
Zana menunggu dengan khawatir. Saat ini ia menunggu Alvian pulang karena ia suruh mencari Sella yang tiba-tiba pergi tanpa mendengar penjelasan dari mereka.
Ia benar-benar merasa bersalah. Melihat sang putri yang menangis seperti tadi membuat Zana termat menyesal, hatinya terasa teriris. Wajah jika putrinya itu kecewa padanya, tapi ia juga takut kehilangan sang putri bungsu.
“Bagaimana?” Zana langsung memburu sang putra saat melihat Alvian pulang dengan wajah lesu. “Apa kamu sudah berbicara dengan adikmu?”
Alvian menarik nafas berat.
“Tidak ketemu. Aku juga sudah mampir ke rumah suaminya, tapi satpam bilang dia belum pulang.”
“Ya tuhan... Kemana putriku,”
Zana mendadak lemas mendengar jawaban sang anak. Ya tuhan, dia merasa berdosa pada putrinya, jangan sampai terjadi hal yang buruk pada putrinya di luar sana.
“Ini salah Melisa, andai dia tak mengungkit tadi mungkin Sella tak akan jadi tahu.” Alvian mulai emosi, dia masih menyalahkan adiknya itu yang tidak mau berhenti mengungkit masa lalu.
Untung saja kakak Melisa itu sudah pulang ke rumah suaminya, jika dia dengar ucapan sang kakak mungkin akan bertengkar lagi seperti tadi siang.
“Sudahlah, tidak ada gunanya lagi bertengkar. Sekarang kamu hubungi Papamu, dia harus tahu, ini semua karena ide dia. Tapi sejarang malah enak-enakkan hidup bersama pelakor itu!”
Alvian yang mendengar Ibunya kembali membicarakan sang Papa, ia hanya bisa diam. Lagi pula sampai sekarang ia masih marah pada papanya itu, meskipun satu kantor tapi jika bertemu mereka seperti orang asing.
“Sudahlah, buat apa di tangisi. Lagi pula kita juga setuju dengan ide papa, kita juga menikmati semua yang Sella berikan. Tidak pantas bila kita hanya menyalahkan Papa,” ujar Alvian menengahi.
Meskipun berat tapi apa yang dikatakan oleh anaknya memang benar. Tapi melihat putri bungsunya menangis dan pergi dengan luka, Zana juga merasa sedih. Banyak kata harusnya dan harusnya karena penyesalan.
****
“Gimana Mas? Sella udah mau gabung di perusahaan?”
David menggeleng. “Dia gak mau. Tapi meskipun begitu kita sudah dapat investor yang lebih baik. Jadi sekarang kita gak perlu takut lagi.”
Tati bernafas lega. Setidaknya sekarang ia tidak khawatir lagi memikirkan suaminya bangkrut dan dia akan hidup susah. Sama seperti istri muda lainya, jika tidak karena uang yang di miliki oleh suami mereka yang sudah berumur apa lagi kesenangan yang bisa dia nikmati.
Meskipun Tati juga mencintai David, tapi uang pasti sangat penting baginya. Mendengar usaha sang suami sudah stabil, Tati berencana akan mengusulkan pada suaminya ia kembali bekerja di perusahaan seperti dulu lagi.
“Oh ya, katanya tadi kamu bilang ada yang mau di bicarakan. Apa?”
“Oh itu... Bunga bilang beberapa kali Sella datang ke sekolah menemuinya mas. Aku hanya merasa khawatir,”
David mengernyit, “lalu?”
“Ah, aku bukanya apa-apa mas. Tapi aku hanya kawatir dengan Bunga,”
David jelas mengerti dengan maksud istri mudanya itu. Tapi dia tak mungkin percaya, bagaimanapun anak-anaknya sangat ia kenali, Sella tidak mungkin menyakiti Bunga.
__ADS_1
“Gak usah berpikir yang macam-macam. Sella gak mungkin seperti itu!”
Tati terkejut mendapati suaminya berbicara dengan kesal. Salahkah dengan ucapannya?
Tepikan dia Cuma mau bercerita.
Ponsel David berbunyi, pria itu segera berdiri dari rebahannya. Ia mengernyit melihat nama Alvian di layar ponselnya.
“Ada apa anak itu menghubungiku? Tidak biasanya.” Gumamnya.
Sejak memilih berpisah dengan Zana jelas semua anak-anaknya memilih menjauh kecuali Bunga. Jikapun ada yang menghubungi lebih dulu itu sudah pasti hanya hal penting, dan itulah yang di cemaskan David.
“Iya ada apa nak...?”
