
Sella berlari di sepanjang lorong rumah sakit menari ruang rawat yang telah disebutkan oleh Embun tadi.
“Sudah ketemu!” tanpa sadar Sella menarik tangan Bara menuju ruangan yang telah ia temui.
“Hey! Pelan-pelan Sella,” Bara berusa menegur sang istri, tapi memang dasarnya sudah terlalu panik, Sella tak mendengar panggilan Bara sedikit pun.
“Embun!” ia berteriak memanggil Embun yang terlihat sedang duduk di kursi tunggu rumah sakit. “Dimana bang Vanka?”
“Di dalam. Dokter sedang memeriksa Abangmu,”
Sella yang masih mengatur nafasnya di buat tertegun dengan baju sang teman yang berlumuran darah. Apa luka kakaknya separah itu?
“Ini... Darah. Em, apa kakakku terluka parah?” Sella menyentuh jejak darah itu dengan tangannya yang bergetar, “apa ini darah Bang Vanka?”
“Sel, kamu tenang dulu ya. Kakak kamu gak apa-apa kok, dia pasti baik-baik saja.”
Tenang?
Tidak, Sella tidak bisa tenang sesikitpun. Dia mengingat sesuatu, “Em... Apa kamu menghubungi Mama aku tadi?” tanya Sella dengan cemas.
“Tidak,” Embun menggeleng, “aku kan tidak tahu nomor Mama kamu yang sekarang. Memangnya kenapa?”
“Tidak ada. Syukur jika kamu belum menghubungi Mama aku,”
Sella tidak ingin ibunya semakin tertekan dengan hal-hal yang terjadi di sekelilingnya. Cukup tadi siang saja dia melihat bertapa hancur hati ibunya, dia tak ingin wanita itu bersedih lagi.
Embun menatap penasaran pada sang teman. Meskipun dia ingin bertanya, tapi ia takut terlalu kepo dan membuat temanya nanti tak nyaman.
Pandangan Embun beralih pada pria yang sedari tadi berdiri di belakang tubuh Sella. Pertama kali dia melihat suami temanya ini, ia cukup terkejut. Benar kata Kaif... Pria ini terlihat cukup berumur jika di sandingkan dengan Sella yang terlihat masih seperti remaja.
Tubuh Bara yang masih kurus dan dengan kulitnya yang sedikit gelap entah mengapa dia merasa... Sudahlah dia malas menilai penampilan suami orang.
“Oh... Maaf, aku lupa mengenali kamu. Dia Mas Bara,” ujar Sella saat dia tersadar.
“Dia suamimu?”
Alis Sella tertarik, “Ya,” jawab Sella bergumam.
Embun tersenyum kecil pada Bara, tanpa menyapa pria itu terlebih dahulu, Embun langsung mengalihkan pandangannya. Entah mengapa tatapan Bara yang dingin dan suram membuat dia merasa malas memandang pria itu.
Setelah menunggu beberapa menit akhirnya pintu ruang rawat terbuka. Dokter keluar dengan senyum ramahnya menyapa keluarga pasien yang telah datang.
Setelah menjelaskan secara singkat bagaimana keadaan pasien yang tidak terlalu terluka parah, dokter itu pamit pergi dan membiarkan mereka menjenguk pasien.
“Kalian cukup jangan terlalu heboh dan biar pasien beristirahat dengan baik, itu saja. Untuk luka sudah tidak ada masalah. Kalau begitu kami permisi,”
__ADS_1
“Terima kasih, dok.”
Sella bisa menarik nafas lega. Setidaknya sekarang ia tahu kakaknya tidak luka terlalu parah, jadi dia bisa melepaskan rasa paniknya.
“Kalau begitu aku masuk ke dalam sebentar ya, Em.” Ucap Sella.
....
Dua hari di rawat di rumah sakit akhirnya Vanka telah di bolehkan untuk pulang. Sella yang menjaganya akhirnya bisa bernafas lega.
Karena Vanka yang tidak mau keluarga tahu jika dia terluka jatuh dari motor, karena itu selama dirawat ia hanya mengandalkan Sella yang mengurusinya.
“Bang Vanka mau pulang ke rumah mama atau ke Apartemen?” tanya Sella di sembari sibuk mengemas semua barang-barang yang akan kembali mereka bawa pulang.
“Ke Apartemen saja. Aku sedang malas bertemu dengan Mama,” ujar Vanka.
“Kenapa?”
“Jangan banyak tanya, Sel.” Sella langsung cemberut mendengar jawaban Vanka untuknya
Kakak laki-laki kedua Sella itu terlihat masih sedikit murung. Entah ada apa di balik kejadian kecelakaan ini, tapi satu hal yang bisa Sella tangkap, ada luka di setiap tatapan sang kakaknya itu.
“Sudah dua hari kamu di rumah sakit ini, kenapa Bara tidak pernah sekalipun datang dan menanya keadaan kamu? Akun lihat dia juga tidak pernah menelepon kamu,”
“Itu... Dia kirim Chet kok bang tanya kabar Aku.” Sella berusaha agar tak terlihat gugup.
“Benarkah? Tapi kenapa aku tak pernah melihatmu memegang ponsel?”
