
Seperti janji mereka, pagi-pagi sekali Sella telah datang menjemput sang sahabat di depan tokonya. Tapi saat Sella pikir ia hanya akan bertemu dengan embun, siapa sangka di sana juga ia mendapati Vanka yang juga ingin Mengikuti mereka.
“Loh... Kenapa ada bang Vanka?” ia menatap sang sahabat dengan tatapan tajamnya. Sedangkan yang di tatap hanya menduduk bersalah membuat Sella mendengus kesal.
“Kenapa kalau saya ikut? Kamu mau melakukan apa sebenarnya?!” Vanka balas menatap tajam sang adik. Melihat adiknya uang menghindar Vanka menjadi semakin curiga.
“Jangan ikut campur, Bang. Bukan urusan kamu. Gak usah sok peduli sama aku. Aku gak mau kalian ikut campur urusan aku lagi!”
“Kau!” Vanka tersulut amarah mendengar kata-kata tajam sang adik, tapi untung langsung di tenangkan Embun.
Sella yang melihatnya berdecih. Ia merasa dikhianati di sini. Melihat kedekatan sang kakak dan sang sahabat sepertinya ia merasa di tipu. Apakah semua yang terjadi padanya juga Embun ceritakan pada sang kakak?
“Apa kamu menceritakan segalanya pada dia?” Sella menatap Embun dingin, “kamu menghianati aku, Em.”
“Bukan, bukan gitu Sel.”
“Kamu jangan menyalahkan dia. Seharinya bukankah aku yang lebih tahu tentang adiku dari pada sahabatnya?”
Adik?
Lagi-lagi Sella berdecih. Ia merasa jijik dengan ucapan sang kakak yang seolah menyayangi adiknya. Jika dia sayang dan kawatir seharusnya dia mencegah perlakuan tak adil orang tua mereka kan?
Bukankah semua harus diperlihatkan, jika benar sayang seharusnya di jaga. Tapi jika kata-kata kekhawatiran yang tidak berdasar hanya akan menimbulkan rasa jijik mendengarnya.
Dan itulah yang Sella rasa. Ia jijik, ia merasa muak dengan semua saudaranya yang menyembunyikan kebenaran di balik penderitaannya.
“Sudahlah, aku pergi sendiri saja. Kau mengecewakanku, Em.”
Melihat adiknya ingin pergi tentu saja Vanka tak membiarkannya begitu saja, dia dengan cepat mencegahnya.
“Kau mau kemana? Dengar dulu orang bicara,”
“Apa yang ingin aku lakukan tidak ada urusannya dengan mu,”
“Sella!”
Embun yang melihat Vanka yang kembali emosi segera menggenggam tangan pria itu. Dia tak ingin kedua adik kakak ini terus berseteru tanpa ujung.
__ADS_1
“Sel, kamu jangan marah dulu ya. Dengar dulu penjelasan aku...,” bujuknya memelas.
“Gak mau! Kamu pikir aku masih percaya setelah semua ini,”
“Aku gak ada cerita apapun sama Mas Vanka. Suer,” ujarnya. Embun mencoba menggenggam tangan sang sahabat, meskipun pada akhirnya kembali di tepis tapi ia tak menyerah.
“Lalu kenapa dia ada di sini?”
Embun menjadi malu, kalau satu ini memang dia tang menceritakan sama pria ini. Itu karena dia kawatir Sella melakukan sesuatu yang salah, bagaimanapun orang yang disakiti itu bisa berubah lebih jahat dari iblis sekalipun.
“Kalau itu... Itu...,” ah dia takut temanya ini benar-benar mengamuk.
Untung Vanka mengerti jadi dia langsung angkat bicara, “Abang yang minta dia cerita. Lagian kamu mau melakukan apa?”
Vanka memilih bicara dengan lembut, ia terus membujuk sang adik untuk mau cerita. Dan dengan dalih berjanji akan ikut membantu, akhirnya Sella terpaksa nurut dan menceritakan secara singkat.
***
“Mas, kamu yakin bawa kami pulang? Bagaimana kalau istrimu gak setuju?”
“Kamu jangan khawatir. Lebih baik kamu fokus dengan kesehatanmu saja, urusan dia aku yang akan urus.”
Kesehatannya yang semakin menurun, dan tubuhnya yang semakin lemah membuat ia merepotkan banyak orang. Tapi bukan itu masalahnya sekarang.
Masalahnya kenapa ia juga merasa senang saat Bara seperhatian ini padanya?
“Bunda jangan Cemas, disana Arya akan selalu jaga bunda dari Mama Sella.”
“Kamu bicara apa. Sella gak akan macam-macam sama bunda kamu. Urusan Bunda biar ayah yang jaga, kamu fokus sekolah saja.” Ujar Bara tak senang. “Sana pergi kerjakan tugas sekolahmu, hari ini biar ayah yang bantu jaga Bunda.”
