Mencintaimu Tanpa Syarat

Mencintaimu Tanpa Syarat
Kecewa dan terluka


__ADS_3

Mengetuk pintu kamar Bara, Sella benar-benar merasa canggung.


Lantai dua rumah ini terlihat sangat seperti, berbeda dengan di lantai satu dan di depan rumah yang sudah di dekor dengan sangat meriah.


"Loh, Sella... Kamu pasti cari suami kamu ya?" Mami Rena segera menghampiri menantunya.


"Itu... Om Bara di mana, Mi?" Sella bertanya dengan canggung.


"Maaf ya, Sayang... Kamu pasti sedih di tinggal sendiri di luar tadi." Mami Rena mengusap bahu menantunya, "itu. Tiba-tiba Arya sakit, makanya Mami sama suami kamu menghilang tadi. Kamu gak marah kan?"


Sella tak tahu harus berkata apa. Marah? Tentu saja, karena bagaimana bisa meningkatkan dirinya begitu saja.


Tapi kalau di kata marah, ia juga takut Ibu mertuanya ini tersinggung.


"Gak apa-apa kok, Mi. Tapi sekarang Om Bara mana? Soalnya orang tua saya mau pamit pulang," ucap Sella menjelaskan.


"Aduh... Kalau gitu mami aja temani kamu ya, Nak. Soalnya anak itu pasti tidak akan mau ninggalin putranya,"


Sella meremas ujung lengan gaunnya. Ia merasa sakit hati, padahal inikan hari pernikahannya, tapi kenapa dia merasa di campakkan seperti ini.


"Apa Om Bara gak bisa keluar sebentar saja?"


Mami Rena ingin menjelaskan, tapi saat dia ingin berkata pintu kamar sebelah mereka terbuka dengan kasar.


"Mi! Arya semakin panas, Mi. Aku akan pergi bawa ke rumah saki,"


Bara yang sedang menggendong bocah berumur 11 tahun, berucap dengan wajah panik.


"Loh, terus bagaimana dengan pesta pernikahan....,"


"Mami saja yang urus sama Sella!" Bara tak mendengar balasan mereka, karena dia sudah berlari menuruni tangga samping untuk membawa putranya.

__ADS_1


Mungkin menghindari tamu yang curiga nanti, karena itu ia langsung turun lewat belakang dan langsung ke bagasi mobil.


......


Sella terdiri terdiam melihat punggung lebar itu semakin menghilang dari pandangan.


Jelas dia sangat merasa terluka dengan sikap suaminya itu. Dia di tinggalkan... Dan itu di tengah-tengah acara mereka yang sedang meriah.


Siapa yang meminta peserta besar seperti ini?


Jika pada akhirnya hanya mempermalukan dia saja, rasanya Sella ingin mengutuk mereka yang membuat semua peserta dan berakhir dengan memberi luka padanya ini.


"Sel...," Mami Rena memanggil menantunya dengan cemas.


"Mi, Ayo kita pergi mengantar Mama dan Papa pulang." Sella mengalihkan pembicaraan dengan dengan cepat.


Ia takut jika di ingatan lagi bisa-bisa dia menangis nanti.


Sella tak menjawab. Sebenarnya ibu mertuanya itu sudah tahu apa jawabannya. Kenapa masih juga di tanyakan


Memilih turun dan menghampiri kedua orang tuanya, Sella berusaha memperlihatkan senyumnya.


"Lol, Mbak Rena. Nak Bara kemana?" Zana bertanya dengan bingung saat melihat yang datang hanya anak dan besannya saja.


Mami Rena terlihat agak malu, "itu jeng... Bara terpaksa pergi ke rumah sakit. Soalnya si Arya, anaknya Bara sakit."


Zena terlihat terkejut. Dia menatap putrinya yang terlihat menunduk sedih. Diam-diam dia merasa sedikit menyesal, tapi ia mencoba menahan diri untuk tidak membuat suasana gaduh.


Zana mengusap lembut bahu putrinya sembari memeluk sayang. Lalu dia mengalihkan tatapannya pada David yang terlihat diam saja.


"Mama pulang ya, sayang. Hati-hati di sini ya nak, jadi istri yang baik dan juga membantu yang penurut. Kalau ada apa-apa segera hubungi mama," kata terakhir itu sengaja Zena bisikan pada putrinya.

__ADS_1


"Kalau begitu kami pamit ya, Mbak."


Mami Rena segera mengantar besannya sampai di depan.


Sedangkan Sella yang melihat Mamanya dan sang Papa pergi tak kuasa menahan air matanya. Ia kembali memeluk orang tuanya lagi.


"Loh, jangan nangis. Anak gadis papa kok nangis siah?" David segera membalas pelukan sang putri.


"Papa... Aku gak mau tinggal di sini," Sella berbisik lirih. Ucapan itu untungnya Hanya di dengan oleh mereka berdua saja.


"Jangan begitu, Sella. Sekarang kamu sudah menjadi istri. Jadi harus ikut suami." David mengusap lembut puncak kepala putrinya yang tertata indah.


Meskipun ia sedikit kecewa dengan sikap menantunya yang meninggal sang putri di malam ini. Tapi ia juga memaklumi sikap Bara yang khawatir pada sang anak.


David menatap Mami Rena. Setelah wanita tua itu mengangguk mengerti, baru David dan keluarga pamit pulang.


"Hati-hati ya Jeng Zana. Tentang saja, putri kalian pasti kami jaga dengan baik."


"Iya, Mbak."


Dua mobil hitam itu mulai beranjak menjauh. Bersamaan dengan itu Sella langsung pamit sama mertuanya dan berlari masuk kedalam rumah.


"Sella...," Mami Rena mencoba untuk mengejar menantunya itu. Tapi saat melihat Sella masuk ke dalam kamar pengantinnya dan mengunci pintu, dia tidak berani mengangu lagi.


"Dia pasti semakin tak menyukai Bara. Setelah terpaksa dengan pernikahan ini dan sekarang....,"


Mami Rena mengusap wajahnya. Rasanya ia sedikit marah dengan keadaan yang menjadi kacau seperti ini.


Setelahnya ia terpaksa harus kembali turun untuk menjamu para tamu yang masih ada. Dan membuat sedikit alasan jika mereka mempertahankan di mana Pengantinnya.


......

__ADS_1


__ADS_2