
Semua yang di paksaan memang membuat semuanya menjadi tak menyenangkan. Apalagi dalam urusan berumah tangga.
Meskipun di dalam hatinya dia sudah mulai mencintai istri keduanya itu, tapi sampai sekarang hati kecilnya masih di penuhi oleh satu nama wanita, dan itu bukan Sella TAPI LISA!
Bara menghempas tubuhnya di atas ranjang, rasa lelah batin membuat dia tertekan, tapi jika di minta melepaskan dia juga tak bisa.
“Apa aku turuti ucapan Wil saja ya?”
Kemarin siang saat dia ke kantor ia sempat mengobrol pada sang sekretaris yang merangkap juga menjadi asistennya itu. Ia m3ncoba meminta pendapat dan apa kata WIL.
‘Kenapa gak bos nikah lagi? Kan dalam agama boleh beristri dua.’
Dan lagi Bara juga semakin pusing dengan kelakuan Arya yang semakin mendesaknya agar selalu bersama Lisa. Anak itu beralasan jika sang bunda butuh pria dewasa untuk merawatnya di rumah.
Ya, Lisa sudah pulang ke rumahnya. Dan tiga hari tak kembali itu juga yang menjadi alasan Bara. Ia sibuk mengurus anak dan mantan istrinya.
“Huh... Andai dulu kamu tak keras hati pergi dariku, lisa. Mungkin sekarang kita sudah bahagia dan punya anak-anak yang banyak.” Bara tersenyum kecil membayang jika saat ini dia hidup bahagia dengan lisa dan memiliki anak-anak yang banyak.
Tapi khayalannya itu langsung di patahkan saat dia kembali teringat Sella. Gadis muda yang cantik, tapi sayang tak bisa menggeser nama mantan istrinya.
Terkadang Bara ikut kasihan dengan Sella, ia hanya akan datang pada istri mudanya itu jika sedang butuh pelampiasan hormonnya saja. Terkadang ia bahkan sering mengabaikan istrinya itu saat dia ingin bermanja dan di perhatian.
Bara kembali ingat kejadian kemarin, saat dia tanpa sadar mendorong istrinya dan membuat tangannya berdarah. Bara merasa kembali ke masa lalu, masa di mana ia juga dulu pernah melakukan kekerasan rumah tangga untuk Lisa karena cemburu.
Ya, sifat pemarah dan posesif memang membuat Bara susah mengendalikan emosinya. Jika sudah cemburu dia akan kalap dan bisa saja melukai orang-orang meskipun pada akhirnya ia akan menyesalinya.
__ADS_1
Brakk!
Suara pintu terbuka dengan kasar membuat Bara terlonjak kaget. Ia semakin kaget melihat sang Mami datang-datang dengan wajah marahnya.
Apa yang terjadi?
“Kali ini apa lagi yang ingin kamu lakukan Bara?!” teriakan melengking mami rena membuat Bara mengerut kening.
“Mi, kenapa?”
Rena yang mendengar sang putra bertanya tanpa dosa langsung melemparnya dengan tas jinjingnya.
“Beraninya kamu bikin mami marah, Mau jadi anak durhaka kamu?” Mami Rena masih saja mengoceh tanpa menjelaskan.
“Mi, aku ngak mengerti. Kita bicara baik-baik aja ya,” bujuk Bara setelah berhasil m3nangkap tas jinjing ibunya.
“Apanya yang tidak mengerti! Diam-diam kamu bersama mantan istrimu sepanjang hari, bahkan kalian sudah mengurus untuk melakukan pernikahan sirih! Bara Mami kecewa sama kamu.”
DAG
“Mami tahu dari mana?”
Bara berdiri dengan wajah berubah pucat. Rencana ini sudah ia buat serapi mungkin agar tidak ada yang tahu, ia berencana akan memberi tahu saat dirinya sudah tiba di hari H saja.
“Jadi benar yang mama dengar ini?”
__ADS_1
Rena kecewa melihat sang putra yang sudah pandai menyembunyikan masalah besar darinya. Dulu ia selalu mempercayai apapun, tapi hari ini dia benar-benar di buat kecewa. Bagaimana bisa Bara melupakan baktinya hanya karena seorang wanita yang pernah membuangnya.
“Mi... Aku jelaskan ya. Semuanya...,”
“Mau jelas apa lagi! Kamu tega bohong Mami, bohong Istri kamu hanya demi wanita yang meninggalkan kamu.” Bentak Mami Rena yang tidak lagi ada kesabaran.
“Tapi aku mencintai Lisa, Mi. Bukan Sella atau wanita lainnya!”
Rena tersentak mendengar Bara balik berteriak padanya. Wanita tua itu terlihat melotot menatap sang putra tak percaya.
“Kamu... Kamu bentak Mami?” Bibir keriput itu bergetar tak percaya mendapat perlakuan kasar dari putranya. “Kamu teriak sama mami hanya untuk bela dia?”
“Mi, dia ibu dari anak aku. Kami..,”
Rena langsung berbalik pergi dengan wajah teramat kecewa. Meskipun Bara memanggil berkali-kali dia tak berbalik, tapi langsung mengurungkan diri di dalam kamar.
“Mi, plis! Aku bisa adil untuk mereka. Dengar aku dulu, Mi.”
Bara mengusap wajahnya kasar. Kenapa semuanya jadi begini. Ia pikir semua akan baik-baik saja, toh ia tidak akan menceraikan Sella, seharusnya maminya setuju juga dengan keinginannya.
“Siapa yang memberi tahu Mami? Apa Wil yang mengadu?”
Ia berlari kembali ke dalam kamarnya mencari ponsel, tapi dia malah tak menemukannya. Bara jadi ingat saat dia pergi dari rumah dan datang kesini tanpa bawa apa-apa, bahkan dompet saja ia lupa bawa. Saat di rumah ia hanya menyambar kunci mobil saja, mengingat itu membuatnya semakin kesal.
“Sial!”
__ADS_1