
Sella tak menyangka ia akan di pertemukan dengan Kaif di saat keadaannya menyedihkan seperti ini.
“Sel, kamu kenapa?”
Kaif mendekat dengan khawatir. Ia melihat sang mantan menangis sendirian di tempat sepi ini, tentu saja ia sangat khawatir.
“Kamu kenapa... Kenapa ada disini?” tanpa sadar Sella malah sesenggukan dengan tangisannya yang tak mau berhenti.
Melihat pria lain menunjukkan kekhawatiran dengan keadaannya, entah mengapa tangis Sella semakin pecah. Ia tak tahu kenapa dirinya sesensitif ini, tapi yang pasti dia merasa malu menangis di depan pria yang dulu memperlakukannya bak seorang ratu saat pacaran.
“Ya Allah, kenapa kamu malah semakin nangis. Kamu ada yang sakit?”
‘ya, hatiku yang sakit’
Sella menggeleng. Dia berusaha menghentikan tangisannya karena mulai merasa malu di lihat oleh orang yang lewat.
“Ayo aku antar pulang,” ujar Kaif. Dia tak bertanya lagi, karena ia takut membuat Sella tak nyaman.
Meskipun Kaif sedikit curiga, mungkin Sella ada masalah dengan suaminya. Dan pemikiran itu cukup membuat Hati pemuda itu merasa sakit dan rasanya ia ingin menghajar pria yang menyakiti wanita yang di cintainya.
“Aku... Aku gak mau pulang.” Tolaknya.
“Eh?” Kaif merasa bingung sendiri, “jika tidak pulang kau mau kemana? Sella ini sudah hampir malam,”
Sella jadi bingung sendiri. Benar jika dia menghindari rumah orang tuanya dan juga suaminya, lalu kemana dia harus pulang?
“Itu... Apa kamu bisa menemaiku sebentar?” tiba-tiba ia punya keinginan untuk bersama pria ini dulu untuk menenangkan perasaannya.
“Sama aku? Kami bercanda. Bagaimana kalau suami kamu...,” belum selesi Kaif menjawab Sella langsung menyela.
“Dia tak akan peduli. Lagi pula dia sudah berhari-hari tak pulang ke rumah!” Tanpa sadari dia keceplosan membuka aib rumah tangganya. Sella yang menyesal mengutuk mulutnya yang berucap.
Tapi kembali mengingat Bara yang pergi mengurus mantan istrinya, tiba-tiba rasa marah dan juga sedihnya membuncah membuat matanya kembali berkaca-kaca.
“Baiklah-baiklah, jangan menangis lagi.” Bujuk Kaif yang Khawatir melihat Sella ingin menangis lagi.
__ADS_1
Dalam hati pemuda itu kembali mengumpat dengan perilaku Bara yang tega meninggalkan Sella seperti ini. Jika tidak takut dosa mungkin dia akan membawa kabur saja wanita yang di cintainya ini, agar dia bisa membahagiakannya.
Eh?!
....
Karena Sella tak mau di antarkan pulang, akhirnya Kaif terpaksa menemani wanita itu nongkrong di salah satu Cafe.
“Jadi, kamu lagi bermasalah dengan suami?”
Akhirnya setelah dua puluh menit saling diam, Kaif memilih bertanya lebih dulu. Ia juga penasaran kenapa Sella sampai tak mau pulang, apa separah itu pertengkaran mereka.
“Tidak juga. Sebenarnya tidak bertengkar hanya saja aku yang sedang marah padanya karena lama tidak pulang.”
“Kenapa dia tidak pulang?”
Sella yang merasa pertanyaan Kaif terlalu pribadi, ia memilih berkilah.
“Dia sibuk dengan pekerjaannya.” Dusta Sella. “Aku pikir suami kaya itu enak berfoya-foya ternyata tidak. Aku malah sering di tinggalkan.” Sella terkekeh dengan rasa yang dibuat-buat. Dan hal itu terlihat jelas di mata seorang Kaif.
Tapi dia mulai mengerti, Sella tidak ingin bercerita. Ia memilih dia dan memperhatikan saja wanita itu mulai menyantap camilannya.
“Tidak perlu. Aku bisa mencari taksi.”
“Aku tak yakin kau akan pulang, jangan sampai kau akan kembali tersesat ke taman lainya.” Kaif menatap Sella dengan malas. Ida tahu pasti wanita ingin mencari tempat sepi lainya untuk menangis.
