Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Syarat dari sella


__ADS_3

Berbeda dengan Bara yang menatap jengah. Karena sudah merasa kesal, jadi dia langsung menggenggam tangan Sella untuk mengajak pulang.


“Ayo pulang... Arya pasti sudah menunggu kita, dek.” Ujar Bara pura-pura lembut.


Sella tak bisa menolak. Setelah berpamitan secara singkat dengan Kaif, akhirnya Bara menarik tangan istrinya itu untuk pulang.


Msekipun meeinding dengan sikap suaminya yang berbeda. Tapi sella tetap tak menolak. Ia sebenarnya juga tak kuat jika harus berhadapan dengan mantan kekasihnya lama-lama. Yang ada nanti dia kilaf dan membuat kekacawan.


Sedangakndi sisi lain.


Kaif menatap dua orang yang baru saja berlalu didepanya. Berlahan senyum lebar tadi belahan sirna berganti dengan swnyum miris yang membuat wajah tampanya menyedihkan


Rasa cinta yang masih sama seperti dulu membuat dia sulit merelakan gadis pujaannya. Dan hari ini ia malah melihat secara langsung dua manusia itu. Melihat sikap Bara yang tidak suka dan cemburu dengan kehadirannya, Kaif menebak jika pria itu sangat mencintai Sella.


“Kamu pasti bahagia hidup dengan dia, Sel.” gumamnya. "Doa ku cuma satu untuk mu, selalu bahagia. Jika tidak aku minta sama Alalh kembalikan saja dia padaku lagi, aku siap menerimamu dengan apa adanya."


Kaif tertawa sendiri dengan ucapanya yang mulai ngaur. Ternyata efek putus cinta memang semengerikan ini, bisa membuat orang hilang akal. Mungkin karena itu Allah melarang berpacaran dan terlalu berharap pada sesama manusia.


"Kamu pasti sangat bahagia dicintai pria sekaya suami kamu itu," ujar Kaif lagi.


Itu hanya tebakan saja. Tidak ada yang tahu apa yang di lewati mantan kekasihnya itu kecuali dia dan tuhan saja.


Andaikan Kaif tahu mungkin dia akan sangat marah, dan menjadi orang jahat untuk merebut kembali gadis yang di cintainya. Tidak apa-apa dia menjadi pebinor, yang penting perempuan dia cintai tidak merasa sedih.


"Astagfirullah!"


....


“Mas, kamu kenapa?” Sella menatap bingung dengan suaminya yang kembali ke mode pabrik. Dingin, gak banyak bicara dan ketus. Hal itu membuat Sella sedikit khawatir.


“Gak usah sok gak tahu kamu,”


Sella mengernyit heran. Ingin menebak suaminya cemburu itu hal yang tidak mungkin. Jadi masalahnya apa?


“Kamu marah karena cara jalan-jalan santai kita terganggu?” tebak Sella.


Sella tertawa. Tapi jelas matanya tidak memancarkan kegembiraan dengan sikap suaminya. Dia hanya merasa miris, berusaha sebaik apapun jika pria yang kita perjuangkan tak menginginkan kita itu sama saja kamu menenggelamkan diri tanpa tahu berenang.


Bara hanya menatap acuh, dia tak menjawab. Sella mencebik kesal, sulit sekali menaklukkan pria ini, pikirnya.


“Ya udah, kalau begitu aku ke kamar aja.”


Sebenarnya ia hanya berlagak baik-baik saja. Padahal dalam dada jantungnya sedang bergemuruh kembali setelah dipertemukan kembali dengan pria yang masih tak bisa ia lupakan.


Sella menarik nafas lelah. “Kenapa harus bertemu lagi?” keluhnya.

__ADS_1


Melihat Kaif yang semakin tampan dan Soleh membuat hatinya tanpa sadar bergetar. Dia pikir kemarin saat embun membicarakan Kaif berubah itu hanya omong kosong, dan hari ini dia benar-benar di buat terkejut.


Kalau mantanya bisa setampan itu kan dia takut lupa diri, dan malah mundur ke belakang nantinya.


Semalaman Sella tak bisa tidur, sedari tadi wajah dan senyum Kaif tidak mau hilang dari kelukup matanya. Membuat ia sangat fruatasi. Dia bahkan merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dengan godaan sang mantan.


****


Embun menarik nafas malas. Ia menatap kesal pria yang tiba-tiba mengganggu dirinya yang sedang sibuk.


Embun yang hari itu sibuk dengan toko bajunya, tiba-tiba malah di recoki oleh sang kakak dari temanya sendiri.


Ya, pria yang pernah di tolongnya dulu entah mengapa bisa-bisa menjadi dekat dengannya. Padahal awalnya dia tidak saling kenal, tapi sejak hari itu Vanka setiap hari selalu saja mengganggu nya.


“Bang Vanka pulang aja, ya. Hari ini tokoh aku ramai soalnya,” ujar Embun mengusir kakak temanya itu dengan halus.


“Mumpung lagi Ramai, jadi aku bisa bantu kamu untuk jaga anakmu selagi sibuk.” Ada saja alasan peria itu membaut Embun menarik nafas lelah.


