
Perjalanan pulang Sella hanya diam saja tanpa berbicara. Rena yang juga mengerti membiarkan saja kemauan menantunya tanpa menegur lagi.
Kejadian tadi tak hanya berbuat Sella marah saja. Tapi Rena sendiri ikut kesal dengan teman arisannya itu. Dia baru tahu kalau kelakuan Hera begitu memalukan, apalagi tadi dia juga mendengar gadis itu mengaku ingin merebut suami orang.
Melihat Mila diam saja dan tak menegur lagi, di sana Mami rena ikut merasa geram. Bisa-bisanya mereka berpikir murahan seperti itu.
Saat sampai di rumah Bara, Mami Rena memilih tak mampir, ia langsung pulang.
“Mami gak mampir?” Sella bertanya hanya untuk berbasa-basi.
“Tidak perlu. Sepertinya kamu butuh waktu untuk istirahat. Mami pulang dulu, ya. Titip salam buat Bara,”
Sella mengangguk mengiyakan. Dia menyalam mertuanya sebelum wanita paruh baya itu beranjak kembali masuk dalam mobilnya.
Sella juga tak berlama-lama berdiri di teras rumah. Dia juga segera masuk ke dalam rumah.
Tubuhnya yang benar-benar lelah, dan ditambah dengan kejadian hari ini, dia benar-benar butuh istirahat yang ekstra.
“Kamu sudah pulang? Mana mami?”
“Susah pergi. Katanya titip salam sama Mas.” Ujar Sella memberi tahu.
“Kamu sudah makan?”
Sella terkejut mendengar suaminya bertanya. Dia sulit percaya Bara mulai peduli dengannya, mendadak senyum gadis itu mekar seketika.
“Belum,” ujar Sella senang,
“Kalau begitu saya membawa makan dari restoran.” Bara menunjuk bungkusan yang masih ada di depanya. “kamu makanlah,”
Sella yang di perlakukan seperti itu tentu saja senang banget. Segera ia ambil bungkusan itu dengan senang hati, jarang-jarangkan suaminya pengertian seperti ini.
“Oh... Apa ini?” Sella terkejut. Bukan lagi tersenyum tapi wajahnya berubah cemberut saat melihat makanan apa yang telah suaminya beli.
Makanan laut yang sangat ia hindari. Kenapa Bara sampai membelinya?
“Mas ini kamu beli di mana?” Sella melihat lagi bungkusan rapi itu. Kepiting laut saus padang, Sella bisa tebak suaminya pasti beli dari restoran mewah.
Kepiting yang besar-besar itu memang menggugah selera, tapi...
“Restoran. Kenapa, Kamu gak suka?”
Sella bisa melihat raut tak senang suminya. Ia menjadi serba salah, jika dia makan akan menjadi buruk pada tubuhnya, tapi kalau tidak dimakan dia mungkin akan membuat suaminya merasa tak senang.
“Itu...,” Ia bingung harus menjelaskannya bagaimana, “Mas... Maaf, tapi aku tidak bisa makan ini.”
Secinta apapun dia pada seseorang, dan sepatuh bagaimanapun dirinya pada seorang suami. Sella gak goblok sehingga harus berdrama dan memakan makanan itu. Ia tak ingin masuk rumah sakit
“Aku gak suka Kepiting atau sejenisnya mas. Aku alergi,”
Bara yang tidak tahu apapun tentang Istrinya mendadak jadi diam. “Kamu alergi? Kenapa tidak bilang?” Dia merasa bodoh karena telah membeli sesuatu yang bisa mencelakai gadis itu.
Melihat Sella yang meletak kembali makanan itu membuat ia merasa sedikit kecewa. Seharusnya ia bertanya dulu pada istrinya tadi, kan dia tidak sia-sia melakukan ini.
__ADS_1
“Kalau begitu kamu mau makan apa? Biar saya pesan,”
Sella menggeleng lagi, “tidak perlu, mas. Biar aku masak saja.”
Menunggu suaminya memesan makan dulu akan sangat lama baginya yang sudah sangat lapar ini. Dia yang tadi gak mood makan karena insiden di pesta, dan sejarang ia jadi sedikit menyesal.
Bara tak bisa lagi memberi alasan, jadi dia membiarkan saja kemauan istrinya.
.....
Jika orang bilang cinta itu bagaikan angin, dia ada tapi tak terlihat, dia juga bisa di rasa tapi tak bisa juga disentuh. Itu memang benar.
Sekarang Ia merasakan cinta itu.
Jika di tanya apa hebatnya seorang janda, sedangkan gadis di luar sana masih banyak. Jawabnya satu, dia sudah terlanjur terpesona dengan ketulusan hati wanita itu.
Vanka tersenyum malu-malu melihat foto pujaan hatinya di layar ponselnya. Ya, dia tadi siang diam-diam mencuri foto Embun yang terlihat sedang asyik bermain dengan buah hatinya.
“Kamu lihat apa? Kok senyum-senyum begitu?” Zana datang dengan segelas jus untuk puranya itu. “Kamu lihat foto pacar kamu?”
Melihat Mamanya juga menatap layar ponselnya, Vanka jadi malu. lekas-lekas ia jauhkan dari sang Mama, agar ibunya itu tak melihat siapa gadis yang sedang dikaguminya.
Tapi sayang, Vanka terlambat. Dia sudah melihat sekilas dan ia sangat mengenal wajah perempuan yang ada di layar ponsel putra keduanya itu.
“Embun! Kenapa foto dia ada di ponsel kamu, Ka?” Zana sontak terkejut saat menyadari itu.
“Memangnya kenapa sih, Ma.” Vanka berpura-pura bodoh, dia malah senang sih jika Mamanya tahu cepat. Itu berarti dia bisa melanjutkan rencananya untuk menghalalkan sahabat adiknya itu.
