
“Kenapa? Apa sesuatu terjadi di rumah orang tua mu?”
Pagi itu di meja makan Bara kembali bertanya pada Sella yang kemarin semalaman mengabaikannya.
“Gak ada apa-apa,” Ujar Sella malas. Ia benar-benar tang ingin membagi hal memalukan ini pada suaminya. Ia takut Bara akan mengejek keluarganya, ya... Sella merasa malu.
Bara juga mulai tak peduli lagi. Melihat sikap gadis di depannya yang semakin tertutup, ia juga semakin malas bertanya banyak hal. Toh.. Pernikahan mereka juga hanya sebatas perjanjian... Pikir Bara.
“Hari ini Arya ada acara di sekolah,”
“Lalu?”
“Saya mau pergi bersama dengan Lisa nanti siang ke sekolahnya untuk menghadiri acara itu.” Ujar bara memberi tahu.
Sendok di tangan terlepas dengan kasar, membuat suara gaduh saat beradu dengan piring. Gadis itu mendengus tak terima.
“kenapa dengan dia? Kan sekarang aku yang istri kamu, Mas!” cecarnya sedikit emosi.
“Kamu lupa Arya anak siapa? Lisa ibu kandungnya, Sel. Bukan kamu. Jadi ya wajar dia dan saya yang akan pergi mendampingi Arya nanti di sekolah.”
Deg...
Rasanya sama sakitnya dengan mendengar saat sang Papa menghianati Mamanya. Sella menatap suaminya dengan mata berembun, perkataan bara cukup membuat dirinya terluka.
“Lalu? Kamu pikir aku ini patung dia antara kamu sama wanita itu? Mas... Kamu benar-benar brengsek!”
Sella segera berlari keluar dan meninggalkan rumah dengan mata memerah. Saat gadis itu telah memasuki taksi, tangisnya pecah tanpa dapat di tahan.
Sedangkan Bara yang di tinggal sang istri setelah mendapat makian hanya terdiam mematung di meja makan.
‘apa dirinya keterlaluan dengan ucapannya?’
****
Pov Sella.
Aku masih tak percaya jika Mas Bara bisa berbicara begitu pada diriku. Setidaknya jika dia tak menganggap aku istrinya, sedikit saja dia seharunya menghargai perasaanku sebagai wanita yang telah ia nikahkan di hadapan tuhan.
Tak bisa menahan rasa sesak, pada akhirnya aku menangis di atas taksi membuat sang sopir itu menatap heran. Mungkin dia bertanya-tanya kenapa aku bisa menangis begitu heboh di mobilnya.
Tapi apa peduliku?
“Mbak kenapa?”
Mungkin dia sudah tak tahan, akhirnya bertanya juga saat tangisku mulai mereda.
__ADS_1
“Gak ada apa-apa, Bang. Cuma ada sedikit masalah,” ujarku menutupi yang sebenarnya.
“Lagi masalah sama Orang tua, ya?”
Aku mencebik kesal. Kenapa dia menjadi kepo sih, kan aku bingung harus jawab apa. Mana masih sedih lagi!
“Gak Bang, saya gak lagi masalah sama orang tua. Tapi sama suami,” ujarku jujur.
Tapi melihat sopir taksi itu terkejut membuat dahiku berkerut. Kenapa dia terkejut ya saat aku bilang suami?
“Mbak udah nikah? Saya pikir mbak masih mahasiswa tadi,”
Lah dia malah jadi penasaran. “Memangnya kenapa Bang?”
“Itu... Mbak terlihat masih kecil. Saya pikir tadi mbak masih sekolah atau mahasiswa. Makanya saya terkejut saat tahu mbak bilang udah ada suami,”
Seolah melupakan kesedihan yang dirasakannya tadi. Aku menjadi terkekeh kecil mendengar ungkapan jujur dari sopir taksi itu. Secara tak langsung pria itu sedang mengatakan aku awat muda kan?
“Itu karena tubuh saya memang kurang pertumbuhan Bang,” ucapku bercanda, membuat kami berdua menjadi tertawa.
Meskipun dalam hati dia juga menyadari, dirinya tak seimbang jika bersanding dengan suaminya. Selain umur bara yang cukup jauh darinya, postur tubuh juga menjadi salah satu yang membuat mereka jauh berbeda.
Bara yang bertumbuh tinggi, meskipun kurus. Tapi dia jika berdiri di sampingku akan terlihat seperti ayahku, bukan suami. Tapi berbeda dengan Mbak Lisa....
Ah... .memikirkan itu membuat mood ku kembali hancur. Sial! Ternya mereka benar-benar menganggap aku Cuma pajangan di hubungan haram mereka.
Aku tersadar jika mobil ini sudah berhenti tepat di depan perusahaan tempatku bekerja.
Setelah memberi Ongkos sesuai dengan tarif, aku langsung berlalu masuk ke dalam perusahaan itu dengan wajah lesu.
Sepertinya aku butuh seseorang untuk jadi teman curhat ku. Tapi siapa?
Mala?