Dia yang seorang janda dan selalu di datangi oleh laki-laki. Dia takut orang-orang akan berpikir yang aneh-aneh nantinya.


“Tapi bang...,”


Vanka menggeleng. Pria ia langsung meraih bocah kecil yang duduk di samping Embun. “Aku bawa dia ya... Kamu fokus aja sama pembeli,”


Berbeda dengan Embun yang terlihat gusar dengan kelakuan Vanka. Pria itu malah serasa senang mengganggu janda satu anak itu.


Entah mengapa saat dihari ia di selamatkan oleh wanita itu ia mulai menyukai sikap Embun yang lemah lembut.


Lagi pula dia bukan pria yang baru mengenal Wanita itu. Dulu waktu Embun masih gadis dan masih sering main ke rumah bertemu dengan adiknya, ia juga sering memperhatikan gadis itu dalam diamnya.


“Paman, kita mau kemana?” bocah kecil itu menatap Vanka dengan bingung. Pasalnya pria yang dia panggil paman itu membawa dia jauh dari sang Ibu.


“Kita akan pergi bersenang-bersenang.”


Bocah itu terlihat tidak takut sesikitpun, dia malah senang mendapat seorang paman.


Vanka suka pada gadis kecil ini. Ia sudah nyaman dan melihat anaknya Embun entah mengapa ia merasa begitu menyukainya sejak awal.


“Lala, kamu mau punya ayah tidak?” tiba-tiba Vanka bertanya pada gadis kecil itu.


“Maksud paman? Ibu bilang Ayah aku sudah pergi jauh ke surga, jadi gak akan pulang-pulang lagi.” Ucapan cadel gadis kecil itu membaut Vanka memekik gemas. Tak tahan ia mencubit pipi kecil yang berceloteh itu, tapi tentu saja tidak dengan tekanan yang kuat. Bisa-bisa bocah itu menangis nanti.


“Maksud paman ayah baru. Kamu mau tidak?”


Lala terlihat bingung. Dia belum mengerti apa yang dikatakan Vanka. Karena dia tidak tahu apa-apa jadi mengangguk saja

__ADS_1


Vanka yang melihat itu tersenyum lebar. “Udah dapat lampu hijau dari calon anak ini,” gumamnya bahagia.


Lala yang melihat pamanya tersenyum ia ikut tersenyum lebar, memperlihatkan gigi kecilnya yang semakin terlihat mengemaskan.


Andai saja gadis kecil itu putri kandungnyabpasti Vanka sudah mencium habis wajah imut itu. Tapi dia sadar, gadis kecil itu bukan darah daginya sehinga bebas dia sentuh sesuka hati.


Meskipun masih kecil, tapi Vanka tidak ingin terlalu berlebihan.


"Kalau begitu ayo kita bermain-main sekarang."


Dengan sabar Vanka membawa gadisbkecil itu bermain sepuasnya di taman bermain. Tempat itu tentu saja maaih sangat dekat dengan tokoh milik Embun, karena itu ibu dari bocah itu tak hawatir dari tadi.


***


"Mas," Sella memberikan tas kerja suaminya seperti biasa.


Mereka menuju meja makan untuk melakukan sarapan, tapi bedanya kali ini hanya mereka bersua. Sedangakan arya sepertinya maaih tidur di kamar atas.


"Hari ini kamu akan keluar lagi?"


"Mm... Sepeetinya tidak." jawab sella. "Memangnya kenapa?"


"Hari ini Mami minta kamu datang ke rumah. Sepertinya dia ingin bertemu dengan mu,"


"Aku... Sendirian?" Dia bukan takut. Hanya aaja sejak hari Mami Rena memarahinya, entah mengapa ia menjadi kurang menyukai mami mertuanya lagi.


Ucapan Mami rena tentang pernikahanya masih membekas dalam ingatan Sella. Apalagi jika dia ingat masalah itu terjadi karena sikap pengecut Bara yang berlindung padanya.


Pada akhirnya dia yang menjadi korban.


"Memangnya kenapa? kamu tidak senang?" Alis Bara tertaeik. Melihat Sella yangvtersiam membuat dia bingung. "Jangan menolak, kamu tahu saya tidak suka istrii yang tidak bisa menghormati Mami saya." ucap Bara penih penekanan.


Sella mengigit bibirnya. Ia kesal sebenarnya, tapi ia juga yak ingin melawan. Jadi dia hanya bisa mengatakan iya. Tapi...


"Aku akan datang. Tapi ada syaratnya..,"


Bara mendelik kesal. "Hanya ingin menemui Mami kamu mengajukan syarat?!"


"Heh, kamu gak perlu bentak aku, Mas. itu kalau kamu mai, tidak juga gak apa-apa." tekan Sella tak mau kalah.


"Apa... Cepat katakan!"


Sella terswnyum senang. Melihat suaminya yang menuruti syarat darinya membuat dia bahagia.


"Aku akan pergi, asalkan...,"

__ADS_1


__ADS_2