“Gak ada wanita lain, Vanka? Masa sama teman adikmu sendiri. Janda lagi!”
“Kenapa kalau janda? Apa ada masalah?” wajah yang tadi tersenyum sekarang berubah dingin. Dan itu membuat Zana sedikit mendengus.
“Emangnya kamu mau sama bekasan orang. Gimana kalu dia belum move on dari Suami pertamanya. Kamu mau Cuma di jadi pelarian?”
Vanka semakin meradang, “Ma, kenapa berbicara seperti itu. Lagi pula dia janda yang ditinggal mati sama suaminya, gak ada yang seperti mama bilang itu.”
Sekuat tenaga Vanka menahan emosinya agar tak berucap kasar pada sang ibu. Dia gak mau jadi anak durhaka, apalagi Ibunya itu masih bersedih dengan maslah papanya.
“Tapi dia...,”
“Ma. Mama juga kenal lama sama Embun kan, kenapa mama bisa berbicara seperti itu. Lagi pula jika aku menikah dengan Embun apa bedanya dengan Sella yang menikah dengan Bara. Karena perjodohan kalian adikku juga dapat duda tuh,”
Vanka membalikkan ucapan Mamanya yang membuat wanita paruh baya itu bungkam seketika. Bahkan di balik kata perjodohan itu menyimpan banyak rahasia, Vanka tidak bodoh sampai tidak menyadarinya.
“Apa kamu begitu mencintainya?”
“Apa aku masih harus menjeleknya, Mama?” Vanka menarik nafas panjang, “aku bukan Sella yang begitu penurut dan bahkan melupa kebahagiaannya sendiri. Lagi pula aku kenal bagaimana Embun, Mama tidak perlu khawatir lagi.”
Zana tak bisa berkata-kata lagi. Karena dari awal tadi dia memang mempermasalahkan status perempuan yang di sukai putranya itu.
“Aku pergi..,”
“kamu gak tinggal disini saja, Ka. Ngapain kamu tinggal sendirian di apartemen itu.”
__ADS_1
Vanka tersenyum sinis, “karena aku butuh ketenangan, Ma.”
“Apa rumah ini tidak membuat kamu tenang?” Zana merasa tak senang dengan jawaban putranya, “Apanya yang membuat kamu selalu saja menghindar. Bahkan sampai rumah sakit pun kamu tidak memberi mama kabar.”
“Ma. Disini sudah ada Bang Alvian sama keluarganya, kak Melisa juga sering menginap di sini. Lalu apa lagi? Aku benar-benar nyaman tinggal di apartemen saja,”
“Kenapa? Apa kamu benar tidak merasa tenang di rumah orang tua sendiri?”
“Tidak!” Vanka memilih menjawab dengan jujur, “aku lebih suka sendiri,”
Ya, sejak Vanka pindah ke apartemen sejak saat itu pula putra kedua dari pasangan David dan Zana itu memilih menjauh. Karena pemuda itu tahu apa yang di sembunyikan oleh kedua orang tuanya.
Vanka berlalu pergi dengan wajah dinginnya. Selalu saja seperti ini, Mamanya yang dulu begitu lembut tapi seketika banyak berubah setelah mengetahui Papanya berbuat curang di luar sana.
Ya, Zana kerap kali suka bertengkar dengan anak-anaknya sendiri. Mungkin merasa belum puas hati, jadi dia mencari pelampiasan emosinya yang masih meledak-ledak.
****
Sella menatap senang nasi goreng yang baru saja siap Ia masak. Karena dia sudah menolak makanan, jadi dia terpaksa masak yang mudah saja agar bisa lekas-lekas mengisi perutnya yang sudah berbunyi.
“Mas kamu mau ikut makan gak?”
Bara yang sibuk dengan laptopnya segera mendongak. “kamu masak banyak?”
“Gak, tapi cukup untuk kita berdua,”
Bara mengangguk. Dia juga lapar, makanan yang dimakan tadi sudah tak terasa lagi diperutnya. Lagi pula Masakan Sella cukup enak, sayang jika dia lewatkan.
Melihat suaminya juga ikut makan, Sella segera menyiapkan juga makan yang di beli Bara tadi. Lagi pula mubazir jika tidak di makan kan.
Mereka menghabiskan makan itu dalam diam. Sella pun tak bertanya apa-apa, karena pikirannya masih terbagi dengan kejadian tadi siang.
“Bagaimana acara mu dengan Mami tadi?”
Sella terdiam. Dia sebenarnya ingin menceritakan apa yang terjadi di sana tadi, tapi ia juga malu menceritakan keburukan kakaknya, jadi dia memilih berbohong dan mengatakan baik-baik saja.
“tidak ada yang spesial. Mami hanya membawaku ke acara pesta teman arisannya saja.”
“Mm,” Bara pura-pura mengerti, padahal tadi dia sudah mendapat informasi dari Maminya, jika ada insiden di pesta.
Bara berpikir mungkin Sella masih marah dan gak ingin bercerita. Lagi pula meskipun mereka suami istri, mereka tak sedekat itu untuk terbuka satu sama lain.
“Setelah ini kamu istirahat saja, saya ada perlu keluar sebentar.”
“Kemana?”
“Kamu tidak usah tahu, hanya urusan kecil.” Ujar Bara seperti biasa, dingin.
Sella hanya diam. Membiarkan apa saja yang ingin suaminya itu lakukan. Cukup dia di perlakukan baik dan di anggap saja, setelahnya dia tak akan menuntut apapun lagi.
Meskipun hatinya tidak puas, tapi dia bisa apa. Sikap dingin Bara saja sudah membuat dia membeku, dia takut membuat masalah lagi
****
__ADS_1
Jangan lupa tingalkan like end komen