Tapi bagaimana kalau tuh anak tak bisa di percaya dan malah menyebar gosip tentangku nanti. Tapi untuk apa aku malu dengan gosip kan... Toh satu perusahaan ini sudah tahu jika aku menikah dengan pria tua yang belum move on dari mantan istrinya.
***
Siangnya saat jam istirahat tiba, aku langsung menarik Mala ke kantin untuk mengajaknya mengobrol. Kami duduk di pojok kantin, memilih tempat itu agar tak menjadi pusat perhatian.
Kalian pasti masih ingatkan... Karena gosip murahan rekan kerjaku sampai saat ini aku masih menjadi bulan-bulanan anak-anak kantor.
Mereka bahkan terkadang tidak segan menghinaku terang-terangan. Hal yang paling aku takutkan adalah jika suatu hari nanti main fisik, tipi syukurnya gak sampai sekarang.
“Kamu mau ngomong apa sih, Sel? Kok tumben bangat mau ke kantin hari ini,” ujar Mala yang terlihat penasaran.
__ADS_1
“Aku mau curhat, La. Tapi kamu janji dulu ya, jangan cerita sama orang lain.”
“Eh, kamu pikir aku ini teman yang suka berkhianat apa. Kamu jangan ragukan aku, Sel. Bukankah kita sudah berteman sejak lama.”
Aku gemas melihat Mala mengerucut bibirnya. Mungkin dia merasa tersinggung dengan perkataan aku tadi. Tapikan niatku hanya ingin mengingatkan dia saja.
Aku mulai menceritakan sedikit tentang rumah tangga ku pada Mala. Hanya beberapa, sedangkan beberapa kejadian yang privasi aku memilih tidak menceritakannya, karena aku tak mau nanti menjadi bumerang padaku di kemudian hari.
Gadis itu terlihat terkejut menutup mulutnya, aku terkekah geli melihat mata Mala berembun. Mungkin dia merasa kasihan dengan perjalanan hidupku yang ngenas karena menikahi duda yang gagal move on.
“Serius dia masih berhubungan dengan Mantan istrinya?” tanya Mala seperti berbisik. Sedangkan aku hanya mengangguk, mengiyakan pertanyaan temanku itu.
“Sel, kalau begitu kamu harus memisahkan mereka. Masa kamu mau kalah sama cewek begitu sih,” ujar Mala menggebu-gebu.
“Kalau aku bisa sudah aku lakukan kali, La. Cuma ya itu... Mas Bara sangat melindungi dia. Bicara sedikit kasar saja aki sudah di bentak,” ujarku dengan jujur.
Entah mengapa tiba-tiba dadaku terasa plong setelah menceritakan sedikit masalahku pada orang lain. Ternyata enak juga punya teman untuk bercerita ya?
“Kalau begitu kamu harus punya strategi, Sel!”
“Strategi? Strategi apa maksud kamu?”
Mala tersenyum licik. “Meskipun pada akhirnya kamu bercerai dengan dia, kamu sebagai istri sah jangan mau rugi lah. Kamu sudah mengorbankan hubunganmu dengan Kaif demi dirinya. Tapi dia malah gak memikirkan perasaan kamu.”
Aku semakin tidak mengerti dengan maksud ucapan Mala. Memang benar yang dia bilang, tapi aku harus menyiapkan strategi seperti apa yang dia maksud?
“Aku masih ngak ngerti,” ujarku jujur.
“Sella... Kamu jadi perempuan jangan terlalu naif dong.” Ujar Mala ikut ganas padaku, “selagi dia masih suami sah kamu, sebaiknya kamu harus menggunakan kesempatan dengan baik...”
Dahiku masih berkerut menunggu ucapan Temanku itu selanjutnya. Tapi malah yang sudah kesal karena aku tak juga mengerti langsung mencubit pinggangku.
“Kamu ini gimana sih... Maksud aku itu kamu harus ngumpulin uang yang banyak. Porotin suami kamu yang katanya kaya itu. Buat apa suami kaya tapi kamu nanti akan hidup menderita setelah berpisah darinya,”
Aku seakan tercerahkah setelah mendengar niat jahat teman ku itu. Benar juga apa yang dia bilang... Meskipun aku tak dapat cinta dan kasih sayang dari Mas bara, tapi aku bisa mendapatkan uang yang banyak untuk bekalku di masa depan.
Lagi pula tidak ada yang menjamin jika dia setia dan tak kembali dengan mantan Istrinya.
Lagi pula pernikahan kami bahkan sudah lebih dari satu bulan, tapi mas Bara belum ada memberi nafkah padaku sepersen pun. Lama-lama aku juga merasa kesal saat menyadarinya.
“Tapi apa gak dosa, La?”
“Halah, ngapain kamu pikir dosa Sella! Kamu itu istri sahnya, wajar dong kalau kamu mengambil uang suami kamu sendiri. Yang ada dia tuh yang dosa berselingkuh dari kamu,”
Setelahnya aku langsung tersenyum senang. Seakan tercerahkah, mood ku yang tadinya begitu buruk langsung berubah ceria.
__ADS_1
‘tunggu aku, Mas Bara. Akan aku buat kau menyesal sudah mempermainkan aku!’