Arya jadi cemberut, padahal ia masih mau bersama sang ayah dan juga bundanya. Ia dengan malas pergi ke kamarnya. Ayahnya jika sudah menyangkut sang bunda benar-benar tak ingin di ganggu, meskipun kesal dalam hati sebenarnya arya senang bukan main mendengar kedua orang tuanya sebentar lagi akan bersatu.
Sedangkan di sisi Bara, dia terus saja mengelus lembut surai lisa dengan sayang. Sesekali bahkan bibirnya mendarat di ubun-ubun wanita itu untuk memberi kecupan manis. Ah... Memang Sesayang itu ia pada lisa mantan istrinya ini.
Keputusan mungkin akan di sesali Bara suatu hari nanti, tapi semenjak dia sudah memutuskan akan menikahi kembali sang mantan istri dia tak ingin mundur lagi.
“Kalau begitu beri aku waktu ya, Mas. Aku pikir dulu,” ujar Lisa.
__ADS_1
Wanita cantik itu masih terlihat lemah sejak pulang dari rumah sakit. Dia yang dulu biasa bergairah dan ceria, tapi sekarang hanya berwajah lesu seperti orang putus asa.
Bara yang melihatnya sungguh hatinya tak tega. Ja ingin merawat wanita yang di cintainya, kali ini ia merasa takut kehilangan lagi. Dan mendengar permintaan Lisa yang meminta waktu Bara tentu saja senang.
Ia mengusap lembut surai hitam itu dengan kasih sayang, melihat wajahnya yang begitu pucat membuat hati Bara rasanya sakit tak rela.
“Mas..,” Lisa terlihat ragu mengatakanya. Ada sesuatu yang menganjal dalam hatinya, tapi ia takut pria ini tersinggung.
“Kamu mau bicara apa? Ayo bicara saja, kenapa takut begitu.”
“Itu... Mas aku takut, bagaimana kalau Mami kamu gak bisa terima dengan keputusan kamu? Apa sebaiknya kita batalkan saja niat itu ya?”
Bara tersenyum lembut. Dia mengerti kekhawatiran kekasihnya itu. “kamu gak perlu pikir lagi. Meskipun Mami gak setuju kita akan tetap nikah. Lagi pula kali ini aku yakin dia pasti gak akan tolak,”
“Tapi...,” ia ingin bertanya lagi, tapi bibirnya sudah keburu di hentikan oleh telunjuk Bara membuat ia cemberut.
“Sudah aku bilang, kamu gak boleh meragukan aku, sayang.”
“Tapi aku masih belum percaya loh, Mas. Kamu masih bisa menerimaku dan memberi kesempatanku untuk kembali.” Lisa menatap Bara berkaca-kaca, dia terharu karena Bara masih mencintainya sebesar dulu.
“Aku mencintaimu tanpa Syarat! Meskipun aku sempat membencimu karena memilih pergi, tapi itu hanya sesaat. Nyatanya aku lebih tersiksa dikala kamu gak ada di sisiku.”
Lisa langsung menghambur dalam pelukan Bara. Tangis bahagianya pecah seketika, i tak menyangka dicintai begitu besar. Meskipun setelah ini ia tahu mungkin akan menyakiti hati wanita lain, tapi Lisa tak peduli. Baginya, ia juga berhak bahagia!
“Terima kasih atas cinta tak bersyaratmu, Mas. Aku juga selalu menyesal kenapa begitu bodoh meningalakn lelaki sebaik kamu dulu.”
Bara membalas pelukannya tak kalah erat. Cinta pertama memang sangat sulit di lupakan, dari remaja dia sudah mencintai wanita ini, lalu bagaimana mungkin dia bisa melupakannya begitu saja.
Saat keduanya diliputi kebahagiaan, tiba-tiba ponsel bara menerima pesan yang membuat pria itu terlonjak kaget.
“Ada apa?” Lisa bertanya khawatir.
“Sepertinya aku harus pergi dulu,”
“Mas, ada apa? Kenapa khawatir begitu?” Lisa jadi ikut cemas melihat Bara yang mendadak berwajah pucat pasi.
“Mami... Mami masuk rumah sakit,” ujar Bara frustrasi membuat lisa menutup mulutnya terkejut. Ia segara mengambil kunci mobil, “Aku pergi dulu ya, dek. Kamu baik-baik di rumah, oke.”
__ADS_1
Setalah Lisa mengangguk Bara langsung meleset pergi. Ingin rasanya ia ikut serta ke rumah sakit bersama Bara, tapi ia tak memiliki ke eranian seperti itu. Ia yakin orang-orang disana tak akan menginginkan kehadiranya.