Sella berusaha tersenyum. Ia mulai gemetar mendengar pertanyaan sang kakak, apa Vanka mulai curiga dengan hubungan pernikahan ini?
Ia merasa ketakutan tanpa alasan. “Sudahlah Bang, kenapa kamu malah memikirkan itu. Lagi pula kita juga akan pulang ini, jadi buat apa dia menghubungi aku. Dia pasti sibuk di tempat kerja,” ujar Sella beralasan.
“Padahal kalian pengantin baru. Apa dia memperlakukan kamu dengan baik?”
Sella tertegun.
Dia ingin sekali mengatakan jika di sana dia tidak baik-baik saja. Tapi dia takut membaut semuanya hancur, entah mengapa tapi dia merasa hubungan pernikahannya tak se dangkal yang dia pikirkan. Entah apa, dia tidak tahu.
Sella merasa dirinya berdiri diantara hubungan yang rumit.
“Jangan pikirkan apapun tentanganku, Bang. Kami baik-baik saja kok, percaya kami bahagia dengan pernikahan ini.
Vanka mengangguk mengerti. Dia baham mungkin adikanya tidak ingin ditanya lagi, jadi dia tak bersuara lagi.
Sampai mereka di apartemen Sella memilih tak singgah dan langsung pulang ke rumahnya. Sudah terlalu lama dia tidak pulang, takut jika Bara akan membuat masalah lagi dengannya nanti.
__ADS_1
***
Sella akhirnya sampai di rumah saat hari sudah cukup sore. Ia sedikit terkejut saat turun dari taksi dan mendapati mobil mertuanya di depan rumah.
Sella menelan lidahnya segan kasar. Mampus susah, apa yang akan di katakan Mami mertuanya nanti tahu dia dua hari tak pulang.
Lagi-lagi Sella hanya bisa bersikap pura-pura tenang. Menghadapi apapun yang terjadi, yang penting dia punya alasan kenapa melakukan kesalahan ini.
“Assalamualaikum,”
Terdengar seseorang menjawab salam di dalam, jadi Sella langsung masuk dan melangkah ke ruang keluarga untuk menemui sang mertua.
“Mami,” Sella tersenyum lebar, “Ah.. Maaf aku tidak tahu mami datang berkunjung, jika tidak tadi pasti aku akan pulang lebih cepat,” ujar Sella sembari mengambil tangan ibu mertuanya untuk ia cium. Tapi malah di tepis oleh Rena.
“Kamu pergi kemana dua hari ini? Bara bilang kamu susah tak pergi dan tak kembali. Apa kamu lupa kewajiban kamu, Sella?”
Sella terentak melihat kemarahan yang terlihat di wajah Mami Rena. Dia sudah tahu akan jika dirinya akan di tanya banyak hal tadi, tapi dia tidak menyangka Ibu mertuanya akan langsung memarahinya seperti ini.
“Mi..,”
“Sella, saya mencari menantu itu agar ada wanita yang bisa merawat anak saya, tapi apa ini?!” Mami Rena terlihat sangat marah, “kamu menelantarkan Suami dan anak kamu, untuk pergi merawat kakak kamu di rumah sakit. Istri macam apa kamu ini?!”
Deg
Untuk sesaat Sella merasa linglung. Ia yang terkejut membaut tubuhnya bergetar. Dia dinikahkan hanya untuk merawat suami dan anak tirinya?
Sesaat Sella merasa ingin tertawa, apa mertuanya pikir dia dinikahkan untuk menjadi asisten anaknya?
“Apa maksud, Mami?” Sella bertanya dengan linglung, “Aku pergi atas izin dari Mas Bara. Kenapa mami...,”
“Lalu kalau bara mengizinkan, kamu bisa berbuat sesuka hati. Sella, saya pikir kamu wanita yang tepat untuk menikah dengan anakku, tapi saya kecewa. Kamu bahkan mengabaikan Arya, kamu benar-benar...,”
Mengabaikan arya?
Tapi bukankah selama ini anak tirinya itu tidak pernah ingin dia mengurusnya. Di rumah ini ada dua orang pelayan, Sella merasa ada yang salah.
“Mami bicara apa? Aku tidak pernah mengabaikan Arya, dia...”
“Kamu jangan mencari alasan. Anak itu bahkan sudah menceritakan pada saya bagaimana kamu tidak mau mengurusnya. Apa kamu tahu, karena siakapmu yang lebih mementingkan merawat kakak mu itu Bara bahkan sampai nekat membawa mantan istrinya kemari untuk mengurus dia dan Arya. Sella apa yang Kamu pikirkan... Apa kamu mau wanita itu merebut suami mu dan meninggalkan kamu?!”
Lagi-lagi keterkejutan. Sella menggeleng tak percaya, ternyata suaminya sendiri yang telah memfitnahnya.
Wajah Sella terlihat pucat. “Baik... Aku mengerti, Mi. Lain kali aku tidak akan mengulangnya lagi,”
Ia menarik langkahnya meninggalkan Rena yang terlihat terdiam setelah mengeluarkan kemarahannya, mungkin dia menyesal. Sella tidak peduli, sekarang dia hanya ingin masuk kamar dan menenangkan pikirannya yang mulai terasa pusing.
__ADS_1