Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Dendam masa lalu


__ADS_3

Bara Prayoga. Nama yang di semat di belakang namanya itu terkadang membuat Bara membenci dirinya sendiri. Kenapa dia masih saja bersedia menyandang nama keluarga ayahnya, padahal jelas-jelas Ibu dan ayahnya telah di buang dari keluarga laknat itu.


Bara ingat. Dulu waktu kecil sampai remaja dia tidak mengenal apa itu sosok Kakek atau nenek dari pihak ayahnya.


Dia hanya tahu hanya punya satu Nenek, dan itu ibu dari Maminya. Sedangkan kakek, tidak! Maminya anak yatim dari kecil. Sedangkan dengan keluarga Papinya dia tidak pernah bertemu, sampai dia umur 18 tahun barulah mereka datang.


Itulah mengapa Bara tidak menyukai keluarga Ayahnya. Apalagi dia tahu selama ini bagaimana ibunya diperlakukan di keluarga itu, kebenciannya semakin besar untuk keluarga Prayoga.


“Masih belum tidur?” Sella terkejut saat keluar dari kamar malah menemui suaminya duduk diam di dalam kegelapan.


“Belum ngantuk,”


Sella berlalu ke dapur untuk ambil air minum. Setelah ya oa kembali lagi ke ruang tengah dan ikut duduk di sofa.


“Kenapa ikut duduk?”


“Melihat kamu yang melamun di tengah gelap seperti ini membuat aku ikut tidak mengantuk. Lanjut saja melamunnya, aku cuma numpang duduk, kok.” Bara tak menduganya. Niat hati ingin diam seorang diri malah di ganggu oleh istrinya ini.


“Saya sudah tidak tertarik!” Bara beranjak ingin kembali masuk ke dalam kamarnya.

__ADS_1


“Eh, tunggu. Aku ada yang mau di katakan sama kamu,”


“Apa?”


“Aku ingin mengatakan, mungkin dua hari lagi aku akan kembali bekerja.” Kata Sella menjelaskan.


“Lalu?” Bara mengangkat bahunya, seolah berkata, Masalahnya di mana?


“Aku hanya ingin mengatakan. Aku harap kamu tidak keberatan, Mas.”


Ya, sesuai dengan kesepakatan awal mereka jika tidak akan ada yang saling melarang dan ikut campur masalah pribadi. Tapi tetap saja kalau tinggal satu rumah ia merasa tak enak jika pergi tanpa pamit kan?


“Tidak ada yang keberatan. Sudah saya bilang, kamu bebas melakukan apapun,”


“Baiklah, kalau sudah selesai cepatlah balik ke kamar. Kau mau di temani hantu malam-malam begini duduk sendirian di sini,” ucap Bara.


“Iya, iya! Kamu tidak perlu menakut-nakuti ku seperti itu!” Sella segera berlari masuk ke dalam kamarnya sendiri. Dia benar-benar penakut jika menyangkut hantu dan sejenisnya.


Sedangkan Bara yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum kecil. Dia tidak habis pikir, dia bilang takut hantu tapi saat melihatnya di kegelapan malam tadi malah tidak terkejut sedikit pun.

__ADS_1


....


Sella menatap Hera dengan sengit. Rasanya dia benar-benar ingin mencakar wajah wanita itu.


“Kenapa kau menyebar gosip yang tidak benar?! Hera kau telah memfitnah ku!”


Sella tidak akan masalah jika pernikahannya di ketahui oleh teman-teman kerjanya. Tapi masalahnya sekarang Hera sudah memfitnahnya, mengatakan pada semua orang di kantor jika dia menikah dengan Om-om, dan mengatakan jika dia yang menggoda suami orang hingga hamil dan membuat sang pria cerai dengan istri pertamanya.


Sella tidak tahu bagaimana bisa Hera memfitnahnya sedemikian rupa. Entah ada dendam apa, dia benar-benar tidak mengerti.


Lihatlah sekarang. Semua karyawan di kantor ini menatapnya dengan jijik. Dia benar-benar merasa marah.


“Apa yang aku katakan salah? Sorry... Tapi kau memang menikah dengan om-om, Sella.”


“Kau! Kenapa kamu suka sekali ikut campur urusan ku?”


“Itu karena aku membencimu sejak awal,” Hera tersenyum sinis.


Hera langsung berlalu meninggalkan Sella yang terliat masih marah. Wanita itu tersenyum senang, akhirnya ia bisa mengalahkan gadis yang di bencinya itu.

__ADS_1


Hera tahu, tidak akan mudah bagi Sella untuk mengembalikan nama baiknya. Meskipun sia akan menjelaskan pada semua orang pasti juga tak akan semuanya percaya.


“Selamat datang di neraka mu,” ucapnya menyeringai.


__ADS_2