Sedangkan Sella yang di bilang seperti itu berdecak malas. Tapi meskipun begitu ia suka dengan perhatian ini. Perhatian yang ia rindukan dan tidak ia dapatkan dari pasangan halalnya.
Dan Sella juga cukup terkejut. Setelah beberapa hari dia tidak bisa makan apapun dan hari ini ia bisa menghabiskan camilan dan juga beberapa kue dari Cafe ini. Sella menonggak menatap Kaif, apa karena dia?
Tapi bukankah seharusnya anak ini bereaksi seperti ini jika ia bersama Bara? Tiba-tiba matanya menjadi berkaca-kaca lagi, kenapa rasanya sakit sekali.
“Baiklah, antar aku pulang.”
****
__ADS_1
Mobil Kaif berhenti tepat di rumah mewah berlantai dua. Karena mobilnya tak bisa masuk jadi ia terpaksa menurunkan Sella di depan gerbang dan pasti Sella harus berjalan cukup jauh menyusuri perkerangan rumah mewah itu.
“Terima kasih,” ujar Sella saat Kaif berinisiatif membuka pintu mobil untuknya. “Jangan terlalu baik seperti ini, aku takut khilaf.” Ujar Sella berkelakar. Ia berusaha tersenyum meskipun pada akhirnya malah terlihat aneh di wajahnya.
“Tidak apa-apa. Aku akan menunggu waktu khilafmu,” ucap Kaif dan berlalu dengan tawa di bibir tipisnya.
Melihat senyum itu mendadak membuat hati Sella bergetar. Ah, dia memang kemurahan itu jika berhadapan dengan pria ini. Sangat mudah mencintainya lagi dan lagi, tapi kali ini ia berusaha menyadarkan diri jika dia telah bersuami.
“Baiklah, kalau begitu aku pergi.” Kaif berlalu masuk kembali dalam mobil dan mulai melaju meninggalkan Sella yang kembali berwajah sendu.
“Aku merasa berdosa meninggalkanmu... Mungkin penderitaan ini balasannya.”
Tanpa mereka sadari di atas lantai dua seseorang melihat semua kejadian itu dengan amarah dan tangan terkepal.
Bara yang baru kembali hari ini di buat kesal dengan tidak menemui sang istri di rumah. Tapi kini kekesalan itu berubah menjadi kemarahan melihat Sella di antar pulang oleh pria yang pernah ia temui satu kali.
“Kurang ajar! Beraninya kalian mempermainkan ku!”
Kecemburuan jelas terlihat di matanya yang membara. Bara benar-benar tak senang melihat istrinya berani pergi bersama pria lain. Memikirkan apa saja yang mereka lakukan di belakangnya membuat amarah Ia lagi-lagi meledak.
“Sudah puas bersenang-senang dengan mantan mu itu? Jadi begini kelakuan mu di belakang saya!”
Deg
Sella yang baru saja melewati pintu depan terkejut mendapati sang suami berada di rumah.
“Mas... Mas bara?” Baru juga menyapanya, tapi Bara sudah menarik tangannya dengan kasar menuju kamar.
Meskipun merasakan sakit di pergelangan tangannya, tapi Sella diam saja. Bahkan saat Bara mendorongnya dengan kasar di atas ranjang ia juga masih diam menerima.
“Kau pergi dengan selingkuhan mu disaat saya tidak di rumah. Sella, apa kau tidak tahu di mana posisimu?”
Sella merasa tak percaya. Bagaimana bisa Bara begitu mudah menuduhnya, padahal selama ini bukanlah dia yang sudah berbuat curang di luar sana.
"Apa maksudmu, Mas? Bukanya kamu ya yang setiap hari selalu bertemu dengan wanita itu. Kenapa sekarang kamu nuduh aku yang selingkuh?"
__ADS_1
"Kamu jangan mengalihkan pembicaraan. Kamu kenapa bisa bersama dengan Pria itu... Oh, apa sekarang kamu ingin kembali dengan mantan mu yang miskin itu?!"
Bara meremas kasar bahu istrinya tanpa memperdulikan ringisan kesakitan Bella. Kecemburuannya membuat dia buta, dia tidak suka wanita yang sudah menjadi miliknya di sentuh laki-laki lain. Apalagi ia melihat pria asing itu menyentuh mesra tangan istrinya.