Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Andai saja aku...


__ADS_3

Sudah dua hari dirinya merasa lemas dan mual-mual tanpa henti. Sella tidak tahu apa yang terjadi, tapi dari pada memikirkan dirinya sebenarnya pikirannya lebih banyak memikirkan sang suami yang tidak pulang-pulang semenjak hari itu.


Sella merasa mungkin ini ditunjukkan Bara tanda protes pada dirinya karena sudah mengadu pada Mami Rena. Karena hal itu ia menjadi ke pikiran, andai saja dia sehat sekarang pasti sudah pergi mencari suaminya itu.


“Loh, Non. Mau kemana?” bik Neti bertanya dengan khawatir melihat sang nyonya ingin keluar dengan wajah pucatnya.


Sella meringis, “itu bik... Saya mau membeli sesuatu di luar.” Ia tak mengatakan tujuannya.


“Sesuatu apa? Kalau perlu sini bibi saja yang pergi beli, Non. Dengan kondisi lemah seperti ini bisa-bisa nona pingsan nanti.” Sella menggeleng. Bagaimanapun wanita paruh baya itu menawarkan diri dia tak minat, karena sekarang dia ingin pergi ke suatu tempat.


Dan itu hanya bisa ia lakukan sendiri!


****


Embun menatap kasihan pria dewasa yang dengan tampang kusutnya datang dan langsung memeluk dirinya.


“Kali ini apa lagi?” Karena terlalu sering mendengar keluhan pria ini, jadi ia seakan sudah mengerti saja jika Vanka datang karena ada masalah lagi dengan keluarganya.


“Aku sedang pusing.” Keluhnya. “Gak tahu dosa apa yang aku lakukan sampai dapat orang tua kayak mereka,” ujarnya tanpa perasaan.

__ADS_1


Embun langsung memukul bahu pemuda itu, “ucapanmu membuat tuhan marah, Mas. Masa bilang orang tua seperti itu?!”


“Ya mau bagaimana lagi, Dek. Setelah menggadaikan adiku untuk hidup mewah mereka, sekarang Papa masih saja buat masalah.”


“Masalah? Masalah apa?” Embun ikut khawatir jadinya memikirkan sang sahabat yang mungkin akan di jadikan tumbal lagi oleh orang tuanya.


“Mmm... Papa mau maksa Sella bekerja di perusahaan agar bisa membuat Bara membantu menyuntik dana lebih besar. Huh... Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan,”


Embun juga terkadang merasa gereget dengan keluarga Sella ini. Setelah tahu sedikit masalah mereka lewat cerita Vanka padanya, ia merasa David memang cukup keterlaluan. Apalagi sejak ia tahu pria itu juga memiliki istri simpanan, ia semakin tak menyukai papa dari sahabatnya itu.


“Sebenarnya aku sudah sedikit tahu masalah ini,” ujar Embun.


“Kok bisa?”


“Mana aku mengerti. Kamu kan juga tahu Papa David bagaimana orangnya.”


Ya, meskipun tak terlalu dekat dengan keluarga sang sahabat, tapi beberapa kali bertemu Embun tahu jika ayahnya Sella itu sikapnya keras. Dan semenjak dia terang-terangan menunjukkan istri mudanya di publik, Ia juga merasa berlahan sikap Ayah temannya itu juga berubah jadi tamak dan juga kejam.


“Oh, kalau begitu. Bagaimana kalau mas Vanka gagalkan saja rencana ayahmu. Meskipun diam-diam kamu kan bisa bantu Sella,”

__ADS_1


Vanka tersenyum mendengar ide dadi wanita pujaannya itu. “Ahh... Sepetinya lidah mu ini sudah sangat terbiasa memanggil ku MAS ya?”


Embun yang di singgung tentang itu membuat wajahnya bersemu merah.


“Haiss... Kenapa kamu malah membahas hal lain!” ujarnya pura-pura kesal.


“Ini bukan masalah lain, tapi masalah kita. Lagi pula aku suka kamu yang malu-malu begini.” Vanka semakin menggoda sahabat adiknya itu, “ayo panggil Mas sekali lagi...,”


Embun yang di goda berubah cemberut. Ia memukul pundak Vanka, lalu pergi meninggalkan pria itu yang asyik menertawakan dirinya.


****


Sella sampai ke rumah sakit setelah dua puluh menit dari rumah. Sengaja ia mencari rumah sakit yang berbeda dengan tempat Lisa di rawat. Ia takut nanti malah tak sengaja bertemu dengan suaminya


Untuk memeriksa dirinya Sella ikut mengantre di ruang dokter kandungan. Ya, siang ini ia memutuskan mengunjungi dokter kandungan karena beberapa hari ini ia merasa aneh dengan tubuhnya. Setelah ia mencari tahu dari internet ia meyakini jika ini memang gejala kehamilan.


Sella yang datang sendiri dibuat sedih melihat orang sekelilingnya datang dengan pasangan. Apalagi di sampingnya, seorang wanita yang terlihat kehamilannya sudah terlihat yang sedang bermanja dan merajuk pada suaminya.


Tiba-tiba rasa iri hadir di hatinya. Tak terasa air matanya meleleh di sudut matanya.

__ADS_1


Tak tahu mengapa iavmenjadi emosional hanya karena melihat pasangan lain bermesraan.


‘ya tuhan.. Andai aku juga berada di posisi wanita beruntung itu. Pasti aku akan sangat bahagia.’


__ADS_2