“...”
David terkesiap mendengar apa yang sang putra katakan. Dia mendadak cemas, dan segera kelar dari kamar dengan pikiran kacau.
“Kenapa bisa terjadi? Bukanya Papa sudah bilang untuk merahasiakannya!”
“...”
“Bodoh! Kalian akan membuat semua nya kacau. Sella pasti akan membenci kita semua.” Davit mengumpat kasar. Ia memutuskan panggilan dengan marah, tiba-tiba ia merasa frustrasi.
‘ya tuhan bagaimana lagi dia harus menghadapi kebencian anaknya itu lagi.’
*****
Bagaimanapun pertengkaran mereka cukup keras, bahkan beberapa pekerja RT lain juga mendengar pertengkaran mereka. Bukan hal yang aneh lagi bagi Bik Neti melihat sikap kasar tuanya, Dulu saat bersama istri pertamanya juga seperti itu jika sedang cemburu, itulah mengapa Lisa memilih pergi dan bercerai dengan Bara.
“Dia belum juga keluar?” Bara bertanya pada Sang bibi. Kebetulan hari ini dia tidak ke kantor, jadi dia berada di rumah seharian.
“Belum, apa non Sella sakit ya?”
Bara yang mendengar itu mendadak cemas. Dia ingat Sella yang muntah tadi malah, dan ditambah dengan istrinya itu terluka karena pertengkaran mereka.
“Bik, apa ada kunci duplikatnya?”
Bik Neti menggeleng, “gak ada tuan. Yang terakhir bibi kasih sama tuan kemarin.”
Bara ingat dia sudah menghilangkan kunci itu di rumah sakit. Sekarang ia harus berpikir bagaimana caranya agar bisa masuk ke dalam.
“Bibi coba panggil lagi aja.”
“Duhh, gak bisa tuan. Dari tadi saya sudah coba, tapi gak di jawab. Ini makan siangnya juga bibi belum bisa antar,” ujar bibi memberi tahu.
__ADS_1
Bara mendadak kesal sendiri. Melihat tingkah Sella yang mudah merajuk membuat ia merasa kesal, ia tak suka sikap gadis yang keras kepala, lebih suka wanita lembut seperti Lusa yang menjadi istrinya.
“Kalau begitu dobrak saja pintunya,”
“Tapi_”
Saat mereka bersiap-siap membuka paksa pintu kamar, Sella lebih dulu membukanya dari dalam.
Wanita itu menatap bingung orang yang berkumpul di depan kamarnya, “kalian mau apa?”
Bara yang melihat istrinya berlagak tak ada rasa salah, membuat dia berdecak malas.
“Apa yang kau lakukan di kamar sapai tak mendengar bibi memanggilmu?”
Sella yang merasa tak mendengar seseorang memanggilnya hanya mampu menatap bingung. Oh, apa tadi dia ketiduran?
“Aku tidak dengar,” ujarnya.
Lagi-lagi bara berdecak malas. “Sudahlah, kau hanya bisa membuat orang susah saja.”
Sella meremas jarinya menahan tangisnya. Entah mengapa ia begitu mudah menangis sekarang, mungkin karena efek hamil jadi dia menjadi begitu lemah.
Bara tak peduli dengan wajah mendung istrinya. Dia langsung berbalik meninggalkan rumah, rencananya hari ini dia ingin seharian di rumah, tapi karena kesal mendadak ia memilih ke rumah Maminya saja.
Kepergian suaminya membuat Sella semakin sedih. Ia menatap Bik Neti dengan tajam.
“Memangnya kapan bibi memanggil saya? Sedari tadi saya di dalam tak mendengar apa-apa!”
Bik Neti yang merasakan kemarahan sang nyonya beringsut mundur. “Anu Non... Saya memang sudah memanggil Non tadi.”
Sella memicing curiga. Dari awal ia merasa pelayan satu ini memang begitu tak menyukainya, dan sekarang ia tak bisa percaya begitu saja.
"Aku harap kau tidak berbobong, BIBI!"
Kesal! Sella berlalu masuk kembali ke dalam kamarnya.
Sella mencoba menghubungi Nomor sang sahabat. Cukup dua kali tidak di jawab, yang ke tiga kalinya akhirnya diangkat juga, Sella langsung merasa senang.
“Kamu bisa menemaniku hari ini?”
“...”
******
HALO ASSALAMUALAIMUM SEMUANYA.
__ADS_1
GAYS YUK BANTU SYUPOR AUTHOR DENGAN LIKE DAN KOMEN KALIAN YA. MAKASIH😘