya bekerja.”
Sella meringis membayangkan bagaimana wajah tampan mantanya itu di kerubungi oleh para santriwati.
Kok ada rasa gak rela ya?
“Biarkan saja lah... Alhamdulillah dia menjadi lebih baik.”
Embun mencibir. “Bilang saja kamu menyesal,” ledek embun. “lagian aku dengar suami kamu sudah tua ya dari kamu, kok mau sih?”
Tatapan sengit sang teman membuat Embun meringis. “Omongan kamu, Em. Biar tua-tua dia tetap suami aku tuh sekarang. Jangan ungkit masa lalu deh,”
“iya-iya, Maaf.”
Sella kembali menatap anak Embun yang terlihat kurang nyaman. Mungkin gadis kecil itu kurang suka tempat ini, karena itu dia mulai merenggek membuat sang teman sedikit kewalahan.
__ADS_1
“Sepertinya anakmu gak nyaman,”
“Iya... Dia kurang suka tempat seperti ini, Sel.” Ujar Embun menjelaskan, “anak ku ini dari kecil sudah suka di tempat yang sunyi dan sedikit orang. Dia kurang suka keramaian.”
Sella memanguk mengerti, “kalau begitu kamu bawa dia pulang aja. Lagi pula udah gak ada lagi nih yang mau kita cerita.” Meskipun masih ingin mengobrol, tapi Sella juga tak tega pada gadis kecil itu.
“Maaf ya Sel, padahal kita baru juga ketemu.” Embun memasang wajah sedih.
“Gak apa-apa kok, lain kali kita masih punya waktu.”
Setelah membayar pesanan mereka, akhirnya mereka kembali berpisah. Karena sama-sana tak membawa mobil, jadi memilih menaiki taksi yang berbeda.
Kali ini Sella tak ada singgah-singgah lagi, dia memilih langsung pulang ke rumah sang suami. Tak ingin pulang malam lagi dan berakhir dengan bertengkar sama Bara, kali ini Sella memilih pulang saat jam masih menunjuk pukul 4 sore.
....
Tapi sesat dia sampai di rumah, Sella menyesali keputusannya itu. Harusnya dia tidak pulang saja tadi!
“Wah, sepertinya keluarga kecil sedang berkumpul.” Ucapan Sella yang tiba-tiba datang membuat tiga manusia berbeda jenis kelamin itu tersentak kaget.
“Sella...,”
“Kemarin mempertanyakan aku ini istri macam apa pulang telat, saat pulang cepat malah di sambut begini.” Sella tersenyum sinis.
Dia menatap Bara dan Lisa yang duduk begitu berdekatan, dan terlihat Arya yang sepertinya sibuk dengan buku-buku sekolahnya di lantai.
Ahh... Kenapa hatinya terasa nyeri lagi sih. Apa dia benar-benar sudah mulai menyukai suami laknatnya ini?
“Sella.. Kamu jangan salah paham. Saya sama mas bara....,”
“Gak perlu di jelaskan Mbak. Aku mengerti,” lagi-lagi ia mencoba memperlihatkan wajah baik-baiknya saja.
Dia tidak ingin terlihat lemah. Jika begini keinginan suminya, sepertinya dia juga harus berubah licik.
Lihat saja... Suatu hari ia kan membalas dua manusia ini,
Meskipun hatinya terluka, tapi dia haeus sadar diri kan. Bagaimanapun salah dirinya yang menerima pria yang belum bisa Move on.
Tidak tahu dengan nanti, tapi sekarang yangvjelas ia akan tetap mempeetahankan pernikahan ini meskipun terasa hambar dan tanpa cinta.
Ahhh... Semoga saja dia mampu bertahan lebih jauh lagi!
__ADS_1